NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Rumah Sakit

Malam itu terasa terlalu lama.

Tama dan Tami terbaring di atas kasur masing-masing, matanya terbuka lebar meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Seperti ada yang mengganjal di dada mereka—sesuatu yang lebih dari sekadar rasa tidak nyaman biasa. Tak perlu kata-kata, keduanya tahu bahwa ada firasat buruk dibatin anak kembar itu.

Di luar, angin malam berbisik lembut, tapi ada yang tidak biasa. Di dalam, panti asuhan yang biasanya sunyi dan damai, terasa semakin sesak. Mereka tak tahu kenapa, tapi firasat itu semakin kuat.

Lalu, tanpa peringatan, bau asap menyeruak masuk.

Awalnya samar, seperti bayangan yang datang begitu tiba-tiba. Tapi bau itu semakin pekat, semakin kuat, hingga menusuk. Tami yang pertama kali sadar akan hal itu.

"Ada... Ada bau sesuatu, lu nyium ngga?" ucap Tami.

"Buka jendela!" titah Tama, jantungnya berdegup kencang. Posisinya masih diatas, di tempat tidur tingkatnya, turun dengan tergesa.

Tapi sudah terlambat. Api sudah merayap.

Di lorong, nyala api memantulkan cahaya merah yang semakin membesar. Kamar mereka sudah mulai gelap, tertutup asap pekat. Anak-anak kecil di kamar mereka mulai menangis ketakutan, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Tami!" Tama teriak, "Buka pintunya!"

Tami segera berlari ke pintu dan mendorongnya dengan seluruh tenaga, tapi pintu itu macet. Asap semakin tebal.

"Semuanya, ikut bang Tama sini!" Tama berteriak, mencoba menenangkan mereka yang semakin panik. Beberapa anak yang lebih besar langsung mengikuti, sementara yang kecil masih bingung.

Aida, Rafa, dan Alda adalah yang pertama bergerak. Tama menarik tangan mereka satu persatu, membimbing mereka ke pintu yang akhirnya bisa terbuka. "Cepet, jangan liat ke belakang!"

Saat itu, sesuatu yang mengerikan terjadi. Tama merasakan sesuatu menimpa punggungnya. Lemari kayu yang ada disana sudah terbakar di bagian bawah, yang membuat bagian atasnya oleng dan rubuh.

Api sudah mencapai kamar mereka, merembet dari pintu ke dinding, semakin cepat.

"Tama! Cepet!" teriak Tami, sudah di luar kamar, mendorong anak-anak kecil keluar.

Tapi Tama tidak bisa. Pintu depan kamar yang semula terbuka rapat kini tertutup rapat oleh tumpukan furnitur yang terjatuh akibat kebakaran. Jalan keluar terhalang. Api semakin mendekat, menyelimuti tubuhnya dengan sengatan panas yang tak bisa dihentikan.

Tami kembali berlari setelah kedatangan Bu Ira dengan selimut basah yang dapat dipergunakan untuk menimpa api di ambang pintu agar menjinak.

"Tama?!"

Tami berusaha mengangkat lemari tersebut sebelum kembali tersambar oleh api.

Tama terjatuh, tubuhnya terluka, panasnya api, serta asap yang menyelimuti, hampir mengambil kesadaranya. Namun, dia masih sempat memikirkan anak-anak yang baru saja ia bantu keluar. "Amanin mereka dulu!" Tama berusaha berteriak meski suaranya serak.

Tami tidak bisa menahan perasaan paniknya. "Tunggu! Gua nggak bakal ninggalin lu!"

Akhirnya, dengan bantuan Bu Ira dan Teh Rasti, mereka berhasil mengeluarkan Tama dari kamar yang sudah hampir rata dengan tanah. Namun, luka yang diderita Tama parah—luka bakar di sebagian besar tubuhnya dan sesak napas akibat terhirupnya asap.

Tak butuh waktu lama, pertolongan Pemadam kebakaran dan ambulans datang. Tama yang sudah sekarat didahulukan untuk dibawa, beserta dengan sang kembaran yang sudah tersedu disebelahnya.

Tama dengan kesadaran yang diambang batas bisa-bisanya masih bisa tersenyum, menganggap reaksi Tami terlalu lucu.

"Lu nggak boleh pulang duluan ya, anjir!" cerca Tami dengan suara serak, sadar sedang diledek.

Tama menggeleng.

Semuanya gelap sesaat setelah ia mendengar kalimat tersebut.

Tami panik? Jelas! Namun, petugas yang bersama mereka berusaha menenangkan, karena masih ada tanda-tanda kehidupan dari pasien.

"Dia nggak mati, kan? Dia masih idup, kan?" tanya Tami.

"Iya, pasien masih hidup. Tolong tenang, demi keamanan pasien!"

Kalau saja Tama bisa melihat betapa lucunya adegan ini, adegan dimana Tami dan petugas kesehatan itu beradu mulut. Pasti Tami sudah habis jadi bulan-bulanan.

Hingga sudah tiba di Rumahsakit. Tami masih tidak bisa diam. Bu Ira pun sudah ada disebelahnya, menyusul dengan ambulans lain bersama anak-anak panti yang juga terluka.

"Maaf ya, Mi. Ibu nggak bisa jagain kalian, ibu lengah ngejaga kalian."

Tami menatap bu Ira yang terlihat sangat kacau. Wajah penuh kerutan itu kini dihiasi oleh rasa bersalah dan juga penyesalan.

"Ini bukan salah ibu, kenapa ibu yang minta maaf?" tanya Tami lembut.

"Ibu salah. Kalian itu tanggungjawab ibu."

"Nggak, bu. Ibu nggak salah sama sekali, tolong jangan gini ya? Tami nggak nyalahin siapapun. Anak-anak lain juga nggak nyalahin ibu. Ibu nemenin anak-anak disini juga udah cukup."

Bu Ira tertunduk lesu.

"Ibu itu single parent paling hebat di seluruh dunia. Anak yang ibu rawat nggak cuma satu, dua, tapi banyak banget. Dan setiap ibu ngerasa sakit, pasti mereka juga bakal sakit. Dan sekarang mereka yang lagi sakit, mereka butuh support ibu, bukan permintaan maaf. Jadi ibu harus semangat ya? Supaya pemulihan mereka juga cepet," bujuk Tami.

Bu Ira akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Tami dengan senyuman khas.

"Semenjak kamu dateng, ibu jadi ngerasa punya anak yang bener-bener bisa ngertiin ibu. Bukan berarti anak-anak lain nggak ngertiin ibu, tapi karena kamu itu beda. Padahal waktu itu ibu sempet ragu buat nerima kalian, karena kalian udah dewasa. Tapi karena Dokter Miza yang ngebujuk langsung, ibu terima. Maaf ya, ibu sempet suudzon sama kamu."

Tami ikut tersenyum.

"Gak apa-apa, bu. Yang penting sekarang Tami udah jadi anak ibu." Tami memeluk bu Ira erat, sebenarnya ia merindukan ibunya sendiri, apalagi sekarang keadaannya sedang tidak baik-baik saja.

Malam itu terasa begitu pilu bagi Tami. Melihat sang kembaran yang terbaring tak berdaya dengan mata yang masih terpejam. Membuatnya tak merasakan kantuk sama sekali.

Tak ada yang bisa ia panggil untuk datang menemaninya, tak ada yang bisa ia jadikan tempat mengadu kalau ia dan saudaranya sedang kesulitan, semua itu tak ada. Detik itu juga Tami benar-benar merasa ada di dunia yang asing, sampai ia tidak bisa mengenalinya sama sekali.

"Cepet sadar, Ma. Gua sendirian sama orang-orang asing disini."

Kedua tangan Tami bergetar hebat sambil menggenggam tangan Tama. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, rasa takut tak beralasan itu muncul begitu saja. Panic attack-nya kambuh.

Betapa menyiksanya hal tersebut bagi Tami. Namun, satu hal yang ia baru sadari. Bu Ira tengah memegang kedua pundaknya untuk menahan sedikit getaran ketakutan itu.

Benar. Ia tidak sendiri disini. Ia juga punya ibu disini. Ia tidak sendiri. Tami terus mengulangi kalimat tersebut.

"Ada ibu disini, selama ada ibu, ibu bakal usahain apapun buat ngebantu anak ibu yang lain. Ibu nggak bakal ngebiarin saudara kamu kenapa-kenapa," ucap bu Ira.

Tami malah semakin terisak. Ia sudah salah menilai orang. Seharusnya ia bersyukur bertemu dengan seseorang yang bisa menyayanginya seperti anak sendiri.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!