Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.
Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.
Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.
Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Adaptasi
Kesunyian di dalam menara bukanlah keheningan.
Ia hidup. Yanzhi merasakannya saat ia duduk bersila, punggung menempel pada dinding batu yang dingin. Segel di lantai terus berdenyut, perlahan, teratur, seperti napas makhluk raksasa yang tertidur di bawah kakinya.
Ia menutup mata.
Awalnya, ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri.
Lalu, di sela-selanya, ada ritme lain.
Lebih besar. Lebih tua.
"Bukan kau yang ditekan," bisik Yanzhi dalam hati.
"Ini tubuhku yang tidak cocok dengan irama tempat ini."
Segel di lantai berpendar samar, merambat seperti aliran tipis cahaya menuju pusat lingkaran. Yanzhi merasakan panas di dadanya bergetar, bukan memberontak, bukan meledak.
Melainkan… menyesuaikan.
Ia menarik napas.
Bukan dengan dada. Tapi dengan kesadaran.
Tekanan di bahunya tidak hilang, namun berubah bentuk. Dari beban kasar menjadi dorongan tumpul, seperti arus air yang mengalir melawan tubuhnya.
Yanzhi membiarkannya lewat.
"Begitu rupanya," gumamnya pelan. "Kalau aku melawan… aku tenggelam."
Roh di dalam dirinya terdiam lama.
Untuk pertama kalinya sejak mereka terikat, roh itu tidak memberi peringatan. Tidak menyela. Tidak mengarahkan.
Hanya mengamati.
"…Menara ini membaca keberadaan," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Bukan kekuatan."
Yanzhi membuka mata.
"Dan keberadaanku… kacau."
Tidak ada jawaban langsung.
Segel di lantai menyala sedikit lebih terang, lalu meredup kembali.
"Bukan kacau," ujar roh itu. "Belum selesai."
Yanzhi menghela napas pelan.
Ia kembali menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Menara Penyegelan, ia bernapas bersama segel, bukan melawannya.
Tekanan tidak lenyap.
Namun ia tidak lagi menggerogoti.
Perubahan itu terasa.
Bukan hanya oleh Yanzhi.
Di sudut menara yang lebih dalam, di balik lapisan segel yang bertumpuk, sesuatu bergerak.
Bisikan yang sebelumnya terpecah, menyatu.
"Menarik…"
Yanzhi membuka mata perlahan.
Bayangan di dinding tidak lagi bergerak acak. Salah satunya berhenti, menjadi lebih padat, lebih jelas, seperti siluet duduk bersandar pada kehampaan.
"Sudah lama tidak ada yang mendengar menara," lanjut suara itu. "Apalagi… menyesuaikan diri."
Yanzhi tidak langsung menjawab.
Ia menoleh sedikit, menatap bayangan itu tanpa berdiri.
"Kau bisa melihatku?"
Tawa pendek terdengar, berat, nyaris tanpa emosi.
"Aku tidak melihat dengan mata," katanya. "Aku merasakan ketidakseimbangan."
"Ketidakseimbangan?" ulang Yanzhi pelan.
"Ya," jawab suara itu. "Tubuhmu menampung sesuatu yang seharusnya berdiri sendiri."
Udara di sekitar Yanzhi menegang.
Roh di dalam dirinya langsung bergerak.
"Cukup," katanya dingin. "Kesadaranmu tidak perlu menyentuh wilayah itu."
Bayangan itu tidak tertawa kali ini.
Ia bergetar, bukan karena takut,
melainkan karena menahan tekanan yang tidak bisa ia ukur.
"Begitu rupanya…" gumamnya rendah. "Bukan sekadar beban."
Yanzhi mengerutkan kening.
"Maksudmu?"
Hening sesaat.
Lalu suara itu berkata, lebih lambat—
"Yang kau bawa… tidak sepenuhnya bisa disentuh oleh menara ini."
......................
Di luar Menara Penyegelan, angin malam berhembus dingin.
Han Ye berdiri di tangga batu, menatap menara tanpa berkedip. Cahaya talisman memantul di matanya, membuat ekspresinya sulit ditebak, bukan marah, bukan ragu, hanya terkunci.
Yi berdiri beberapa langkah di belakangnya, gelisah.
"Han…" katanya pelan. "Kalau rencana Wei Ren memang dari awal untuk menyingkirkan Yanzhi… berarti kita sudah terlambat satu langkah."
Han Ye tidak langsung menjawab.
Ia mengamati pola cahaya di dinding menara, ritmenya stabil, terlalu rapi. Segel bekerja persis seperti yang diharapkan seseorang.
"Bukan terlambat," katanya akhirnya. "Dia hanya bergerak lebih dulu."
Yi mengepalkan tangan.
"Dia memancing tuduhan." "Lalu memastikan Yanzhi tidak punya ruang bicara."
Han Ye mengangguk tipis.
"Dan sekarang," lanjutnya, "Yanzhi menjadi pusat semua kecurigaan… tanpa perlu Wei Ren mengotori tangannya lagi."
Yi menarik napas tajam.
"Kalau Yanzhi tidak keluar dari menara dalam kondisi utuh… semua bukti akan ikut terkubur."
Han Ye menoleh sedikit.
"Itu sebabnya kita tidak boleh bergerak ceroboh."
Yi menatapnya.
"Han Ye… kita butuh bukti. Tapi semua yang Wei Ren lakukan sejauh ini rapi. Tidak ada satu pun yang bisa ditarik ke permukaan."
Han Ye terdiam sejenak.
Lalu ia berkata pelan, namun tegas—
"Ada satu orang yang bisa."
Yi langsung paham.
"Guru Lu Ming…"
Han Ye mengangguk.
"Dia satu-satunya yang berani menelusuri alur keputusan para tetua." "Dan satu-satunya yang tahu bagaimana membaca jejak energi lama di sekte ini."
Yi ragu sejenak.
"Tapi kalau Wei Ren sudah sejauh ini… berarti dia juga sudah mengantisipasi Guru Lu Ming."
Han Ye menyilangkan tangan.
"Itu sebabnya kita tidak datang dengan tuduhan." "Kita datang dengan pertanyaan."
Yi menghela napas.
"Dan kalau Guru Lu Ming menemukan sesuatu?"
Han Ye kembali menatap menara.
"Maka Wei Ren tidak lagi hanya ingin menyingkirkan Yanzhi." "Dia akan mulai menutup mulut orang lain."
Yi menelan ludah.
"Termasuk kita?"
Han Ye tersenyum tipis, tanpa humor.
"Termasuk siapa pun yang masih berdiri di sisi kebenaran."
Ia melangkah turun satu anak tangga.
"Kita tidak punya banyak waktu." "Jika Menara Penyegelan mulai mengubah Yanzhi… maka siapa pun yang keluar nanti mungkin tidak lagi sama."
Yi mengangguk pelan.
"Aku akan mencari Guru Lu Ming."
Han Ye berhenti sejenak, lalu berkata tanpa menoleh
"Jangan lewat jalur utama." "Dan jangan biarkan Wei Ren tahu… bahwa kita sudah berhenti mengamatinya."
Yi mengerti.
Ia berbalik pergi ke dalam bayangan.
Sementara Han Ye tetap berdiri di sana, menatap Menara Penyegelan—
bukan sebagai penjara.
Melainkan sebagai batas waktu.
> Jika Yanzhi bertahan, kebenaran masih punya kesempatan.
Jika tidak, maka Wei Ren akan menang tanpa perlu muncul lagi.
......................
Di lorong samping aula utama, Wei Ren berjalan sendiri.
Langkahnya ringan. Napasnya stabil.
Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja mendorong murid lain ke Menara Penyegelan.
Ia berhenti di depan sebuah pilar batu tua, retakannya membentuk simbol samar, nyaris tertutup lumut.
Wei Ren meletakkan telapak tangannya di sana.
Sesaat, tidak terjadi apa-apa.
Lalu retakan itu berpendar redup.
Bukan cahaya talisman sekte.
Lebih gelap. Lebih dalam.
Wei Ren menunduk sedikit, seolah mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh dunia.
"Belum," gumamnya pelan. "Dia masih bertahan."
Udara di sekitarnya bergetar tipis.
"Menara akan mempercepatnya."
Wei Ren tersenyum tipis.
"Tidak apa." "Selama ia tidak keluar sebagai dirinya yang semula."
Cahaya di pilar meredup.
Wei Ren melangkah pergi, ekspresinya kembali netral.
Namun satu hal tertinggal, jejak energi asing, berbeda dari aura sekte mana pun.
......................
Hening di dalam Menara Penyegelan kembali turun.
Bayangan di dinding tidak bergerak lagi, seolah sedang menimbang apakah layak melanjutkan pembicaraan.
Yanzhi tidak mendesak.
Ia tetap duduk bersila, napas terjaga, kesadarannya terikat pada satu titik seperti yang diajarkan roh di dalamnya.
Akhirnya, suara itu kembali, lebih pelan, lebih berat.
"Jika kau terus bertahan seperti ini," katanya,
"menara tidak akan menghancurkanmu."
Yanzhi membuka mata.
"Itu terdengar seperti kabar baik."
Bayangan itu mengeluarkan dengusan singkat, bukan tawa.
"Tidak bagi tubuhmu."
Udara terasa menekan sedikit lebih kuat.
"Menara ini menyesuaikan diri," lanjutnya.
"Pada yang melawan. Pada yang menyerah. Dan pada yang… beradaptasi."
Yanzhi mengerutkan kening.
"Beradaptasi?" ulangnya pelan.
"Lalu apa yang terjadi pada mereka?"
Hening sesaat.
"Yang memilih jalan itu," jawab suara itu,
"akan berubah perlahan… tanpa pernah sadar kapan dimulainya."
Roh di dalam tubuh Yanzhi bergerak.
"Perubahan bagaimana?" tanya Yanzhi tenang.
Bayangan itu tidak langsung menjawab.
Cahaya talisman di dinding berdenyut pelan, seolah merespons.
"Kesadaranmu akan menjadi lebih tajam," katanya akhirnya.
"Tapi batas tubuhmu akan menipis."
Yanzhi mengepalkan jarinya.
"Menipis?"
"Antara manusia dan wadah," jelasnya.
"Menara akan terus mencoba menyesuaikan tekanan…
dan suatu hari, ia tidak lagi tahu harus menekan yang mana."
Itu bukan ancaman, itu observasi.
Yanzhi menunduk sedikit.
"Jadi aku bukan akan hancur," gumamnya,
"tapi akan menjadi sesuatu yang menara sendiri tidak pahami."
Bayangan itu tidak menyangkal.
Tanpa peringatan, salah satu lingkaran segel di lantai berpendar lebih terang.
Bukan menyala liar, bukan retak.
Tapi bergeser.
Garis-garis talisman bergerak setipis rambut, membentuk pola baru yang tidak simetris.
Yanzhi merasakannya seketika.
Tekanan di dadanya tidak bertambah…
tapi berubah arah.
Seolah menara berhenti mendorong dan mulai mengamati.
Roh di dalam dirinya terdiam lama.
Untuk pertama kalinya…
ia tidak langsung memberi instruksi.
"Kau merasakannya?" tanya Yanzhi pelan.
"…Ya," jawab roh itu akhirnya.
"Nada segelnya bergeser."
Bayangan di dinding tampak sedikit menjauh.
"Menara mulai mengenalmu," katanya.
"Bukan sebagai tahanan biasa."
Yanzhi menarik napas dalam.
"Apakah ini berbahaya?"
Roh menjawab jujur—
"Aku tidak tahu."
Kalimat itu berat dan jujur.
"Tapi satu hal pasti," lanjutnya.
"Menara tidak akan lagi memperlakukanmu seperti yang lain."
Yanzhi memejamkan mata.
"Kalau begitu… aku harus tetap sadar," bisiknya.
"Sebelum ia memutuskan sendiri apa aku ini."
Segel di lantai kembali berdenyut, kali ini lebih lambat.
Lebih… ragu.
...****************...
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu