menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 : rahasia kelam dan naga batu
Suasana di ruang pertemuan besar Kingdom of Serenity terasa hening dan tegang. Raja Xavier duduk di kursi utamanya, wajahnya tampak serius memegang buku tebal yang ia temukan sebelumnya. Di hadapannya, berkumpullah para tetua, penasihat kerajaan, dan sejarawan terbaik yang dimilikinya.
"Jadi, kalian semua pasti sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan," ucap Xavier, suaranya berat dan tegas. Matanya menatap satu per satu wajah para petinggi itu. "Aku ingin tahu segalanya tentang Obsidian Empire. Dan tentang Ratu Elara. Jangan ada yang disembunyikan. Ceritakan kebenarannya."
Para penasihat saling bertukar pandang, wajah mereka terlihat pucat dan ragu. Topik ini adalah hal tabu yang jarang sekali dibicarakan.
Akhirnya, seorang kakek tua dengan jubah abu-abu maju selangkah, suaranya bergetar.
"Baiklah, Baginda... Jika Baginda ingin tahu, maka kami akan menceritakan kisah yang hanya dicatat dalam naskah-naskah paling tua dan terlarang."
📖 Di Perpustakaan Kuno
Setelah mendengar penjelasan singkat, Xavier tidak puas. Ia segera pergi menuju bagian paling dalam dan paling gelap dari perpustakaan kerajaan—tempat di mana buku-buku sejarah kuno disimpan.
Dengan hati-hati, ia menarik sebuah buku besar yang sampulnya sudah mengelupas. Judulnya tertulis dengan tinta hitam: "Sejarah Kehancuran Darah Umbralis".
Xavier duduk di dekat jendela, lalu mulai membaca dengan saksama. Semakin ia membaca, semakin lelah matanya, dan semakin kencang jantungnya berdegup. Ia menemukan kebenaran yang mengerikan.
Buku itu menuliskan:
Dahulu kala, Obsidian Empire bukanlah tempat yang sepi dan tertutup seperti sekarang. Kerajaan itu dipimpin oleh Raja dan Ratu yang bijaksana namun sangat kuat. Mereka adalah orang tua dari Elara.
Namun, saat Elara lahir, dunia bergetar. Bukan karena tangisan bayi, tapi karena kekuatan yang keluar dari tubuhnya yang mungil. Elara mewarisi kekuatan tertinggi... Kekuatan Sang Kematian Absolut. Kekuatan yang jauh lebih besar daripada kedua orang tuanya sendiri.
Kekuatan itu bernama Umbralis Kristal. Sihir yang bisa menghancurkan segalanya, mengubah makhluk hidup menjadi debu hanya dengan kehadirannya saja. Bahkan saat dia baru lahir, suhu di seluruh istana turun drastis dan bunga-bunga layu seketika.
Xavier berhenti membaca sejenak, tangannya mengepal erat.
Jadi... dia tidak lahir sebagai monster... dia terlahir dengan takdir itu... gumamnya dalam hati.
Ia melanjutkan membaca halaman berikutnya yang bercerita tentang tragedi itu.
Orang tua Elara menyadari bahaya yang mengintai. Mereka tahu, jika kekuatan itu lepas kendali, seluruh dunia akan musnah. Ketakutan terbesar mereka bukan pada musuh, tapi pada anak mereka sendiri.
Dalam keputusasaan dan ketakutan yang ekstrem, mereka mengambil keputusan gila.
Mereka melakukan Pembantaian Besar. Seluruh penduduk desa di sekitar istana dibasmi tanpa ampun, bukan karena kejam, tapi karena mereka takut penduduk tersebut akan terbunuh secara tidak sengaja oleh aura Elara. Mereka ingin mengisolasi kekuatan itu sebelum terlambat.
Setelah itu, mereka memerintahkan pembangunan Tembok Raksasa yang sangat tebal dan tinggi di sekeliling kerajaan. Bukan tembok biasa, tembok itu dipenuhi duri-duri tajam magis dan mantra pelindung yang dibuat khusus untuk menahan dan meredam kekuatan Umbralis Kristal milik Elara. Mereka membangun penjara indah untuk anak mereka sendiri, demi menyelamatkan dunia.
Dan akhirnya... setelah semua persiapan selesai, kedua orang tua Elara melakukan hal terakhir.
Mereka memilih untuk mengakhiri hidup mereka sendiri di hadapan sang putri kecil.
Mungkin karena rasa bersalah, mungkin karena takut, atau mungkin agar tidak ada satu pun yang bisa mengendalikan Elara kecuali dirinya sendiri.
Air mata Xavier menetes ke atas kertas buku itu.
Kasihan dia... Sejak kecil dia sudah sendirian... Dia dikurung, ditinggalkan, dan hidup di tengah rasa takut...
🐉 Penjaga Abadi
Xavier membalik halaman terakhir buku itu. Ada ilustrasi besar yang menggambarkan puncak kastil Obsidian Empire.
Dan di sana, terpampang jelas sebuah makhluk yang sangat besar.
Sejak hari Elara lahir, ada satu keajaiban sekaligus pertanda buruk yang terjadi.
Seekor makhluk raksasa turun dari gunung batu dan bertengger di menara tertinggi istana.
Itu bukan naga biasa. Tubuhnya terbuat dari batu hitam keras dan kristal obsidian. Matanya menyala merah membara. Ia tidak pernah berkedip, tidak pernah makan, dan tidak pernah bergerak kecuali jika ada ancaman besar yang mendekat.
Masyarakat menyebutnya Golem Naga Batu. Konon, makhluk itu adalah perwujudan dari kekuatan kematian itu sendiri, atau mungkin wujud lain dari sihir Umbralis yang menjaga sang Ratu.
Selama ribuan tahun, naga itu tetap duduk di sana. Menjadi penjaga setia, menjadi simbol bahwa di dalam kastil itu, terdapat sesuatu yang sangat berbahaya namun sangat berharga.
Xavier menutup buku itu perlahan. Suasana di sekitarnya menjadi sunyi.
Semua potongan teka-teki kini tersambung.
Elara bukanlah ratu yang jahat karena keinginannya sendiri. Dia adalah produk dari tragedi, anak yang dikurung karena kekuatannya sendiri, yang tumbuh tanpa kasih sayang, diapit tembok tajam dan dijaga oleh monster batu.
"Elara..." bisik Xavier, matanya memancarkan tekad yang membara. "Jadi kau hidup sendirian di sana... di antara dinding yang dibangun orang tuamu untuk menjauhkanmu dari dunia..."
Rasa takut di hati Xavier hilang sepenuhnya. Berganti dengan rasa iba, rasa sayang, dan rasa ingin melindungi yang begitu besar.
"Mereka membangun tembok untuk mengurungmu... tapi mereka tidak tahu..." Xavier berdiri tegak, menatap langit dengan penuh keyakinan. "...bahwa tembok itu justru membuatku semakin ingin mendobraknya masuk. Aku akan datang, Elara. Aku akan datang menghancurkan tembok itu... bukan untuk menyakitimu, tapi untuk mengajakmu keluar."
Bersambung...