Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.
Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.
Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.
Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.
Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?
Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?
Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Ujian pertama.
Aku diam, sama sekali tak bereaksi apapun.
Mau berpura-pura terkejut, tapi kesannya justru aneh..
Tapi tunggu!!
Mendengar kejujurannya hatiku seakan di remas kuat-kuat, bahkan terasa begitu menyesakkan di dada.
Wanita yang ia nikahi secara siri itu adalah aku, tapi kenapa bisa sesakit ini?
Menarik napas panjang, hembusan yang ku keluarkan justru terasa berat.
Aku lelah, lelah sekali.
"Kamu mendengar apa yang ku katakan kan?"
"Bisa kita jalan sekarang?" Tanyaku balik, alih-alih menjawab pertanyaannya.
"Kamu dengar apa yang ku bilang tadi?"
"Aku nggak mau mendengarnya" Sahutku setenang mungkin.
Mas Ryu menatapku tanpa suara, dan jujur saja kondisi ini membuatku mulai geregetan.
"Maaf jika aku menyakitimu" Ujarnya setelah tadi hanya diam. "Aku mencintainya, jadi aku menikahinya"
Ujian ke dua, jantungku rasanya berdetak dengan lebih kencang dari sebelumnya.
Kalimat 'aku mencintainya' tadi, sudah berhasil memberikan denyutan nyeri di dalam sana. Bayangan pernikahan mas Ryu dengan Jani, juga pergulatan mereka di atas ranjang pun mendadak terlintas. Menimbulkan rasa perih yang kian hebat. Ini sakit.
"Mas nggak mau meninggalkannya?" Suara itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Mas Ryu tak menjawab, akan tetapi bahasa tubuhnya membuat hatiku seketika mencelus.
"Kalau aku jawab enggak, lalu apa?" Tanyanya tenang, tapi tidak denganku. Gelegak emosiku rasanya kian memuncak. "Kalau aku jawab iya, apa kamu berani mundur dari pernikahan ini?"
Ku tarik nafas panjang, sedikit tersengal karena sendatan emosi.
"Mas tahu betul perasaanku, perasaan bunda dan juga ayah. Apa mas benar-benar nggak paham, apa dampak dari jawaban mas?"
"Atau apa perasaan kami" Ku jeda kalimatku untuk meneguk ludah, lalu kembali bersuara. "Terutama aku, sebegitu enggak pentingnya buat mas?" Ku sadari suaraku mulai bergetar di kalimat barusan.
"Sudah ku bilang aku menikahimu karena bunda, jika aku nggak memahami perasaanmu, itu konsekuensimu"
Memalingkan wajah ke jendela kiri, aku meremat kuat-kuat jemari tangan yang ada di atas pangkuanku, berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas panjang-panjang.
Perkataan mas Ryu, sungguh membuatku kembali kesulitan memasukan oksigen ke tubuhku sendiri.
"Sekarang lihat aku" Perintah mas Ryu ketika aku bertahan menatap ke lain arah.
"Aku mau pulang"
"Lihat aku dulu!"
"Dengan melihat wajahku, apa mas mau menertawakanku atau mengasihaniku?" Kataku, enggan menuruti perintahnya. "Aku terlihat menyedihkan, lebih baik pulang sekarang"
Melihat dia hanya diam tak menggerakkan mobilnya, aku yang tak tahan lagi akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil.
Sedikit menyentakkan pintu mobil saat menutupnya, kakiku langsung melangkah membawa hatiku yang bergemuruh hebat.
Ketika kakiku sudah mengambil sekitar enam langkah, tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tanganku.
Mas Ryu, tanpa mengatakan apapun dia berjalan selangkah di depanku sembari menggandeng tanganku agar kembali masuk ke mobil.
"Lain kali jangan bersikap kekanak-kanakan" Ucapnya sambil membuka pintu mobil, lalu sedikit mendorongku supaya duduk. "Ada banyak orang yang lewat jalan ini dan mereka rata-rata adalah tetangga kita, tunggu sampai kita tiba di rumah. Kamu bisa meluapkan emosimu di kamar, mau sambil nangis, teriak, bebas, sesukamu" Lanjutnya kali ini memasang sabuk pengaman karena aku tak kunjung memakainya. Tubuhnya sedikit merunduk saat mengaitkannya di pinggangku.
Aku sendiri memilih diam. Sejujurnya ada amarah tertahan yang ingin aku luapkan, tapi tak tahu bagaimana caranya. Emosi, kecewa, sedih yang bercampur menjadi satu, rasanya sampai membuatku tak mampu bersuara.
Setibanya di rumah, aku masih memilih diam. Bahkan ketika dia memintaku menyiapkan makan malam, aku tak berkomentar apapun.
Aku yang lebih dulu masuk rumah, langsung mengarahkan kaki ke dapur, mengisi gelas dengan air dingin kemudian meneguknya.
Aku harap segelas air dingin ini bisa meredakkan amarah serta mengurangi rasa kecewaku.
Dengan entengnya mas Ryu mengatakan bahwa dia mencintai wanita lain di depanku, dia menginginkan aku mundur?
Tidak akan, karena jika aku mundur, dia pun akan kehilangan Jani. Dan dalam prinsip hidupku, pernikahan terjadi hanya sekali seumur hidup.
Baru saja air di gelas sudah habis ku minum, mas Ryu menyusul masuk ke dapur, pria itu tampak meletakkan tas kresek berisi roti yang ku beli.
Mengabaikannya, aku langsung pergi meninggalkan dapur yang menyatu dengan ruang makan.
"Loh, kalian sudah pulang?" Tanya bunda saat berpapasan di ambang pintu dapur.
"Sudah, bun" Jawabku tak berani menatap wajah bunda. "Aku ke kamar dulu, bun"
Wanita yang melahirkan suamiku tak menjawab. Mungkin dia heran dengan sikapku.
*****
Esoknya aku melakukan aktivitas seperti biasa. Bedanya, aku menjadi lebih pendiam, apalagi ketika di depan mas Ryu. Aku sama sekali tak mengeluarkan suaraku barang sepatah katapun. Aku mendiamkan mas Ryu hingga dia seperti kebingunan sendiri.
Sementara Jani, aku baru saja mengirim pesan padanya bahwa untuk beberapa hari ke depan kami tak akan bertemu. Aku beralasan akan pergi berlibur bersama teman-temanku.
Pikiranku kalut, hati juga seperti tak menerima fakta kalau mas Ryu senekad itu jujur padaku. Lagi-lagi aku membayangkan jika Jani bukan aku. Aahh... Andai saja ini di pantai, aku pasti sudah teriak sekencang-kencangnya. Meluapkan segala apa yang ku rasakan di dalam sana.
"Setidaknya katakan sesuatu Naina!" Tukas mas Ryu yang masih berusaha membuatku bicara.
"Sudah tidak ada lagi yang ku sembunyikan darimu. Dan dalam waktu dekat aku akan memperkenalkan istri keduaku ke bunda"
Tiba-tiba benda yang ada di tanganku seketika terlepas begitu aku mendengarnya. Suara jatuhnya nampan yang beradu dengan pecahnya gelas pun terdengar memekikan telinga. Beruntung ini di kamar.
"Kamu hati-hati dong" Cicit mas Ryu tanpa rasa bersalah
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi