Cerita ini adalah lanjutan dari The Secret Miranda
Aku hanya perempuan yang dipenuhi oleh 1001 kekurangan. Perempuan yang diselimuti dengan banyak kegagalan.
Hidupku tidak seberuntung wanita lain,yang selalu beruntung dalam hal apapun. Betapa menyedihkannya aku, sampai aku merasa tidak ada seorang pun yang peduli apalagi menyayangi ku . Jika ada rasanya mustahil. .
Sepuluh tahun aku menjadi pasien rumah sakit jiwa, aku merasa terpuruk dan berada di titik paling bawah.
Hingga aku bertemu seseorang yang mengulurkan tangannya, mendekat. Memberiku secercah harapan jika perempuan gila seperti ku masih bisa dicintai. Masih bisa merasakan cinta .
Meski hanya rasa kasihan, aku ucapkan terimakasih karena telah mencintai ku. Miranda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanie Famuzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
WARNING!!
Bab ini mengandung sedikit adegan dewasa yang mungkin tidak sesuai untuk sebagian pembaca.
Disarankan untuk membaca dengan bijak dan sesuai usia pembaca yang cukup.
...****************...
Drt… drt… drt…
Suara getar ponsel memecah keheningan. Dengan enggan, Jodi menoleh. Tangannya terulur malas, meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Satu helaan napas lolos dari bibirnya begitu melihat nama yang terpampang di layar.
“Dari siapa?” suara Alin terdengar pelan, namun nadanya tajam, penuh rasa ingin tahu. Ia masih berada di atas tubuh Jodi, tanpa sehelai pakaian, kedua tangannya melingkar di dada pria itu. “Pasti dari rumah sakit lagi, ya?”
“Iya,” jawab Jodi singkat.
“Kalau mau pergi, silakan saja,” balas Alin dingin, meski sorot matanya menahan sesuatu, antara cemburu dan kecewa.
“Kata siapa mas mau pergi?” sahut Jodi, senyumnya kecil tapi dalam. Tangannya naik, mengelus ngelus punggung Alin lembut, menenangkan badai kecil dalam hatinya.
“Biasanya kalau dapat panggilan dari rumah sakit, mas langsung pergi,” balas Alin, suaranya mulai melemah.
Jodi terkekeh pelan. “Hari ini beda,” ucapnya sambil menegakkan tubuh, lalu dengan satu gerakan ringan, ia mengangkat Alin dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Mas mau habiskan waktu seharian sama kamu, tanpa gangguan siapa pun.” lanjutnya lagi sembari menyesap lembut leher jenjang Alin, sampai meninggalkan banyak tanda merah disana.
Alin menatapnya, masih setengah tak percaya. Tapi begitu tatapan Jodi bertemu dengan matanya, hangat, dalam, dan begitu dekat, senyum tipis pun terbit di wajahnya.
“Mau kita lanjutkan lagi, hmm…?” bisik Jodi rendah, suaranya berat dan serak, seperti ada bara yang menunggu untuk menyala.
Sudut bibir Alin terangkat. “Kenapa tidak?” jawabnya pelan, nyaris seperti desahan. “Ini yang aku mau… Mas Jodi.”
Seketika jarak di antara mereka lenyap. Alin meraih wajah Jodi dan bibir mereka bertemu, tanpa jeda, tanpa ragu. Segalanya melebur dalam satu momen yang mematikan logika.
Mereka berdua, tenggelam dalam gairah yang tak bisa lagi dibendung.. hanya desahan halus yang kini terdengar..
“Ah… mas Jodi!” Ia menggigit bibirnya, napasnya mulai tersengal.
“Mas Jodi…” bisiknya lirih, separuh antara rintihan dan panggilan.
Jodi menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
“Kenapa, hmm?” ucapnya lembut sambil membelai wajah Alin. “Kamu menikmatinya?”
Alin mengangguk pelan, matanya setengah terpejam, merasakan sentuhan Jodi, seketika tubuhnya meremang hebat.
“Sangat, Mas Jodi… aku sangat menyukainya,” bisiknya dengan suara yang nyaris tenggelam di antara napas mereka yang tak beraturan.
Keheningan kamar seolah mencair, menyisakan hanya detak jantung dan desah yang saling bersahutan.
Setiap sentuhan, setiap helaan napas, seperti menegaskan sesuatu yang tak pernah mereka ucapkan, melainkan sudah menjelma menjadi candu. Yup..Candu dan nafsu apa bedanya?
Namun di balik kehangatan itu, Jodi tahu… ada sesuatu yang hampa di hatinya, sesuatu yang tak mampu diisi oleh siapa pun, bahkan oleh Alin.
Miranda.
Nama itu bergaung samar di kepalanya, menembus batas antara sadar dan dosa.
Bahkan di saat Alin memeluknya erat, pikirannya justru melayang pada sosok perempuan berambut hitam yang selalu menatapnya dengan mata sendu.
Bagaimana rasanya… jika itu Miranda yang berada di pelukanku sekarang? Desahannya pasti akan sangat menggairahkan.
Pikiran itu menyentak kesadarannya sendiri.
“Astaga, Jodi…” gumamnya dalam hati, getir dan jijik pada dirinya sendiri.
“Kamu benar-benar bajingan,brengsek!”
Namun seburuk apa pun pikirannya barusan, Jodi tidak bisa memungkiri satu hal, ia ingin Miranda sembuh.
Bukan hanya karena ia seorang dokter yang terikat sumpah profesi, tapi karena jauh di dalam dirinya, ada dorongan yang lebih pribadi… lebih egois.
Ia ingin Miranda sadar sepenuhnya.
Ingin melihat perempuan itu menatapnya bukan sebagai pasien, tapi sebagai seseorang yang… mengingatnya.
Dan meski ia mencoba menyangkal, Jodi tahu, ia tak hanya menginginkan kesembuhan Miranda.
Ia juga menginginkan Miranda itu sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...