Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Bunyi sirine merobek terik siang. Memekakkan. Tumpang tindih dengan deru mesin lapis baja.
Lampu strobo merah dan biru dari atap mobil operasional saling beradu. Pendarannya menampar keras fasad bangunan beton kusam di depan mereka. Menciptakan kontras menjijikkan di bawah terik matahari tengah hari.
"Di sini tempatnya." Kapten Chen memecah bising.
Suaranya pelan tapi mengiris udara kering. Ia mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi. Sarung tangan kulit hitam yang membalut jarinya berderit bergesekan.
Isyarat itu langsung ditangkap tuntas oleh barisan di belakangnya. Puluhan personel baret hitam dari kompi Awakened Force Control merangsek maju menembus hawa panas.
Sepatu laras berat menghantam aspal retak secara serentak. Rompi kevlar bergesekan satu sama lain. Mengeluarkan bunyi serak khas persendian sintetis yang dipaksa bekerja ekstra.
Senapan energi dikokang presisi. Suara dengung mekanis memenuhi celah udara. Beberapa petugas di garda paling depan menghunus pedang taktis dari pinggang mereka.
Bilah-bilah logam modifikasi itu memendarkan cahaya neon kehijauan. Panas energinya membakar partikel debu yang melayang lambat di sekeliling area pengepungan.
Area pabrik kosong itu sudah terkepung rapat. Tidak ada celah. Tidak ada sudut buta yang dibiarkan terbuka.
Langkah kaki santai mendadak terdengar dari arah garis belakang pembatas. Polanya sangat tidak seirama dengan ketegangan yang mengunci rapat paru-paru semua orang di lapangan.
Ren berjalan santai membelah barikade operasional. Jemarinya melingkar longgar pada sebuah kaleng kopi instan yang basah.
Ia menarik pelan tuas pembuka kaleng. Bunyi desis karbonasi bocor pelan ke udara.
"Maaf, aku datang terlambat," ucap Ren santai.
Ia meneguk kopi itu sesapan demi sesapan. Cairan manis bercampur pahit buatan membasahi kerongkongannya yang kering. Cukup untuk menyegarkan diri.
Kapten Chen memutar lehernya. Sorot matanya langsung menancap setajam pecahan beling.
Chen memindai figur Ren dari ujung helai rambut yang berantakan sampai ujung pantofel kerjanya yang berdebu. Ada sesuatu yang selalu terasa salah dari pegawai administrasi ini. Terlalu tenang. Terlalu bersih untuk ukuran dunia yang terus-terusan mengais lumpur kehancuran.
Kapten detektif itu membuang muka. Bibirnya melengkung sinis, menyudutkan.
"Baiklah. Jangan halangi kami." Suara Chen merendahkan, setajam pisau lipat.
Ren hanya menurunkan kaleng kopinya pelan. Ujung sepatunya mengais tumpukan kerikil kecil di atas aspal tanpa niat jelas.
Ia menghela napas panjang. Udara keluar berhembus menyingkirkan debu di depan hidungnya.
"Baik, baik."
Chen kembali memfokuskan pandangannya lurus ke depan. Bangunan pabrik terbengkalai itu berdiri bisu. Menantang pasukan bersenjata di halamannya.
Pintu gulung berkarat di depan sana tampak seperti mulut monster raksasa yang tertutup rapat, menyembunyikan gigi-gigi busuk di dalamnya.
Salah seorang komandan kompi maju satu langkah tegap. Ia menekan tombol pelantang suara di kerah rompinya.
"Kami dari kompi AFC! Keluarlah!"
Gema suaranya memantul agresif dari dinding beton ke dinding beton lainnya. Hening total selama tiga detik.
Angin siang mendadak berhenti bertiup. Pasokan oksigen seolah tersedot paksa ke dalam rongga pabrik gelap tersebut.
Chen mengernyit. Sol sepatu kulitnya merespons sesuatu yang salah.
Ada getaran mikroskopis yang merambat liar lewat rongga aspal. Berirama kaku. Semakin lama semakin rapat menyusun frekuensi.
Denyut nadinya melonjak drastis. Permukaan tanah di sekitarnya mulai bergetar kasar tanpa peringatan.
Kepingan aspal retak melompat-lompat kecil di dekat ujung sepatunya. Ritmenya kacau.
"Perasaan ini..." gumam Chen pelan. Insting penjinak mautnya menjerit parah.
Pintu gulung pabrik di depan mereka membengkok cembung ke luar. Logam tebal pembatas itu mengerang ngilu seolah ada tekanan masif yang dipaksakan berdesakan dari ruang hampa di dalam sana.
Chen membelalak. Urat lehernya menonjol seketika.
"Kalian! Berlindung!"
Peringatan itu telat mengudara. Terpotong durasi.
Ledakan memekakkan telinga merobek lambung bangunan itu. Pintu gulung baja hancur berkeping-keping. Serpihan besinya melesat membelah udara seperti hujan peluru nyasar yang buta arah.
Bukan sekadar bongkahan logam yang dimuntahkan dari rahim pabrik tersebut.
Sebuah gelombang benda hidup tumpah ke luar. Ratusan figur berdesakan, saling injak, merangkak sinting melepaskan diri dari sisa-sisa kegelapan pabrik.
Lolongan panjang menyayat membran telinga bergema bersahutan. Suara itu bukan produk pita suara manusia normal. Serak. Melengking. Penuh distorsi parah seolah banyak tenggorokan berbagi satu leher.
Jubah-jubah merah kusam berkibar menantang hukum fisika di bawah terik sengatan matahari. Wajah mereka tertutup rapat oleh topeng porselen putih yang memancarkan kekosongan absolut.
Makhluk-makhluk anomali itu melesat secepat peluru.
Cakar demi cakar dilancarkan membabi buta. Kuku hitam pekat menebas udara kosong sebelum bergesekan keras merobek plat kevlar pelindung.
Barisan depan kompi AFC langsung hancur berantakan. Formasi rapat mereka tumpas.
Tembakan plasma meletus riuh tak beraturan. Kilatan energi biru dan merah menyambar-nyambar panik mencoba membakar daging pucat yang merangsek maju.
Darah hitam pekat memercik kencang. Cairan itu mendesis membakar saat mencium tanah aspal bersuhu tinggi. Bau daging gosong bercampur pekatnya amonia seketika menjajah sistem pernapasan siapapun di sana.
"Tahan garis! Tahan!" raung salah satu pemimpin kompi.
Sebuah pedang neon menebas presisi leher salah satu makhluk itu. Kepala bertopeng porselen tersebut menggelinding membentur ban mobil. Tubuhnya langsung runtuh menjadi onggokan daging mati.
Makhluk yang tumbang itu perlahan memudar, menguap menjadi debu berbau karat. Sayangnya, fenomena itu sama sekali tidak membantu.
Dari ambang pintu gudang yang remang, lima bayangan baru melompat menggantikan posisi yang kosong. Gelombang baru terus mengalir deras seperti air bah dari bendungan retak.
Moncong senapan menyemburkan rentetan api tanpa henti. Selongsong peluru energi berjatuhan berdenting memenuhi aspal kotor.
Para petugas berrompi mulai terdorong mundur tak teratur. Langkah mereka goyah, terjerembab dihantam pasang surut gelombang daging buas itu.
"Kita tidak akan bertahan lama kalau terus begini!" Seruan kapten kompi itu pecah, tenggelam begitu saja ditelan raungan gerombolan musuh.
Trace milik Kapten Chen bereaksi. Hawa panas memancar dari pori-pori kulitnya, mengusir udara pengap di sekelilingnya.
"Huh." Dengusan Chen meluncur dingin.
Pria itu merogoh saku jas detektifnya. Tangannya menarik sebatang rokok kretek, lalu menjepitnya nyaman di antara belahan bibir.
"Setelah sekian lama mencari jejak kalian."
Pemantik perak berderik memercikkan bunga api kecil. Ujung rokok itu menyala merah membara. Asap putih keabu-abuan mengepul tebal menutupi ekspresi matanya yang menajam.
"Akhirnya aku menangkap kalian."
Chen melepas jas luarnya dengan satu kibasan luwes. Membiarkan kain berat itu jatuh teronggok menumpuk debu di atas aspal kotor. Ia merelakan atribut resminya.
Hanya menyisakan kemeja bahan putih yang lengannya sudah digulung urakan hingga siku.
Ia melangkah maju. Menembus barisan anak buahnya yang sedang mati-matian menahan benturan fisik.