NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Hari Senin pagi di SMA Astra Nova diawali dengan udara cerah. Seluruh siswa-siswi dari kelas X hingga XII sudah berbaris rapi di lapangan utama untuk mengikuti upacara bendera mingguan.

Namun, susunan upacara kali ini terasa berbeda. Setelah pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih selesai, pembawa acara upacara membacakan pengumuman khusus dengan pengeras suara yang bergema di seluruh area sekolah.

"Dimohon kepada seluruh anggota Band Ekskul Musik SMA Astra Nova, The Novas, yang telah mengharumkan nama sekolah sebagai Juara 1 Lomba Musik Tingkat Nasional, untuk segera maju ke tengah lapangan!"

Suara tepuk tangan dan sorak-sorai meriah langsung pecah mendominasi lapangan upacara.

Di barisan kelas X, Prabumi Akshaya atau yang akrab disapa Bumi mendadak kaku di tempatnya. Wajahnya merona merah akibat canggung. Ia merapikan dasinya dengan jemari yang sedikit gemetar sebelum melangkah keluar dari barisan.

Dari tiga sudut barisan yang berbeda, para seniornya di grup band The Novas ikut melangkah maju menuju podium kepala sekolah.

Di sebelah kiri berdiri Arka Raditya Pradana kelas XII‐E, sang Ketua ekskul Musik sekaligus pemain drum yang selalu karismatik. Di sebelah sang ketua, berdiri Devan Mahendra dari kelas XI-J sebagai pemain bass yang selalu tampil tenang dan santai dengan kacamata bingkai hitamnya. Di sebelah Devan, Kalandra Bagas Airlangga dari kelas XI-B yang bermain keyboard dengan lincah dan enerjik berdiri dengan gagah perkasa.

Dan di tengah-tengah, berdiri si bungsu satu-satunya dari kelas X: Prabumi Akshaya sebagai vokalis utama sekaligus pemegang gitar akustik.

"Semangat, Bum!" teriak Ren setengah berbisik dari barisan X-E sambil mengacungkan dua jempolnya tinggi-tinggi.

Jasver yang berdiri di samping Ren menyiulkan siulan nyaring, sementara Farah menyilangkan tangan di dada sambil tersenyum bangga. Aery, yang berdiri anggun di barisan paling depan, menatap sosok Bumi dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga tiada tara.

Di atas podium, Kepala Sekolah menyerahkan piala emas berukuran besar dan piagam penghargaan Nasional kepada Arka selaku ketua band, lalu mengalungkan medali emas ke leher masing-masing personel.

Saat medalinya dikalungkan ke leher Prabumi Akshaya, Kepala Sekolah menepuk bahu Bumi dengan hangat. "Karya dan vokal kamu luar biasa, Prabumi. Anak kelas X sudah bisa mengharumkan nama sekolah di tingkat Nasional. Pertahankan ya!"

"Terima kasih banyak, Pak," jawab Bumi santai namun santun sembari membungkuk memberi hormat.

Arka Raditya mengamit mic dari stand dan mengucapkan sepatah kata sambutan, sebelum akhirnya menarik Bumi ke depan. "Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua! Dan piala ini persembahan dari kami, terutama untuk vokalis termuda kita yang jenius, Prabumi Akshaya!"

WAAAHHHHH!

Gemuruh teriakan ciwi-ciwi Astra Nova makin menjadi-jadi saat Bumi tersenyum tipis ke arah barisan penonton, melambaikan tangannya dengan canggung.

Usai upacara dibubarkan, Prabumi langsung dikerubungi oleh teman-temannya. Trio Curut dan para cewek melangkah menghampiri arena podium.

"Gokil lo, Prabumi Akshaya!" seru Jasver langsung merangkul leher Bumi dari belakang. "Nama lengkap lo dipanggil kenceng banget tadi di toa sekolah, berasa artis papan atas!"

"Iya, Bum! Nama lo keren banget, setara sama piala emas yang lo pegang tuh!" tambah Ren yang memegang-megang medali emas di leher Bumi dengan takjub.

Bumi terkekeh pelan, lalu pandangannya beradu dengan Aery yang berdiri menatapnya. Aery melangkah mendekat, menyunggingkan senyum terindah yang ia miliki.

"Selamat ya, Prabumi," ucap Aery lembut. "Nama kamu emang pantes ada di panggung itu."

Bumi tersenyum hangat, menggenggam medali di dada dengan perasaan membuncah. Perjalanan nekat menerobos hujan deras di Jakarta dan drama villa kayu malam itu kini terbayar sudah dengan piala dan medali di tangannya.

♧♧♧

Istirahat pertama tiba. Ruang ekskul musik yang terletak di lantai dua gedung barat SMA Astra Nova mendadak riuh. Keempat personel The Novas berkumpul di dalam studio kedap suara tempat mereka biasa berlatih, mengagumi piala emas Nasional yang kini resmi terpajang di atas rak kaca.

Arka, sang ketua band, menyandarkan punggungnya di sofa kulit studio sambil memutar-mutar botol minuman. Devan dan Kalandra sibuk merapikan kabel instrumen di sudut ruangan, sementara Prabumi duduk di atas kursi putar sambil memangku gitarnya.

"Bum," panggil Arka tiba-tiba, memecah keheningan studio.

Bumi menoleh dari gitarnya, menatap sang ketua. "Kenapa, Kak Arka?"

"Gue mau nanya dong," Arka memajukan badannya sedikit, menyunggingkan senyum penasaran. "Cewek yang berdiri di barisan depan pas upacara tadi... yang seragamnya rapi banget, rambutnya lurus panjang, terus mukanya anggun banget itu siapa sih namanya?"

Devan yang sedang merapikan kabel bass langsung menoleh, begitu pula Kalandra yang menghentikan kegiatannya.

"Wah, Kak Arka tumben banget nanyain cewek terang-terangan begini?" goda Kalandra sambil terkekeh nakal.

Bumi sempat terdiam sejenak. Dari deskripsi yang sangat spesifik itu, Bumi langsung tau betul siapa sosok yang dimaksud oleh Arka.

"Oh... itu Aery, Kak," jawab Bumi santai namun jujur. "Nama lengkapnya Aery Brooklyn. Anak kelas X-A."

"Aery Brooklyn..." Arka mengulang nama itu pelan, seolah meresapi setiap suku katanya, lalu tersenyum makin lebar. "Nama yang cantik, persis kayak orangnya. Dia temen deket lo, Bum?"

"Iya, Kak. Dia sahabatnya Farah sekaligus temen main gue, Jasver, sama Ren juga," jelas Bumi. "Kemarin yang bawa mobil nekat ke Jakarta nembus hujan deras juga Aery."

Arka menepuk tangannya sekali, matanya berbinar takjub. "Gokil... udah anggun, keliatannya kalem, tapi nekat juga ternyata. Gue merhatiin dari atas panggung tadi, dia natap lo pake senyum bangga banget pas prosesi pengalungan medali."

Arka lalu menyandarkan badannya kembali ke sofa studio, menatap langit-langit ruangan dengan senyuman bermakna. "Aery Brooklyn dari kelas X-A ya... menarik."

Bumi menunduk pelan, jemarinya refleks memetik senar gitar membentuk nada C-major. Mendengar nama Aery Brooklyn disebut dengan nada penuh ketertarikan oleh sang ketua band, ada desir aneh yang mendadak hinggap di dada sang vokalis termuda The Novas.

♧♧♧

Bel tanda masuk jam pelajaran berikutnya baru saja berbunyi. Aery melangkah santai menyusuri koridor lantai dua menuju kelasnya X-A, usai mengambil beberapa buku dari perpustakaan.

Namun, tepat beberapa langkah sebelum ia mencapai pintu kelas, sosok jangkung berwajah karismatik mendadak muncul dari belokan koridor, menghentikan langkahnya.

Arka Raditya Pradana.

Sang ketua ekskul musik The Novas itu berdiri memblokir jalan dengan senyuman hangat yang biasanya berhasil bikin setengah siswi Astra Nova meleleh. Di belakangnya, Bumi berjalan mengekor sambil membawa tas gitarnya, tampak agak serba salah.

"Hai, Aery," sapa Arka ramah, memasukkan satu tangannya ke saku celana seragamnya.

Aery menghentikan langkah. Tatapan matanya yang biasanya hangat dan lembut seketika berubah netral. Bagi Aery, orang yang belum pernah berinteraksi langsung dengannya adalah orang asing dan pada orang asing, pertahanan dirinya otomatis aktif.

"Iya, Kak?" jawab Aery singkat, datar, tanpa senyuman.

Arka sempat mengernyit tipis, agak kaget dengan aura dingin yang mendadak memancar dari siswi kelas X-A itu. Namun, sang ketua band tetap berusaha mengendalikan suasana dengan senyum manisnya.

"Gue Arka, ketua band-nya Bumi," ucap Arka mengulurkan tangannya dengan percaya diri. "Gue cuma mau ngomong makasih secara langsung. Bumi cerita lo yang bela-belain nyetir mobil nembus hujan deras ke Jakarta kemarin."

Aery menatap uluran tangan Arka sejenak, lalu menyambutnya sangat singkat, hanya sekadar menempelkan jemari sebelum menariknya kembali.

"Sama-sama, Kak," sahut Aery irit bicara. Wajahnya datar sempurna, ekspresinya tenang namun memberi jarak yang teramat jelas.

"Gue salut banget sama lo. Jarang ada cewek yang mau nekat begitu demi temen-temennya," lanjut Arka, mencoba memancing obrolan lebih jauh. "Btw, nanti sore free ngga? Anak-anak ekskul musik mau syukuran kecil-kecilan di luar, lo mau ikut?"

Bumi yang berdiri di belakang Arka menahan napasnya. Dadanya berdebar kencang menantikan jawaban Aery.

Aery menatap Arka lurus tanpa keraguan sedikit pun. "Ngga bisa, Kak. Gue ada urusan lain," potong Aery dingin namun tetap sopan. Ia lalu melirik ke arah pintu kelasnya yang sudah dimasuki guru. "Permisi, Kak Arka. Jam pelajaran gue udah mulai."

Tanpa menunggu balasan dari Arka, Aery membalikkan badan dan langsung melangkah masuk ke dalam kelas X-A, meninggalkan koridor yang mendadak hening.

Arka membeku di tempatnya. Senyum percaya dirinya perlahan luntur, berganti dengan helaan napas takjub sekaligus heran. Siapa sangka, cewek yang terlihat sangat lembut saat melihat Bumi di atas panggung tadi, ternyata sedingin es saat berhadapan dengannya?

Arka menoleh ke belakang, menatap Bumi yang diam seribu bahasa.

"Bum..." gumam Arka sambil terkekeh lemas, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Temen lo yang satu itu... cuek banget ya kalau sama orang baru?"

Bumi mengelus dadanya pelan, rasa sesak yang tadinya hinggap di dadanya seketika menguap, digantikan oleh senyum tipis yang tak sanggup ia tahan.

"Iya, Kak," jawab Bumi pelan. "Aery emang gitu kalau belum kenal dekat."

♧♧♧

Bel istirahat kedua kembali bergema, namun atmosfer di dalam studio The Novas terasa jauh lebih tegang dari biasanya.

Arka duduk di tepi meja studio, melipat kedua tangannya di dada. Matanya terkunci lurus pada sosok Prabumi Akshaya yang sedang memasukkan gitarnya ke dalam tas.

"Bum," panggil Arka dengan nada suara yang tak lagi sesantai tadi pagi.

Bumi mendongak, menatap sang ketua band. "Iya?"

Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintar miliknya lalu meletakkannya di atas meja kaca.

"Minta nomornya Aery," minta Arka lugas tanpa basa-basi.

Bumi membeku. Jemarinya yang sedang menarik resleting tas gitar mendadak terhenti. Rasa tak nyaman yang kuat langsung menyeruak di dalam dadanya. Bagi Bumi, nomor ponsel Aery adalah hal pribadi dan Aery sangat tidak menyukai jika kontak pribadinya disebar ke sembarang orang tanpa izin, apalagi kepada orang baru yang jelas-jelas ditanggapi dingin olehnya.

"Maaf, Kak..." Bumi menggeleng pelan, berusaha menyampaikan penolakannya sesopan mungkin. "Gue ngga bisa kasih nomornya Aery."

Arka mengernyitkan alisnya, heran bercampur sedikit tersinggung dengan penolakan adik kelasnya itu. "Lah? Kenapa ngga bisa? Gue cuma minta nomornya doang, Bum. Bukan mau berbuat jahat."

"Bukan gitu, Kak," jawab Bumi tenang, menatap mata Arka. "Aery anaknya risih kalau kontaknya dikasih ke orang lain tanpa izin dia dulu. Tadi kan Kak Arka juga liat sendiri pas di depan kelas... Aery agak tertutup kalau sama orang baru."

Arka terkekeh remeh, mengibaskan tangannya di udara. "Aelah, sok jual mahal aja tuh cewek di depan umum. Kebanyakan cewek emang gitu awal-awal, jual mahal biar dicari. Nanti kalau gue yang chat duluan juga luluh sendiri."

Bumi mengepalkan tangannya pelan di samping paha. Kata-kata "sok jual mahal" yang diucapkan Arka untuk Aery terasa sangat menyengat di telinganya.

"Ngga gitu, Kak. Aery beneran ngga suka," tegas Bumi, suaranya sedikit lebih berat. "Mending Kak Arka minta langsung aja sama Aery nya besok kalau ketemu."

Melihat respons Bumi yang keras kepala, ekspresi Arka berubah makin serius. Aura senioritas dan kepemimpinannya mendadak menguar menekan.

"Bum, lo lupa ya siapa yang bawa lo masuk ke The Novas?" tembak Arka tajam, memajukan badannya mendekati Bumi. "Lo itu anak kelas X sendiri di band ini. Gue yang percaya sama lo buat pegang posisi vokalis utama dari awal. Masa gue cuma minta nomor temen cewek lo aja lo pelit banget?"

Devan dan Kalandra yang sedang mengobrol di sudut studio langsung terdiam, menyadari ketegangan yang mendadak meningkat di antara sang ketua dan sang vokalis.

"Ketik nomornya sekarang di HP gue, Bum," perintah Arka penuh tekanan, menggeser ponselnya lebih dekat ke arah Bumi. "Gue ngga mau denger alasan lagi."

Bumi menatap ponsel Arka di atas meja, lalu beralih menatap wajah sang ketua band yang menuntut. Dadanya bergemuruh hebat antara rasa segan pada senior yang membesarkan namanya di sekolah, atau menjaga privasi cewek yang berharga baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!