Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.
Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
“Jadi gitu ceritanya, Bang,” ucap Bisma akhirnya.
Ia menyandarkan punggung ke sofa, wajahnya tampak santai, tapi sorot matanya mengandung arti,seolah cerita itu masih menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai.
Agam menatap Leo tak percaya. Alisnya terangkat tinggi, mulutnya sedikit terbuka. Leo justru duduk manis di kursinya, tubuhnya rileks, tangan bertumpu di sandaran, seakan semua yang baru saja diceritakan bukan masalah besar.
“Jadi… lo udah kenal sama Vana?” tanya Agam pelan, masih setengah tidak yakin.
“Sudah,” jawab Leo singkat. Ekspresinya datar, nyaris tanpa perubahan, seolah topik itu tak perlu dibahas panjang.
Agam mengerjap, lalu tertawa pendek tanpa humor.
“Kalau lo udah tahu, kenapa lo masih nyuruh gue buat nyari identitasnya lagi?”tanya Agam.
Leo mengangkat bahu kecil, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai. “Cuma mau mastiin aja.”
Agam mendengus keras. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, frustrasi jelas terlihat.
“Dasar duda gila. Lo tau nggak gimana susahnya gue nyari identitas Vana, ha?” Ia menatap Leo tajam. “Gue sampai nyebur ke kali, masuk perkampungan, dikejar anjing. Anjing, Leo. Lo nyebut itu mastiin?”
Leo melirik sekilas, sudut bibirnya nyaris membentuk senyum tipis—lebih ke ekspresi puas daripada bercanda. “Tapi upahnya sebanding sama kerjaan lo.”
Kalimat itu jatuh pelan, namun menghantam.
Agam langsung terdiam. Mulutnya terbuka setengah, lalu menutup kembali. Bahunya turun, napasnya terhela panjang. Agam kalah telak.
Sementara itu sejak tadi, Kenan hanya berdiri diam. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam, seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
“Lo bisa tenang tanpa obat?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah namun serius.
Ketiganya langsung menoleh ke arahnya.
Leo menatap Kenan lurus. Untuk sesaat, ekspresinya berubah tenang, tapi rapuh di baliknya.
“Iya,” jawabnya pelan namun tegas. “Gue bisa tenang tanpa obat sialan itu.”
Udara di ruangan terasa lebih berat setelah kalimat itu terucap.
Agam langsung menyipitkan mata.
“Tapi kemarin malam, pas trauma lo kambuh, lo masih pakai obat itu,” katanya, nadanya tak sepenuhnya yakin.
Kenan menoleh cepat ke arah Agam.
“Tapi Aska nggak,” sahutnya tegas.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Bisma mengernyit, lalu menoleh ke Leo. “Mama lo ke sini, Bang?”
Leo mengangguk pelan. Wajahnya tetap datar, tapi rahangnya tampak sedikit menegang.
“Iya. Dia semalam datang.”
“Ngapain?” tanya Bisma, meski wajahnya sudah tahu jawabannya.
Agam mendengus, menyela lebih dulu.
“Ya ngapain lagi kalau bukan cari ribut.”
Leo tak membantah. Tatapannya beralih ke jendela, sorot matanya mengeras menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya reda.
"Terus sekarang gimana?. " tanya Agam
Bisma terkekeh kecil. Meski wajahnya tak sepenuhnya santai.“Ya jelaslah Bang Leo mau deketin Mbak Vana. Kalau nggak, mana mungkin gue disuruh kerja di restoran. Masa anak bungsu keluarga Pradipta jadi pelayan resto.”sahut Bisma.
Agam mengangguk pelan, mulai mengerti.
“Pantesan lo ngebolehin Vana bebas di rumah ini. Termasuk deket sama Aksa dan Aska.”
Di sisi lain,Kenan tidak melepas tatapan nya dari Leo, ia sangat mengenal sahabatnya ini. Leo mengangguk tipis. Kenan menghela napas kasar. Ia mengenal Leo lebih lama dari siapa pun di ruangan itu. Isyarat kecil itu sudah cukup membuatnya paham.
Satu kata, batinnya. 'Memang gila'.
“Lo bener-bener gila,” ucap Kenan akhirnya, menatap Leo tajam.
“Hah?” Bisma dan Agam berseru hampir
bersamaan, wajah mereka bingung.
“Lo ngorbanin anak lo sendiri,” lanjut Kenan dingin.
“Maksud lo apa, Ken?” tanya Agam bingung.
Kenan menatap Leo lurus.
“Si duda gila ini… ngejadiin anaknya sendiri buat narik Vana masuk ke hidupnya.”
“Gue masih nggak nangkep,” ujar Bisma, kening berkerut.
“Kecelakaan yang bikin Aska sama Vana deket itu ulah dia,” lanjut Kenan.
Sekejap, semua mata tertuju pada Leo.
Leo tak langsung menjawab. Ia menyilangkan tangan di dada, ekspresinya tetap tenang—terlalu tenang untuk tuduhan seperti itu.
Memang benar kecelakaan yang menjadi awal pertemuan Vana dengan Aska adalah rencana Leo. Makan nya selama ini Leo tidak terlalu keras dan selalu memberikan izin pada Anak-anak nya untuk dekat dengan Vana.
“Nggak usah lebay,” jawab Leo tenang. “Gue nggak pernah berniat ngorbanin anak gue demi perempuan mana pun. Gue cuma minta sedikit bantuan Aska.”
Hening jatuh di ruangan.
“Dasar sakit,” umpat Bisma pelan.
“Bener-bener nggak waras.” sambung Agam sambil menggeleng.
Leo tetap diam di kursinya. Tak ada pembelaan. Tak ada penyesalan. Seolah semua itu bukan kesalahan,melainkan perhitungan. Dan justru sikap itulah yang membuat ruangan terasa makin dingin.
Ruangan kembali sunyi.
Pendingin udara masih berdengung, tapi tak satu pun dari mereka benar-benar merasa sejuk. Kata gila masih menggantung di udara, berat, belum sempat jatuh.
Leo akhirnya berdiri. Gerakannya tenang, terukur. Kursinya bergeser pelan ke belakang.
“Kalau cuma mau maki gue, kalian bisa lanjut,” katanya datar. “Tapi kalau mau ngerti kenapa gue lakuin ini, duduk dan dengerin.”
Agam mendengus, menyilangkan tangan di dada. Wajahnya jelas tak puas, tapi ia tetap diam.
Bisma mengusap wajahnya kasar, sementara Kenan masih berdiri tegak,tak berniat mundur sedikit pun.
“Gue nggak nyeret Vana ke hidup gue tanpa alasan,” lanjut Leo. “Dan gue nggak main-main soal anak gue.”
Tatapannya mengarah ke Kenan. “Dan lo paling tau itu.”
Kenan menatap balik, rahangnya mengeras. Ia memang tahu. Dan justru itu yang membuatnya marah.
“Terus kenapa harus Vana?” tanya Kenan akhirnya. Nadanya rendah, tapi berbahaya.
Leo terdiam sejenak. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja sekali. Hanya sekali.
“Karena dia satu-satunya orang,” jawabnya pelan, “yang berdiri di depan gue waktu gue lagi hancur… tanpa tau siapa gue.”
Agam mengernyit. “Maksud lo… di parkiran itu?”
Leo mengangguk tipis.
“Dia bisa pergi,” lanjut Leo. “Bisa manggil orang. Bisa lari. Tapi dia nggak.”
Bisma menelan ludah. Ia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini, dan entah kenapa dadanya terasa nggak enak.
“Terus sekarang apa rencana lo?” tanya Bisma.
Leo melangkah kembali ke jendela. Langit di luar mulai menggelap.
“Gue ingin mengenal Vana lebih jauh,” ucapnya akhirnya.
Kenan langsung bereaksi. “Dengan cara ngorbanin anak lo sendiri?” suaranya naik, penuh kemarahan. Wajahnya mengeras—keponakan kesayangannya dijadikan umpan, dan itu tak bisa ia terima.
“Gue cuma minta bantuan Aska,” jawab Leo tanpa menoleh.
“Tanpa persetujuannya!” potong Kenan cepat. “Itu bahasa halus dari manipulasi,Leo.”
Bisma mencondongkan tubuh ke Agam, berbisik lirih dengan wajah tegang,
“Kayaknya bakal terjadi perang antara ayah kandung sama om kesayangan.”
Agam berbisik balik, setengah panik, “Lebih baik kita diam sebelum kena getahnya.”
Leo akhirnya menoleh. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi.
“Kalau gue mau manipulasi,” katanya tenang, “dia udah ada di kamar gue sekarang.”
Ruangan seketika membeku.
Kenan terdiam sesaat.
Bisma dan Agam refleks menutup mulut mereka, mata membelalak,tak percaya Leo bisa mengucapkan kalimat itu dengan nada sedingin itu.
“Lo emang bajingan,” umpat Kenan pelan, penuh muak.
“Lo boleh manggil gue apa aja,” balas Leo datar. “Tapi gue nggak main-main soal keinginan gue buat mengenal Vana lebih jauh.”
Kenan tertawa pendek. Bukan mengejek—lebih ke putus asa. “Justru itu masalahnya, Leo.”
Leo menoleh. “Apa lagi?”
Kenan maju satu langkah. Wajahnya serius, tak ada sisa bercanda.
“Lo boleh ngaku ini soal rasa, soal ketertarikan, soal kesempatan kedua dalam hidup lo. Tapi ada satu hal yang nggak bisa lo atur pakai logika atau uang.”
Agam dan Bisma saling pandang. Mereka sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
“Keyakinan,” lanjut Kenan tegas. “Lo sama Vana beda.”
Ruangan seketika senyap.
Leo tidak bereaksi berlebihan. Tidak terkejut. Tidak tersinggung.
Seolah kalimat itu sudah lama ia tunggu.
“Gue tau,” jawabnya singkat.
“Bukan cuma tau,” Kenan menggeleng. “Lo ngerti nggak artinya apa?”
Leo terdiam mendengar itu.
Kenan tersenyum miring melihat Leo yang terdiam,“Artinya nggak mungkin,” ucap Kenan cepat. “Lo hidup di dunia yang dari lahir udah beda arah sama dia.”
Bisma menelan ludah. “Bang…”
“Enggak,” Kenan menggeleng lagi. “Gue nggak ngomong buat nyerang. Gue ngomong karena gue peduli. Sama lo. Sama dia.”
Leo terdiam beberapa detik. Jari-jarinya mengetuk meja pelan—sekali.
“Gue nggak pernah bilang gue mau langsung melangkah sejauh itu,” ucapnya akhirnya.
Agam mengernyit. “Terus maksud lo apa?”ucap Agam akhirnya ikut bicara.
“Mengenal,” jawab Leo. “Bukan memiliki.”
Kenan menatap tajam. “Lo pikir perasaan bisa berhenti di tahap itu?”
Leo menghela napas pelan. “Gue nggak sebodoh itu.”
“Justru itu,” suara Kenan meninggi sedikit. “Kalau lo tau akhirnya bakal mentok di situ,kenapa masih mulai?”
Leo menatap Kenan lama. Lama sekali.
Sorot matanya tidak defensif,lebih ke jujur yang tak biasa.
“Karena gue nggak mau dia hidup di kepala gue sendiri,” katanya pelan. “Gue mau tau… apa rasa ini cuma ilusi trauma, atau sesuatu yang nyata.”
Agam mengusap wajahnya. “Sial…”
Bisma menggeleng kecil. “Bang, ini rumit. ”
Kenan mengepalkan tangan. “Lo main api, Leo. Dan api itu nggak pilih-pilih siapa yang terbakar. Lo harus ingat bukan hanya lo yang akan terbakar. Jika lo gagal,Aksa dan Aska juga akan ikut terbakar. Mereka akan ikut hancur!.”
Leo terdiam.
Pikirannya melayang pada Aksa yang keras kepala, pada Aska yang terlalu mudah percaya.
Dan pada bayangan Vana… pergi. Menjauh. Meninggalkan semuanya.
“Gue akan hati-hati,” ucap Leo pelan
“Hati-hati versi lo,” Kenan mendengus. “Itu bukan jaminan.”
Leo melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya satu lengan.
“Gue nggak akan nyeret dia ke pilihan yang bukan miliknya,” ucap Leo rendah. “Dan gue nggak akan nginjak keyakinannya demi ego gue.”
Kenan menatapnya tajam. “Lo janji?”
Leo tidak menjawab langsung.
Ia hanya berkata, “Kalau hari itu datang, gue yang bakal mundur.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Agam menatap Leo tak percaya. “lo?”
Leo mengangguk. “Iya.”
Kenan menghembuskan napas panjang. “Lo sadar, kan… kalau itu berarti lo yang bakal kalah.”
Leo tersenyum tipis. Bukan pahit—lebih ke pasrah yang matang.
“Gue udah kalah dalam banyak hal,” katanya pelan. “Satu lagi… gue masih sanggup.”
Tak ada yang langsung bicara.
Agam menurunkan pandangannya, seolah tak ingin beradu mata dengan keyakinan keras kepala yang terpancar dari wajah Leo. Bisma menghembuskan napas panjang, menekan gelisah yang tak sempat ia ucapkan.
Sementara Kenan berdiri diam dengan rahang mengeras. Ia tahu,kalau Leo sudah sampai di titik ini, tak ada yang bisa benar-benar menghentikannya.
“Jangan bikin anak-anak bayar harga dari keputusan lo,” ucap Kenan akhirnya, suaranya lebih rendah, hampir menyerah.
Leo tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.
Di luar jendela, langit telah benar-benar gelap. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di lantai ruangan,bayangan yang saling bertumpuk, tak jelas mana milik siapa.
Dan di antara bayangan-bayangan itu, satu hal menjadi pasti:
Langkah Leo sudah diambil.
Bukan langkah aman.
Bukan langkah benar.
Tapi langkah yang ia pilih dengan sadar,
menuju sesuatu yang belum tentu bisa ia miliki,namun terlalu penting untuk ia abaikan.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊