Bagaimana jadinya, hidup kembali sebagai wanita ahli pedang di zaman kuno?
Sudah pastinya begitu tidak menyenangkan, Anya seorang dokter Bedah yang meninggal karena di khianati oleh seorang sahabat nya.
Ia bereinkarnasi menjadi wanita ahli pedang di zaman Kerajaan China kuno. Bagaimana kisah nya?
Baca kisahnya... Di
— Cinta Wanita Pedang —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Bangkitnya Iblis pedang
Mayang menatap sebuah televisi yang menampilkan beberapa drama Indonesia yang biasa di gemari banyak anak muda, namun ia begitu tidak menyukai nya bibir nya mencebik tajam
" Kenapa gambar bisa bergerak?, kenapa lelaki itu sudah memiliki selir memiliki lagi?.. Di kerajaan saja hanya di perbolehkan Dua selir untuk kaisar? "
Mayang menghampas tubuh nya di sofa yang begitu empuk sofa yang berada di kamar rawat nya, ia belum di perbolehkan pulang oleh dokter karena kesehatan mentalnya masih terganggu katanya.
𝘒𝘳𝘦𝘬!
Tatapan Mayang tertumbuk kepada sosok lelaki yang membuka pintu, lelaki itu masuk tanpa seizin nya ia menyipitkan matanya
" Siapa yang menyuruhmu masuk? " Tanya Mayang tatapannya menusuk bagaikan pisau es Lelaki tersebut menegakkan punggung nya
" Anya, masa kamu kaya gitu sih sama aku?.. Dimas kenapa kamu lupa aku kan pacar kamu? " Tanya Lelaki itu memasang raut menyedihkan membuat Mayang terdiam
" Pacar itu apa? " Tanya Mayang sinis membuat Dimas garuk-garuk kepalanya yang korengan karena banyak kutu, tetiba ia tersenyum penuh misteri " 𝘈𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩?.. 𝘒𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘦𝘮𝘢𝘴 " Batin nya ia mendekati Mayang yang berdiri di dekat ranjang rumah sakit
Namun suara tajam Mayang membuat nyalinya ciut " Jangan berharap bisa dekat-dekat denganku!, Wahai orang asing! "
" Anya aku kan Kekasih kamu! " Kata Dimas suaranya begitu di sedih-sedihkan
" Saya ngga peduli anda siapa, keluar dari kamar saya! " Usir Mayang dengan wajah sangar ia menatap penuh ketidak sukaan kepada lelaki yang mengaku kekasihnya, ia yakin lelaki itu mempunyai niat jahat kepada nya jadinya ia harus waspada.
" Anya! " Dimas meninggikan suaranya maniknya terlihat kilatan kemarahan, Tetiba sebuah lintasan film usang menari di benak Mayang ia memegangi kepala nya hawa dingin menusuknya — seorang gadis cantik berjas berwarna putih menari di benaknya.
Merobek ingatan nya yang saat ini, Gadis cantik itu seperti nya sedang kesakitan seorang gadis rambut di cepol menusuknya dengan pisau tajam hingga darah segar mengalir dari dada gadis rambut sebahu tersebut, lalu mendorong nya ke tebing
Mayang langsung menangkap maksud dari film tersebut " 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘪?, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢?.. 𝘋𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘯𝘪? 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘢! " Batin Mayang memegangi dadanya, lalu tatapannya memicing ke lelaki yang menatapnya penuh kekhawatiran yang palsu.
" Anya kamu tidak apa-apa? " Tanya Dimas dengan suara sok di khawatir kan
" 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪𝘸𝘢𝘳𝘢, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵! " Batin Mayang
" Anya! " Panggil Dimas
" Aku ngga apa-apa selama aku disini aku merasa baik-baik saja, bahkan lebih dari kata baik! Karena Pak Wiko yang selalu menjaga dan merawatku! " Tekan Mayang sembari duduk di ranjang ia menatap tajam Dimas yang terbakar api cemburu
" Kamu itu kenapa sih muji Wiko!, dia itu hanyalah dokter ya jelas dia memperlakukan kamu demi kian! " Sangkal lelaki itu
" Aku tahu, seenggaknya pak Wiko itu ngga kaya kamu muka dua bahkan tiga! " Sarkas Mayang
" Anya kenapa kamu jadi seperti ini? " Tanya Dimas menahan malu yang mengusup masuk ke rongga dadanya
" Karena kamu yang buat aku seperti ini, dasar lelaki murahan Akal-akalan! " hina Mayang dengan suara penuh kekesalan
" Anya!, hentikan kamu kenapa sih selalu saja ngga pernah hormat sama ku! "
" Emangnya anda siapa?, perlu saya hormati?.. Lebih baik anda pergi! " Usir Mayang
" Ihh!!, benar-benar kamu itu! " Tangan Dimas melayang ingin mendarat di pipi gadis tersebut namun dengan cepat Mayang mencekal nya " Kamu tidak berhak menamparku!, tangan mu itu sungguh kotor! "
Skakmat!
Sementara itu di zaman lain, Anya menepis semua serangan dari lelaki bertopeng ular yang merupakan salah satu murid Perguruan ular kobra di utara.
Napas Anya tersengal peluh mengucur dari pelipisnya, dengan cepat ia menyeka nya tatapan tajam seperti pisau tajam ke sosok lelaki bertopeng ular.
" Kau akan mati! " Pekik Lelaki tersebut dengan langkah terseok-seok mendekati Anya tombak yang begitu besar terdapat di tangan kanan nya.
" Kau yang akan mati! " Tekan Anya tubuh nya tetiba melayang hawa dingin menusuk - nusuk setiap inci tubuhnya. Surainya terangkat angin menyapa nya langit mendung tak ada sedikitpun sinar matahari,
Barata zhou menghentikan gerakannya, matanya tertumbuk kepada Anya yang menatap Lelaki bertopeng ular dengan tatapan mematikan. Manik Anya berubah menjadi warna merah kelam auranya suram sekali,
" Panglima, Puteri Agung menjadi Iblis pedang seperti para leluhur katakan! " Bisik Arta kala melihat Puteri Agung tersebut melayang di udara
𝘚𝘳𝘦𝘵𝘵𝘵!
𝘈𝘬𝘩𝘩!!
Satu pedang melesat cepat menusuk tepat di dada lelaki bertopeng tersebut, membuat lelaki itu termundur ke belakang terseret angin yang begitu kencang sekali. Tubuhnya remuk
Anya mengangkat tangannya yang memegang Pedang, lalu sebuah kilat menyambar pedang tajam itu pedang itu bergetar hebat — Semua mata hanya bisa menatapnya kagum tangan gadis itu bergetar hebat
𝘑𝘭𝘦𝘥𝘦𝘳!
𝘞𝘩𝘶𝘴𝘴𝘴!!
Pedang halilintar itu berubah menjadi sembilan bermata, menusuk setiap inci tubuh lelaki bertopeng tersebut tubuh Anya terkulai lemah di iringi langit yang cerah kembali
" Puteri Agung! " Barata dan Arta mendekati Anya yang terbaring lemah di Tanah
" Saya akan panggil tabib istana " Kata Arta bergegas pergi Barata menatap tajam tubuh lelaki bertopeng tersebut yang sudah gosong bau asap menyembul dari mayat tersebut,
" Kamu memang pantas seperti itu! " Dengan satu jentikan jemari Barata Mayat Lelaki bertopeng tersebut sudah musnah hancur berkeping-keping dan hilang entah kemana,
Tatapannya melembut kepada Anya " Puteri Agung sadarlah!, kami membutuhkan mu! "