Sequel Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
IG : @nafasal8
Season 1
Damian harus merasakan kekecewaan yang mendalam, karena sang tunangan diam-diam berselingkuh darinya. Ia terpaksa harus memutuskan pertunangannya secara sepihak.
Jebakan yang direncanakan oleh Arra, ternyata menjadi pertemuan pertama untuk Damian dan Sarah. Lantas bagaimana cara Damian untuk menaklukkan hati Sarah.
Bagaimana perjuangan Damian untuk mendapatkan hati sang pujaan hati, berhasilkah atau Sarah malah berbalik arah dari Damian?
Season 2
Rencana konyol Davian untuk menjadikan Linanda sebagai kekasih settingan ternyata berujung pada keputusan Oma yang ingin menikahkan mereka dalam waktu dekat.
Bagaimana kisah Davian dan Lin dalam menghadapi rencana Oma? Apakah mereka akan bersatu dalam ikatan suci? Atau mengungkap semua dan mengaku pada keluarga besar mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30. Ironi
Kedua mata Arra mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan dengan sinar di ruangan yang ia tempati saat ia pertama kali membuka matanya setelah hampir enam jam tak sadarkan diri. Kepalanya terasa berat, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Gadis yang tengah hamil dua bulan itu tampak terkesiap saat mendapati sosok Damian berdiri di ujung ranjang nya.
Meski amarahnya pada Ayah Arra belum surut, tapi melihat Arra yang tengah terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit. Membuatnya memandang iba pada gadis yang dulu pernah sangat ia cintai. Ditambah dengan penjelasan Davian yang mengatakan bahwa kondisi Arra sangat lemah. Karena gadis ini belum makan apa-apa dari kemarin.
Arra merasakan tenggorokannya sangat kering, ia segera mendudukkan tubuhnya. Davian seolah mengerti gelagat Arra. Pria itu segera mengambil segelas air yang sudah berada di atas nakas dekat dengan ranjangnya.
"Minum lah, kamu pasti haus!" Davian segera mengangsurkan segelas air putih kepada Arra. Gadis itu segera menyesap air putih tersebut sampai tandas tak bersisa.
Ada perasaan tak nyaman dalam benak Damian, ia tak menyangka gadis yang hampir selalu tampil sempurna di setiap momen itu -- kini terlihat kurus dengan penampilan yang memprihatinkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Ra? Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" tanya Damian, kedua tangannya ia masukkan pada saku di kanan kiri celananya.
Arra menundukkan pandangannya, air matanya meluruh semakin deras membasahi pipinya.
"Aku sudah lelah," jawabnya lirih.
Kedua saudara kembar itu tampak saling pandang, bingung dengan arti lelah yang dimaksud gadis itu.
"Lelah?" Damian mempertegas.
"Daddy selalu menuntut ku untuk menjadi anak yang sempurna, Daddy selalu mengatur semua hidupku. Dan sekarang dia ingin anak yang aku kandung ini di gugurkan, bahkan Chris yang ingin bertanggung jawab pun harus di sekap oleh Daddy." Tangisan Arra semakin pilu, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Suasana hening sesaat, kedua saudara yang berbeda profesi itu tampak tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Pikiran Damian berkelana, ia kembali mengingat saat mereka bersama dulu. Arra bahkan tak pernah mengungkit masalah Ayah nya di hadapan nya, atau apa dirinya yang terlalu sibuk sehingga membuat gadis itu enggan berkeluh kesah pada dirinya yang saat itu masih berstatus kekasihnya. Damian segera menggeleng kepalanya singkat, mengusir kenangan yang tak pernah ingin ia ungkit lagi. Sarah ... hanya nama gadis itu yang kini akan selalu di ingatnya. Merajut masa depan dengan gadis sederhana dan tangguh itu.
Setelah puas menumpahkan kekalutan hatinya, gadis itu terlihat lebih baik dari sebelum nya.
Nampan yang berisi nasi, lauk dan sayur itu kini menjadi perhatian Davian. Dengan perlahan pria itu mendorong meja yang digunakan untuk tempat menaruh nampan tersebut, meja yang di desain dengan roda dibawahnya -- sehingga memudahkan untuk mendorong meja yang memang berfungsi untuk meja makan pasien.
"Makanlah, kamu harus memikirkan janin yang ada dalam perutmu!" perintah Davian.
"Terimakasih," lirih Arra.
Damian mendekati ranjang gadis itu, ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada dekat dengan ranjang Arra.
Mata mereka saling terkunci sesaat, Arra segera mengalihkan pandangan nya.
"Maaf, ini semua karena salahku," ucapnya yang tulus dari dalam lubuk hati Arra.
"Lupakan, semua sudah menjadi masa lalu bagiku," sahut Damian.
"Apa aku boleh minta tolong?" tanya Arra sambil menyendok sesuap nasi dan mengarahkan pada mulutnya.
"Aku ingin menghubungi Daddy, bisa kah aku memakai telpon Rumah Sakit untuk menghubungi Daddy sekarang?" imbuhnya.
"Apa kamu yakin dengan niatmu?" yakin Damian.
"Iya, aku lelah Dam. Jika Daddy masih tetap bersikeras dengan keinginannya, aku akan mengabulkan permintaannya. Mengakhiri semuanya ...." ucapnya dengan mulut masih mengunyah makanan.
"Apa maksudmu dengan mengakhiri?" tanya kedua pria itu serempak.
"Nanti kalian akan tahu, sekarang aku boleh pinjam telponnya?" ucapnya setelah menyesap air putih di gelasnya. Gadis itu menggeser meja dorong itu di sebelah ranjang nya.
Arra melihat secara bergantian ke arah Damian dan Davian, menunggu jawaban atas pertanyaan nya tadi.
🍁🍁🍁
Sementara itu Daisy masih duduk dengan wajah kuyu, ia merasakan trauma atas kejadian yang baru saja menimpanya. Ben yang tak pernah jauh dari Daisy pun merasa pilu melihat gadis yang sangat ia sayangi sedang bersedih. Padahal sebelumnya, ia tak pernah melihat Daisy terluka seperti sekarang ini. Apa hanya karena pria yang sudah menyelamatkan nya, menjadikan gadis ini merasa bersalah dan dirundung kesedihan? Atau rasa trauma yang mulai mendera batinnya? Ben masih samar dengan jawaban atas pertanyaannya.
Mama Erina dan Papa Arga tampak tergopoh-gopoh menghampiri Daisy. Mama Erina segera memeluk Daisy sesaat lalu menangkup wajah anak gadis satu-satunya itu. Wanita itu memberikan kecupan di seluruh wajah Daisy, Ia menangis haru. Karena melihat putri kesayangannya baik-baik saja.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Gak ada yang luka kan?" cecar Mama Erina. Ia begitu bahagia melihat Daisy baik-baik saja.
Daisy hanya menunduk lemas, entah kenapa perasaannya kembali bersedih saat bertemu sang Mama. Gadis itu kini mendekap erat Mamanya, ia tampak menangis di bahu wanita cantik yang sudah melahirkannya ke dunia itu.
"Sayang ... semua akan baik-baik saja. Kamu sudah aman sekarang, ada Mama yang akan selalu melindungi mu, sayang." Mama Erina terus mengelus punggung Daisy dengan lembut dan penuh kasih sayang. Papa Arga pun seolah larut dalam rasa haru tersebut, ia melingkarkan tangannya dan mendekap kedua wanita yang begitu berharga di hidupnya. Mata Daisy terpejam, pelukan kedua orangtuanya seperti energi baru yang mengalir dalam tubuhnya.
🍁🍁🍁
Damian yang baru saja keluar dari kamar Arra dirawat segera menghampiri Ben, ia melihat sesaat pemandangan mengharukan di hadapannya tersebut. Sebuah pelukan yang saling menguatkan satu sama lain memang sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga nya. Pria itu mendekat dan membelai pelan rambut saudara kembarnya itu. Sebuah belaian yang selalu ia lakukan saat Daisy sedang bersedih.
"Semua akan baik-baik saja Isy," ucap Damian. Kemudian ia beralih menatap Ben.
"Ma ... Pa, aku tinggal sebentar ya," ucapnya yang dijawab anggukkan oleh kedua orang tuanya. Karena mereka masih fokus memeluk sang putri kesayangan mereka.
🍁🍁🍁
"Ben, cari tahu asal usul pria yang sudah menyelamatkan Isy. Aku ingin berterimakasih kepadanya dan memberikan sebuah hadiah rasa terimakasih yang layak untuk keluarganya," perintah Damian setelah mendudukkan tubuhnya pada kursi panjang di depan taman rumah sakit.
"Pria itu bernama Rino Hardian Tuan, dia adalah anak pertama dari Tuan Raka Herdian dan Nyonya Yuri Herdian. Mereka adalah pemilik restoran Jepang terkenal yang berada di pusat kota. Dan Tuan Rino yang saat ini dipercaya untuk mengelola restoran tersebut," terang Ben.
Damian tampak terkesiap dengan penjelasan Ben, pasalnya tidak biasanya pria dengan tinggi 186 centimeter ini memberikan informasi yang sangat detail tanpa ia suruh terlebih dahulu. Damian mengernyitkan keningnya, ia semakin menangkap sesuatu yang ganjil dengan Ben.
"Wow, kamu luar biasa Ben. Apa kamu mengenal pria ini sebelumnya?" tanya Damian dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Tidak Tuan, saya segera menyelediki setelah sampai di rumah sakit ini. Karena jika pria ini sampai kenapa-kenapa kita harus memberikan kabar kepada orang tuanya kan Tuan," kilah Ben.Namun, sepertinya Damian masih belum puas dengan jawaban terakhir Ben.
"Semoga pria itu baik-baik saja, aku sudah meminta Dokter untuk mengupayakan yang terbaik. Jadi, aku berharap pria itu akan selamat dari masa kritisnya. Dan ...." Damian menjeda kalimatnya, ia menghela napas berat. Kemudian kembali berucap.
"Isy, akan merasa sangat bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada pria itu. Kamu tahu kan bagaimana Isy? Hatinya begitu rapuh, saat orang lain terluka untuk menyelamatkan dirinya. Dia akan terus dirundung rasa bersalah, jadi aku sangat berharap semoga pria itu akan baik-baik saja," ungkap Damian.
Ben tampak berpikir, ia membenarkan ucapan Damian. Hati Daisy begitu lembut, dan itulah salah satu kenapa dia begitu menyayangi Daisy lebih dari rasa sayang seorang kakak kepada adik.
Damian menghela napas panjang.
"Kamu tahu Ben, entah kenapa saat aku tahu semua tentang sisi lain Arra. Aku semakin yakin bahwa perasaanku kepada Sarah adalah yang sesungguhnya, aku tak pernah mencintai Arra seperti ini. Tapi dengan Sarah, aku bahkan tak rela berjauhan sebentar saja dengannya. Dan sekarang aku benar-benar merindukannya, merindukan kepolosan dan kesederhanaan nya." Kedua manik coklat Damian tampak menatap lurus dengan pandangan sendu.
Ben tersenyum miris menanggapi ucapan Damian, entah kenapa perasaannya berdenyut sakit mendengar pernyataan Damian. Ia merasa sudah menjadi pria pengecut selama ini, memendam perasaan tanpa berani ia ungkapkan. Sungguh ironi.
Bersambung ....
.
.
Sambil nunggu up mampir ke novel yang super kece badai ini ya kakak readers sayang😍👍🏻