NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Undangan Tengah Malam

Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Air menabrak atap rumah kontrakan kecil milik Nayra dengan suara berisik yang bikin kepala makin pening.

Lampu ruang tamunya redup seperti mau mati, kipas angin berdecit pelan, dan aroma mi instan dari gelas bekas di meja masih bercampur dengan bau lembap dinding.

Nayra duduk di lantai sambil menatap layar laptop tuanya.

“Ditolak lagi…”

Kalimat itu muncul di email ketujuh minggu ini.

Ia mengembuskan napas panjang lalu menjatuhkan tubuh ke sofa tipis yang sudah mulai kempes.

Rasanya hidup benar-benar sedang mempermainkannya. Skripsinya belum selesai, pekerjaan freelance desain makin sepi, tagihan menumpuk, dan pemilik kontrakan tadi sore baru saja mengetuk pintu sambil mengingatkan soal uang sewa.

“Besok ya, Mbak Nayra. Jangan lewat lagi.”

Nada ramah, tapi tetap menusuk.

Nayra memejamkan mata sebentar. Umurnya baru dua puluh dua tahun, tapi rasanya seperti sedang memikul hidup lima orang sekaligus.

Ponselnya bergetar di meja.

Nama “Mama” muncul di layar.

Nayra menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo, Ma.”

“Nayra, kamu sehat?”

“Iya.”

“Kamu udah makan?”

“Udah.”

Bohong. Seharian ia cuma minum kopi sachet dua kali.

Suara ibunya terdengar ragu di seberang sana.

“Ayahmu masuk rumah sakit lagi.”

Nayra langsung duduk tegak.

“Kenapa?”

“Sesak napasnya kambuh. Dokter bilang harus rawat inap beberapa hari.”

Dada Nayra langsung terasa berat.

“Biayanya gimana?”

“Itu dia…” suara ibunya melemah. “BPJS nggak nutup semuanya.”

Nayra menatap hujan di luar jendela.

Lagi.

Selalu soal uang.

“Aku usahain transfer malam ini, Ma.”

“Kamu jangan maksain diri—”

“Aku bilang aku usahain.”

Ia memutus panggilan lebih cepat sebelum suaranya berubah.

Ruangan kembali sunyi.

Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar.

Nayra menggigit bibirnya keras. Kepalanya penuh angka. Tagihan kontrakan. Cicilan laptop. Obat ayahnya. Kebutuhan sehari-hari.

Bahkan untuk makan besok pun ia belum yakin punya cukup uang.

Ia membuka dompet digitalnya.

Saldo: Rp43.000.

Napasnya tercekat.

“Gila…”

Ia tertawa kecil, tapi matanya mulai panas.

Kadang hidup memang lucu. Orang yang berusaha keras justru sering kalah lebih dulu.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini bukan telepon.

Nomor tak dikenal mengirim pesan.

[Selamat malam, Nayra.]

Keningnya berkerut.

[Kami mengundangmu untuk mengikuti sebuah permainan.]

Nayra langsung mendecih.

“Penipuan apalagi…”

Ia hampir memblokir nomor itu saat pesan berikutnya masuk.

[Hadiah utama: Rp10 miliar.]

Tangannya berhenti bergerak.

Sepuluh… miliar?

Nayra menelan ludah.

Otaknya langsung berkata mustahil. Tapi bagian lain dalam dirinya tetap penasaran.

Pesan baru muncul lagi.

[Permainan dimulai pukul 00.00.]

[Jika menolak, kesempatan tidak akan datang dua kali.]

Lalu sebuah link muncul di bawahnya.

Nayra menatap layar cukup lama.

Jelas mencurigakan.

Sangat mencurigakan.

Tapi entah kenapa jantungnya malah berdetak lebih cepat.

Ia membuka profil nomor itu. Kosong. Tidak ada foto. Tidak ada informasi.

Hujan di luar makin deras.

Nayra menggigit kuku jarinya pelan, kebiasaan buruk saat gugup.

“Mana ada hadiah segitu cuma buat game…”

Ia mencoba berpikir logis. Bisa jadi scam. Bisa jadi peretasan. Bisa jadi prank murahan.

Tapi kalau memang penipuan… kenapa mereka tahu namanya?

Dan kenapa pesan itu terasa aneh?

Bukan seperti spam biasa.

Ponselnya kembali bergetar.

[10 peserta telah dipilih.]

[Hanya satu yang akan menang.]

Bulu kuduk Nayra langsung meremang.

Ada sesuatu dari kalimat itu yang membuat dadanya tidak nyaman.

Ia seharusnya berhenti.

Menutup chat itu.

Mengabaikannya.

Tapi rasa penasaran perlahan mengalahkan logika.

Akhirnya Nayra menarik napas panjang lalu menekan link tersebut.

Layar ponselnya langsung berubah hitam.

“Eh?”

Tulisan merah perlahan muncul.

WELCOME TO THE GAME

Detik berikutnya kamera depan ponselnya menyala sendiri.

Nayra tersentak.

“Apaan sih?!”

Ia hampir menjatuhkan ponselnya saat wajahnya sendiri muncul di layar. Tapi ada yang aneh.

Di bawah wajahnya tertulis data lengkap.

Nama.

Umur.

Alamat.

Nama orang tua.

Nomor rekening.

Bahkan riwayat pencarian internetnya.

Nayra membeku.

Jantungnya langsung jatuh ke perut.

“Astaga…”

Tulisan baru muncul.

DATA VERIFIED.

PLAYER 07 ACCEPTED.

Lampu ruangannya tiba-tiba mati.

Gelap.

“HAH?”

Nayra refleks berdiri.

“Listrik mati?”

Hanya cahaya dari layar ponsel yang menerangi ruangan sempit itu sekarang.

Napasnya mulai memburu.

Entah kenapa suasana mendadak terasa mengerikan.

Lalu—

TING!

Pesan suara masuk dari aplikasi yang baru saja terinstal sendiri di ponselnya.

Sebuah ikon hitam berbentuk topeng muncul di layar.

Nama aplikasinya:

THE GAME MASTER

Nayra mencoba menekan tombol uninstall.

Tidak bisa.

Ia mencoba mematikan ponsel.

Tidak bisa.

Layar tetap menyala.

Tangannya mulai dingin.

“Ini nggak lucu…”

Tiba-tiba suara pria terdengar dari ponselnya.

Dalam.

Dingin.

Dan sangat tenang.

“Selamat datang, Player 07.”

Nayra langsung mundur selangkah.

“Siapa kamu?!”

“Tepat pukul 00.00 permainan akan dimulai.”

“Apa maumu?”

“Yang kami inginkan hanyalah permainan.”

Nayra menahan napas.

“Aku nggak ikut permainan aneh beginian.”

“Sayang sekali.” suara itu terdengar seperti tersenyum.

“Kau sudah masuk sejak menekan tautan.”

Jantung Nayra berdetak keras.

“Aku bisa laporin polisi.”

“Silakan.”

Tiba-tiba layar menampilkan foto ayahnya yang sedang terbaring di rumah sakit.

Mata Nayra membelalak.

“Bagaimana—”

“Rawat inap lantai tiga. Ruang 304.”

Suara itu tetap tenang.

“Kasihan sekali jika sesuatu terjadi pada beliau.”

Nayra langsung gemetar.

“Jangan sentuh keluargaku!”

“Kalau begitu, bermainlah dengan baik.”

Layar kembali hitam.

Beberapa detik kemudian lampu rumah menyala lagi.

Hening.

Nayra berdiri membatu di tengah ruangan.

Napasnya bergetar.

Apa tadi nyata?

Atau ia sedang halusinasi karena stres?

Ponselnya kembali berbunyi.

LEVEL 1 DIMULAI DALAM: 00:12:44

Sebuah timer muncul.

Menghitung mundur.

Nayra langsung mengambil jaketnya dan keluar rumah.

Ia tidak peduli hujan.

Ia hanya ingin pergi dari sana.

Udara malam menusuk dingin saat ia berjalan cepat menyusuri gang sempit. Sandalnya terciprat air kotor, rambutnya basah, tapi pikirannya jauh lebih kacau dari itu.

Ia terus mencoba meyakinkan diri kalau ini cuma permainan sakit seseorang.

Tapi bagaimana mereka tahu semua data pribadinya?

Bagaimana mereka bisa tahu kondisi ayahnya?

Dan kenapa rasanya seperti sedang diawasi?

Nayra berhenti di sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam. Cahaya terang dari dalam sedikit membuatnya lega.

Setidaknya ada orang lain.

Ia masuk cepat-cepat.

Kasir laki-laki di sana meliriknya heran karena kondisinya basah kuyup.

“Mbak, hujannya gede banget ya.”

Nayra memaksakan senyum.

“Iya.”

Ia duduk di kursi dekat jendela sambil memesan kopi murah. Tangannya masih gemetar saat membuka aplikasi aneh itu lagi.

Tampilan hitam polos.

Hanya ada timer.

00:08:21

Dan sebuah tulisan kecil:

Jangan mencoba kabur.

Nayra langsung menoleh ke sekitar.

Dadanya makin sesak.

Apakah ada orang yang mengawasinya sekarang?

Seorang pria masuk ke minimarket sambil memakai hoodie hitam. Wajahnya tertutup masker.

Langkahnya tenang.

Nayra refleks memperhatikannya.

Pria itu membeli rokok lalu berdiri beberapa meter dari tempat Nayra duduk.

Entah kenapa suasana langsung berubah aneh.

Nayra buru-buru mengalihkan pandangan.

Jangan paranoid.

Jangan lebay.

Tapi saat ia membuka ponsel lagi, pesan baru muncul.

Player 03 berada 5 meter darimu.

Tubuh Nayra langsung kaku.

Pelan-pelan ia mengangkat kepala.

Pria hoodie hitam itu sedang menatapnya.

Jantung Nayra hampir copot.

Pria itu kemudian berjalan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Nayra refleks berdiri.

“A-ada apa?”

Pria itu berhenti di depannya.

Tinggi.

Bahunya lebar.

Tatapannya tajam meski sebagian wajahnya tertutup masker.

“Ponselmu,” katanya pelan.

Nayra makin panik.

“Hah?”

“Tunjukkan.”

“Aku nggak ngerti maksudmu.”

Pria itu menghela napas pendek seperti kesal.

Lalu ia mengeluarkan ponselnya sendiri.

Di layarnya terlihat aplikasi yang sama.

THE GAME MASTER.

Nayra langsung membeku.

“Kamu…”

“Player 07?”

Nayra tidak menjawab.

Pria itu tertawa hambar.

“Sial. Jadi benar ada peserta lain.”

Nayra mundur sedikit.

“Kamu siapa?”

“Pertanyaan yang lebih penting…” pria itu menatap timer di ponselnya. “Kamu udah baca aturan mainnya?”

“Aku bahkan nggak ngerti ini apa!”

“Kalau begitu kau dalam masalah.”

Nada suaranya datar, tapi justru itu yang membuat Nayra makin takut.

“Ini cuma prank kan?”

Pria itu diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan, “Kalau cuma prank, pemain pertama nggak mungkin mati.”

Dunia Nayra seperti berhenti sesaat.

“Apa?”

Pria itu menatap lurus ke matanya.

“Player 01 meninggal satu jam lalu.”

Nayra langsung pucat.

“Kamu bohong.”

“Aku harap begitu.”

Timer di layar mereka tiba-tiba berbunyi bersamaan.

TING!

Tulisan merah muncul.

LEVEL 1 START

Seluruh lampu minimarket mendadak padam.

Orang-orang berteriak kaget.

Kasir panik.

Dalam gelap, hanya layar ponsel para pemain yang menyala merah.

Suara yang sama kembali terdengar.

“Selamat datang di level pertama.”

Nayra menahan napas.

“Setiap pemain harus menyelesaikan tantangan sebelum waktu habis.”

Timer baru muncul.

30:00

“Tantangan pertama sederhana.”

Lampu emergency merah menyala redup di seluruh minimarket.

Suasana berubah seperti film horor.

“TEMUKAN PENGKHIANAT.”

Nayra menatap layar bingung.

“Apa maksudnya?”

“Di antara kalian ada satu orang yang berbohong.”

Suara itu terdengar menikmati permainan ini.

“Jika gagal menemukan pengkhianat dalam tiga puluh menit…”

Suara berhenti sesaat.

“…satu pemain akan mati.”

Orang-orang di minimarket mulai panik.

“Apa-apaan ini?!”

“Siapa ngomong?!”

“Listriknya kenapa?!”

Nayra mundur pelan.

Kepalanya berdenging.

Pria hoodie di depannya masih terlihat tenang.

Terlalu tenang.

“Kamu tahu sesuatu ya?” Nayra berbisik.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya mengawasi sekitar.

“Namamu siapa?”

“Nayra.”

“Aku Zavian.”

Nama itu terdengar asing, tapi juga anehnya cocok dengan aura dingin pria itu.

“Dengerin aku baik-baik,” katanya pelan. “Jangan percaya siapa pun di sini.”

“Tapi—”

“Termasuk aku.”

Belum sempat Nayra menjawab, suara jeritan tiba-tiba terdengar dari belakang minimarket.

BRAK!

Seseorang jatuh.

Orang-orang langsung panik.

Seorang perempuan menangis histeris sambil menunjuk ke arah lorong rak makanan.

“Itu… itu darah!”

Nayra refleks mendekat.

Dan detik berikutnya tubuhnya membeku total.

Seorang pria terkapar di lantai.

Lehernya penuh darah.

Matanya terbuka lebar.

Tidak bergerak.

Nayra langsung mundur dengan napas tercekat.

“Oh Tuhan…”

Kasir perempuan menjerit keras.

Beberapa orang mulai menangis.

Sementara di layar ponsel Nayra muncul tulisan baru:

SATU PETUNJUK TELAH DITEMUKAN

Tangannya gemetar hebat.

Ini nyata.

Benar-benar nyata.

Seseorang baru saja dibunuh.

Dan mereka semua terjebak di dalam permainan gila ini.

Zavian berjalan mendekati mayat itu tanpa ekspresi panik sedikit pun. Ia jongkok lalu memperhatikan sesuatu di lantai.

“Ada simbol,” katanya.

Nayra memaksa dirinya mendekat meski lututnya lemas.

Di dekat darah korban terdapat angka yang ditulis dengan spidol hitam.

“Apa artinya?” Nayra berbisik.

Zavian berdiri pelan.

“Mungkin nomor pemain.”

“Player 08?”

“Mungkin.”

Nayra langsung merasa mual.

“Jadi peserta lain dibunuh?”

“Atau…” Zavian menatap sekeliling. “…pengkhianat mulai bergerak.”

Timer terus berjalan.

24:17

Orang-orang di minimarket mulai saling curiga.

Seorang pria tua berteriak kalau ini semua settingan.

Seorang ibu menangis sambil memeluk anak kecilnya.

Dan Nayra…

Nayra hanya bisa berdiri gemetar sambil merasa hidupnya baru saja berubah selamanya.

Ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.

Tidak tahu siapa yang sedang mengawasi.

Dan lebih parahnya lagi—

ia tidak tahu bagaimana keluar dari permainan ini hidup-hidup.

Sementara di sudut minimarket, tanpa disadari siapa pun…

kamera CCTV perlahan bergerak mengarah tepat ke wajah Nayra.

Seolah seseorang sedang memperhatikannya.

Dan menikmati ketakutannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!