Axel Rio terjebak bertahun-tahun dalam kesalahan masa lalunya. Ia terlibat dalam penghilangan nyawa sekeluarga. Fatal! Mau-maunya dia diajak bertindak kriminal atas iming-iming uang.
Karena merasa bersalah akhirnya ia membesarkan anak perempuan si korban, yang ia akui sebagai 'adiknya', bernama Hani. Tapi bayangan akan wajah si ibu Hani terus menghantuinya. Sampai beranjak dewasa ia menghindari wanita yang kira-kira mirip dengan ibu Hani. Semakin Hani dewasa, semakin mirip dengan ibunya, semakin besar rasa bersalah Axel.
Axel merasa sakit hati saat Hani dilamar oleh pria mapan yang lebih bertanggung jawab daripada dirinya. Tapi ia harus move on.
Namun sial sekali... Axel bertemu dengan seorang wanita, bernama Himawari. Hima bahkan lebih mirip dengan ibu Hani, yang mana ternyata adalah kakak perempuannya. Hima sengaja datang menemui Axel untuk menuntut balas kematian kakaknya. Di lain pihak, Axel malah merasakan gejolak berbeda saat melihat Hima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Rose in Anger
Dia sangat cantik
Astaga
Dia bahkan lebih cantik dari kakaknya.
Himawari Sasaki berdiri di depanku.
Rambutnya yang ditata megar bergelombang, tubuhnya tinggi, hampir menyamaiku, dengan postur proporsional yang memikat.
Dia seksi dengan caranya.
Menurutku dia wanita sempurna.
Tadinya aku takut bertemu dengannya, aku berpikir karena Himawari ini sangat mirip dengan Hana Sasaki, aku akan gemetaran.
Tapi,
Ternyata saat bertemu langsung dengannya, wajahnya memang sangat mirip, tapi auranya sangat berbeda.
Himawari ini... bisa kubilang dia jenis wanita tangguh yang-
BUAGHH!!
Hantaman keras, langsung menyerang rahangku.
Aku sampai mundur ke belakang, tapi tanganku ini reflek melindungi tubuhku dari serangan.
CRASH!!
Rasa perih langsung terasa di sepanjang lenganku.
Aku pun terpana.
Dia...
Dia barusan mencakarku?!
Astaga! Aku berdarah banyak sekali!
Lenganku langsung dipenuhi cairan merah dengan rasa perih yang membuatku shock!
Tapi indera penglihatanku menangkap adanya pergerakan lagi.
Kaki dari arah depan sepertinya mendekat ke arah ulu hatiku.
Aku sigap menangkap sesuatu itu, entah kaki atau apa, tapi aku yakin sih kaki ya.
Lalu kupuntir sebisaku, dan kujatuhkan dia ke lantai.
Insting predator dalam diriku langsung bergejolak, aliran darahku memanas.
Aku membalik tubuh penyerangku, kutahan kedua tangannya di belakang punggungnya, dan kutahan tengkuk belakangnya dengan lututku.
Saat itu pun aku diam.
Aku sadar... kalau aku keterlaluan.
Aku menyerang seorang wanita.
Himawari sudah berada di bawah lututku yang tertekuk di atas tengkuknya.
Dia dalam posisi terlungkup dan berusaha meronta menggapaiku.
“Jangan ngelawan laki-laki biadab! Kau kan memang pantas kubunuh!! Lepasin, brengsek!!”
Begitu teriaknya.
Wow... suaranya juga tak kalah seksi dengan tubuhnya. Parau tapi tegas.
Bisa-bisanya dia pakai rok mini tapi menyerangku.
“Dia sudah tahu?” desisku.
“Iya lah.” gumam Devon. Pria ini yang membawa Himawari menghadapku. Kami kini berada di Gedung Kantor Pusat Prabasampurna. Di sebuah ruangan khusus luas seperti hangar.
“Terus lu mau apa, Tuan Putri? Ngebunuh gue?” aku menantang Himawari. Nggak seru kalau nggak ada perlawanan kan, masa aku pasrah aja sih, bisa turun wibawaku di hadapan Devon lah.
“Ngapain lu tanya itu? Lu bego atau gimana?” seru Himawari.
Baiklah, sudah jelas dia akan membunuhku.
Yang mana aku pun setuju aku memang pantas mati di tangannya.
“Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan akan suatu hal? Secara bukan gue yang bunuh mereka.”
“Lo terlibat!!” teriak Himawari.
“Ya makanya... kita cooling down dulu ya? Urusan gue masih banyak, kalo gue mati sekarang, Pak Damaskus nggak jadi makin kaya.”
“Hehe, dasar licik banget nih bocah.” Terdengar kekehan Pak Damaskus yang sedang duduk santai di sofa pojok sambil menikmati cerutu dan gelas berisi minuman entahlah, yang jelas sih miras ya.
“Tapi lo harus mati.” Geram Himawari.
“Ya, setelah urusan gue selesai.”
Gila nih cewek kuat banget sebenarnya. Kalau bukan aku yang menghadapinya, udah pasti keok sih. Ini saja dia masih mampu membuat posisi berlututku goyah.
“Gue juga ada urusan sama dia.” Terdengar suara Devon, “Mawar, lepasin Axel dulu, soalnya hari ini giliran gue.”
Mawar?
Siapa Mawar?!
Dan bangsat juga si Devon lagi-lagi manggil kau dengan sebutan Axel.
Bah!
Tak sudi aku!
“Mawar siapa? Macam acara investigasi yang suka menyamarkan narasumber...” gerutuku sambil melepaskan cekikanku dan aku pun langsung mundur ke belakang.
Ke...
Iya, ini aku reflek sumpah.
Sensor motorikku ini kadang suka nggak sepakat sama logikaku. Masa aku sembunyi di belakang Devon?!
Setelah aku sadar mendapati aku berdiri di belakang Devon, dan menyadari kalau ni laki memandangku dengan picingan matanya, aku malah jadi salah tingkah sendiri.
Yah begitulah, aku pokoknya setelah melepaskan Himawari, langsung lari ke belakang Devon, kayak anak gang habis nyulut petasan terus kabur menjauh sebelum tuh benda meledug ke atas.
“Mawar ya dia. Tantenya Hani.” Kata Devon.
Himawari berdiri sambil meringis mengelus tengkuknya dan susah payah menyeimbangkan posisinya.
“Mawar dari mananya?” aku masih waspada terhadap Himawari.
Kenapa tingkahku begini banget ya?
Nggak tahu lah.
Aku takut tapi penasaran.
“Ya dari Hi-Mawar-I.” Si Devon pakai acara jeda-jeda kata-kata pula.
“Elah... udah bagus Himawari, pake nama bunga Indonesia segala, macam LC lu.” Gumamku spontan.
BUAGH!!
Benda keras menghantam jidatku.
Sepatu cewek hak 10 senti.
Halah...
“War, sesuai kesepakatan di awal ya. Untuk sementara kita kerjasama dulu. Lu pasti mau semuanya berakhir baik kan?” desis Devon sambil memungut sepatu Himawari dan menghampiri wanita itu.
Lalu berlutut di depannya dan ala-ala Pangeran memakaikan sepatu kepada Cinderella.
Alpha bangsat memang nih pejantan.
“Gue mau lu bikin dia babak belur.” Gumam Himawari ke Devon, tapi sambil tetap menatap tajam padaku.
Tampak linangan air mata di pipinya.
Membuat aku jadi merasa sangat bersalah.
“Yang kedua... sampai lu bisa menggeret Irvin ke penjara, Lu Jadi Budak Gue! Ngerti Nggak?! Lu Harus MAU!!” jerit Himawari pake nunjuk-nunjuk ke arahku.
Budak?
Maksudnyaaaaa?!
“Ha?” dengusku.
“Pembantu nggak digaji. Itu namanya budak.” Kata Himawari.
“Ya gue tahu, tapi kenapa?” aku jelas nggak mau kalah lah, ngapain juga aku jadi budaknya?!
“9 Tahun gue hidup di dalam penderitaan gara-gara kakak gue tewas, dan orang tua gue jadi gila gara-gara itu!”
“Gue nggak tahu kakak lu bakal mati, itu nggak ada dalam rencana!” seruku membela diri.
“Itu kan kata lo sendiri! Mana buktinya heh?!”
“Ya buktinya ada di rumahnya!! Selamat aman sentosa, sampai masih perawannya gue jagain!” seruku menunjuk Devon. Maksudku Hani.
“Kalo gue niat jahat udah gue jual tuh anak ke penadah ke Kamboja!” seruku lagi.
“Bukti ketulusan lu adalah kalau lu bisa ngegeret Irvin ke depan hakim! Dah itu ajalah! Sampai saat itu terjadi, lu jadi budak gue! Lu pikir kehilangan kakak kandung bakal bikin gue happy hah?!” seru Himawari.
“Saya setuju. Bakal menarik nih.” Lagi-lagi Pak Damaskus angkat suara. Yang mana jelas dalam hal ini, aku sendirian.
Aku pun angkat tangan.
Entahlah akan jadi apa hari-hariku.
**
Aku curiga.
Sumpah aku beneran curiga.
Kenapa dari sekian banyak pekerjaan, dia menjadikanku budaknya?
Caranya memandangku saat ini... rasanya berbeda.
Aku memukulkan tangan kananku ke tangan kiriku, kutatap Devon dengan tajam dan kusiapkan fisikku supaya lebih prima.
Ini nggak imbang, you know? Aku nih udah babak belur duluan diserang cewek gila.Si mawar-mawar yang sekarang lagi berdiri di samping Pak Damaskus.
Sementara pria tinggi di depanku ini dengan sombongnya merenggangkan sendi-sendi nya, dari bagian tulang leher, bahu dan punggung. Bunyi ‘kretek-kretekk’ menghiasi ruangan itu.
Pamer banget lu Dev, gue tahu badan lu gede, coba liat dulu lo bisa ngimbangin kecepatan gue kagak?
Aku tarik nafas dan kuhembuskan ke udara. Aku mencoba menenangkan hatiku.
Berikutnya, POV Author. Karena nggak seru kalau aku yang menjabarkan kondisiku sendiri. Aku sibuk berantem, sudah pasti semua terjadi begitu cepat sampe mikir pun nggak bisa.
**
kau kan liat Hana Sasaki pas ada luka g0r0k di lehernya... himawari keadaan baik baik saja...
jelas beda lah Jakson
mksih sdh rajin update teruuusss...
terima kasih up nya Thor séhat selalu 🙏🏻🙏🏻🥰
yg tadinya mood bacanya berterbangan entah kmn ....eeehh tetiba semangat lagi
nuhun madaaaam