Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Wajah Yang Sama
Wajah pemilik tubuh memang mirip dengan wajahnya di dunia nyata. Tapi tentu memiliki kesan yang berbeda.
Wajahnya tirus dan tegas, serta tatapan yang tajam dan mendominasi. Sedangkan wajah pemilik tubuh, sedikit bulat dan terkesan polos.
"Siapa sebenarnya penulis Novel? Kenapa dia menggunakan wajahku jadi wanita jahat yang akan mati mengenaskan? Hmm mungkin musuhku yang iri dengan kecantikanku!" gumam Nan Wei yang masih berdiri di depan cermin.
"Hmm sudahlah.. Yang penting tetap cantik!" katanya dengan bangga.
Nan Wei tidak peduli lagi, sekarang dia juga sudah punya anak. Setelah puas melihat wajahnya Nan Wei pergi mandi, lalu pergi ke rumah orang tuanya untuk makan malam.
***
"Kakak ipar! Lihat, sebanyak ini cukup untuk berapa Minggu?" tanya Nan Wei pada Rungyu dengan bumbu yang dia beli.
"Wah banyak sekali. Ini cukup untuk sebulan!" ucapnya sambil mengeluarkan bumbu dapur dari keranjang. "Kamu beli garam lagi?"
"Ya. Kebutulan aku melihat ada stok di toko, jadi aku membelinya sekalian!" ucapnya dengan membual, karena semua itu dibeli di Toko Sistem.
Kakak ipar kedua sangat senang, dia bisa masak makanan setiap hari tanpa takut kehabisan bumbu lagi.
"Bagaimana dengan baju anak-anak? Apa belum selesai dijahit?" tanya Nan Wei pada Kakak ipar pertama.
"Sudah, sudah! Katanya sebentar malam dia antar!"
"Hmm bagus! Karena besok pagi Anak-anak sudah mulai sekolah!" ujarnya.
Perkataan Nan Wei langsung membuat suasana jadi senyap. Mereka terdiam karena begitu terkejut.
"Nak! Kamu.. Kamu sudah mendaftarkan mereka?" tanya Ayah Xia dengan tubuh gemetar.
"Adik sekolah mana?" tanyanya dengan semangat dan juga rasa haru.
"Sudah! Tapi bukan disekolah. Aku mencarikan mereka seorang Guru, jadi anak-anak hanya perlu ke rumahnya saja setiap hari, dan bayarannya tetap sama!"
"Guru? Benarkah?" Tanya Ayah Xia dengan syok. Dia bahkan langsung berdiri dari duduknya.
"Ya. Guru pribadi lebih bagus, karena dia bisa fokus mengajar ke mereka saja! Dan anak-anak bisa pulang balik.!"
"Aduhh kenapa rasanya seperti mimpi!" ucap Ibu Xia yang sudah menangis karena bahagai mendengar kabar itu.
"Adik terima kasih!" Sela Xia Dalang. Dia sebenarnya merasa malu, karena dia yang sebagai Kakak pertama tidak bisa melakukan apa-apa.
Yang lainnya juga sampai mengeluarkan air mata. Akhirnya anak-anak bisa bersekolah.
"Bibimu sudah bekerja keras agar kalian bisa sekolah! Jadi jangan membuatnya kecewa, jika tidak bisa ikut ujian tidak masalah, yang penting kalian sudah berusaha!" ucap Nenek Xia.
"Nenek kami mengerti!" balas YunHao.
"Bibi terima kasih!" Xia Bao juga sangat senang, akhirnya apa yang dia impikan bisa terwujud.
Selama ini dia sangat berharap bisa sekolah, tapi melihat kondisi keluarga yang begitu sulit, dia hanya bisa memendamnya dalam hati.
Xia Bao seumuran dengan Zhao Xu. Dia anak yang sangat pendiam, dia lebih dingin dari Zhao Xi. Tapi dia begitu perhatian dengan saudara-saudaranya.
Tidak ada yang tahu, jika Xia Bao sudah menaruh dendam kepada pemilik tubuh. Karena uang yang dia kumpulkan juga habis diambil olehnya.
Uang itu rencananya ingin digunakan untuk membeli buku dan alat tulis. Meski tidak bisa sekolah dia masih bisa belajar dengan cucu kepala Desa.
Semenjak perubahan sikap Nan Wei, Xia Bao memperhatikannya dengan teliti, takut Nan Wei merencanakan sesuatu. Tapi semua berjalan diluar pikirannya.
"Ya. Karena sekarang Bibi punya uang. Maka seharusnya Bibi membantu kalian semua.!"
Mereka semua tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
"Oh apa kalian mengenal keluarga Bibi Ming yang tinggal di Kota?" tanya Nan Wei.
"Mana mungkin kami tidak mengenalnya. Keluarga Jiang sangat baik sama kita. Tapi semenjak pindah ke Kota mereka jarang lagi Datang ke Desa!" jelas Ayah Xia.
"Nak ada apa?" tanya Ibu Xia yang sangat peka. Karena Nan Wei tidak pernah mengurus urusan orang lain jika tidak penting.
"Oh beliau yang akan menjadi Guru anak-anak!"
"Ha APA? Guru? Keluarga Jiang?" tanya Ayah Xia dengan syok dan bingung, begitupun dengan yang lainnya.
"Ya Paman Can yang akan mengajari mereka!" ujar Nan Wei.
"Jadi maksudnya, Jiang Can adalah seorang Sarjana?" tanya Ayah Xia seraya menebak.
"Ya.!"
Ayah Xia menarik nafas panjang. "Sudah Ayah duga, kalau keluarga Jiang bukan orang biasa.!" Dia sudah curiga dari awal saat mereka baru pertama kali datang ke Desa Wusu.
"Ya. Untuk masalah ini cukup kita saja yang tau. Dan jangan merubah sikap kalian Pada Bibi Ming, dia tidak ingin ada orang yang tau! Dia suka dengan statusnya yang sekarang!"
"Benar. Pantas saja Mereka jarang berkunjung ke Desa, karena takut status mereka terbongkar! Apalagi mereka tiba-tiba pindah ke kota!"
"Untuk urusan itu, kita tidak perlu cati tau atau ikut campur. Kita cukup berteman baik, dan menjaga mulut!"
"Ya. kalian semua mengertikan?"
Semua mengangguk sebagai jawaban, mereka juga tidak bisa berkata apa-apa, informasi ini sangat rahasia.
"Kakak ipar aku harus merepotkanmu lagi untuk memasak 7 macam makanan!" kata Nan Wei sambil tersenyum canggung, karena dia tidak tahu memasak.
"Oh astaga Adiiiik, aku hampir lupa. Mana mungkin merepotkan, Xia Bao juga ikut sekolah!" ucap Kakak ipar kedua, meski bukan anaknya yang sekolah dia tetap akan membantu. Karena anak-anak Nan Wei adalah keponakannya.
"Ya. Aku juga bantu masak!" Kakak ipar pertama tidak mau kalah. Dia juga harus turun tangan, karena anaknya bisa sekolah di umur yang sudah tua.
"Heheh bagus, bagus.. Masak seperti yang kita bawa ke rumah Tabib Rong.!" pinta Nan Wei. "Aku yang akan membuat kue nya!" Dia sudah membeli bahan dan alatnya.
"Oh baiklah.. Kebutulan masih ada kerang batu yang tersisa. Eh Adik, banyak yang datang menanyakan tentang kerang batu!"
"Hmm nanti aku beritahu mereka setelah urusan sekolah anak-anak selesai. Karena tidak semua orang bisa makan kerang!"
"Kenapa?" tanya Kakak ipar pertama.
"Ya. Siapa tahu ada yang alergi. Untuk kalian semua baik-baik saja saat memakannya pertama kali!" Nan Wei sampai memperhatikan mereka setu persatu saat itu untuk melihat reaksinya, ternyata semuanya baik-baik saja.
"Wah, ternyata kerang juga bisa buat alergi!"
"Bahkan kentang goreng pun juga bisa. Tapi itu sangat jarang. Jadi pihak restoran selalu mengingatkan pembeli untuk tidak lanjut makan jika sudah muncul gejalanya!"
"Bukankah ini sangat bahaya? Bagaimana jika ada yang alergi, pasti mereka langsung mencari kita!" ucap Kakak ipar pertama.
"Tidak mungkin juga mereka belum pernah makan kentang, seharusnya mereka langsung menghindarinya kalau tau alergi kentang.!"
"Ehh iya juga..!"
"Ibu. Bagaimana kalau kita kasih tulisan di bungkusannya. Ya untuk berjaga-jaga saja, kita tidak tahu apa yang ada di dalam hati orang lain!" sela Zhao Xu memberi saran.
Nan Wei menatapnya sambil tersenyum, memang pantas jadi pembisnis besar di masa depan.
"Waah benar juga. Zhao Xu kamu sangat pintar!" puji Xia Sanlang.
"Hem baiklah. Besok ibu akan pergi ke toko buku untuk membuat stempel!"
.
.
.
.
double up donk kak😍😍
aku menunggu kelanjutan nya😍
Sambil tunggu UP,
jangan lupa mampir di novel yg sudah Tamat😁🙏😍
semoga sampai tamat ya
selalu semangat up trus loh😍😍😍
aku menunggu kelanjutan nya