NovelToon NovelToon
Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Komedi / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: @Alyazahras

Kisah ini dibumbui dengan air mata, emosi, kesabaran, perjuangan, kecerdasan, dan permainan otak.

Berawal dari dilecehkan calon suaminya, hamil, lalu keguguran, dijebak sampai terkena sindrom trauma pelecehan seksual dan dikhianati orang-orang kepercayaan sampai gagal menikah di hari-H. Tidak hanya disitu, setelah dia menikah dengan pemuda kaya nan rupawan dari Negeri Ginseng yang telah menyelamatkan hidupnya, wanita ini harus menghadapi beberapa wanita pengganggu yang sering kali ingin merebut suami berharganya. Namun, saat ini tidak mudah untuk berhadapan dengannya, karena dia wanita tangguh, cerdik dan pandai bersilat lidah.

Aku sarankan jangan mengusik ketenangannya, apalagi sampai berniat merebut suaminya! Kalau tidak, hidup kalian akan dibuat merana seperti para pelakor yang ada di dalam cerita ini. Yuk, simak, cerita yang bikin greget gemes degdeg serrr ini...

...

Mampir juga ke karyaku yang lainnya, 'Istri Kecil Yang Nakal' sangat direkomendasikan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Alyazahras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Perjanjian

.

Di waktu yang bersamaan.

Setiap waktu Kadita selalu menyempatkan berkunjung ke rumah Alice, menemaninya, menyemangatinya agar tidak semakin terpuruk, Kadita mengkhawatirkan janin yang ada di dalam kandungan Alice.

"Alice, aku janji akan membuat Leo menikahimu. Kau fokus saja dulu menyelesaikan Ujian Nasional. Tapi, setelah ujian selesai, kau harus memberi tahukan semuanya pada ayah dan ibumu," kata Kadita.

Alice yang sedang berbaring langsung beranjak sambil menghapus air matanya. "Tapi... tapi aku belum siap, Kak. Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewanya ayah dan ibu."

"Hmm... ini semua sudah terjadi Alice. Mau di tutup-tutupi sampai kapan? Kau dan Leo harus segera menikah. Orang tuamu harus tahu," ucap Kadita dengan suara yang lembut. Kadita beranjak dan mengaitkan tasnya.

"Kakak mau kemana?" tanya Alice yang tidak rela ditinggal sendiri. Alice sudah sangat nyaman dengan kehadiran Kadita, karena hanya Kadita lah tempatnya berkeluh kesah di saat sedang terpuruk seperti ini.

"Aku punya suami yang harus di urus, Alice. Ini sudah malam, dia pasti mencemaskan aku," jawabnya sambil tersenyum dusta.

"Kakak sangat beruntung sekali bertemu dengan kak Garry. Pasti kak Garry sangat menyayangi dan mencintai Kakak, tidak seperti Kak Leo." Alice termenung, ia meratapi nasibnya.

Kadita tidak menyangkalnya, ia hanya memaksakan tersenyum. Paman, bibi dan Alice tidak ada yang tahu seperti apa bejadnya Garry ketika di rumah. Kadita tidak pernah berniat menceritakan keadaan rumah tangganya yang bagaikan neraka itu, ia tak ingin membuat paman dan bibinya khawatir. Cukup dirinya saja yang menanggung derita ini.

Kadita berjalan keluar dari kamar Alice, ia berpamitan pada Tn.Argus dan Ny.Irina untuk pulang, lalu Kadita segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumahnya. Entah kejutan apalagi yang akan Garry perlihatkan.

Sebelum badai menerjang, Kadita segera menyiapkan antisipasi agar hatinya tidak semakin terluka.

Sampailah dirumahnya. Mobil Garry sudah terparkir di garasi rumah, lalu ia masuk dan melihat ada higheels berwarna merah jambu yang tersusun berantakan di rak sepatu. Sudah bukan hal aneh lagi baginya. Kadita berlalu melewatinya, tak ingin ambil pusing.

Ia berjalan membuka lemari pendingin, mengambil minuman dan beberapa makanan dari sana, lalu membawanya masuk kedalam kamarnya. Kadita membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan sambil menghabiskan minuman dan makanan itu.

Tapi, tiba-tiba saja...

Ah... ah....

Aktifitas Kadita langsung terhenti saat mendengar suara desahan yang berasal dari lantai atas, wajahnya mendongak. Kadita menelan salivanya, lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia berusaha mengabaikannya dengan air mata yang membendung.

Argh... uh... a-aaahhh...

Kadita semakin gerah, ia meremas botol minuman dan meneguknya habis, lalu memasukkan semua isi makanan ke dalam mulutnya, hingga ia kesusahan mengunyah karena mulut mungilnya penuh dengan makanan.

Setelah makanan di dalam mulutnya habis ditelan, Kadita membuka laci lemarinya, ia mengambil sesuatu di sana, kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Garry.

Tok... tok... tok...

Kadita mengetuk pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Setelah menunggu satu menit, akhirnya pintu pun terbuka.

Garry yang setengah telanjang, menyenderkan tubuhnya di samping pintu.

"Apa?" tanyanya sinis.

Kadita tak berani menatap wajahnya, apalagi mengintip ke dalam kamarnya. Ia segera memberikan bungkusan merk Fie*ta pada Garry. Garry mengernyitkan dahinya.

Kond*m?

Garry menatap tajam wajah Kadita. "Apa maksudnya ini? Kenapa kau memberikan aku kond*m?" Wajah Garry sudah tak enak di pandang, ia merasa marah saat Kadita memberikan itu padanya.

Kadita masih tak berani menatap wajah Garry. "Aku sangat peduli pada orang tuamu. Aku hanya takut kau menyimpan benih di rahim salah satu wanita yang sering kau tiduri dan membuat ayah ibumu kecewa," katanya.

Garry menggertakan giginya. Ia tak habis pikir dengan wanita dihadapannya, padahal Kadita itu istrinya, tapi saat suaminya bermain api di belakangnya kenapa ia tak menghentikannya, malah memberikan pengaman agar Garry tak menghamili wanita lain? Apakah wanita macam ini yang disebut bidadari surga?

Kadita berbalik dan berjalan meninggalkan Garry.

"Tunggu!" Langkah kaki Kadita langsung terhenti. "Apakah kau pernah tidur dengan pria lain setelah kita menikah?" tanyanya penasaran.

Air mata Kadita menetes, ia langsung menghapusnya. "Tidak ada urusannya denganmu. Jika aku berniat aku akan langsung pergi mencari pelampiasan pada pria hidung belang. Aku masih muda dan masih perawan, tidak ada pria yang akan menolakku," ucapnya penuh ketegaran palsu.

"Jika kau belum pernah melakukannya, lalu dari mana kau mendapatkan ini?" Garry melemparkan bungkus kond*m itu hingga mendarat tepat di samping kakinya.

Kadita terdiam membisu. Kebisuan Kadita membuat Garry semakin panas, tak sabaran. Ia jadi berpikir kemana-mana.

Garry memutar paksa tubuh Kadita.

"Apa kau tidak punya mulut? ... Jawab pertanyaanku! Apa kau pernah melakukannya dengan pria lain?" nada bicara Garry meninggi.

Kedua bola mata kadita memerah, ia menatap tajam bola mata Garry. "Mau aku tidur dengan siapa itu buka urusan kamu. Kau tidak berhak ikut campur. Di dalam perjanjian pernikahan yang sudah kau tulis bukankah begitu? Kita tidak boleh mengusik urusan masing-masing!" Kadita mengepalkan kedua tangannya. "Selama ini aku sangat patuh, tidak pernah melanggar peraturan yang kau buat, tidak pernah mencampuri urusanmu dengan wanita lain. Sekarang aku mohon, kau menepati peraturan yang kedua, tidak boleh bersentuhan satu sama lain. Jadi... lepaskan tanganmu dari pundakku, aku sangat jijik di sentuh oleh tangan pendosa sepertimu!"

Tak pernah terbayangkan oleh Garry, Kadita akan bersikap kasar seperti itu padanya hingga membuat hatinya sangat sakit saat mendengar kata 'jijik' dari mulutnya.

Selama ini Kadita selalu diam, entah sejak kapan sikap kerasnya ini merasuki tubuhnya.

Garry menggertakkan giginya, hingga rahangnya mengeras.

"Jadi, selama ini kau diam karena surat perjanjian itu? Kau tidak pernah marah melihat suamimu membawa wanita lain ke rumah karena surat perjanjian itu juga !" Kekesalannya sudah menggunung. Ternyata ulah dirinya sendirilah yang membuat Kadita mau tak mau selalu bungkam, hingga membuat rumah tangganya hancur separah ini.

Garry berjalan masuk ke kamarnya, ia membuka kasar lemari bajunya lalu mengambil lembaran kertas perjanjian pernikahan. Ia merobeknya di hadapan Kadita dengan raut wajah yang menakutkan.

Kadita terbelalak. "A-apa yang kau lakukan? Kenapa kau merobeknya? tanyanya heran.

Garry menyentuh kedua bahu Kadita, ia mendorong tubuh Kadita hingga terhentak ke dinding, lalu mencium bibir Kadita dengan kasar, hingga Kadita kesulitan bernafas.

"Garry! Uh...,"

Tubuhnya langsung meronta-ronta berusaha menghentikan tindakan gila yang Garry lakukan dengan mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Sayangnya, usahanya itu hanya sia-sia. Garry malah semakin menggila, ia menggiring tubuh Kadita ke dalam kamarnya dan membanting tubuh Kadita di atas ranjang.

"Garry! Hentikan! Ada apa denganmu, apa kau sudah gila?" tubuh Kadita gemetar hebat, keringatnya pun bercucuran. Ia sangat ketakutan saat ini.

Kadita memutar bola matanya, ia melihat sekeliling ruangan. Dimana wanita yang tadi mendesah itu? Kemana perginya? Yang ada hanyalah televisi yang menyala, tapi layarnya hitam.

"Tidak ada wanita lain di kamarku. Puas!" teriak Garry. "Aku sudah merobek surat perjanjian itu. Jadi... bisakah, ketika aku membawa wanita lain kau bertindak dan marah layaknya seorang istri !"

Kadita terhenti, ia tak mengerti apa maksud Garry. Kenapa Garry tiba-tiba menjadi seperti ini?

Kadita beranjak dari ranjangnya. Garry langsung menarik tangannya, dan menghimpit tubuh Kadita dengan tubuhnya di atas ranjang, hingga sudah tak ada jarak lagi di antara mereka.

Kadita memalingkan wajahnya, karena jarak wajah mereka hanya berjarak 2cm, itu membuatnya sangat gugup.

Garry mulai menj*lat telinga kirinya, hingga tubuh Kadita menegang.

Kadita memukul-mukul bahu Garry sambil menyapitkan lehernya karena geli. "Garry, aku mohon jangan seperti ini!" Garry tak menghiraukannya, ia malah semakin mengeratkan tubuhnya, hingga buah dada Kadita menempel di dadanya bagaikan perekat.

"Hey! Sadarlah... aku bukan wanita yang sering kau tiduri!" teriak Kadita.

Garry langsung terhenti. "Kau tidak mau melakukannya denganku?" tanyanya dengan tatapan mata yang tajam.

Kedua bola mata Kadita bergetar.

"JAWAB! ... Apakah aku sebegitu menjijikannya dimatamu?" teriak Garry, hingga sedikit menyakiti gendang telinganya.

Kadita segera mendorong tubuh Garry, ia beranjak dan memunggunginya. "Ya! Kau sudah melakukannya dengan banyak wanita. Aku benar-benar tidak menyangka bisa menikah dengan pria semenjijikan seperti dirimu!" Kadita membohongi perasaannya lagi.

"Apa kau pernah melihat aku melakukannya dengan wanita lain dengan mata kepalamu sendiri? Tidak 'kan? Sebenarnya, selama ini aku tidak pernah melakukan hubungan badan dengan wanita lain, aku hanya membawanya ke dalam kamarku untuk membuatmu cemburu. Tapi sayangnya, kau tidak pernah memperdulikan hal itu," jelas Garry sedikit pilu.

Kadita terkejut mendengar pengakuan dari Garry. Memang benar, ia tak pernah melihat Garry melakukan itu dengan mata kepalanya sendiri. Tapi, apakah ucapan Garry ini bisa di percaya?

"Membuatku cemburu? Untuk apa?"

Garry memutar bola matanya.

"Untuk... untuk melihat apakah kau menyukaiku atau tidak," kata Garry sedikit gugup.

"Jika aku menyukaimu, lantas kau akan melakukan apa? Bukankah sudah terlihat sangat jelas dari awal kau menentang perjodohan ini, dan sikap dinginmu padaku menyiratkan sebuah kebencian yang sangat besar !" Kadita sangat kesal hati. Sebenarnya seperti apa perasaan Garry padanya.

Garry malah diam membisu. Pada awalnya ia memang sangat benci dijodoh-jodohkan seperti itu oleh orang tuanya. Tapi, setelah di jalani dan seatap dengan Kadita selama satu tahun, Garry mulai terbiasa dengan sikap lembut Kadita. Kadita selalu menjamunya dengan baik, dengan senyuman, meskipun ia tahu Garry selalu bermain api dibelakangnya.

"Garry, selama kita menikah aku tidak pernah menghentikanmu. Aku tahu kau tidak bahagia membangun rumah tangga denganku. Maka kau bebas mencari wanita pilihanmu sendiri, yang bisa membuatmu bahagia dan nyaman. Aku tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Tapi, hanya satu yang aku pinta... jangan pernah menceraikan aku, karena jika ayahku melihatnya disurga mungkin dia akan menangis disana." Bicara Kadita gemetar, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Ia segera berlari ke luar dari kamar Garry dengan deraian air mata.

Garry mengerutkan dahinya, ia tertunduk, merasa tak tega melihat Kadita sesedih itu.

Garry menjatuhkan hampa tubuhnya di atas ranjang, dengan menatap kosong ke langit-langit kamar.

....

BERSAMBUNG !!!

Jangan lupa Like, Komen & Koinnya hihi ❤

1
Eni Etiningsih
BEST POKOKE..!!
Eni Etiningsih
hadeehhh..🤦‍♀️
Eni Etiningsih
thor, menyunggingkan senyum, bukan nungging
Eni Etiningsih
jengkol...ooo.... jengkol..!!
Eni Etiningsih
jengkol berbentuk 🤎🤎🤎🤎
Eni Etiningsih
GOOD..!!
Eni Etiningsih
seh bengung aku nya..
Nurma sari Sari
apa alucard gk tau kalau Ara juga sdh hampir menjerumuskan Esme dengan memberii obat perangsang untuk diserahkannya pada Leo, seharusnya alucard tau seberapa jahatnya Ara ingin menghancurkan esme
Nurma sari Sari
hadeeew......yg katanya kuat bisa mengatasi segalanya ternyata oleng juga 🤭🤭
Nurma sari Sari
Esme sok jagoan kalau trauma lagi bisa2 langsung masuk rumah sakit jiwa
Nurma sari Sari
Esme bukan wanita yg pintar, cuma nasibnya aja yg lagi baik, seandainya gk ada Hanabi selesai sudah Esme disantap sama laki2 bangkotan, jadi Esme itu gk ada pintar sedikitpun kalau BODOH iyaaa......
Nurma sari Sari
sebenarnya Esme itu bodoh bukan pintar, cuma keberuntungan aja yg menyelamatkan dia.
Nurma sari Sari
apa mungkin Leo yg begitu mencintai Esme sanggup untuk menyakiti Esme, kalau hanya untuk merampas Esme dari alucard mungkin dia setuju
Nurma sari Sari
ya ampun sampai kering gigi ketawa,....
Nurma sari Sari
ya ampun dari bab diatas aku ngakak sampai GK bisa komen...🤣🤣🤣
Nurma sari Sari
nah begitu baru tegas, jangan terlalu kemah dengan pelakor, jangan dikasih hati nanti dia malah minta jantung, dikasih pundak semakin ngelunjak dia akan naik lagi nginjek kepala....
Nurma sari Sari
kok pelakor GK ada habisnya pelakornya itu2 juga, anak yg baru lulus SMA aja sdh pintar main trik mau jadi pelakor, Esme yg bodoh mau aja dikadali sama Loly, sdh tau penghianat masih juga dikasih hati.
Nurma sari Sari
Esme belagak seperti jagoan aja yg bisa mengatasi setiap masalah, kejadian pemerkosaan itu apa GK dijadikan sebuah pelajaran yg hampir membuat Dia gila, seharusnya kalau sdh pernah troika itu dia akan takut pergi kemana2 sendirian, berada didalam rumah sendirian pun Asti akan ketakutan, ini malah menantang ingin pergi sendiri tanpa pengawalan, berrti Esme ini bukan trouma dengan kejadian kemaren, aneh.....
Nurma sari Sari
Leo GK akan nyakiti secara fisik pada ismi, karena Leo juga sebenarnya sangat mencintai ismi, karena ambisi Leo yg ingin menjadi orang sukses dan kaya raya membuat dia menghalalkan segala cara secara tidak langsung menyakiti perasaan Esme juga, karena trouma Leo dikehidupan dimasa kecilnya yg hidup miskin disaat ada peluang dan kesempatan membuat dia lupa diri dan salah melangkah.
Nurma sari Sari
Leo percaya diri banget kalau dia menganggap Esme begitu ciinta matinya sama dia sampai dia menganggap Esme GK mungkin berpaling dari dia. seenaknya kamu menghianati Esme karena kamu merasa Esme begitu mencintai kamu, makanya kamu berulang kali menyakiti dan menghianati Esme, kamu anggap hati Esme terbuat dari batu karang yg gk akan hancur sekalipun berkali2 diterpa ombak, percaya diri banget Leo kalau cuma hanya dia yg bisa memiliki Esme. kamu pasti menyesal setelah Esme berpaling dari kamu Leo..,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!