Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Pertemuan
Wanita itu tampak sedang memijat dahinya yang berkedut setelah mendengar penjelasan dari sang putra. Dia benar-benar tidak pernah menduga kejadian seperti ini akan terjadi.
"Rio, Ibu bingung mau ngomong apa...?" Ia menatap sang anak dengan lekat. "Kenapa kamu gak ngomong sama Ibu?" Ada gurat kekecewaan di wajah wanita yang telah membesarkannya hingga sekarang.
Satu hembusan napas panjang yang terdengar berat. Ia merasa terkhianati oleh putranya sendiri. Bukan karena soal kehamilan itu saja, tapi fakta anaknya telah menikah diam-diam. Semua itu sudah berjalan selama satu bulan lebih, tanpa sepengetahuan nya. Rio menutupi nya dengan sangat baik.
"Apa Ibu bisa bertemu dengannya, Rio?" Tanyanya kali ini berusaha tegar dan tenang.
"Ibu..., mau ketemu sama Bu Risa...?" Tanya Rio yang terlihat sedikit antisipasi.
"Kalau kamu masih anggap Ibu sebagai orang tuamu," balas wanita itu sebagai kalimat pamungkas.
"Ibu jangan bilang begitu, kalau Ibu mau ketemu sama Bu Risa, bakal Rio antar sekarang," jawab Rio akhirnya tak bisa menolak lagi. Hatinya terasa sakit mendengar ibunya bicara seperti itu.
"Ibu siap-siap dulu, dan minta Dina jaga rumah."
Rio hanya bisa pasrah melihat ibunya sedang berjalan. Wanita itu berteriak dari bawah, meminta Dina untuk menjaga rumah sebentar. Dina yang sedang di dalam kamar lantas membuka pintu dan menuruni beberapa anak tangga.
"Ibu mau kemana? Kok, Dina ditinggal?" Tanya sang adik yang kelihatannya kepengen ikut.
"Sebentar aja, mau ke rumah temen Kakak kamu," balas sang ibu berbohong. Ya, dia gak mau Dina tahu masalah ini dulu.
"Oh, kalau gitu hati-hati ya, Bu. Jangan lama-lama, Dina takut sendirian!" Ujar sang adik yang gak menuntut banyak penjelasan.
"Iya sudah, kamu ke kamar saja lagi, Ibu mau ganti baju."
"Oke, deh Bu!"
...****************...
Rio mengantar ibunya menuju apartemen yang masih berada di sekitar kawasan sekolah, tapi khusus berada di dalam suatu wilayah elit yang terpisah sendiri dari perumahan setempat.
Sepanjang perjalanan ibunya hanya diam sambil memerhatikan jalan dengan tatapan seperti kosong. Rio dapat melihat ekspresi ibunya yang terpantul dari kaca spion motor.
"Semoga Bu Risa sama Bu Dewi gak marah, dan semoga Ibu gua juga gak bikin keributan...," ucapnya dalam hati sambil berdoa agar semua baik-baik saja.
...****************...
Rio akhirnya sampai di area apartemen yang menjadi tempat tinggalnya selama sebulan.
"Wah, bawa siapa tuh Mas?" Tanya si satpam yang memang sudah kenal sama Rio.
"Ini Ibu saya, Pakde," jawab Rio memanggil pria berusia 40 tahun itu dengan sebutan yang lebih akrab.
"Oh, selamat sore, Bu." Satpam itu langsung menyapa ramah saat tahu wanita yang dibawa oleh Rio adalah ibunya.
"Selamat sore, Pak," balas ibunya Rio dengan senyum ramah.
"Ayo, Bu." Rio berjalan menghampiri setelah memarkirkan motor dan melepas helm. "Duluan Pak," ucapnya tak lupa kepada sang satpam yang hanya membalas dengan anggukan kepala.
.
Rio berjalan mengantar sang ibu masuk ke dalam apartemen, dan mengarahkannya untuk naik lift. Apartemennya berada di lantai 5, cukup tinggi kalau sang ibu harus menaiki anak tangga.
Begitu pintu lift terbuka keduanya keluar di lantai 5. Rio menarik napasnya dalam-dalam, karena mereka semakin dekat. Jujur dia merasa tegang.
"Bu...," ucapnya yang secara tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya sang ibu dengan datar.
"Ibu, gak bakal..., marah ke Bu Risa 'kan...?" Tanyanya dengan perasaan ragu. Dia gak mau ibunya salah-paham.
"Ibu cuma mau ketemu, kamu gak perlu takut," jawab sang ibu yang menurut Rio kayak gak meyakinkan.
Rio akhirnya gak berani banyak bicara lagi. Dia dapat melihat tekad ibunya sudah sangat kuat buat bertemu sama Risa. Akhirnya ia pun kembali berjalan dan beberapa langkah ke depan mereka berhenti di ruangan kamar nomor 101.
Rio mengetuk pintu apartemen tersebut (meskipun ada bel tapi dia lebih terbiasa mengetuknya).
Tak lama pintu itu dibuka dan memperlihatkan Dewi yang berdiri menyambut Rio. Wanita itu tersenyum cerah saat melihat kedatangan Rio.
"Mama pikir kamu gak bakal pulang hari ini," ucapnya yang kemudian ia melirik ke arah seorang wanita di sebelah Rio. "Rio? Dia...?"
"Perkenalkan, saya Ibunya Rio, Puspa." Ia langsung mengulurkan tangannya ke arah wanita yang sedang berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak bingung sesaat.
"Ah, ibunya Rio? Saya Dewi, Ibunya Risa...," balasnya menerima uluran tangan tersebut dengan senyum merekah.
"Mari, silahkan masuk, saya senang sekali anda bisa datang." Dewi langsung membuka pintu lebar-lebar, mengajak besannya untuk ke dalam.
"Apa Rio sudah cerita semuanya sama Ibu??" Dewi kelihatan sangat antusias dengan kedatangan Puspa.
"Ya, begitulah...," jawab Puspa sambil melirik ke arah Rio yang berjalan di belakang keduanya.
"Duduk dulu ya Bu Puspa, saya mau panggilkan anak saya dulu," ucap Dewi setelah mempersilahkan Puspa untuk duduk.
"Bu, kalau begitu, Rio keluar dulu ya...?" Rio sedikit kaget saat mendengar Dewi mau memanggil Risa yang artinya dia bakal melihat wajah dari wanita itu. Bukannya apa-apa sih, tapi dia masih mual.
"Kenapa keluar? Kamu di sini saja." Puspa menoleh ke arah Rio dan memberi kode agar putranya itu ikut duduk.
Rio terdiam dan saling melempar pandang dengan Dewi yang juga bingung bagaimana harus menjelaskan.
"Emm, tunggu sebentar ya." Akhirnya Dewi memutuskan untuk memanggil Risa terlebih dahulu. Rio pun terpaksa duduk di sebelah ibunya.
...****************...
Dewi masuk ke ruangan kamar anaknya dan mendapati sang putri masih tertidur lelap padahal dia sudah tidur sejak siang tadi.
"Risa bangun, Rio udah pulang tuh!" Dewi mengguncang pelan bahu sang anak.
"Emmh..., biarin aja lah, emang kenapa kalau dia pulang? Dia juga gak bisa liat Risa 'kan...," balas Risa yang lagi mager berat.
"Rio datang sama Ibunya, Ris," ucap Dewi menjelaskan dan sukses bikin Risa melek lebar.
"HAH!!!?" Gadis itu terkejut dan seketika langsung duduk di atas tempat tidur. "Ma, jangan bercanda!" Ujarnya menoleh ke arah sang ibu.
"Ngapain bercanda, mereka ada di depan sekarang!" Jawab Dewi dengan wajah serius.
"Ih, kok bawa Ibunya enggak bilang-bilang!!! Terus Risa harus gimana???" Risa kebingungan sendiri kayak maling yang ketangkep.
"Ya temui, dong!!! Kamu gimana sih??" Dewi menatap heran ke arah Risa.
"Tapi kalau Ibunya nanti tanya-tanya gimana? Masa Risa harus jawab kalau semua karena Risa mabuk lalu khilaf dan mengira Rio adalah Dion, jadi Risa tarik dia ke mobil dan...." Risa nyerocos gak pake napas.
"Tunggu dulu, Risa, kamu bilang apa barusan???" Kedua mata Dewi memicing.
Risa yang kaget karena keceplosan langsung tutup mulut.
"Jadi maksud kamu, semua kejadian itu karena kamu sendiri, bukan Rio????" Tanya Dewi dengan tampang shock.
Risa menggigit bibir bawahnya dan tak berani menatap sang ibu.
"Astaga Risa!!! Kalau Ibunya kemari mau tuntut kamu gimana???" Sekarang Dewi yang kelihatan panik.
"Kok, dia mau nuntut Risa? Yang hamil 'kan Risa, bukan Rio!" Risa berusaha mencari sedikit pembelaan.
"Tapi 'kan kamu yang mulai Risa!" Wanita itu menghela napas.
"Risa gak bermaksud..., Rio cuma ada di tempat dan di waktu yang salah!! Dia gak seharusnya nolongin Risa...," jawab Risa yang baru merasa agak bersalah.
"Lebih baik kamu beres-beres dulu, lalu keluar temui Ibunya Rio. Semoga saja dia bisa mengerti," ujar Dewi sambil berharap.
Sementara ia meninggalkan Risa dulu di kamar untuk berganti pakaian yang lebih sopan.
Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa Puspa memang berniat mau menuntut Risa atau sebaliknya?? Bagaimana tanggapan Puspa terhadap Risa?
.
.
.
BERSAMBUNG....