Mentari Senja, gadis desa yang berusia 18 tahun. Anak terakhit dari pasangan Jaka dan Santi. Dia merupakan salah satu gadis yang menjadi primadona di desanya. Dia mempunyai keluarga yang sederhana dan ayah yang sangat disayanginya. Mentari adalah sosok gadis yang lembut, cantik dan pendiam serta sangat menuruti permintaan sang ayah. Namun siapa sangka Mentari tiba-tiba saja dijodohkan oleh sang ayah dengan sosok lelaki yang dia tidak kenal sama sekali. Dia terpaksa harus menerima perjodohan itu demi kesembuhan sang ayah. Mengubur semua cita-citanya selama ini dan harapannya untuk melanjutkan pendidikan. Hidup dengan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, tapi tidak pernah dianggap dan dicintai.
Chapter 31
Sesampainya di apartemen Mentari kebingungan cara membuka pintu tersebut. Karena ia tidak tahu kode dari apartemen Willie.
Mentari ingin menelfon Willie tapi takutnya nanti kedua sahabat cowok itu masih berada di rumah. Karena tidak ingin membuat suaminya marah, Mentari memutuskan untuk pergi berbelanja dulu ke supermarket.
Karena letak supermarket tersebut tidak terlalu jauh dari apartemen Willie, ia hanya berjalan kaki saja. Namun saat di pertengahan jalan, Mentari melihat Natasya pacar dari suaminya itu tengah berboncengan dengan seorang cowok.
Yang membuat Mentari lebih terkejut lagi seragam yang digunakan cowok itu sama dengan seragam yang digunakan oleh dirinya dan juga Natasya.
“Apa benar kalau Natasya selingkuh dari kak Willie” gumam Mentari menatap mereka berdua.
“Tapi siapa cowok itu?”
“Semoga aja kak Willie cepat mengetahui tentang semua ini” Mentari melanjutkan langkah-nya menuju ke supermarket.
Ada rasa bahagia di hatinya saat melihat kalau Natasya jalan dengan cowok lain. Mentari bukan jahat, tapi ia merasa bersyukur.
Karena kalau benar gadis itu selingkuh dari Willie dan ketahuan oleh suaminya, maka Willie tidak memiliki hubungan dengan siapa pun lagi. Dan itu adalah kesempatan untuk Mentari merebut hati suaminya sendiri.
.
.
Sedangkan di rumah Willie, bik Sumi terkejut melihat kondisi anak majikan-nya itu yang lebam-lebam.
“Ya tuhan aden kenapa?” tanya bik Sumi khawatir.
“Nggak papa kok bik, cuma luka biasa. Namanya juga cowok” ucap Willie tersenyum.
“Tapi cowok nggak bodoh kayak lu juga kali Will” gerutu Geral kesal.
“Den Willie tunggu disini dulu ya, biar bibik ambil kompresan!”
“Nggak usah bik, ini tadi udah diobatin di sekolah kok” ujar Willie.
“Mending bibik buatin aja minuman untuk dua curut ini” tunjuk Willie pada Gibran dan Geral yang langsung mendapat tatapan sinis dari mereka berdua.
“Mentari beneran udah pindah dari sini Will?” tanya Geral memastikan.
“Kan udah gua bilang iya, nggak percaya banget lu sama gua” ucap Willie ketus.
“Mana tau lu sengaja bilang kalau Mentari biar kita berdua nggak kesini lagi” ujar Geral.
“Kalau nggak percaya lu tanyain aja sama bik Sumi entar” jawab Willie santai.
“Permisi den ini minuman nya” ucap bik Sumi.
“Bik aku mau nanya dong, Mentari udah pindah dari sini bik?” tanya Geral langsung.
“Kalau non Tari udah pindah ke apartemen den Geral” ujar bik Sumi.
Membuat Willie membulatkan matanya mendengar jawaban dari pembantu-nya itu.
“Kok bibik manggil Tari dengan sebutan Non?” tanya Gibran bingung.
Bik Sumi langsung saja menatap ke arah Willie yang memberi dirinya kode lewat mata cowok itu.
“Ha.. itu den! Mentari kan di rumah ini hanya numpang tinggal sementara. Jadi bibik terbiasa manggil dia dengan sebutan non juga.”
“Walau pun dia bukan keluarga den Willie” ujar bik Sumi sambil tersenyum.
“Kirain karena Mentari ada hubungan nya sama Willie makanya bibik panggil dia Non” ujar Geral.
“Udah kalian ngapain ngomongin tu cewek sih disini” ujar Willie kesal.
Willie tidak suka aja ada cowok lain mencari atau menanyakan tentang istri nya itu. Bagaimana pun Mentari adalah istri sah dia di mata agama dan negara. Jadi tentu gadis itu adalah milik seorang Willie Putra Wijaya.
“Yaudah deh kalau gitu gua pamit ya Will, ada urusan sama nyokap” ucap Gibran.
“Kalau lu pamit gua juga” ujar Geral.
“Lu obatin lagi tu luka di wajah lu, mau lu kalau ketampanan lu tu hilang!”
“Nanti yang ada semua cewek pada ngejar-ngejar gua aja” ucap Geral tertawa.
“Sialan lu! Udah pulang sana” ucap Willie ketus.
Setelah memastika kedua sahabatnya itu sudah pergi dari rumah nya. Willie langsung berpamitan sama bik Sumi untuk balik ke apartemen.
“Bik Willie balik ke apartemen ya, dan jangan bilang sama mama dan papa kalau aku tadi kesini” ucap Willie, yang langsung dianggukan oleh bik Sumi.
.
Mentari yang sudah selesai berbelanja kini menunggu Willie di depan pintu apartemen. Mentari masih tidak berani untuk menelfon cowok tersebut untuk menanyakan password apartemen cowok itu.
“Aku tungguin aja lah disini, siapa tahu kak Willie sebentar lagi pulang” gumam Mentari.
Dan benar saja dugaan Mentari, tak beberapa menit kemudian Willie datang dengan sedikit sempoyongan. Mentari langsung saja menghampiri suami nya itu.
“Kakak nggak apa-apa?” tanya Mentari membantu Willie.
“Lu kenapa ada di luar?” tanya Willie bingung.
“Tari nggak tau password apartemen nya kak, makanya Tari tungguin aja kakak diluar” ujar Mentari sambil tersenyum.
“Bodoh! Kenapa lu nggak telfon gua Mentari” ucap Willie tidak mengerti dengan gadis itu.
“Tari takut kalau di rumah masih ada kak Gibran dan kak Geral, jadinya Tari tadi pergi keluar untuk belanja kebutuhan rumah. Baru beberapa menit Tari nungguin kakak untuk sampai” jelas Mentari.
“Password apartemen ini tanggal pernikahan kita” ujar Willie santai, yang langsung membuat Mentari terkejut bukan main.
“Nggak usah GR lu! Gua sengaja gunain password itu supaya lu ingat aja” elak Willie.
“Udah yuk masuk” Willie langsung saja masuk ke dalam.
Mentari kembali keluar untuk mengambil barang belanjaan nya setelah membantu Willie masuk ke dalam.
“Kak bersih-bersih gih, Tari mau masak makan siang untuk kita dulu” ujar Mentari sambil berjalan ke arah dapur.
Gadis itu menyusun semua belanjaan nya di lemari dan di dalam kulkas.
Willie yang melihat Mentari begitu tulus dalam merawat dirinya dan menjadi istri yang sesungguhnya tersenyum bahagia.
Kemudian Willie masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya, dan tidak sabar untuk mencicipi masakan Mentari yang menurut nya sangat lezat.
Karena melihat kondisi Willie yang lemah, Mentari membawakan makanan ke kamar suaminya itu.
“Kak.”
“Kak Willie..”
“Masuk, nggak gua kunci” ujar Willie dari dalam kamar.
Mentari ragu-ragu membuka pintu kamar cowok itu, dengan penuh keyakinan Mentari masuk ke dalam Willie. Dimana Mentari melihat cowok itu sedang duduk di atas kasur.
“Kak ini makannya udah siap, kakak makan ya” ucap Mentari lembut.
Mentari melihat wajah Willie yang sedikit pucat dan luka lebab di wajah cowok itu sedikit membengkak.
Mentari langsung saja keluar dan kembali masuk dalam kamar Willie dengan membawa kotak P3K dan kotak obat.
“Kakak makan, siap itu minum obat. Baru aku obatin luka kakak kembali” ujar Mentari, yang langsung dianggukan oleh Willie.
Drrtt.. Drrtt..
“Tari boleh minta tolong ambilin ponsel gua.”
Mentari langsung saja mengambil ponsel Willie diatas meja dan melihat nama orang yang menelfon suaminya itu.
“Natasya”
Setelah Mentari memberikan ponsel Willie, dia keluar dari kamar cowok itu begitu saja tanpa berbicara satu kata pun terhadap Willie.
“Tari..” panggil Willie.
Bersambung…
karna merasa ga respect dn ga suka dgn peran mentari terlalu lebay💯%