Di dunia yang penuh dengan sihir ini,
seluruh kerajaan besar menerapkan sistem kasta sehingga timbullah kesenjangan sosial di antara seluruh manusia.
Rakyat jelata dan para bangsawan, para pengguna kekuatan dan manusia biasa.
Diskriminasi, penindasan, perbudakan, hingga peperangan memperebutkan kekuasaan sudah menjadi hal yang umum.
"Kau kuat maka kau jaya, kau lemah maka binasa."
Namun seorang bocah dengan kemampuan imajinasi yang tak terbatas muncul dengan kebenciannya terhadap dunia busuk ini.
Teleportasi? Telekinesis? Telepati? Menciptakan nuklir? Apapun itu bisa ia lakukan.
Dengan motto, "Jangan lakukan apapun. Apabila harus, lakukanlah secepat mungkin," akankah dia berhasil merubah dunia dan menjadi penguasa tertinggi?
Namanya Aray Kenzie, dan dia adalah seorang pemalas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Alicia
[POV Alicia]
[Tepat sebelum Aray masuk militer]
Hari sudah menjelang malam saat aku selesai bermain dengan teman-temanku.
Padahal hari minggu ini aku ingin mengajak kak Aray untuk pergi keluar bersama, tapi dia maunya hanya malas-malasan di rumah.
Benar-benar deh orang itu.
Apa memang rasa malasnya tidak bisa dihilangkan ya?
Ketika aku hendak memasuki stasiun untuk naik kereta cepat ke rumah, seseorang memanggilku,
"Alicia!"
Seseorang dengan kedudukan paling tinggi di sekolahan,
"Bu Daiva!" Aku langsung cepat-cepat membungkuk.
"Sepertinya kau sedang dalam perjalanan pulang." Bu Daiva mengatakan hal yang sudah terlihat dengan sangat jelas.
"Iya, Bu."
"Sebelum kau pulang, bagaimana kalau makan malam denganku dulu?"
Waduh ... kalau begini aku tidak akan sempat membuatkan makan malam untuk Kak Aray.
Tapi aku juga tidak berani menolak ajakan Bu Daiva.
"Oke." Aku tersenyum canggung.
Mau bagaimana lagi, kan? Dia kepala sekolah.
Setelah itu, kami pergi ke restoran yang paling dekat dengan lokasi stasiun. Mungkin agar sehabis makan aku tidak akan ketinggalan kereta? Kukira Bu Daiva orang yang baik.
Saat kami sudah menempati posisi yang paling dekat dengan pintu keluar restoran, Bu Daiva langsung memulai topik pembicaraan,
"Siapa nama kakakmu, Alicia?"
Ha? Mengapa dia menanyakan Kak Aray? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka berdua? Tapi kan kak Aray bukan tipe orang yang akan mencari masalah.
"Namanya Aray Kenzie. Memangnya kenapa, Bu? Ada masalah dengan Kak Aray?"
"Tidak. Aku hanya penasaran dengannya."
Aku tidak salah dengar, kan? Bu Daiva tertarik dengan Kak Aray?
"Haha ... memangnya bagian mana dari orang itu yang membuat ibu tertarik? Padahal dia lesu, malas, dan tidak memiliki kelebihan apapun."
Aku hanya bisa tertawa melihat Bu Daiva tertarik dengan orang malas itu.
Namun, entah mengapa Bu Daiva sedikit tersentak.
"Orang seperti dia tidak punya kelebihan apapun? Jika seperti itu, dia tidak akan bisa mengalahkan penyusup di sekolahan sendirian tempo hari."
Kali ini aku yang sangat-sangat terkejut.
"Kak Aray yang mengalahkan mereka? Ayolah, Bu Daiva ... kau pasti bercanda, kan?"
"Bahkan saat aku menantangnya, dia menang melawanku."
Kepalaku sakit. Seakan aku melupakan hal yang sangat penting dalam hidupku.
Ini gila. Aku tak percaya ini. Tidak mungkin kak Aray mempunyai kekuatan sebesar itu.
Dia tidak pernah menunjukkannya kepadaku tentang Kekuatannya, jadi aku merasa harus selalu melindunginya.
Aku merasa dikhianati.
"Hm ... aku mengerti." Kata Bu Daiva sambil meminum jus yang baru diantar oleh pelayan restoran.
Apa yang dia mengerti?
"Mulai dari saat ini, kau harus lebih memperhatikan kakakmu, dan jangan sampai dia menyentuhmu."
"Apa maksudnya?"
"Kau penasaran, kan? Mengapa kau tidak mengetahui tentang hal ini padahal dia itu kakakmu. Seakan-akan Aray tidak ingin kau mengetahui kekuatannya."
Bu Daiva benar. Aku merasa aneh akhir-akhir ini karena selalu melupakan sesuatu yang seharusnya aku ingat.
"Ya, aku penasaran."
"Kalau kau penasaran, kau harus lebih memerhatikan kakakmu, tetapi jangan sampai dia merasa kalau kau memperhatikannya."
"Aku mengerti."
Jika aku ingin mengetahui apa yang Kak Aray sembunyikan selama ini, aku harus lebih memperhatikannya tanpa membuatnya curiga kalau aku sedang melakukannya.
Setelah itu, Bu Daiva pergi keluar sebentar. Dia bilang ingin menelpon seseorang yang sangat penting bagi kerajaan.
Saat dia kembali, senyumannya belum terlalu menghilang dari wajahnya.
Aku tidak tau apa yang dia bicarakan dengan orang penting itu, tapi senyumannya cukup mengerikan.
.
.
.
"*Tadi malam, Sabtu dini hari, pukul 1:37, terjadi pembunuhan masal di gedung Central electronic, markas perusahaan elektronik terbesar di negara kita. Korban jiwa yang terlaporkan sampai saat ini berjumlah 98 orang.
Mereka semua mati mengenaskan. Tubuh mereka di mutilasi sehingga bagian-bagian tubuhnya sulit ditemukan*." Suara pembawa berita di televisi terdengar mengerikan.
"98? Banyak sekali!!" Aku tidak dapat menahan keterkejutanku.
Kejadian yang mengerikan. Namun, Kak Aray yang duduk di sebelahku terlihat biasa saja.
Apa dia mengetahui sesuatu tentang kejadian ini? Aku penasaran.
Tiba-tiba ponsel Kak Aray bergetar menandakan adanya panggilan masuk.
Kak Aray mengangkatnya lalu berjalan menjauh dariku, jadi aku tidak mampu mendengar pembicaraannya.
Akhir-akhir ini dia jadi sangat aneh.
Di sekolahan hampir tak pernah kelihatan dan dia mengatakan jika ia mempunyai pekerjaan sekarang.
Hal yang sangat tidak mungkin untuk seorang pemalas sepertinya.
Sesaat setelah dia menerima telpon tersebut, aku bertanya,
"Ada apa kak? Kau terlihat kesusahan."
"Tidak apa-apa. Aku akan keluar sebentar."
Tuh, kan! Dia aneh sekali tiba-tiba mau keluar rumah. Apa mungkin karena telpon barusan?
"Tumben sekali ... kau punya urusan atau semacamnya?"
"Seperti itulah."
Setelah menghabiskan sarapan, kak aray mengambil jaket berwarna hitam yang digantung dekat pintu dan memakainya.
Aku diam-diam mengikutinya dari belakang lalu bersembunyi di balik tembok.
"Aku berangkat."
"Hati-hati di jalan!" Aku berpura-pura berteriak dari dalam, padahal aku ada di dekatnya.
Gelembung kecil mulai menyelimuti tubuhnya.
Apa-apaan gelembung aneh itu?
Plop
Kak Aray menghilang bersamaan dengan meletusnya gelembung tersebut.
"Astaga! Dia melakukan teleportasi?" Tanpa sandar aku berteriak.
Kini aku mengerti apa yang Bu Daiva maksud dengan kekuatan kak Aray.
Aku harus lebih mengawasinya lagi untuk kedepannya.
[Beberapa jam kemudian]
Boom
Suara ledakan terdengar dari dalam kamarku. Karena penasaran, aku buru-buru lari keluar kamar, mencari tau apa yang sedang terjadi.
Apa yang bisa dijadikan sumber informasi disaat seperti ini?
Televisi!
Aku segera mengambil remote lalu menyalakan televisi tepat di saluran penayangan berita.
"Ledakan besar terjadi di tengah kota. Serangan musuh datang kembali. Kali ini mereka membakar seluruh gedung yang berada di kota dan mengincar seluruh warga sipil yang ada dihadapan mereka .... "
Padahal baru tadi malam terjadi pembunuhan masal, sekarang sudah ada serangan lanjutannya.
Aku khawatir dengan kak Aray.
Tapi mengingat kemampuan teleportasi yang ia miliki, bisa jadi sekarang dia berada di tempat kejadian.
Entah mengapa firasatku mengatakan demikian.
Aku harus segera berangkat.
.
.
.
[Di tengah kota]
Ketika aku sampai di tengah kota, kobaran api sedang melahap seluruh gedung yang ada di sana.
Karena api yang berwarna merah pekat, hal itu mengakibatkan langit juga menjadi merah dikarenakan refleksi.
Saat aku mencoba menatap langit merah itu, aku menangkap sesosok bayangan yang sedang berdiri malas di langit.
Orang itu terbang!
"Tunggu sebentar .... "
Aku mengucek- ngucek mataku, berharap mendapatkan penglihatan yang lebih baik.
Sepertinya penglihatanku mulai menjadi jernih dalam asap kobaran api ini.
Aku sekali lagi mendongak, mencari sesosok bayangan itu, dan ternyata ...
Kak Aray!
Dan dia mengenakan seragam militer milik pasukan kerajaan.
Dari bawah terlihat seperti dia sedang melawan seseorang, dan yang dilawannya adalah...
Ini tidak masuk akal.
Musuhnya adalah Alvarado.
"Dengan serangan terakhirku ini, kau akan mati!"
Alvarado mengangkat satu tangannya ke angkasa.
"Clumps of solar fire."
Gumpalan-gumpalan api kecil menari-nari diatas telapak tangannya, mencari pasangan demi membentuk gumpalan api yang lebih besar.
Kini gumpalan itu sudah menyerupai ukuran matahari kecil, tetapi tetap sangat besar.
Letusan api melompat-lompat dalam gumpalan besar itu.
Aku tidak percaya dia memiliki kekuatan sebesar itu, tapi Kak Aray juga terlihat akan mengeluarkan sesuatu.
"A piece of hellfire."
Bola api kecil berwarna biru tampil memenuhi panggilan kak Aray.
Bukankah itu terlalu kecil untuk melawan gumpalan api besar milik Alvarado?
"Dengan api sekecil itu, apa yang bisa kau lakukan?" Alvarado tertawa meremehkan.
Ternyata Alvarado sepemikiran denganku.
"Kita tidak akan tau sebelum mencoba kan?" Kak Aray berkata santai.
Dengan begitu, secara bersamaan mereka melepaskan kekuatan masing-masing.
Ketika gumpalan api miliknya bergerak, tanah bergetar dan gumpalan itu membakar dan menghancurkan segala yang ada disekitarnya.
Sedangkan bola api milik kak Aray terbang dengan lembut tanpa menyentuh sedikitpun benda yang ada dihadapannya.
Kekuatan mereka saling bertabrakan. Api melawan api.
Tetapi tidak seperti yang Alvarado bayangkan, bola api kecil kak Aray dengan cepat melahap gumpalan api besar miliknya.
Seketika gumpalan itu tertelan dan menghilang dalam perut si bola api kecil.
Aku tercengang melihat pertarungan mereka.
Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah betapa kuatnya kak Aray yang sesungguhnya. kekuatan Alvarado memang sudah gila, tapi kekuatan kak Aray itu di luar akal sehat manusia.
Sebaiknya aku pergi dari sini secepatnya sebelum kak Aray mengetahui keberadaan ku.
Kepalaku pusing, seperti ada yang memaksa masuk ke dalam kepalaku.
Aku harus benar-benar kembali dan tidur.
.
.
.
[Malam ini]
"Kak, Aray! Makan malam sudah siap! Cepat keluar dari kamar!"
Walaupun kini aku sudah mengetahui kekuatan kak Aray yang sesungguhnya, aku masih curiga kepadanya.
"Ya, aku kesana sebentar lagi." Kak Aray menjawab malas dari dalam kamar.
Kak Aray berjalan keluar dari kamar langsung menuju meja makan. Langkahnya sangat gontai dan terlihat terpaksa.
Apa dia sebegitu tidak inginnya makan malam bersamaku?
"Makan malam kali ini adalah sayur kangkung!" Aku berpura-pura terlihat sangat gembira saat mengatakannya.
"Hei, kau kan tau aku tidak suka sayuran, kenapa malah membuatnya?" Kak Aray memperlihatkan wajah jijik.
"Itulah yang membuatmu tak pernah gemuk. Kau harus makan sayur untuk pertumbuhanmu. Kalau kau tidak memakannya, aku tidak akan membuatkan sarapan untukmu selama satu minggu."
Walaupun aku bilang begitu, sebenarnya ini adalah pembalasan karena terlalu banyak menyimpan rahasia dariku.
Tok! Tok! Tok!
Hmm? Siapa yang berkunjung malam-malam begini?
Kak Aray melangkah perlahan menuju pintu, mencoba kabur dari sayurannya.
"Kau mau kemana? Jika kau melarikan diri, kau akan tau akibatnya!" teriakku padanya.
"Aku harus membukakan pintu untuk tamu, kan?"
Aku curiga pada tamu ini. Jadi aku memutuskan untuk membuntuti kak Aray dan bersembunyi di balik tembok seperti saat pertama kali aku mengetahui kalau kak Aray mempunyai kemampuan teleportasi.
Saat kak Aray membuka pintu, dia terkejut melihat tamu yang datang.
"Hai, Ara–"
Tanpa ragu-ragu, dia langsung menutup pintu.
Siapa sih tamunya? Aku jadi semakin penasaran.
Menyebalkan.
"Biarkan kami masuk, Aray. Kami membawa berita penting dari Raja Avanindra untukmu." Aya berbicara dari balik pintu.
Dari Raja? Rasa penasaranku semakin menggila. Apa hubungan kak Aray dengan raja?
Kak Aray kembali membukakan pintu untuk mereka. Mungkin karena pesannya datang langsung dari raja? Entahlah.
"Jadi, berita apa yang kalian bawa?" Kak Aray bertanya dingin.
"Setidaknya biarkan kami masuk terlebih dahulu."
Ternyata itu Bu Daiva dan seseorang yang tidak kukenal.
"Tidak akan. Kau tau aku tidak ingin Alicia tau mengenai pekerjaanku ini, kan?"
Hoho ....
Meskipun kau masih ingin menyembunyikannya dariku, sayang sekali aku sudah tau hampir semuanya sekarang.
Bu Daiva menghela nafas pasrah.
"Baiklah. Saat Raja Avanindra mengetahui bahwa kaulah menghadapi dan menghabisi seluruh pasukan kerajaan utara sendirian, raja menganggap bahwa yang lainnya masih belum cukup kuat untuk kembali bertempur dengan kerajaan utara lagi. Untuk itu, raja memutuskan untuk mengadakan pelatihan bagi para komandan dan laksamana madya."
Kak Aray menghabisi seluruh pasukan kerajaan utara sendirian? Itu tidak mungkin. Tapi jika itu benar, dia bukan lagi manusia.
"Lalu?"
Kak Aray memiringkan kepalanya.
"Aku, Daiva dan kau, Aray akan menjadi pembimbing dalam pelatihan ini." Kali ini perempuan yang tak kukenali bicara.
Ha? menjadi pembimbing latihan? Apa maksudnya itu?
"Menjadi pembimbing? Jangan mengatakan hal konyol."
Benar kata kak Aray, itu hal konyol.
"Ini perintah dari Raja Avanindra langsung. Apa kau ingin menolaknya?" Perempuan itu mengangkat sebelah alisnya.
Akan sulit jika raja yang langsung memintanya. Dan aku yakin kak Aray tidak sebegitu tidak punya sopan santunnya sampai berani menolak perintah raja.
"Hm .... "
Kak Aray nampaknya sedang berpikir.
"Kau pasti juga merasakan, kan? Betapa lemahnya rekan-rekanmu itu? Jika mereka melawan seseorang yang sekuat Raka atau Bara, mereka pasti akan langsung mati seketika."
Siapa lagi Bara dan Raka itu? Pasukan kerajaan utara?
"Kau benar." Kak Aray mengiyakan.
"Dan pelatihan kali ini bukan hanya untuk memperkuat mereka, tapi juga masih ada tujuan lainnya." Bu Daiva melanjutkan.
Apa maksudnya? Tapi kak Aray mengangguk tanda mengerti.
"Aku mengerti apa yang kau maksud."
"Jadi bagaimana Tuan 'Pemalas yang jenius'?" Perempuan yang tak kukenal menekankan suaranya pada kata pemalas.
Pemalas yang jenius? Sama sekali tidak cocok!
"Apa itu sebutanku sekarang? Tidak buruk, terutama pada kata pemalasnya. Aku suka itu."
Dan dia menyukainya? Aku tak mengerti dengan yang Kak Aray pikirkan.
"Kau sudah mengerti apa maksud dari pelatihan ini, kan?" Bu Daiva bertanya kembali, memastikan.
"Tentu saja. Sudah saatnya kita menyerang balik."
Dari balik tembok aku melihat kak Aray menyeringai.
Dan itu menyeramkan.
_________________________________________________
_________________________________________________
Dari dulu mau bilang:
Jangan lupa like & komennya, ya!
Makasih! ^_^
Eh, pas lagi buka buka perpustakaan gw ternyata baru tau author balik, tapi pas liat tanggal ternyata juga udah kurleb 2 tahun up nya😔💔
Kira-kira bakal dilanjutin ga thor?👉🏻👈🏻
Btw, time flies so fast ya thor, gw juga ga nyangka udah sampai di titik ini
semangat terus min/Good/