Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas dan Pilihan Yang Dipaksakan
POV Zayn Devandra
Malam telah beranjak larut ketika acara itu akhirnya usai.
Ballroom yang sebelumnya dipenuhi cahaya dan suara kini perlahan lengang. Para tamu mulai meninggalkan tempat dengan sisa percakapan dan kesan yang masih menggantung di udara.
Namun bagi Zayn Devandra
Malam ini belum benar-benar berakhir.
Ia berdiri tidak jauh dari pintu keluar, jasnya masih rapi, ekspresinya kembali seperti biasa tenang, terkendali, tanpa celah.
Seolah tidak ada yang berubah.
Padahal
Segalanya terasa berbeda.
“Tunggu”
Suara itu menghentikan langkahnya.
Zayn menoleh.
Tuan Misra Devandra berdiri di sana, dengan wibawa yang sama seperti sebelumnya tenang, tetapi penuh kendali.
Di tangannya, sebuah kartu kecil berwarna emas.
“Kalian tidak pulang ke rumah malam ini,” ujar Misra tanpa basa-basi.
Zayn mengernyit.
“Ayah?”
Misra menyerahkan kartu itu.
“Kamar sudah disiapkan.”
Zayn tidak langsung mengambilnya.
Tatapannya tajam, mempertanyakan.
“itu tidak benar?” tanyanya datar.
Misra tidak langsung menjawab.
Ia melirik sekilas ke arah Aluna yang berdiri beberapa langkah di belakang wajahnya pucat, lelah, dan jelas tidak dalam kondisi baik.
“Dia sudah kelelahan,” ucap Misra singkat.
Zayn terdiam sejenak.
Ia mengikuti arah pandang ayahnya.
Aluna.
Gadis itu memang terlihat berbeda.
Tidak lagi berbicara.
Tidak lagi menatap siapa pun.
Hanya berdiri diam seolah seluruh energinya telah habis.
Namun
“Itu bukan alasan untuk menginap di hotel,kami akan pulang kerumah” balas Zayn akhirnya.
Nada suaranya tetap tenang, tetapi mengandung penolakan yang jelas.
Misra menghela napas pelan.
“Selalu harus ada alasan logis menurutmu, bukan?”
Zayn tidak menjawab.
“Baik,” lanjut Misra, kini menatapnya lurus. “Kalau begitu, anggap ini perintah.”
Hening.
Zayn menatap kartu itu.
Beberapa detik.
Lalu
Ia menerimanya.
Bukan karena setuju.
Tetapi karena ia tahu
Perdebatan ini tidak akan berakhir dengan kemenangan di pihaknya.
Namun pembicaraan belum selesai.
Zayn bisa merasakannya.
“Zayn.”
Namanya dipanggil kembali.
Lebih dalam.
Lebih serius.
Ia mengangkat wajah.
“Manfaatkan ini dengan baik.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun maknanya
Jelas.
Rahang Zayn mengeras.
“Sudah hampir satu bulan,” lanjut Misra, nada suaranya tetap tenang, tetapi kini lebih menekan.
“Dan kamu belum menyentuhnya.”
Zayn tidak bergerak.
Namun matanya berubah.
Lebih dingin.
“Saya tidak akan melakukannya.”
Jawabannya keluar tegas.
Tanpa ragu.
Tatapan Misra menajam.
“Saya tidak mencintainya,” lanjut Zayn. “Dan dia juga tidak mencintai saya.”
Suaranya rendah, tetapi penuh kepastian.
“Hubungan ini hanya sementara.”
Angin malam terasa lebih dingin.
“Ketika kontrak ini berakhir,” ucap Zayn, “kami akan berpisah.”
Ia menatap lurus ke mata ayahnya.
Seolah menantang.
Namun yang datang
Bukan kemarahan yang meledak.
Melainkan
Ketenangan yang lebih berbahaya.
“jika saya melakukan itu?”
Zayn tidak ragu.
“Saya akan menghancurkan masa depannya,dan saya tidak tidak menginginkan itu”
Kalimat itu
Terdengar halus.
Namun maknanya
Terlalu jelas.
“Jika perlu,” lanjut Zayn, “saya bisa menghancurkan kemungkinan itu sejak awal, sebelum segalanya semakin dalam.”
Hening.
Udara di antara mereka berubah.
Zayn belum selesai.
“Jika Ayah tetap menginginkan pewaris”
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan nada datar, seolah membicarakan sesuatu yang sepenuhnya rasional.
“Prosedur medis dapat dilakukan.”
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian
Tatapan Misra berubah.
“Apakah saya harus menamparmu lagi?”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras.
Namun cukup untuk membuat Zayn terdiam.
Kenangan itu
Masih jelas.
Ia mengatupkan rahangnya.
Namun tidak membalas.
“Dengarkan saya baik-baik, Zayn.”
Suara Misra kini lebih dalam.
Lebih tajam.
Dan tidak memberi ruang untuk disanggah.
“Selama saya masih hidup
Ia menatap lurus ke mata anaknya.
“Hubunganmu dengan Aluna tidak akan pernah berakhir.”
Setiap kata diucapkan dengan pasti.
Tanpa keraguan.
Zayn tidak bergerak.
Namun di dalam dirinya
Sesuatu bergejolak.
“Dan jika kamu tidak bisa menjaga sikapmu,,,”
Misra berhenti sejenak.
Tatapannya semakin tajam.
“Jika air mata Aluna kembali jatuh karena dirimu”
Hening.
“Bukan hanya Selena yang akan keluar dari keluarga Devandra.”
Zayn menegang.
“Kamu juga.”
Kalimat itu
Jatuh seperti palu.
Keras.
Pasti.
Tidak bisa ditarik kembali.
Zayn tidak menjawab.
Tidak langsung.
Namun untuk pertama kalinya malam itu
Ia tidak memiliki bantahan.
Bukan karena ia setuju.
Tetapi karena
Ia tahu.
Ayahnya tidak pernah berbicara tanpa arti.
Dan ancaman itu
Bukan sesuatu yang bisa ia abaikan.
Angin malam berhembus pelan.
Membawa sisa-sisa dingin yang tidak bisa dijelaskan.
Zayn menatap kartu di tangannya.
Kartu kecil
Yang entah kenapa terasa lebih berat dari seharusnya.
Di kejauhan
Aluna masih berdiri diam.
Tidak mengetahui sepenuhnya
Apa yang baru saja diputuskan tentang hidupnya.
Dan Zayn
Untuk pertama kalinya
Merasa berada di persimpangan yang tidak ia pilih sendiri.
Namun satu hal kini menjadi jelas
Ia tidak lagi sepenuhnya memegang kendali.
Dan itu
Adalah hal yang paling ia benci.
Bagaimana kisah Aluna dan Zayn selanjutnya????