"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 35
Pagi ini Mila begitu semangat menjalani olahraga lari karena Hasbi turut menemaninya. Satu jam berlari, keduanya duduk sembari meneguk air mineral dalam botol hingga kandas.
Hasbi perlahan mulai bercerita mengenai kesalahpahaman diantara mereka beberapa bulan ini.
"Jadi, aku kerja di tempat itu karena Mas Hasbi?" tanya Mila menatap tak percaya bahwa Hasbi mempunyai sahabat yang kaya raya.
"Iya, aku kasihan aja kalau lihat kamu ke sana kemari mencari pekerjaan," jawab Hasbi.
"Kenapa baru muncul, sih? Mas Hasbi tau gak, aku tuh pikir kalau Mas Hasbi benar-benar ingin meninggalkan aku!" kata Mila.
"Mana mungkin aku pergi begitu aja," ucap Hasbi tersenyum.
"Tapi, makasih, udah mau membayarkan separuh uang kos-kosan aku. Pantas aja, uang kos aku lebih murah. Tanya ke penghuni lainnya mereka berbeda," kata Mila lagi.
"Biar kamu enggak curiga."
"Kenapa Mas Hasbi enggak mau membayarkan penuh? Aku 'kan jadi enak!" celetuk Mila.
"Memang kamu mau dibayarkan penuh?" tanya Hasbi serius.
"Aku hanya bercanda, Mas. Jangan dianggap serius!" jawab Mila nyengir.
"Aku serius, Mil." Hasbi menatap Mila lebih dalam.
Mila yang ditatap segera memalingkan wajahnya, ia pun menjadi salah tingkah.
"Mil...."
"Hmm...ya, Mas.." Mila menoleh dan memaksa tersenyum padahal jantungnya berdetak kencang.
"Apa aku boleh tau siapa laki-laki yang kamu sukai?" tanya Hasbi penasaran.
"Buat apa Mas Hasbi ingin sekali mengetahuinya?" Mila balik bertanya.
"Biar aku berhenti mengejarmu," jawab Hasbi jujur.
Deg..
Hati Mila semakin berbunga-bunga mendengarnya, tapi bibirnya sulit sekali buat mengungkapkannya.
"Kamu udah berjanji padaku untuk memberitahunya," kata Hasbi yang kini pandangannya tak menatap wanita disampingnya.
"Apa alasan Mas Hasbi menyukaiku?" Mila malah balik bertanya.
Hasbi lalu menceritakan pertama kalinya bertemu dan mulai jatuh hati kepada Mila.
Pengakuan cinta Hasbi membuat Mila tanpa sadar melengkungkan bibirnya. Ia merasa bahagia karena masih ada pria yang menyukainya. Mungkinkah Hasbi adalah jawaban dari doa-doa yang selalu dipanjatkannya?
"Mil, aku ingin membangun hubungan serius dengan kamu. Aku juga enggak akan memaksamu buat menerima. Jika memang aku enggak layak buat kamu, aku siap mundur," kata Hasbi kembali menatap.
"Ini ceritanya Mas Hasbi nembak aku?"
"Mungkin."
"Isshh... Mas Hasbi!" Mila mengerucutkan bibirnya.
"Ya, kamu pikir aja memangnya dari tadi aku mendongeng?" Hasbi tertawa kecil.
Mila malah ikutan tertawa juga.
"Jadi, siapa pria itu?" desak Hasbi yang hatinya diliput rasa penasaran.
"Dia ada dihadapan aku sekarang," kata Mila tersenyum.
"Maksudnya aku?" Hasbi menunjuk dirinya.
Mila mengangguk pelan mengiyakan.
Hasbi yang sangat bahagia tanpa sadar menarik kedua bahu Mila, namun dengan cepat kedua tangan Mila mendorong dadanya.
"Ups... maaf!!" Hasbi menggaruk kepalanya dan tersenyum nyengir.
Mila yang juga senang, menundukkan wajahnya dan senyum-senyum.
"Kapan aku bisa bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanya Hasbi meminta izin.
"Secepat itu?" Mila tampak terkejut.
"Ya, kenapa? Apa ada masalah?" tanya Hasbi lagi.
"Bukan... bukan begitu, tapi itu terlalu cepat," jawab Mila yang tak ingin buru-buru. Ia belum mengenal kedua orang tuanya dan keluarga besarnya Hasbi. Dia takut orang tuanya Hasbi tak menyukainya. Ia tak mau memperkenalkannya dengan cepat, takut juga gagal menikah.
"Aku serius, Mil. Bukan waktunya untuk main-main lagi. Aku ingin melamar dan menikahimu!" kata Hasbi dengan mantap.
"Bagaimana dengan kedua orang tua Mas Hasbi?" tanya Mila.
"Mereka menyerahkan semua keputusan padaku," jawab Hasbi.
...----------------...
Mau konflik lagi atau cerita romantis mereka berdua aja?