Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Mulai Retak
Hujan turun sejak sore, membasahi halaman luas Mansion Virello, dengan suara gemuruh yang membuat suasana semakin dingin.
Alya berdiri di depan jendela kamar, matanya kosong memandang taman belakang yang gelap.
Sudah tiga hari Arkan hampir tidak pulang, dan anehnya ia mulai memikirkan pria itu. Padahal dulu, setiap kali Arkan pergi, Alya merasa lega. Tapi sekarang justru berbeda.
Rumah besar ini terasa lebih sunyi dari biasanya, pintu kamar terbuka perlahan. Bianca, pelayan pribadi yang sejak awal melayani Alya, masuk sambil membawa nampan teh hangat.
"Nona Alya, kenapa belum tidur?"
Alya menggeleng pelan, "Aku belum ngantuk."
Bianca menaruh teh di meja kecil dekat sofa, "Tuan Arkan mungkin pulang larut malam lagi."
Kalimat itu membuat dada Alya terasa aneh, ia buru-buru mengalihkan pandangan. "Aku tidak sedang menunggunya."
Bianca tersenyum tipis, seolah tidak percaya. "Dulu Nona selalu senang jika Tuan pergi lama."
Alya terdiam, ucapan itu menusuk tepat di pikirannya. Dan memang benar, dulu ia membenci keberadaan Arkan. Tatapan dinginnya, dan cara pria itu selalu mengatur hidupnya.
Namun sekarang, kenapa semua itu perlahan terasa biasa?
Kenapa keberadaan Arkan justru menjadi sesuatu yang diam-diam ia tunggu?
"Aku hanya tidak suka rumah ini terlalu sepi," ucap Alya pelan.
Bianca tidak membalas lagi, wanita itu keluar meninggalkan kamar dengan tenang.
Setelah pintu tertutup, Alya menghela napas panjang. Tangannya meraih cangkir teh hangat, tetapi pikirannya terus kacau.
Bayangan Arkan terus muncul, tatapan tajam pria itu, suara rendahnya yang dingin, dan cara Arkan melindunginya diam-diam.
Dan hal paling membuat Alya bingung, ia tidak lagi merasa takut sepenuhnya pada pria itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketika pintu membuat Alya menoleh cepat, jantungnya berdetak lebih keras tanpa alasan jelas.
Pintu terbuka, Arkan muncul dengan jas hitam yang sedikit basah terkena hujan. Rambutnya berantakan, wajahnya terlihat lelah, tetapi auranya tetap sama dingin dan mengintimidasi.
Alya langsung berdiri, tatapan Arkan tertuju padanya.
"Kenapa kamu belum tidur?"
Suara rendah itu terdengar berat.
"Aku belum ngantuk."
Arkan berjalan masuk sambil melepas sarung tangan hitamnya.
Ruangan langsung dipenuhi aroma parfum maskulin khas pria itu.
Alya menggigit bibirnya pelan, entah kenapa jantungnya semakin tidak tenang.
"Apa kamu sedang menungguku?" tanya Arkan.
Alya menggeleng cepat, "Tidak."
"Kalu begitu kenapa masih belum tidur? Ini sudah larut malam."
Alya mundur satu langkah, namun tubuhnya justru menyentuh meja di belakang.
Arkan berhenti tepat di depannya, jarak mereka terlalu dekat.
"Aku hanya tidak bisa tidur."
Tatapan Arkan turun menatap wajah Alya, "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Alya menggeleng, justru pria di depannya yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Dan itu membuatnya kesal pada diri sendiri.
Arkan mengangkat tangan, dan Alya langsung menegang. Namun pria itu hanya menyentuh ujung rambutnya, dan itu membuat napas Alya tercekat.
"Kenapa kamu terlihat gemetar, hmm?" bisik Arkan.
"Aku tidak gemetar."
Arkan tersenyum tipis, "Kamu bohong, Alya."
Alya segera menepis tangan pria itu pelan, lalu memalingkan wajah. "Aku hanya lelah."
Sudut bibir Arkan terangkat tipis, "Biasanya kamu akan langsung mengusirku keluar kamar."
Alya terdiam, karena ia sadar, Arkan memang benar. Dulu ia selalu mamasang tembok tinggi pada pria itu, tapi sekarang tembok itu perlahan retak. Dan Alya takut menyadarinya.
"Aku tidak ingin bertengkar malam ini," ucap Alya pelan.
Tatapan Arkan berubah sedikit lebih lembut, untuk pertama kalinya, pria itu terlihat tidak ingin memaksanya.
"Baiklah."
Arkan berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela, lalu duduk di sana.
Alya menatapnya bingung, "Kamu tidak pergi?"
"Tidak, aku sudah terlalu lelah. Jadi aku ingin istirahat dan diam di sini."
Jawaban sederhana itu membuat suasana mendadak canggung.
Hujan masih turun, lampu kamar yang redup membuat semuanya terasa lebih tenang dari biasanya.
Alya perlahan duduk di ujung ranjang sambil menjaga jarak, beberapa menit berlalu tanpa suara. Dan anehnya, keheningan itu terasa menakutkan.
Arkan membuka kancing kemeja atasnya, "Ada masalah di pelabuhan."
Alya sedikit terkejut karena pria itu mulai bicara, biasanya Arkan tidak pernah menceritakan urusannya.
"Masalah apa?"
"Ada seorang pengkhianat."
Dunia Arkan memang selalu dipenuhi kekerasan dan bahaya.
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Alya.
"Blum."
Alya menatap pria itu diam-diam, ada luka kecil di sudut bibir Arkan, dan juga memar samar di lehernya.
"Kamu terluka."
Arkan tersenyum tipis, "Hanya goresan kecil."
Tanpa sadar Alya berdiri lalu mendekat, "Diamlah, dan jangan bergerak."
Arkan mengernyit heran, namun ia tidak bergerak saat Alya mengambil kotak P3K dari laci meja.
Tangannya sedikit gemetar, ketika membersihkan luka di bibir pria itu dengan kapas.
Jarak mereka begitu dekat, Alya bisa melihat jelas mata gelap Arkan yang terus menatapnya tanpa berkedip.
"Mau sampai kapan menatapku seperti itu?" gumam Alya gugup.
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
Jantung Alya kembali berdegup kencang, ia buru-buru fokus mengoles obat. Namun Arkan tiba-tiba menahan pergelangan tangannya, gerakan Alya langsung berhenti.
"Alya."
Suara rendah itu terdengar berbeda malam ini, lebih pelan, dan lebih hangat. Alya perlahan mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat, dunia seperti berhenti.
"Apa kamu mulai peduli padaku?" tanya Arkan.
"A-aku hanya tidak ingin kamu mati di rumah ini."
"Benarkah, hanya itu?"
Alya tidak mampu menjawab, karena jauh di dalam dirinya, ia mulai tidak yakin.
Arkan perlahan mendekatkan wajahnya, napas hangat pria itu menyentuh kulit Alya.
"Matamu tidak bisa berbohong."
Alya langsung menarik tangannya cepat, "Kamu terlalu percaya diri."
"Itu berarti, apa yang aku katakan memang benar," ucapnya dengan tersenyum tipis.
"Aku membencimu, Arkan."
"Kalau begitu, kenapa tanganmu gemetar saat menyentuhku?"
Alya kehilangan kata-kata, ia kesal karena Arkan selalu bisa membaca reaksinya. Padahal Alya sendiri belum memahami perasaannya.
Arkan berdiri, tubuh tingginya membuat Alya mundur sedikit. Namun kalu ini, bukan karena takut, melainkan karena rasa gugup.
"Ja-jangan terlalu dekat," bisik Alya.
"Kenapa, hmm?"
Alya menelan ludah, karena kalau Arkan terus seperti ini, ia takut pertahanannya benar-benar runtuh.
"Karena aku tidak suka."
Arkan menatapnya beberapa detik, lalu tanpa diduga, pria itu justru mundur.
"Baik."
Jawaban itu membuat Alya sedikit terkejut, biasanya Arkan akan memaksakan kehendaknya.
Namun malam ini berbeda, pria itu mengambil jasnya kembali.
"Aku harus pergi lagi."
"Kenapa pergi? Tadi kamu bilang, kamu ingin istirahat."
"Aku ada urusan."
Entah kenapa, dada Alya terasa sakit saat mendengarnya. Arkan berjalan menuju pintu, sebelum keluar, pria itu berhenti tanpa menoleh.
"Tidurlah, ini sudah malam," ucap Arkan, lalu pergi.
Pintu tertutup, dan Alya masih berdiri di tempatnya. Jantungnya belum kembali normal, tangannya menyentuh dadanya sendiri.
Kenapa sakit seperti ini?
Kenapa ia merasa kecewa saat Arkan pergi?
Alya memejamkan matanya, ia membenci kenyataan itu. Perlahan, perasaannya mulai retak.
Dan yang paling menakutkan, retakan itu mengarah pada pria yang seharusnya tidak ia cintai sama sekali.