NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

“Tobi, gue mau nanya deh, kenapa sih lu suka banget sama komik?”

“Komik itu seru tahu. Mau nggak lu sesekali ke tempat yang banyak banget komik? Nanti gue anterin lu kalau lu mau ke sana.”

“Mau, tapi kapan?”

“Terserah lu maunya kapan. Karena kan gue merasa yang paling susah diajak itu lu, bukan gue. Kalau gue mah kapan aja bisa.”

Alia memikirkan kapan lagi dirinya bisa pergi bersama Tobi. Entah mengapa, pergi bersama Tobi membuatnya merasa nyaman dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Nanti deh pas pulang sekolah, gimana?”

“Bisa aja sih. Tapi lu nggak keberatan hari ini? Soalnya gue ngeliat lu kayaknya sulit banget hari ini.”

“Justru makin sulit lagi kalau gue nggak keluar. Lu tahu sendiri kan gue kalau di rumah kayak gimana sama orang tua gue yang strict itu.”

“Tapi gue yakin kok mereka sayang sama lu. Lagian ya, orang tua yang kayak gitu tuh emang lebih peka sama anaknya dibanding orang tua yang cuek. Kayak orang tua gue.”

“Emangnya orang tua lu ke mana, Tobi? Gue nggak pernah denger tentang orang tua lu.”

Tobi hanya tersenyum dan enggan membahas tentang kedua orang tuanya. Entah kenapa, rasanya males aja untuk cerita soal mereka.

“Kalau gue nggak boleh tahu tentang orang tua lu, nggak apa-apa kok. Gue juga nggak mau maksain lu buat cerita. Lagian gue tahu, nggak segala sesuatu hal kita sebagai sahabat harus tahu.”

“Enggak kok, lu boleh tahu. Cuma... namanya juga gue nggak suka aja soal mereka, karena mereka nggak pernah ada tercatat di dalam memori gue sama sekali.”

Alia hanya diam saja dan mencoba membiarkan Tobi mengasah pikirannya untuk menceritakan tentang keluarganya sendiri.

“Jadi, dari gue kecil, gue udah tinggal sama nenek dan kakek. Orang tua gue ninggalin gue, katanya buat kerja ke luar negeri biar bisa menafkahi gue.”

“Terus?”

“Terus mereka bilang nggak bisa pulang ke sini lagi, karena udah dikontrak orang sana buat kerja sebagai penduduk tetap. Gue sebagai anaknya ngerasa bukan anak yang diinginkan sama mereka. Tapi nenek sama kakek gue selalu meyakinkan kalau orang tua gue kerja demi gue.”

Alia yang mendengar cerita itu tidak menyangka, ternyata orang sesempurna Tobi juga pernah merasakan hal yang sangat sulit untuk orang lain ketahui.

“Terus gue cuma bisa diem aja sih saat nenek dan kakek bilang begitu. Tapi gue nggak ngerti. Maksud nenek gue baik, cuma gue yang sebagai anak kecil nggak bisa memahami. Tapi gue tahu orang tua gue selalu ngasih uang jajan, uang sekolah, bahkan uang kehidupan gue lewat nenek sama kakek. Ya gue terima kasih sama mereka.”

“Terus?”

“Tapi gue sama sekali nggak pernah lihat mereka. Gue cuma sering video call. Gue juga punya tiga adik di luar negeri, tapi gue nggak tahu itu adik gue beneran atau bukan. Mereka bilang iya, tapi gue cuma bisa senyum aja. Mereka nggak pernah tahu kesulitan gue di sini. Tapi gue juga nggak pernah cerita, karena gue merasa mereka nggak perlu tahu. Mereka cukup tahu aja kalau gue berguna tanpa mereka.”

Semakin Alia mendengar kisah hidup Tobi, semakin membuatnya merasa sedih. Ia jadi tidak bersyukur pada kehidupannya yang jauh lebih layak dibanding Tobi.

Alia langsung mendekap Tobi erat. Tobi tahu maksudnya, Alia kasihan sama dirinya yang kurang kasih sayang orang tua. Tapi Tobi justru merasa hal itu telah mengajarkan banyak hal.

Dirinya jadi mandiri, memiliki nenek dan kakek yang menyayanginya apa adanya, serta menjalani hidup dengan layak seperti orang pada umumnya.

“Yang sabar ya, Tobi. Gue tahu pasti berat banget dengan kondisi lu yang kayak gini. Di saat lu butuh support tapi nggak ada, di saat lu jatuh nggak ada yang bantu. Gue paham sih maksud cerita lu tadi.”

“Makasih ya. Tapi gue nggak bermaksud bikin lu sedih kok. Gue cuma pengen cerita aja, karena tadi lu minta gue ceritain. Ya sekarang gue ceritain.”

“Kalau gue tahu ceritanya sesedih ini, gue nggak bakal minta. Gue takutnya lu ikutan sedih dan balik lagi ke masa lalu yang lu nggak mau ingat.”

“Yah, soal mereka emang banyak yang nggak mau gue inget. Tapi mau gimana. Karena lu sahabat gue, seenggaknya gue terbuka lah sama lu. Daripada nggak sama sekali, ya nggak?”

Alia hanya tersenyum dan tetap mendekap Tobi erat sambil mengusap kepalanya.

“Nggak apa-apa, Tobi. Lu udah jadi orang dewasa kok. Lu bisa diandelin tanpa harus ngandelin orang lain. Menurut gue, lu orang yang hebat. Kalau misalkan mereka tahu elu sekarang kayak gini, pasti bangga sama lu.”

“Nggak tahu ya. Tapi nenek sama kakek gue sih sering cerita ke mereka. Cuma gue nggak pernah peduli. Kadang mereka nelpon gue aja, gue nggak mau jawab. Tapi nenek sama kakek gue selalu marah kalau gue nolak angkat telepon. Katanya, orang tua gue udah jauh-jauh ke luar negeri cari duit buat gue, masa gue nggak menghargai jasa mereka. Ya, nenek sama kakek selalu ngajarin gue sopan santun, walaupun gue kurang kasih sayang orang tua.”

Alia hanya diam. Ia tidak bisa mengkritik apa pun, takut makin menyakiti perasaan Tobi.

Akhirnya, mereka memilih mengakhiri cerita sedih itu.

“Udah ah, nggak usah bahas yang sedih-sedih. Aku mah cengeng orangnya. Kalau bahas sedih-sedih jadi nangis.”

“Iyalah. Ngapain juga bahas yang sedih. Udah tahu cengeng. Kalau udah cengeng mah mending bahas yang happy-happy aja.”

“Kan lu yang mulai, gimana sih? Kalau lu nggak mulai mah, gue juga nggak mau mulai.”

“Dih, dia yang minta mulai juga. Dasar nenek suka nggak inget siapa yang mulai, tapi ujung-ujungnya nyalahin. Kebiasaan. Untung cantik. Kalau nggak, udah gue selibat lu.”

Keduanya tertawa. Entah kenapa, setiap cerita sedih mereka selalu berakhir dengan tawa. Sepertinya mereka memang sudah “gila” dengan kehidupan masing-masing yang penuh masalah.

“Eh, kita udah banyak skip kelas. Emang nggak apa-apa ya?”

“Nggak apa-apa lah. Lagian kan semua gara-gara si kepala sekolah. Kalau bukan gara-gara dia, mah kita nggak mungkin telat ke kelas.”

“Gue nggak nyangka deh. Kenapa sih dia aneh-aneh banget sama lu? Lagian, lu di-aneh-anehin bukannya takut malah makin lu tantang.”

“Justru karena gue tahu, makanya gue ajak lu. Kalau gue nggak ajak lu, gimana? Lu nggak peka banget, ih. Jadi cowok dasar beruang.”

Tobi mendengar dirinya dipanggil “beruang” oleh Alia. Entah kenapa, ia tidak bisa marah. Malah senang.

“Kenapa seneng dipanggil beruang ya? Yaudah, mulai sekarang gue bakal panggil lu beruang, gimana?”

“Ya nggak apa-apa sih. Senyaman lu aja. Gue nggak bakal marah kok kalau lu panggil gue beruang.”

“Kan emang lu beruang. Masa mau marah kalau dibilang beruang? Aneh-aneh aja.”

“Udah, daripada bahas beruang terus. Jadi mau ke kelas atau nggak? Kalau nggak, kita cabut aja ke toko komik. Tapi kalau mau ke kelas, ya kita masuk sekarang. Kalau nggak, kita ke UKS dulu buat istirahat. Biar nanti pas ke toko komik kita bisa lebih fokus baca.”

Alia hanya mengangguk setuju tanpa berkata apa-apa, sedangkan Tobi merasa seperti sudah mencuci isi otak orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!