Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Elgan
"Minggir!" Bryssa mendorong tubuh Davion setelah tubuhnya bisa digerakan.
Mata indah itu menatap tajam laki-laki di depannya. Lalu berbalik badan untuk pergi. Namun sebelum benar-benar pergi. Bryssa sempat menoleh sesaat kepada laki-laki yang kini diam di tempatnya. Tidak bereaksi apa-apa setelah Bryssa mendorongnya tadi.
"Semua udah selesai om, jangan pernah katakan itu lagi, udah ada kak Mora juga kan sekarang, dia lebih segalanya dari saya. Semoga bahagia." Bryssa kembali melangkah untuk meninggalkan Davion, namun kata-kata Davion berikutnya membuat langkah Bryssa sempat terhenti dengan perasaan berkecamuk, entah apa yang dirasakan oleh Bryssa itu.
"Apa kamu benar-benar tidak mempunyai rasa untuk saya Bry? Setelah 2 tahun bersama?"
Bryssa mengepalkan tangannya kuat, mencoba untuk menguatkan diri dengan apa yang akan dikatakan olehnya.
Menoleh ke arah Davion, Bryssa coba menguatkan hatinya, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum. "Tidak, hubungan kita sebatas bisnis pribadi saja, saya mendapatkan uang, dan om mendapat apa yang om mau, tidak lebih, saya ingatkan lagi, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang, jadi jangan pernah ungkit lagi."
Davion menaik turunkan jakunnya, perasaannya berkecamuk, ada perasaan tidak terima ketika Bryssa mengatakannya.
Dengan sangat cepat, Davion kembali mencekal pergelangan tangan Bryssa, sampai membuat gadis ity reflek membalikan tubuhnya, menatap Davion dengan tajam.
Keduanya sama-sama saling melempar pandang, bahkan jantung Bryssa saat ini sudah terpompa dengan sangat cepat di dalam sana, wajah laki-laki yang selama ini dirindukan olehnya benar-benar nyata di depannya, bahkan kerap menahannya untuk tidak pergi.
"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak mempunyai rasa untuk saya Bryssa," tekan Davion menatap wajah Bryssa yang sudah merah, namun sorot mata gadis itu masih sangat tajam.
"Katakan sekali lagi, setelah itu saya tidak akan pernah mengganggu kamu lagi."
Rasanya dunia Bryssa seperti runtuh hanya dengan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Davion. Bryssa ingin pergi dari laki-laki itu, tetapi ada rasa tidak rela ketika mendengar ucapan Davion yang seakan menyerah, katakan saja jika pilihan itu sangat berat bagi Bryssa. Ia ingin sekali mengatakan jika ia mencintai Davion, lebih dari sekedar hubungan bisnis pribadi mereka saja, tetapi logikanya mengatakan tidak, ingatkan Bryssa jika sudah ada Amora di antara mereka, dan yang membawa Amora ialah Davion sendiri.
Mencoba menguatkan diri, karena setelah apa yang akan ia katakan setelah ini mungkin semuanya akan berubah.
Bryssa beranikan menatap mata tajam itu. Hatinya sangat berdebar sekali sebelum kalimat itu sempat ia ucapkan.
"Tidak, saya tidak pernah mempunyai perasaan untuk anda tuan Davion. Sekali lagi saya tegaskan, hubungan kita sebatas bisnis pribadi dan tidak lebih."
Davion bungkam, tidak bereaksi apa-apa, namun sorot matanya masih menatap lekat pada gadis di depannya.
Sementara Bryssa sudah tidak tahan untuk segera pergi, namun Davion masih mencekal pergelangan tangannya, sampai akhirnya perlahan cekalan itu terlepas, Davion melepaskan cekalannya tangannya tanpa sepatah kata, dan itu membuat hati Bryssa merasa runtuh.
Bryssa langsung pergi dari sana, meninggalkan Davion yang terpaku di tempatnya, menatap kepergian Bryssa yang perlahan tidak terlihat lagi.
"Mas Dav," panggil Amora tiba-tiba datang.
Davion memejamkan matanya sejenak, lalu menoleh dan menyunggingkan sedikit senyumnya.
"Kenapa di sini? Mas butuh sesuatu?" tanya Amora mendapat gelengan dari Davion.
"Tidak, aku tadi mencari toilet Ara," dusta Davion diangguki mengerti oleh Amora.
"Sudah ketemu toiletnya? Apa masih butuh bantuan aku?" tanya Amora menggoda.
Davion terkekeh tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu, kita berangkat sekarang."
"Ah iya, ayo mas, ini sudah siang sekali, maaf tadi mama minta ditemani ke rumah tetangga yang sedang hamil, katanya ngidam pingin aku ke sana pagi ini."
Terdengar aneh dan tidak masuk akal memang, tetapi itulah orang hamil, apa yang diinginkannya terkadang terbilang unik.
"Emmm," balas Davion singkat, namun tangannya tanpa diduga menggandeng tangan Amora untuk keluar dari sana.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Amora saat ini.
Hatinya berdebar, tetapi perutnya penuh dengan bunga-bunga, Amora memang wanita yang sudah cukup dewasa dan sangat mandiri juga berpikir logis, namun jika diperlakukan manis seperti itu tetap saja jiwa perempuannya keluar, apa lagi oleh orang yang diinginkannya.
Sementara Bryssa sedang menangis di kamarnya, ia meremat bantal di pangkuannya, mengingat tatapan dan wajah Davion yang sangat dirindukan, tetapi logikanya menolak untuknya mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Davion tadi, padahal jika Bryssa memberi satu kata singkat 'iya' sudah pasti semua akan berbeda, ia tidak akan menangis seperti sekarang ini, harus merelakan laki-laki yang ia sukai bersama kakanya.
"Gue emang harus balik secepatnya," ujarnya menyeka air matanya.
Bryssa itu tidak secengeng itu, tetapi dihadapkan lagi dengan Davion entah kenapa membuat sisi manjanya yang dulu kembali, dan berganti menjadi sedikit cengeng karena harus melepaskan.
"Sorry ka, gue harus balik hari ini, gue nggak bisa kaya gini terus." Bryssa bangkit dari duduknya, ia melirik ke arah koper yang masih berada di sebelah lemari di kamarnya, lalu menghela napas dengan sangat dalam, sebelum akhirnya bangkit untuk segera mengemasi barang-barang miliknya.
Di tengah kegiatannya mengemasi barang-barang miliknya, benda pipih yang sedari tadi ia biarkan berada di atas nakan bergetar, sebuah panggilan dari orang yang tidak disangkanya, apa lagi beberapa hari ini tidak ada kabar dari orang tersebut.
Wajah tampan tatapan lekat pada Bryssa itu kini menyunggingkan senyumnya, menatap Bryssa dengan wajah seperti tidak suka.
"Lo nggak suka gue datang?" tanya Elgan membuat Bryssa tampak menghela napas, lalu melirik ke arah cowok di depannya ini.
Elgan, cowok yang naksir Bryssa di Singapore itu kini datang ke Indonesia, selain rindu dengan Bryssa meski keduanya tidak memiliki hubungan spesial, Elgan juga sedang mengunjungi bisnis yang ia dirikan bersama dengan salah satu pembisnis terkenal di sini. Itu sebabnya keduanya kini sudah berada di kafe.
Bryssa terpaksa menunda kepergiannya karena kedatangan Elgan.
"Gue tadi udah lagi kemasi barang ke koper, lo nya dateng tiba-tiba banget, bos nggak tau diri," umpat Bryssa diakhir kalimatnya.
Mendengar itu Elgan justru tertawa renyah, lalu mengangguk dan menatap serius Bryssa.
"Kalau mau balik sekarang, gue si ayo aja."
Bryssa melotot, menatap kesal pada Elgan yang sangat enteng mengatakan itu.
"Lo gila, baru juga datang, lagian lo mau ada acara juga kan katanya besok malam di sini?" tanya Bryssa langsung diangguki oleh Elgan.
"Yups, makanya gue dateng sekarang, gue mau minta tolong sama lo Bry."
Bryssa menatap selidik Elgan, sementara Elgan semakin tertawa melihat tatapan Bryssa padanya sekarang.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️