Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Ran tidak bisa tidur. Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Dia selalu saja tidak bisa tidur nyenyak. Sejak dia mengalami kejadian aneh, dia hanya tidur dua jam setiap malamnya.
Bukan tidak mengantuk, namun memang matanya tidak mau dipejamkan. Isi otaknya selalu mengajaknya berkelana ke mana saja. Terlalu banyak yang dipikirkan.
Ran membuka selimutnya dan bangkit dari tempat tidurnya. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja rias dan membuka lacinya. Dia mengambil bungkusan kecil yang tadi tiba-tiba ada di dalam tasnya.
Padahal Ran ingat, kalau bungkusan kecil itu sudah dua kembalikan di tempatnya semula. Ran juga ingat kalau dia tidak mengambil dan memasukkannya ke dalam tas. Namun kenapa tiba-tiba sudah ada di dalam tasnya.
" Apa sebenarnya ini. Dan punya siapa. Kenapa bisa terbawa dalam tas gue.."
Ran membolak balik bungkusan itu. Sebenarnya Ran merasakan sesuatu perasaan aneh saat dia memegang benda tersebut. Jantungnya pasti berdegup lebih kencang. Ran yakin ada sesuatu dalam bungkusan tersebut. Namun dia tidak berani membuka bungkusan tersebut.
" Harus gue apakan bungkusan ini ya.."
Ran masih memegang bungkusan kain itu. Dia ingin membuka namun ada perasaan takut. Menurutnya bungkusan kecil itu terlihat aneh.
" Sepertinya gue pernah lihat yang seperti ini di mana ya.."
Ran mengetukkan bungkusan itu dia tas meja. Dia terus berpikir tentang bungkusan itu.
" Seperti jimat ya. Gue pernah lihat di mana ya..."
Ran terus berpikir. Dia sangat ingin tahu sebenarnya itu apa. Namun dia juga tak ingin membukanya. Takut ada kesalahan dan berakibat fatal.
" Oh ya... Gue lihat waktu di Surabaya. Pas ada yang berkunjung ke panti. Tapi lupa siapa ya."
Ran berpikir keras berusaha mengingat benda yang dia pegang.
" Sudahlah besok kembalikan aja. Bikin pusing. "
Ran mengembalikan benda tersebut ke dalam laci. Dia akan memikirkannya lagi nanti. Siapa tahu dia bisa mengingat benda apa itu suatu saat nanti. Namun esok pagi dia akan mengembalikan di tempat semula benda itu dia temukan.
Ran kembali merebahkan tubuhnya. Ini sudah tengah malam. Dia ingin tidur. Namun tetap saja mata ini tidak bisa terpejam. Badannya sungguh sudah sangat lelah. Ran juga mengantuk. Namun pikirannya masih saja berkelebat segala kejadian yang dia alami.
"Ya Allah. Hamba ingin tidur. Hamba ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran hamba. Hamba lelah.." Gumam Ran dalam hati. Sebenarnya dia juga tidak mau mengeluh seperti ini. Namun memang itulah yang dia alami dan rasakan saat ini.
Ran membaca beberapa doa yang dia hapal.Dan juga beberapa Surat dari Al-Qur'an yang dia hapal. Dia hanya berharap dengan bacaan yang dia baca hatinya bisa sedikit tenang dan dia bisa tidur.
Dan benar. Tak lama setelah Ran selesai dengan bacaannya, terdengar suara halus nafasnya yang teratur. Akhirnya Ran bisa tidur juga, saat waktu sudah dini hari . Dan dia tetap saja hanya tidur dua jam. Karena pasti saat adzan subuh berkumandang Ran sudah pasti akan terbangun.
💐💐💐
Hary dan Bara meninggalkan tempat parkir dengan berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Mereka sungguh tidak mengerti dengan apa yang mereka alami hari ini. Sungguh tidak masuk di akal.
" Pa..." Bara menepuk pundak Hary yang berjalan cepat satu langkah di depan Bara.
" Ada apa..?" Hary menjawab tanpa menoleh.
" Jangan cepat-cepat. Mau kemana kita ."
"Kita ke ruangan papa aja. Di sana lebih aman untuk berbincang."
Bara mensejajarkan langkahnya. Terlihat tidak harmonis kalau berjalan dengan posisi depan belakang.
Tak lama mereka sampai di ruangan Hary. Mereka masuk dan segera mengunci pintu. Mereka tidak mau apa yang akan mereka bicarakan di dengar orang lain.
"Bar, tadi kamu lihat apa.." Hary bertanya pada Bara begitu pintu tertutup.
Bara masih diam. Dia sedang berpikir apa dia harus ceritakan semuanya.
"Pa,.. Tadi Bara melihat pohon jambu itu tidak sekecil itu. Papa pernah ke rumah Arin kan. Nah pohon jambu itu terlihat sama persis dengan yang di rumah Arin."
" Papa juga melihat hal yang sama. Bahkan pohon itu terlihat meliuk-liuk ditiup angin.."
Hary berkata sambil menerawang. Pikirannya kembali ke kejadian yang baru saja mereka alami. Kejadian yang sangat tidak masuk akal. Pandangan matanya menatap ke langit-langit ruangan.
"Eh.. Itu apa di atas.."
Hary berdiri. Dia memperhatikan dengan seksama pada lampu yang ada di atas ruangan. Lampu tersebut terlihat aneh. Seperti ada sesuatu di sampingnya.
" Ada apa sih pa. Apa yang aneh.."
Bara ikut memandang ke arah sang papa memandang. Dia hanya melihat sebuah lampu gantung yang sepertinya baru di pasang.
" Sejak kapan lampu ruangan ini diganti.." Hary menatap Bara mencari jawaban atas pertanyaannya.
" Bara tidak tahu. Bara tidak pernah masuk kemari. " Ucap Bara memperhatikan lampu tersebut.
" Bara pikir papa sudah tahu. Sebenarnya dari tadi Bara juga ingin bertanya.." Lanjut Bara.
" Ini ruangan khusus. Seharusnya jika ada yang perlu diperbaiki harus ada persetujuan papa." Papa masih memperhatikan lampu itu dengan seksama. Ada kejanggalan dengan lampu tersebut.
" Sepertinya ada cctv dipasang pada lampu itu.." Ucap Bara. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan naik ke atas meja untuk memperjelas penglihatannya.
" Itulah yang papa maksudkan. Turun Bara. Biarkan saja. Anggap seolah-oleh kita tidak tahu. Ada yang sengaja ingin tahu tentang apa yang kita. Ada yang sedang mengawasi kita." Ucap Hary selanjutnya.
" Hah.. Mengawasi kita bagaimana pa..?" Bara terkejut mendengar perkataan Hary. Dia tidak mengerti maksud sang Papa.
" Oh,ya . Papa belum bercerita ya. Ingat yang papa bilang ke panti milik Yusuf yang katanya sedang dalam masalah dua Minggu yang lalu.." Hary menghentikan ucapannya menunggu reaksi Bara.
" Sebentar pa, kita sedang diawasi. Sebaiknya kita jangan bicara sesuatu di sini.." Bisik Bara. Dia memijat pundak sang papa untuk menyamarkan perkataannya.
" Sebaiknya kita keluar. Kita pulang. Papa lapar.." Ucap Hary akhirnya. Dia tahu maksud sang putra. Bisa jadi ruangan ini dipasang alat penyadap juga.
" Ayo pa, Bara juga lapar.."
Mereka berdua keluar ruangan dengan segera. Sebenarnya Hary akan membicarakan banyak hal disini. Namun melihat situasinya dia mengurungkan niatnya.
Untung saja dia segera menyadari apa yang terjadi di ruangannya. Untung saja tadi melihat ke atas . Sehingga dia bisa menemukan hal yang tidak seharusnya. Hary yakin ada orang yang sedang mengawasinya. Namun Hary belum tahu siapa dan maksud dan tujuan orang tersebut melakukan hal itu.
" Kita bicarakan di mobil saja. Sekarang kita ke rumah ustadz Zakaria terlebih dahulu. " Bisik Hary ditelinga Bara. Dia tidak ingin ada yang mendengar ucapannya. Karena dia yakin pasti ada yang mengawasi gerak-geriknya.
Bara mengangguk. Dia mengerti dengan apa yang dimaksud sang papa. Sepertinya rumah sakit ini sudah tak aman buat mereka berbincang. Mereka harus hati-hati jangan sampai mereka lengah dan musuh mengetahui apa yang akan mereka lakukan.
Mereka menuju tempat parkir. Bara masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Dia memeriksa semua bagian mobil. Bara hanya waspada. Dia tidak mau dia kecolongan lagi seperti di ruangan Hary tadi.
Bara memeriksa setiap bagian mobil sampai tempat yang terselip sekalipun. Dia tidak mau ada alat penyadap disana. Karena Bara yakin pasti ada orang yang sengaja ingin mengetahui apa yang dia lakukan dan bicarakan.
Hary ikut membantu. Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia bisnis, Hary tahu akan ada saatnya ada orang yang tidak menyukainya dan akan melakukan segala cara untuk menghancurkannya. Dan mereka harus waspada. Apalagi mereka sudah mengalami hal-hal yang aneh belakangan ini.
Dan benar Bara menemukan sebuah alat penyadap di bawah kursi supir. Dia tidak mengambilnya. Dia hanya mengangguk dan memberi kode kepada sang papa. Dan untungnya sang papa langsung tanggap.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan bersikap biasa saja. Mereka tetap berbincang seperti biasa. Namun tidak membicarakan hal yang penting.
" Kita makan dulu Bar, lapar. Perut papa sudah keroncongan."
" Siap pa..."
Bara membelokkan mobilnya masuk ke sebuah restoran Padang yang dia temukan. Sebenarnya bukan karena lapar. Tapi Bara penasaran dengan perkataan hary tadi . Ada sesuatu yang menggelitik hatinya ketika sang papa menyebut panti asuhan. Bara langsung teringat tentang Ran. Dia yakin semua yang terjadi belakangan ini ada hubungannya dengan dia.
Hary dan Bara segera memesan makanan dan mencari tempat duduk. Dan mereka memilih tempat duduk yang privasi. Untung saja restoran ini menyediakan ruangan privasi. Karena Hary dan Bara ada banyak hal yang ingin mereka bincangkan.
Setelah makanan datang mereka segera menyantapnya. Dan segera menghabiskannya.
" Pa.. Bara boleh tahu tadi papa mau mengatakan apa..?" Bara sudah tidak sabar. Biasanya dia jarang berbicara kalau sedang makan. Tapi saat ini rasa ingin tahunya sangat besar dan dia tidak bisa menahan diri.
" Sebentar papa minum dulu.." Hary meneguk jeruk hangat pesanannya. Makanannya pun belum habis. Namun mereka mengejar waktu. Harus berbicara sekarang. Biar semua segera bisa ditelaah bersama.
"Ingat waktu papa di Surabaya. Yang panti asuhan mau digusur. Ternyata itu hanyalah rekayasa Yusuf.."
" Hah..apa pa..? Rekayasa? Kok bisa . Memang kenapa harus membuat sandiwara seperti itu.." Bara memotong ucapan Hary karena Bara sangat terkejut.
" Benar Nak, jadi sebenarnya sebelum itu papa menemukan fakta kalau dana dari para donatur sering diselewengkan.." Lanjut hary. Dia bangkit dari duduknya untuk mencuci tangan. Makanannya sudah habis. Begitu pula dengan Bara. Makanannya juga sudah habis.
" Apa tujuan Yusuf berbuat hal itu pa.."
" Papa belum menemukan apa tujuannya. Yang papa temukan adanya sebuah rekening yang di duga milik Yusuf. Berisi lumayan banyaklah untuk sebuah tabungan seorang pemilik panti yang mempunyai anak asuh lumayan banyak.." Pap berhenti lagi. Dia kembali meneguk minumannya.
" Papa sudah menyelidikinya. Dan tabungan itu ada sudah sekitar 15 tahunan.." Tambah Hary .
" Lumayan lama juga ya. Pa.. bukannya ustadz Yusuf punya anak kandung ya.Bara sedikit mengingat pas dulu diajak papa berkunjung. Kalau tidak salah beda 2 tahun sama Bara usianya."
" Benar Nak, Setahu papa sih iya. Anaknya perempuan. Cantik seusia Nia. Kakaknya Arin. Kalian dulu sering main bertiga. Apa kamu lupa sama Nia..?"
" Tidak pa. Bara masih ingat waktu kecil. Kita sering main bertiga. Namun Bara heran mereka hilang begitu saja." Bara masih ingat masa kecilnya itu. Karena saat itu dia sudah berusia 5 tahun sedang Nia dan anaknya Yusuf. Daya ingatnya lumayan kuat untuk mengingat teman kecilnya.
" Itulah yang bapak tidak mengerti. Yanto menghilang begitu saja saat anak keduanya lahir. Sedangkan anak Yusuf juga sudah tidak terlihat lagi. Apalagi setelah kita pindah ke Jakarta. Kamu sudah jarang papa ajak mengunjungi panti.."
Hary terdiam dia ingat kembali persahabatannya dengan kelima orang teman dekatnya. Namun semenjak mereka menikah, mereka terpisah dan baru satu tahun belakangan ini dia bisa menemukan jejak mereka. Hary ingin tahu ada cerita apa dibalik menghilangnya teman-temannya yang tiba-tiba.
Padahal yang Hary tahu tidak ada kejadian yang luput dari penglihatannya. Namun dia tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga mereka bisa terpisah begitu lama. Dan di saat sekarang bertemu, ada kejadian yang sama sekali tidak dia duga dan masih dalam teka-teki.
Sebenarnya apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang melatarbelakangi kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini. Hary sedang berusaha menarik garis merah.
Sementara di rumah sakit, terlihat seseorang yang terlihat sangat kecewa di ruangannya. Mukanya terlihat merah dan tangannya mengepal seperti ingin memukul saja.
" Sialan.. Sudah sejauh ini belum gue temukan bukti kecurangannya. Lihat saja sedikit lagi... Sedikit lagii.. Hahahaha.. Hahahaha."
Tawa seseorang terdengar menggelegar di sebuah ruangan. Untung saja ruangan tersebut di pasang peredam suara hingga suara itu tidak sampai keluar ruangan.
Bersambung
Siapa sebenarnya orang tersebut ya. Dan bagaimana usaha Bara dan Hary selanjutnya.
Terima kasih banyak buat kalian yang sudah mampir. Love sekebun duren buat kalian semua ❤️❤️❤️
"
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya