Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Yang Memilih
Pagi di apartemen sempit itu tidak pernah benar-benar sunyi bukan karena bising atau ramai, melainkan karena ia hidup. Hidup dari suara-suara kecil yang menjadi irama harian mereka: jeritan kipas angin tua berputar lambat, langkah kaki tetangga di lantai atas seperti gajah menari, dan denting sendok logam jatuh dari dapur sebelah—simfoni sederhana dari kehidupan orang-orang biasa.
Dan di tengah semua kebisingan itu, ada satu suara yang paling sering muncul. Suara yang paling akrab bagi telinga perempuan itu.
“Mas… bangun.”
Andra menarik selimut tipis hingga menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata masih berat. “Lima menit lagi, sayang," gumamnya serak khas pagi hari.
Mei yang sudah duduk di tepi kasur melotot pelan. “Dari kemarin ‘lima menit’. Ini sudah masuk lima menit versi ketiga.”
“Anda kurang empati tentang tidur saya, Nduk,” balasnya, meski sudut bibirnya mulai melengkung naik.
" Nduk..nduk," Mei mendengus dengan gerakan cepat menarik ujung selimut itu secara paksa. Cahaya pagi langsung menerpa wajah Andra meringis lucu.
“Mei!” protes nya sambil mengusap wajahnya setengah sadar, setengah tersenyum. Ia terlihat berantakan, rambutnya acak-acakan, kaus oblongnya longgar. Tapi bagi Mei pemandangan itu adalah definisi kenyamanan.
“Mas kerja, bukan jadi patung tidur,” cecarnya sambil berdiri, merapikan seprai kusut. “Ayo, Mei sudah siapkan air hangat untuk mandi.”
" Bentar lagi, Mei," Andra berusaha menarik selimut kembali tapi gadis itu dengan cepat merampasnya, sayang nya tenaganya tidak kuat, tubuhnya oleng jatuh menimpa
" Mas..teriaknya kaget tapi laki laki itu dengan cepat memeluknya, mereka berguling guling diatas kasur.
\=\=\=
Di dapur kecil—ruangan yang begitu sempit hingga mereka harus bergantian jika ingin bergerak— Mei sudah lebih dulu sibuk. Aroma bumbu mie instan mulai menyebar, memenuhi celah-celah udara pengap.
“Mas, kita makan ini lagi ya?” tanyanya meski tangannya sudah cekatan memecahkan telur ke dalam panci kecil.
Andra muncul di ambang pintu dapur, bersandar pada kusen sambil meregangkan punggungnya yang kaku. “Variasi: hari ini pakai telur ganda. Kita raya-kan.”
Mei tertawa kecil, suara tawanya renyah memecah keheningan pagi. “Wah, kaya raya, itu alasan mas sejak dulu, gaji belum turun, Dik.”
Andra tertawa memeluknya erat dari belakang," Tapi...ini harta tidak ternilai ya Mei,"
Perempuan itu berbalik mencium pipinya" Ia sayang, memangnya Mei nikah dengan Mie."
Laki laki itu kembali tersenyum mengambil dua mangkok di rak piring kecil, " Makasih ya cantik."
Mangkuk-mangkuk itu tidak pernah cocok. Satu berwarna biru pudar dengan retakan halus di pinggiran, satunya lagi putih polos dengan motif bunga mawar luntur. Mereka tidak pernah punya set peralatan makan yang lengkap atau seragam.
Barang-barang di apartemen ini adalah kumpulan sisa-sisa, hadiah teman, atau beli bekas di pasar loak.
Tapi anehnya, saat duduk bersila di lantai beralaskan karpet tipis ini tidak terasa sebagai kekurangan tapi kelebihan.
Mereka makan berhadapan, punggung bersandar pada dinding dingin. Uap panas dari mie mengepul di antara mereka, menciptakan kabut tipis memisahkan dari dunia luar.
“Mas,” panggil nya menyendok mie rebus."
“Iya?” Andra menjawab tanpa mengangkat kepala, fokus mengaduk kuah di mangkuknya.
“Kalau nanti kita punya uang banyak… Mei mau beli piring yang sama semua satu set, rapi.”
Andra berhenti mengaduk menatapnya dengan alis terangkat. “Kenapa? Mau pamer ke tamu?”
“Ihh, gak deh, biar kelihatan rapi, estetik,” jawabnya mata berbinar bercanda.
“Mas lebih suka yang berbeda begini.”
“Kenapa lagi?”
“Biar kalau satu pecah…” Ia mengangkat mangkuk birunya yang retak, “…yang lain gak ikut sedih mereka masih punya teman yang utuh. Filosofi piring, Dik.”
“Mas kadang aneh ya," Mei mengulas senyum
“Kadang?” Andra terkekeh. “Setiap hari, Mei. setiap hari.”
---
Siang hari menarik mereka ke arah yang berbeda. Dunia di luar sana menuntut bagian dari diri mereka masing-masing. Andra tenggelam dalam pekerjaannya, sebagai karyawan kecil, sederhana, tidak muluk muluk ia jalani dengan kepala tegak.
Sementara Mei berusaha menavigasi dunia barunya, menjauh dari bayangan masa lalunya, serba ada, penuh kemewahan dan mencoba menemukan identitas baru di tengah kesederhanaan ini.
Namun sore… sore selalu punya cara ajaib untuk mempertemukan mereka kembali.
Mei sering menghabiskan waktu sore duduk di dekat jendela kamar bukan karena pemandangannya indah—hanya tembok gedung sebelah dan langit semakin gelap—tapi karena itu satu-satunya tempat di apartemen mendapat sisa cahaya matahari.
Ia menunggu tanpa merasa sedang menunggu membaca buku, mengetik kisah di latop atau didiary.
Dan setiap kali suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu, diikuti oleh bunyi kunci yang diputar, jantungnya mengenali ritme itu sebelum otaknya sempat memproses, dan wajah nya kembali berbinar
Klik.
Pintu terbuka.
“Mas pulang," teriaknya dengan riang memeluknya. Ini adalah penanda bahwa hari berat telah berakhir, dan mereka selamat melewati nya bersama.
Andra masuk, membawa aroma debu jalanan dan kelelahan. Kemejanya kusut, kerahnya terbuka longgar, wajahnya tampak lelah dengan kantung mata samar. Tapi saat pandangannya menyapu senyuman tulus seluruh ketegangan di bahunya seolah luruh.
“Sayang, ada makanan?” tanyanya sambil meletakkan tas kerjanya di lantai.
Mei berpura-pura berpikir, jari telunjuknya mengetuk dagu. “Gak ada.”
Andra terkekeh, berjalan mendekat dan duduk di sampingnya “Wah, kelaparan nih.”
“Biar aja, tapi ada Mei ” lanjutnya
" Tapi gak bisa kenyang."
" Bisa."
" Caranya ?"
" Cium dulu, nanti mas kenyang sendiri."
Andra tertawa terpingkal pingkal, mencubit hidung nya.
" Cium cepat, kalau gak mas tidur di sofa."
Laki laki itu dengan cepat menarik tangannya," Mas gendong aja."
" Yee..asik."
--
Mereka makan malam dengan nasi hangat, kadang dengan telur dadar, ikan asin, tempe tahu dan teh manis hangat dibagi dua dalam satu gelas.
Tapi mereka selalu duduk berhadapan berdampingan tidak pernah terpisah oleh layar ponsel atau kesibukan masing-masing. Dalam keheningan makan malam itu, ada percakapan yang terjadi tanpa suara, kasih sayang dan rasa syukur bahwa mereka masih ada di sini, saling menjaga.
“Dik,” panggil Andra suatu malam, saat mereka selesai makan duduk diam mendengarkan suara hujan di luar.
“Iya.”
“Capek?”
Ia menghela napas panjang, menggeleng pelan. " Gak, nggak bakal nyerah.”
“Kenapa nggak nyerah?”
“Karena masih ada Mas," tangannya bergerak mencari tangan di atas karpet menyelip di antara jari-jari kasar dan kapalan.
Andra membalas genggaman itu erat dan hangat.
Malam di apartemen itu sederhana. Tidak ada televisi layar lebar, tidak ada hiburan mewah, tidak ada pesta. Kadang mereka hanya duduk diam, saling bersandar, mendengarkan napas masing-masing, bicara tentang hal-hal remeh: warna cat dinding ingin diganti, resep masakan baru gagal, atau rencana liburan imajiner ke pantai.
“Mas,” bisiknya, kepalanya bersandar di bahu.
“Iya?”
“Kalau nanti kita punya rumah besar… jangan terlalu besar, ya.”
Andra tertawa pelan, dadanya bergetar halus “Kenapa? Takut kesepian?”
“Takut jauh,” jawabnya jujur. “Dari Mas.”
Andra diam sejenak mencium keningnya lembut. “Rumah sebesar apa pun, Mei… kalau kita di dalamnya bersama, jaraknya nol kilometer gak akan terasa jauh.”
Ia mengangguk pelan, memejamkan mata menyerap kehangatan tubuhnya, aroma sabun murah melekat di kulit dan detak jantung stabil di samping telinganya.
Untuk beberapa saat, dunia di luar sana tidak penting, tidak ada keluarga yang menghakimi, tekanan sosial, atau masa lalu yang menghantui.
Hanya mereka.
Dan kehidupan kecil ini—yang terdiri dari mie instan, piring yang tidak sepasang, janji lima menit lagi, dan genggaman tangan di malam hari—adalah hal yang terus mereka ulang setiap hari.
Tanpa sadar, Meisyah menyadari sesuatu yang mendalam: inilah yang paling berharga. bukan harta, bukan status, bukan ingatan yang sempurna melainkan konsistensi kehadiran. Cinta yang tidak berteriak, tapi berbisik setiap pagi, setiap sore, setiap malam.
Cinta yang memilih untuk tetap tinggal, meski dunia menawarkan alasan untuk pergi.