Syhang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…
Asap dari bakaran kemenyan membumbung pekat di dalam ruangan. Menebar bau harum menggidikkan ke seluruh area rumah mewah yang baru saja di tempati Mbah Priyo dan keluarga.
Rumah mewah yang dulunya milik paranormal kondang, yang masih berdiri kokoh dengan segala keangkerannya selama empat puluh tahun itu akhirnya berpindah tangan. Dari keluarga Pak Karman ke penghuni baru yang juga seorang paranormal, Mbah Priyo.
Selanjutnya, kisah Mbah Priyo dan segala lelakunya sebagai paranormal dimulai dari rumah dengan tingkat wingit paling tinggi tersebut. Membangkitkan kejayaan paranormal kondang yang telah runtuh dengan kidung-kidung dari alam kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Misterius
Tyas mengurung diri di kamar hampir seharian penuh. Air mata sudah tidak tampak menetes, tapi sembab masih sangat kentara di wajah ayu yang menyimpan sejuta sendu. Lukanya belum sembuh, tapi kemalangan seperti tidak mau berakhir dari hidupnya. Apa salahnya sampai dia harus menerima karma seperti ini?
Kemarin sore, menyadari terlambat seminggu dari periode bulanan membuat Tyas ketakutan, sehingga dia meminta tolong Mbok Sum yang membantu di rumahnya untuk mencarikan alat tes kehamilan. Firasat buruknya terbukti, dirinya pasti positif hamil setelah tiga kali percobaan dan hasilnya sama. Dua garis.
Malam merangkak naik, Tyas tidak ada keinginan sedikit pun untuk keluar kamar membicarakan kondisi yang harus dilalui dengan orang tuanya. Niatnya menggugurkan kandungan ditolak mentah-mentah oleh ibunya. Bapaknya yang biasanya mendukung dirinya pun tidak setuju dengan idenya.
Alasannya hanya satu, anak yang dikandung Tyas tidak bersalah. Terlebih anak itu terhitung masih keturunan mereka. Tidak mungkin seorang kakek, nenek bahkan seorang ibu akan tega memusnahkan darah dagingnya.
Tyas ingin mati, ingin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, tapi keberaniannya tidak ada. Tyas juga ingin bertemu Wisnu, tapi nyalinya juga menciut. Dia tidak mungkin jujur menyatakan dirinya hamil setelah hari naas mereka, lalu dengan percaya diri meminta Wisnu menikahinya? Impossible!
Tyas bisa saja menyetujui ide bapaknya memasang mantra pengasihan pada Wisnu agar tidak meninggalkannya, tapi hal itu ditolaknya keras. Tyas bahkan mengumpat Mbah Priyo yang notabene bapaknya, yang hanya mementingkan perasaannya tanpa bertanya lebih dulu. Tyas mencintai Wisnu, tapi tidak mau menjebaknya dalam masalah yang sedang menimpanya. Anak yang dikandungnya entah anak siapa, jadi kenapa Wisnu yang harus bertanggung jawab?
Hujan mulai turun, rintiknya terdengar samar di atap rumah. Sepi. Hanya angin yang berdesau keras menabrak jendela kaca kamar Tyas. Membuat suara seperti ketukan mistis di tengah malam.
Tyas tidak bisa memejamkan mata, hatinya lelah, pikirannya kacau dan tubuhnya tidak merasa nyaman. Mual, pusing, meriang dan segala macam gejala perubahan hormon tubuh karena kehamilan mendadak terasa.
"Tyas …."
Lengang. Angin kembali bertiup kencang, membawa suara samar yang memanggil dari kejauhan. Suara yang segera tenggelam oleh angin ribut dari luar jendela. Sesekali tirai bergerak karena hembusannya yang menyeruak melewati ventilasi udara.
Tyas tertegun menajamkan pendengaran. Mencoba lebih konsentrasi pada suara lain selain angin yang menggebrak kaca jendela kamarnya. Nihil.
Dalam rasa penasaran, Tyas turun dari ranjang dan menyibak tirai sedikit. Mengintip keluar rumah, memastikan tidak ada siapapun yang sedang iseng memanggil namanya.
BRAK!!!
Tyas mundur selangkah secara spontan. Jantungnya serasa meledak dan kakinya gemetar hebat. Sesuatu menabrak jendelanya, persis di depan wajahnya. Berwarna hitam ….
Kelelawar? Terlalu kecil. Mungkin burung hantu atau binatang malam lain yang bisa terbang, begitulah Tyas mengambil kesimpulan pada beberapa kemungkinan yang baru saja terjadi. Kaca jendelanya bahkan seperti masih bergetar karena kerasnya benturan.
"Ty-as … sa-yang …."
Tyas bergidik, rekaman pikirannya bekerja cepat mengingat suara yang sedang memanggilnya.
"Bam-bang? Tidak mungkin!"
Seraya menggelengkan kepala keras-keras, Tyas kembali ke tempat tidur. Menyelimuti tubuhnya yang mendadak menggigil. Bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu yang berbeda di udara yang sedang dihirupnya. Udara yang membuat Tyas mengantuk tanpa bisa dilawan.
Tyas memejamkan mata seraya mengingat raut Bambang yang sangat terluka saat berada di rumah kosong tempatnya digarap para preman. Raut bingung bercampur marah ketika mendapati dirinya dalam kondisi telanjang dan tidak lagi perawan.
Namun, endapan pikiran tentang Bambang dan segala hal buruk di rumah kosong itu segera menghilang. Tyas sudah jatuh lelap dalam mimpi terdalam. Mungkin karena lelah, mungkin juga karena ada kegelapan yang sedang bekerja di bawah tangan seseorang. Kegelapan yang dengan sengaja dihembuskan angin khusus untuk mengirimnya ke alam bawah sadar.
Yang jelas Tyas tidak keberatan dilelapkan, dia memang butuh istirahat untuk menjernihkan pikiran.
"Tidurlah Tyas sayang …!"
Suara itu terdengar lembut dan memerintah, membius dengan misterius hingga Tyas larut dalam buaian mimpinya.
***
apa ini sukma bambang