Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hugo kecelakaan
Sejak mendengar perkataan Hugo yang mengatakan kalau dia mencintai Fani dan Fani bersedia menunggu sampai dia bercerai dari Arimbi, Arimbi sadar kalau sulit baginya untuk mengambil hati Hugo. Apalagi Hugo secara terang-terangan berkata akan pergi dengan Fani dan sama sekali tidak perduli dengan acara Honeymoon mereka, Arimbi tentu merasa sakit hati dan tidak dianggap.
Tapi semua itu adalah salah ku sendiri, mengapa aku memaksa seseorang untuk menikahi ku, sedangkan hatinya bersama perempuan lain? pikir Arimbi dalam hati. Tapi Arimbi sama sekali juga tidak tertarik dengan usul Clara, akhirnya Arimbi memilih diam dan tidak berkata apa-apa.
Biarlah ku jalani hidup ku apa adanya, aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik dalam hidupku, pasrah Arimbi dalam hati.
"Ayo Bi, masuk ke dalam saja. Kita rencanakan honeymoon sesuai keinginan mu saja, kak Hugo juga tidak menganggap penting honeymoon ini. Yang penting kau pergi bersenang-senang saja, kalau perlu nanti di sana kau cari cowok yang ganteng dan kaya melebihi kak Hugo. Kau jangan khawatir, aku akan memodali mu baju yang bisa membuat pria-pria tidak melepaskan pandangannya dari kamu!" sindir Clara sambil menarik Arimbi meninggalkan Hugo yang berdiri mematung sejak mendengar Clara menantangnya. Arimbi hanya menurut dan mengikuti langkah Clara, sama sekali tidak mau melihat ke arah Hugo lagi.
"Ku bilang pada mama, kalau kau berani mengajari Arimbi yang aneh-aneh! Aku dan Arimbi berbeda! Arimbi harus menjaga sikapnya sebagai istri ku! Jangan sampai membuat aku malu!" teriak Hugo ketika melihat Clara yang sudah menjauh.
"Kak Hugo egois!" balas Clara berteriak dan segera menarik Arimbi berlari menuju ke mansion, agar mereka tidak usah mendengarkan perkataan Hugo lagi.
**********
Di dalam mobil menuju rumah Fani, Hugo tiba-tiba menjadi resah sendiri. Perkataan Clara berulang kali berputar-putar di kepalanya, padahal dia sudah berusaha membuang jauh perasaan itu.
Ayo Hugo, kau jangan egois! Beberapa bulan lagi aku juga bercerai dengan Arimbi. Lagipula apa kata Clara benar juga, aku terlalu egois kalau membatasi gerak Arimbi, sedangkan aku saja pergi dengan perempuan lain, pikir Hugo berusaha menghilangkan rasa tidak relanya.
Tapi tidak lama kemudian pikiran Hugo berubah lagi,
Tapi wajar aku membatasinya! Dia biasa suka menggoda pria dengan berdekatan dan menempel, jangan sampai membuat aku malu! Masak istri seorang Presdir bisa sebebas itu bergaul dengan pria lain? Apa kata orang kalau mereka melihat hal itu? pikiran Hugo langsung lari ke kejadian tadi saat Arimbi memegang dadanya untuk berjinjit yang sempat membuat jantungnya berdebar. Hugo menganggap Arimbi memang suka menggoda, Hugo lupa kalau itu hal yang wajar karena saat ini Arimbi berstatus istrinya.
Buk!
Karena melamun Hugo kaget melihat mobil dari depan yang hampir menyerempet mobilnya. Hal tersebut membuat Hugo membanting setir. Akhirnya mobil Hugo menabrak tiang di pinggir jalan dengan keras. Bahkan kaca mobil Hugo pecah dan kepala Hugo membentur kaca mobil, benturan yang lumayan keras membuat Hugo akhirnya tidak sadarkan diri.
**********
Clara memperlihatkan paket honeymoon ke Bali dan Raja Ampat pada Arimbi dan dengan semangat menjelaskan kelebihan dan kekurangan di dua tempat itu. Arimbi sendiri sebenarnya sama sekali sudah tidak antusias, tapi Arimbi menghargai usaha Clara, Arimbi terpaksa melihat brosur yang diberikan Clara.
"Aduh, aku juga bingung Ra! Kau tahu sendiri kalau aku tidak pernah pergi-pergi ke tempat lain. Jakarta saja baru kali ini!" ujar Arimbi bingung.
"Tapi...."
Belum selesai Clara berbicara, tiba-tiba Ibu Clara muncul dengan kalang kabut.
"Ra! Kakak mu Hugo kecelakaan!" ujar Ibu Clara.
Clara dan Arimbi serentak bangun dari duduknya begitu mendengar kabar itu.
"Lho! Tadi kakak baru pergi ma?" tanya Clara tida yakin. Arimbi sendiri memperhatikan dengan seksama pembicaraan kedua perempuan itu, bagaimanapun Arimbi juga mengkhawatirkan Hugo. Walau Hugo kadang suka berkata yang menyakiti hatinya, Hugo cukup baik padanya, apalagi pada neneknya.
"Cepat kau pergi ke Rumah Sakit ini untuk melihat keadaan kakak mu! Segera beri kabar setelah bertemu dengan kakak mu! Mama nanti akan memyusul bersama papa, setelah memberitahu papa!"' instruksi ibu Clara memberikan Clara selembar kertas yang sudah dia tulis nama Rumah sakit tempat Hugo dirawat.
"Baik, ma!" ujar Clara yang segera mengambil kertas dari tangan ibunya dan segera mengambil kunci mobil.
"Arimbi! Ayo cepat ikut Clara dan lihat keadaan suami mu!" ujar Ibu Clara menyadarkan Arimbi yang masih mematung dan bingung.
"Iya ma!" sahut Arimbi dengan terbirit-birit mengekori Clara keluar.
"Jangan lupa telpon mama ya kalau sudah tahu keadaan Hugo!" teriak Ibu Clara
**********
Saat Clara dan Arimbi tiba di Rumah Sakit, Hugo masih tidak sadarkan diri. Untung saja dokter yang merawat Hugo menjelaskan kalau Hugo sudah tidak apa-apa, hanya geger otak ringan saja.
"Kau jaga Hugo dulu, aku mau telpon memberitahu keadaan kak Hugo dulu," perintah Clara yang langsung disambut anggukan Arimbi yang segera berjalan ke tempat tidur Hugo dirawat dan segera duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur sambil memperhatikan wajah Hugo. Tampak kepala Hugo yang diperban karena berdarah terkena pecahan kaca.
Tanpa sadar Arimbi menggenggam tangan Hugo seakan ingin memberikan kekuatan pada Hugo.
"Aku sudah memberitahu keadaan Hugo pada mama, sebentar lagi mama dan papa aka menyusul datang," ujar Clara yang sudah muncul lagi di ruangan Hugo
"Jangan khawatir, aku sudah tanya Dokter! Kata Dokter, kak Hugo sudah tidak kenapa-kenapa, hanya menunggu kak Hugo sadar saja," beritahu Clara ketika melihat Arimbi yang terlihat khawatir pada keadaan Hugo.
"Iya, semoga Kak Hugo cepat sadar," sahut Arimbi kini dengan kedua tangannya menggenggam tangan Hugo.
Semoga suatu saat kak Hugo mengerti ketulusan Arimbi. Sebenarnya semua ini adalah salah ku dan aku yang membuat jebakan sehingga kak Hugo tidak menyukai Arimbi. Arimbi sama sekali tidak tahu apa-apa, tetapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya! sesal Clara. Saat melihat keadaan Hugo yang masih belum sadarkan diri, membuat Clara tiba-tiba merasa bersalah pada kakak tirinya yang selama ini sudah begitu baik padanya.
*********
Fani mulai kehilangan rasa sabarnya, ketika sesudah satu jam lewat, Hugo belum kelihatan juga batang hudungnya. Sumpah serapah juga sudah mulai keluar dari mulutnya yang biasanya selalu sopan itu.
Jangan-jangan kak Hugo hanya mempermainkan aku saja! Tapi aku tidak terima, kalau berhalangan setidaknya kak Hugo mengabari ku! Bukan membuat aku harus menunggu kedatangannya! gerutu Fani kecewa. Fani yang tidak terima dibohongi Hugo akhirnya memutuskan untuk menelpon Hugo.
"Halo?" terdengar suara seorang perempuan, bukan suara Hugo, yang membuat Fani semakin emosi.
Sial, apakah kak Hugo sudah lupa dengan janjinya pada ku?
Bersambung......
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan