Awalnya Erina Jasmin di tuduh mencuri dompet milik pelanggan di kafe di mana dia bekerja. Dia di laporkan oleh manajer kafe dan di pecat oleh atasannya. Erina kesal karena di tuduh mencuri dompet milik pelanggan yang ternyata Erika Gladys perempuan pemilik dompet itu.
Alih-alih tidak di laporkan pada polisi, Erina di tawari sebuah kesepakatan untuk menjadi istri pengganti seorang kaya. Dia awalnya menolak, tapi karena Erika Gladys menawarkan uang banyak untuk membantunya membiayai ibunya dalam pengobatan di rumah sakit.
Karena wajah Erina Jasmin dan Erika Gladys sangatlah mirip bagai di pinang di belah dua. Maka misi yang di tugaskan Erika pada Erina pun di jalankan, menjadi seorang istri dari Kenzio Pahlevi Abraham. Lalu, apa intrik masalah yang akan di hadapi oleh Erina setelah menjadi istri pengganti Erika yang hidupnya memang untuk bersenang-senang saja dengan beberapa selingkuhannya.
Dan apakah Erina dan Erika sebenarnya saudara kembar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kartu As
Aldo menuju resepsionis untuk mencari tahu kamar hotel yang di tempati Erika dengan laki-laki bulenya itu.
"Permisi, bisa minta bantuannya?" tanya Aldo.
"Ya tuan, ada apa?" tanya petugas resepsionis.
"Emm, bisa berikan informasi pelanggan hotel ini bernama Erika Gladys? Di mana dia pesan kamarnya?" tanya Aldo lagi.
"Maaf tuan, kami tidak bisa memberikan informasi pelanggan kami. Jika anda mencari orang, coba hubungi ke nomornya saja, rahasia pelanggan hotel kami sangat terjadi di sini. Jadi maafkan kami tidak bisa memberikan informasi tentang pelanggan hotel kami," ucap petugas resepsionis dengan ramah.
Aldo menarik napas panjang, dia lupa kalau hotel mewah di Singapura tidak bisa memberikan informasi tentang pelanggan hotel yang di tempatnya. Kecuali dalam penyelidikan oleh petugas kepolisian, tentu saja akan di berikan informasi dengan cepat dan lengkap.
Laki-laki itu pun tersenyum mengerti, dia berbalik dan melangkah pergi. Pikirannya masih tertuju pada Erika yang seksi tadi, dan akhirnya dia kembali lagi ke kolam renang di mana dia melihat Erika dengan pacar gelapnya.
Aldo menatap Erika dan laki-laki bulenya yang masih bermesraan di tepi kolam renang hotel. Senyum Aldo mengembang, setelah dia tidak mendapatkan informasi di mana kamar Erika menginap. Tapi dia mendapatkan sesuatu yang akan membuatnya di atas angin.
Dia mengeluarkan ponselnya, merekam apa yang di lakukan Erika di seberang sana dalam waktu beberapa menit. Setelah dia mendapatkan rekaman Erika yang bermesraan dengan laki-laki bulenya itu, Aldo pun segera menghentikannya dan pergi dari tempat itu.
"Erika, tunggulah aku. Kamu pasti akan kembali padaku, kita akan bersenang-senang. Hahah!"
Aldo berjalan masuk lobi masih dengan senyum di bibirnya.
"Bukankah aku juga kaya raya? Ya meski pun aku tidak sekaya suamimu, tapi aku sanggup untuk membuatmu mendapatkan apa yang kamu inginkan," ucapnya lagi.
_
Sepulang dari liburannya di Singapura, Aldo masih merasa dia akan menang. Dia tentu saja menunggu beberapa Minggu untuk mengancam Erika dengan menyebarkan video yang dia dapatkan sewaktu di hotel di Singapura.
Tangannya memegang ponselnya, melihat video yang dia rekam sebelumnya. Menatapnya dengan wajah kesal, tapi kembali lagi dia tersenyum kecil.
"Hmm, apakah aku kirim saja videonya pada Erika ya? Tapi, dia sudah pulang ke Indonesia belum? Pasti akan lama," ucap Aldo lagi.
Beberapa detik dia merenung, tapi kemudian di letakkan ponselnya di meja lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Dia ingin mengirim rekaman yang di rekam sewaktu di Singapura, tapi setelah di pikir-pikir mungkin nanti saja untuk mengancam Erika agar perempuan itu mau bertemu dengannya di hotel dan melakukan apa yang dia inginkan.
Aldo pergi ke bar di siang ini, hari ini dia tidak masuk ke kantornya karena pikirannya masih pada Erika yang seksi itu. Kembali di ambilnya ponselnya lalu membuka galeri foto, melihat kembali rekaman yang di ambilnya.
"Hmm, padahal laki-laki bule itu tidak terlalu ganteng. Kenapa dia suka sekali dengan laki-laki luar itu, apakah dia selalu memuaskannya di ranjang?" gumam Aldo masih melihat rekaman Erika dengan laki-laki bulenya.
"Aldo, kamu sendirian di sini?"
Suara sapaan seseorang membuat Aldo menoleh ke belakang, seorang perempuan berpenampilan rapi menatapnya dengan wajah ceria.
"Hai Sania, kamu kesini juga?" Aldo balik bertanya.
"Hmm, di kantor suntuk. Bosku lagi sibuk, jadi kupikir lebih baik ke bar saja menghilangkan rasa bosanku. Ternyata ketemu sama kamu," ucap perempuan itu menarik bangku di sebelah Aldo lalu duduk di sampingnya.
Memesan minuman pada bartender, Aldo menatap perempuan cantik di sebelahnya itu. Meski memang cantik, tapi pikiran Aldo masih menilai Erika lebih cantik dan seksi.
"Kenapa kamu di sini? Apakah pacarmu itu pergi lagi?" tanya perempuan bernama Sania.
"Hmm, kemarin aku melihatnya di Singapura. Dia dengan pacarnya barunya lagi," jawab Aldo menyesap minumannya.
"Hmm, perempuan seperti dia itu tidak cukup hanya satu laki-laki. Apa lagi laki-laki itu kaya raya, apakah kamu sanggup menyaingi semua pacarnya? Bahkan suaminya saja kamu tidak bisa menandinginya." cibir Sania.
Wajah Aldo sedikit memerah karena kesal dengan ucapan Sania tersebut, dia menenggak minumannya sampai habis. Sania tersenyum sinis, dia juga menenggak minumannya lalu tangannya memegang tangan Aldo pelan.
"Aldo, sudahlah jangan mengejar Erika lagi. Dia itu milik semua laki-laki di kota ini, dan kudengar dia sudah pulang dari liburan panjangnya. Hmm, aku penasaran, bagaimana suaminya itu ya? Apakah dia benar-benar cinta mati sama istrinya penggoda laki-laki?"
"Aku punya kartu as Erika, jangan salah. Dia akan menuruti keinginanku, lihat saja nanti," ucap Aldo lagi.
Dia meminta satu gelas lagi wisky pada bartender dan menenggaknya lagi. Sania menoleh padanya, penasaran apa yang di miliki Aldo sampai laki-laki itu sangat percaya diri akan mendapatkan Erika.
"Apa yang kamu miliki?" tanya Sania.
"Ada, sesuatu yang membuatnya semakin terpojok dan terpaksa menuruti apa maumu," jawab Aldo.
"Hmm, sepertinya kamu sangat yakin."
"Tentu saja, sesuatu itu pasti akan membuatnya takluk padaku."
Wajah Aldo berubah jadi dingin, dia memegang ponselnya lalu menatapnya penuh semangat. Sesuatu dalam ponselnya tentu saja menjadi senjatanya untuk mendapatkan Erika.
"Lihat saja, pasti akan kudapatkan kau Erika."
_
_
******
menyakitkan sekali dan menyedihkan ..Ken ,..Ken ...lemah