WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..
Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.
Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.
Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.
Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang di Benteng Toboali
Kini kami terhenti pada sebuah tempat di mana beberapa motor terparkir rapi. Aku melihat sebuah tangga dari semen atau bata yang beberapa bagiannya tak utuh namun masih tampak jelas kalau itu adalah sebuah tangga menuju ke atas. Beberapa sisinya ditumbuhi rumput.
Di sisi kiri dan kanannya ada bonsai yang tumbuh dan terpotong rapi setinggi lutut, beberapanya ada yang lebih tinggi dari itu. Di ujung kiri tampak tulisan dan lambang polsek Toboali di sebuah batu yang merupakan dinding atau sebuah pagar yang terbuat dari susunan bata, beberapa bonsai pun tampak mengelilingi tembok tersebut. Dan di atasnya ada huruf berwarna merah yang menuliskan huruf perhuruf yang di baca Toboali.
Aku menatap lurus ke arah tangga. Kakek-nenek sudah naik ke atas sana sambil berbincang-bincang. Nenek membantu memapah kakek yang kakinya masih sedikit bengkak. Aku pun ikut naik ke atas bersama Kun yang terus berada di sisiku. Ketika naik ke bagian yang memiliki banyak anak tangga, aku melihat sebuah patung berbentuk roket atau apalah itu, yang jelas, ia terpampang nyata di sana.
Kakiku melangkah di antara conblock yang sisi kiri dan kanannya terdapat bonsai lebat yang menghijau. Aku kembali bertemu tangga dan naik beberapa anak tangga lagi, hingga sampai pada gapura berwarna kusam dengan tembok yang mengelupas.
Aku menilik sekeliling, melihat dua papan pemberitahuan yang berdampingan, menjelaskan tentang beberapa bangunan yang ada di dalam sana.
Kami pun masuk lebih jauh, dan aku sedikit terperangah melihat tempat eksotis ini. Suasananya teduh, mungkin karena banyak pepohonan yang hidup. Rumput yang tumbuh dan menghijau nampak terpotong rapi dan tertata.
Yang menariknya adalah bangunan yang merupakan benteng ini. Sebenarnya ini sudah tak nampak seperti bangunan atau benteng pada umumnya. Ini lebih terlihat seperti sebuah reruntuhan yang indah jika di nilai dari mata sejarawan.
Kenapa aku bilang reruntuhan?? Karena ini tak nampak serupa bangunan yang memiliki atap, lebih pada semen dan badan bangunannya saja.
Bangunan yang tersusun dari bata-bata yang terlapisi sedikit lumut tersebut warnanya sudah nampak menghitam dan terkelupas. Faktor cuaca yang membuatnya kian terlihat usang.
Di sisi kiri beberapa bangunan masih kokoh berdiri, ada beberapa sekat ruang peruang. Namun di tengah-tengah sisi kanan, sudah menjadi puing-puing bangunan runtuh yang telah di tumbuhi lumut.
Memang alam akan tetap kembali pada alam. Gedung kokoh pada masanya ini harus mengaku kalah pada kekuatan alam. Mereka runtuh namun alam malah tumbuh subur di sekitar mereka. Aku lihat pohon-pohon besar melilitkan akarnya ke beberapa dinding benteng.
Mungkin Ciko akan bilang ini sarang hantu, tapi aku menyebutnya lebih pada tempat indah nan sejuk. Aku suka bangunan tua yang hampir roboh, lalu di tumbuhi pepohonan di sekitarnya. Aku suka pepohonan.
Di setiap gedung, selalu tertanam papan pengumuman di depannya, yang menjelaskan tempat macam apa ini dulunya. Papan tersebut bertuliskan administrasi dan keuangan, ada yang bertuliskan dapur, dan lain sebagainya.
Aku mulai memasuki ruang-peruang, dinding yang nampak tercoret di beberapa bagian oleh tangan-tangan jahil. Ku lihat nenek-kakek hanya duduk di dekat batuan, kecape'an nampaknya. Sementara Iren sibuk berbincang dengan beberapa orang muda-mudi yang sepertinya sebaya dengan kami, tapi semuanya perempuan. Malas sekali rasanya harus ikut bergabung, perempuan pasti ngobrolnya lama sekali.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Kun sambil menelisik menatapku. Apa dia pikir dia bisa membaca pikiranku dengan cara seperti itu?
Aku menatap lekat kearahnya. Seolah sedang pamer kemenangan, bahwa hantu ini tak akan mampu untuk membaca pikiranku walau hanya sedikit.
"Hm.." Dengusku sambil tersenyum sinis menatapnya. Aku pun mengalihkan pandanganku pada Iren dan teman-temannya yang berada di sisi benteng runtuh yang lumayan lapang.
"Ren!!" Seruku hingga membuat tidak hanya Iren yang menoleh, tapi mereka semua. Aku terdiam. Sementara Kun malah tertawa.
"Nama mereka semua Iren?" Dengusnya.
"Hape wah tu?? Cowok engka ken, Ren? (Siapa itu? Pacar kamu, Ren?)" Tanya perempuan berambut panjang sepinggul pada Iren, sambil sesekali mencuri pandang ke arahku. Aku terdiam sambil mengamati.
"Dak wah! Berek itu pe kawan aku. (Tidak! Anak itu teman aku.)" Sahut Iren hingga membuat mereka semua mengembangkan senyum.
"Ganteng uge wah!! (Ganteng banget!!)" ucapnya sambil mulai tersenyum genit.
"Ganteng nian ken, urang mane wah? (Ganteng banget, orang mana ya?)"
"Makasiiih.." Sahutku sambil tersenyum ke arah mereka. Mereka nampak terkesiap kaget ketika aku mengatakan terimakasih. Apa mereka pikir aku tak mengerti bahasa mereka?
"Die taken ken kita becakap ape? (Dia tahu ya kita bicara apa?)" Iren mendengus tawa melihat wajah panik teman-temannya.
"Die pe taken, cuma dak taken nyebut e. Haha!! (Dia ngerti, tapi gak bisa ngomongnya. Haha!!)" Sahut Iren sambil terbahak, membuat raut merah terukir di pipi teman-temannya. Aku mengangguk sekali sambil kembali tersenyum.
"Ren!! Elu ngobrol aja ya, gue pengen jalan-jalan dulu!" Ucapku dari titik yang sama, tanpa berniat menghampirinya.
"Aok, awas seset!! (Iya, awas nyasar!!)" Balas Iren sambil kembali fokus pada teman-temannya.
Kini pandanganku tertuju pada kakek-nenek. Mereka terlihat sedang bernostalgia mengenai bangunan ini pada masanya. Mungkin dulunya mereka masih sempat untuk melihat bangunan kokoh sebelum menjadi puing-puing seperti ini. Ku biarkan saja, tak enak kalau menyela orang tua yang sedang berbicara.
Aku berjalan ke tempat yang sedikit sepi, aku ingin menikmati waktu sendiri sambil mengagumi betapa indahnya karya kolaborasi dari buatan manusia dan juga alam.
"Bagaimana tempat ini?" Tanya Kun sambil terus membuntutiku.
"Bagus.. Keren!" Singkatku sambil mengamati pepohonan rimbun yang melindungiku dari sengatan matahari senja.
"Kamu tidak takut? Ngeri misalnya?"
"Gak tuh!" Sahutku cuek. Namun sebenarnya ada sedikit perasaan suram yang menyelimuti batinku, tapi aku tidak mengerti nuansa teduh apa yang tiba-tiba muncul ini. Seperti perasaan was-was dan kegelisahan. Apakah merinding juga??
"Padahal di sini ada banyak, seharusnya kamu merinding." Aku menyelis menatapnya.
"Banyak? Masa' sih?" Kun hanya mengangguk mendengar pertanyaanku.
"Di situ, ada yang udah berumur ratusan tahun.. Di sana ada kapten, kapten apa ya dia? Biar saya tanya." Ujar Kun sambil terbang ke arah bangunan yang ada di ujung reruntuhan.
"Eeh.. Gak usah!" Ucapku hingga membuatnya terhenti.
"Mungkin kamu tidak merinding, karena mereka semua baik. Mereka senang ada banyak orang." Aku terdiam. Mencerna maksud kalimatnya. Apa itu yang biasa di sebut anak indigo sebagai aura positif? Yaa, sepertinya begitu.
"Yang jahat di sebelah mana?" Tanyaku gamblang hingga membuat Kun tersentak kaget.
"Buat apa kamu tanya? Kamu mau apa?" Tanya Kun dengan wajah bingung. Tentu akan sangat sulit untuk mengerti arah pemikiranku.
"Nanya doang!" Singkatku sambil beranjak ke sebuah tempat di sebelahnya. Melewati sekat dan perbatasan dinding, hingga aku sampai pada ruang berikutnya.
"Keren!" Gumamku sambil terperangah ketika melihat dinding yang dililit indah oleh akar pohon besar. Aku berdecak kagum, ini benar-benar bagus untuk menjadi karya lukisanku selanjutnya.
Lantai semennya masih utuh, namun kini di lapisi pasir halus dan juga dedaunan yang meranggas. Aku menilik, mengamati akar pohon ini dari dekat. Ada jendela yang tak memiliki daun jendela lagi. Hanya sisa kerangkanya saja.
Sebenarnya aku bergidik di sekitar sini. Namun berusaha ku tahan karena tak mau Kun berisik dan menanyakan pendapatku lagi. Tapi aku cukup heran hingga menoleh ke arahnya. Kenapa dia diam saja memandangiku.
"Apa?" tanyaku ketus. Ia nampak meringis senyum.
"Merinding tidak?" Ucapnya tiba-tiba, membuat kedua mataku terbelalak dan mengerjap berkali-kali.
Apa ada sesuatu di sini? Terus terang saja sih, aku merasa sejuknya angin tadi berganti menjadi dingin yang menusuk ulu hati. Mataku mulai mengawasi sekitar, namun berkali-kali pandanganku terhenti pada tubuh Kun yang memberikan sedikit jarak padaku.
Dingin ini membuat tulangku linu. Dingin sekali, meresap dan merambat masuk ke kulitku, hingga tengkukku tak henti-hentinya bergidik.
Tanpa sadar tubuhku pun menggeliat bak habis pipis. Bibirku terasa bergetar. Menggeletak sekali, terlebih bagian belakang tubuhku ini.
"Apaan sih Kun!" Balasku, berusaha menutup rapat apa yang kini di rasakan oleh tubuhku.
"Di sini, sebenarnya ada none Belanda. Kulitnya putih seperti saya, dan dia pakai topi putih juga.." Aku mengernyit mendengarnya.
"Di mana?" Tanyaku serius sambil melirik sekitar dengan cepat.
Kun langsung menunjuk ke satu arah hingga membuatku bergidik lebih. Jari telunjuk pucatnya menunjukku, hingga kepalaku menoleh ke arah yang ia maksud.
"Di belakangku?" Terkaku, namun ia hanya tersenyum.
"No, bukan di belakangmu.." Ucapanya seraya menggeleng.
"Tapi lebih tepatnya... sedang memeluk tubuhmu dari belakang!" Sambung Kun hingga membuatku tersentak dan lambat laun dingin di belakang tubuhku merambat dan meresap ke dalam kulit dan aliran darahku. Tubuhku langsung terperanjat dan hampir melompat, bak memperlihatkan jurus silat yang ku kuasai. Aku merinding beruntut dan berkali-kali. Panas-dingin panas-dingin terus menjalar dalam kurun waktu beberapa detik.
"Astaghfirullahaladzim!!" Pekikku sambil menoleh ke belakang. Kun langsung menutup telinga dan meringis ketika aku menyebutkan kalimat tadi. Ekspresi wajahnya kian mengeras dan ia menatap sinis ke arah belakangku.
"Jangan ganggu dia, dia milik saya!" Ucap Kun, dan aku yakin dia tengah berdebat dengan none Belanda tadi. Kini ia terbang menepi ke sudut ruang, mungkin none tadi menyingkir ke sana?
Aku sih tak mau tau apa yang mereka perdebatkan, yang pasti aku harus pergi dari sini.
Aku mulai menjulurkan kepalaku dari jendela. Memastikan apakah aku akan mati atau tidak jika melangkah ke bawah sana. Namun sepertinya aman. Pijakannya tak terlalu dalam dan tentu aku bisa melompat dari sini.
Ketika aku mulai menaikkan kakiku melangkahi jendela, aku pun mendarat sempurna ke atas tanah. Kun sepertinya tak tahu kalau aku sedang pergi.
Aku mengedarkan pandangan, merasakan udara yang sayup dengan langit yang semakin gelap. Pepohonan seolah melambai-lambai ke arahku. Dingin, tapi kali ini aku merasa kepalaku sedikit pusing.
Kedua telingaku terasa memanas. Begitu juga dengan kulitku. Aku yakin suhu tubuhku mulai meningkat. Angin yang berhembus ini membuat tubuhku terasa tak nyaman. Bukannya sejuk, tapi malah menggigil kedinginan.
Aku menengadah ke atas, melihat gedung dimana aku barusan keluar. Akar pohon ternyata terlihat lebih jelas dari sini ketimbang dari dalam. Aku bisa menyimak tiap detilnya.
Aku berjalan menyusuri gedung bagian belakang, hingga tak sengaja menatap sebuah pohon yang bergerak meski tak ada angin yang meniupnya.
Aku mengernyit ragu, menatapnya lekat dan penuh rasa penasaran. Hingga sesuatu jatuh dari atas pohon. Aku terkesiap kaget, hampir menjatuhkan tubuhku sendiri tak kala melihat seekor monyet dengan bulu berwarna putih.
Seketika tubuhku kembali bergidik ketika monyet tersebut menatapku. Tapi.. tunggu dulu..
Monyet putih??
Ku rasa ini bukanlah pertama kali. Aku juga pernah melihatnya ketika berada dalam perjalan menuju ke kota ini. Dan flashback lebih jauh, ingatanku kembali muncul ketika aku bertemu dengan ayah di toko bunga bersama selingkuhannya. Bukankah aku juga melihat monyet putih, tapi dalam bentuk boneka???
Bak di giring sesuatu, rasa penasaranku menuntun untuk ikut bersama monyet yang berlari menuju ke arah pantai. Aku pun pergi dan mengikutinya.
.
.
.
*Iren POV
Sudah hampir maghrib, tapi Agam tak kunjung muncul. Kakek dan nenek mulai khawatir. Semua temanku juga sudah pulang sejak tadi.
Aku menatap wajah renta mereka. Nampak penuh rasa khawatir, dan tentu ini membuatku merasa tak nyaman.
"Kek, nek.. Aku nyarik Agam luk ok di hane. (Kek, nek.. Aku cari Agam dulu ya di sana.)" Ucapku sambil menatap mereka. Mereka hanya mengangguk penuh harap.
Aku langsung saja pergi tanpa menoleh ke arah mereka lagi. Hari sudah mulai gelap, dan kenapa Agam tak kunjung muncul. Kemana dia sebenarnya?
Ku jelajahi seluruh tempat satu persatu, tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Hari sudah hampir maghrib dan tak ku dapatkan hasil apa pun.
Apa yang harus ku katakan pada nek Yati dan Kakek Jamal? Aku lah yang telah mengajak cucu mereka kesini.
Sayup-sayup ku dengar suara gemerisik dari balik pepohonan hutan.
Kresek.. Kresek.. secara berulang-ulang, namun perlahan.
Dan betapa kagetnya aku, ketika mendapati sesuatu dari balik hutan. Aku melihat Agam datang dalam keadaan tubuh yang basah kuyup.
Ia terus merunduk, dan dalam keadaan tubuh yang luka-luka di sekitar lengan dan beberapa di leher dan wajah putihnya kian memerah, seperti habis terlibas sesuatu. Apa dia terperosok jatuh ke hutan dan sampai ke pantai? Ngeri sekali aku membayangkannya.
Ia nampak menghempaskan tubuhnya ke tanah, napasnya sengal dan wajahnya merah padam, seperti kehabisan napas.
"Gam, lu kenapa?" Tanyaku panik sambil menghampirinya. Ia terus menunduk, tanpa memberikan jawaban padaku. Kelelahan nampaknya.
Aku pun memapahnya tanpa banyak tanya, membawanya ke nenek dan kakek. Kami harus segera pulang sebelum hari bertambah gelap. Aku yakin mereka sangat panik dan khawatir. Di tambah lagi, aku tak pernah berada di tempat ini sampai gelap. Aku merasa ada yang aneh dari tempat ini. Auranya menyeramkan. Dan aku jadi merasa ketakutan.
Setelah kami sampai pada kakek dan nenek, mereka nampak khawatir dan takut. Aku tak perlu membohongi mereka dengan berkata kalau Agam baik-baik saja, karena kami semua sudah sama-sama tahu dan mengerti apa yang sedang terjadi.
Agam terus diam selama kepanikan kami. Kami pun pulang dengan bertukar motor. Kakek membonceng Agam dengan motorku, dan aku membonceng nenek dengan motor besar Agam. Padahal kaki kakek sedang sakit, tapi ia paksakan karena Agam tak akan mampu mengendarai motor dalam kondisi seperti ini.
Sampai di rumah, ku lihat nenek dan kakek buru-buru membawanya masuk. Aku masih terdiam lumayan lama di depan rumahnya padahal hari sudah maghrib.
Aku bergidik dan ku rasa tengkukku merinding. Mungkin aku merasa ada yang aneh dari Agam. Apa saat hilang, dia sedang di sembunyikan hantu??
Mungkin nenek kakek tak akan sadar ada sesuatu yang mencolok dari perubahannya. Dan aku berani jamin itu bukanlah Agam. Yang barusan masuk dan bersama kami tadi bukanlah Agam. Mungkin kalian akan menganggapku gila dan tidak waras, tapi aku yakin itu bukanlah Agam.
Walau ia berusaha menghindari tatapan matanya denganku, tapi aku yakin.. Aku tak salah lihat. Mataku masih bagus dan tidak rabun. Aku tak perlu bertanya pada kakek dan nenek setelah ini, apakah mereka menyadarinya atau tidak, karena aku hanya perlu menyimpannya seorang diri.
Aku merasa, saat Agam sekelabat menatapku, walau hanya sekali itu kami beradu pandang setelah itu tak terjadi kontak apa pun lagi, dari situlah aku mulai menyadari kalau tatapannya lain.
Dan yang paling meyakinkanku adalah...
...
Warna matanya bukan hitam kecoklatan,
Tapi...
.
.
.
Hijau!
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
Hai readers!!!
Author hadir dan kembali mengenalkan salah satu tempat bersejarah di kepulauanku.
Benteng bekas kolonial Belanda, Benteng Toboali di Bangka Selatan tepatnya.
Jadi author pernah datang langsung ke sana, sudah lumayan lama sih 2016, jadi agak lupa detil tempatnya. Kalau agak beda dari cerita ke tempat aslinya, aku minta maaf hehee Tapi di jamin, hampir sama sih dengan yang aslinya!
Ya namanya juga bangunan bekas belanda, dan sekarang udah di tinggalkan dan menjadi reruntuhan, jadi pasti ada perasaan mistis begitu mendarat ke sana, dan lagi dekat sama pantai.
Jadi ada salah satu temen author di sana, bisa lihat-lihat hantu juga.. Dia bilang ada beberapa yang gak ganggu dan auranya positif, seperti dalam cerita. Ada yang umurnya 800+ tahun, tapi dia pendatang. Ada juga kapten belanda dan beberapanya prajurit, banyak deh pokoknya. Tapi emang gak ganggu sih, mereka seneng ada orang ramai.
Naah, untuk none belanda yang meluk Agam, kata temenku dia memang ada, tapi baik juga kok. Dia ramah, mau di ajak komunikasi waktu itu. Umurnya 100tahunan deh, dan dia emang udah di sana sejak benteng itu di bangun. Bukan pendatang.
Tempat yang di huninya kalau gak salah ada di sini :
Pokoknya di dalam ruangan yang ada pohonnya di dinding. Lupa di mananya. Pijakan dari jendela ke bawah gak tinggi sih, kira-kira di sini atau di tempet author ikut foto.
Kalau tempat di mana Agam liat monyet itu ada di sini :
Tempat ini tuh auranya gelap, aura negatif gitu, dan setannya jahat. Temenku sampai pusing mual-mual pas lewat sini.
Dan beberapa suasana di tempat ini tuh begini kurang lebih,
Itu Author ambil dari internet..
Yang author foto sendiri pas main ke sini juga ada, ini :
Kalau gak salah, di tempat author lagi foto ini, ada none belandanya..
hihihiiii
Selamat membaca..
Happy reading yaaa
jgn lupa like, komen, dan vote buat author..
terimakasiiih 🤗
membaca nya, berasa aku jga trbawa dalam cerita nya.
Masya Alloh author nya pinter bgt buat novel yg bukan cma hiburan, tp banyak jg ilmu" agama nya, smpai" aku pn bljar keseharian mnurut sunah rosul, sperti ritual sblum tidur mnurut agama Islam. mksih bgt kakak author buat novel nya.🥰
coba kk Rima lanjutin novel kun lg ya...smpe agam nikah sm dara...khihihi...pasti seruuu