NovelToon NovelToon
ARETHA

ARETHA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Perjodohan / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:553.5k
Nilai: 5
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

"Tak pernah kusangka, mencintaimu adalah sebenar-benarnya bencana, dan tak pernah kuduga, pria setampan dan sebaik dirimu bisa membuat luka yang sempurna." Aretha.

"Aku tidak mencintainya, lalu mengapa cemburu itu ada?" Reyhan.

"Kau mengatakan jika kau tidak mencintaiku, tapi reaksi tubuhmu begitu mudah jatuh dalam sentuhanku, Aretha." Fabrizio O'clan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beradu kepala.

POV Fabrizio.

"Tidak, saya tidak mau melakukan penerbangan lagi, saya tidak dapat mengatasi rasa takut saat lepas landas, jika anda ingin pergi, silahkan, saya akan pulang dengan naik kereta ke kota,"

Dia menolak dengan lantang saat aku mengajaknya turun dari mobil untuk menaiki pesawat.

Aku yang sudah berdiri di luar mobil kembali menunduk untuk berbicara dengannya yang masih di dalam mobil.

"Jangan membuat masalah, Aretha, kau tahu berapa waktu tempuh yang dibutuhkan untuk bisa sampai di kota jika kita naik kereta? Cepat turun dan kita naik pesawat sekarang juga, ini sudah malam, berhenti membuat masalah."

"Tidak, aku tetap akan naik kereta untuk pulang,"

Aretha turun dari mobil. Berjalan cepat menjauh tanpa memikirkanku yang masih termangu akan sikapnya, apa-apaan dia?

"Aretha!" aku meraih kuat lengan tangannya, membalik kasar tubuh Aretha yang tadi sudah berjalan terlebih dulu agar berhenti dan menghadapku.

"Saya tidak suka naik pesawat, itu membuat saya merasa sangat takut, sudah saya katakan jika saya ingin naik kereta saja, anda tidak tahu bagaimana perasaan saya tadi selama dalam penerbangan, jantung saya terus berdetak kencang membuat saya tertekan, seluruh tangan saya terluka karena saya terus mencengkeram, saya mohon biarkan saya pulang naik kereta, sir. Saya berjanji saya akan datang tepat waktu besok, saya tidak akan terlambat untuk masuk kerja."

Kedua matanya berair, wajahnya nampak sangat sendu menatapku penuh permohonan, Aretha, kenapa kau membuatku merasakan hal yang sulit tuk kujelaskan secara terbuka, bahkan aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.

***

POV Aretha.

Ada apa sebenarnya dengan Mr. CEO? Seharian ia menunjukkan kesombongan dan keangkuhannya yang seolah tak dapat ditaklukkan. Tapi semenjak penerbangan tadi, hingga saat ini, ia menunjukkan sisi yang berbeda.

"Baiklah, aku akan menemanimu naik kereta untuk pulang ke kota," itu yang ia katakan setelah aku tetap bersikukuh tak bersedia untuk naik pesawat bersamanya.

Kami duduk saling berhadapan, masing-masing tempat di sisi kami masih kosong tanpa adanya penumpang lain.

Aku menatapnya dalam, ada hal lain dari Mr. CEO yang selalu kusebut angkuh ini, dia ternyata orang yang tidak bisa membiarkan seorang wanita untuk melakukan perjalanan sendirian di malam hari seperti ini, apalagi ini adalah perjalanan yang cukup panjang, setidaknya butuh 4 jam untuk sampai di kota tujuan.

Dia ternyata tidak seburuk itu, buktinya, hasil designeku gagal, namun ia masih memberiku kesempatan dengan bekerja di perusahaannya meski untuk membayar hutang, setidaknya, aku terbebas dari denda 1 milyar serta ancaman hukuman 5 tahun penjara. Dan yang terbaik Namira bisa kembali lagi bekerja.

***

Jika dilihat-lihat, Mr. CEO mempunyai wajah yang lumayan tampan, iya, baiklah, dia memang sangat tampan, dan aku mengagumi itu, dengan catatan dia sedang diam, hanya saat diam, rambut yang tebal, sorot mata yang tajam, garis wajah tegas dengan rahang keras, alis tebal serta hidung bangir yang pas dengan wajahnya, bibirnya tipis namun sangat seksi, ditambah dengan rambut jambang halus yang terawat, serta penampilannya yang selalu bersetelan rapi membuatnya semakin tampan mendekati sempurna.

"Berhenti menatapku seperti kau ingin memangsaku, aku bukan buruanmu,"

Sial, ia ternyata melihatku yang memerhatikan dirinya, kupikir dia sedang tertidur, duduk melipat kedua tangan sedada, kaki kanan ia silangkan di atas kaki kiri, dan kaca mata yang menutup sempurna matanya yang kupikir sudah terlelap tidur.

Aku segera mengalihkan pandanganku, malu karena tertangkap basah. Lihatlah, sifat aslinya yang sombong dan angkuh seketika kembali lagi, ia bahkan tersenyum smirk penuh kepuasan mendapatiku yang begitu bodohnya memperhatikan dirinya.

"Maaf, nona, bisakah saya duduk di sini? Kami lelah mencari tempat duduk kami sedari tadi, petugas yang kami temui menyuruh kami mencari sendiri, karena ia sedang tidur."

Tiba-tiba datang seorang wanita yang sudah tua, menggandeng tangan seorang pria yang usianya mungkin lebih tua darinya.

"Tentu, silahkan," aku menggeser diri mendekat ke jendela memberi tempat untuk ibu tua itu.

"Aku akan duduk di sini, kau duduklah di sana di dekat tuan muda itu." ucap ibu itu lembut pada pria tua yang digandengnya sambil menunjuk ke tempat sebelah Mr. CEO.

"Tidak, aku tidak suka orang lain duduk di dekatku," tolak Mr. CEO itu angkuh. Sarkas.

Aku sampai terperangah menahan rasa kesal yang teramat sangat mendengar jawaban yang ia berikan, begitukah caranya berbicara dengan yang lebih tua? Ya Tuhan,,,, etika macam apa itu.

"Sudahlah istriku, kita cari tempat duduk yang lain saja, aku juga tidak ingin duduk terpisah darimu,"

Ternyata mereka adalah sepasang suami istri, mendengar ucapan bapak itu kepada istrinya, hatiku bergetar nyeri, aku pun lekas berdiri.

"Tidak, jangan kemana-mana, duduklah di sini," aku memberikan tempatku sepenuhnya untuk mereka, tidak peduli jika aku harus berdiri setelah ini, mereka orang tua yang sudah renta. Tidak tega jika membiarkan mereka terus berjalan mencari tempat duduk.

"Tapi nak, kamu?" tanya si ibu.

"Saya baik-baik saja, sudah, duduklah di sini, silahkan." aku menggandeng tangan pasangan suami-istri itu untuk duduk di tempatku tadi, bisa memberikan bantuan Kecil seperti ini pada yang membutuhkan rasanya sudah sangat menyenangkan.

"Terimakasih, kaki kami sudah pegal karena terus mencari tempat duduk," ucap si suami padaku sambil mengelus rambutku, aku menyambut tangannya lalu kucium khidmat. Tak kuhiraukan Mr. CEO yang mungkin menatapku tajam di balik kaca matanya yang mengkilap itu, baru saja tadi aku memujinya tampan, tapi perilakunya barusan, membuatku harus menarik kembali semua pemikiranku tentangnya. Dia buruk, sekali buruk tetao buruk.

"Kalian mau kemana melakukan perjalanan malam hari seperti ini?"

"Kami ingin kembali ke desa, kami hanya ingin hidup bersama menikmati hari tua, anak-anak kami meminta kami untuk tinggal terpisah karena mereka terkendala biaya mengurus kami," ucap si ibu memulai bercerita, mendengar penuturan awalnya saja hatiku sudah bergetar.

"Lalu?" tanyaku penasaran.

"Mereka ingin membagi kami agar biaya yang mereka tanggung bisa lebih rendah, istriku dirawat anak kedua, dan aku akan dirawat anak pertama." lanjut ibu itu bercerita.

"Astaghfirullah,,,," tak terasa air mataku menetes seketika, bahkan di usia mereka yang sudah senja masih harus menghadapi ujian cinta sejati dan itu dari anak-anak mereka sendiri.

"Aku tidak mau terpisah dari istriku, tidak ada yang mengambilkanku air minum di malam hari saat aku tinggal di rumah anakku yang kedua, sedangkan istriku tinggal di rumah anak kami yang pertama,"

Aku semakin larut dalam cerita sepasang suami istri ini, sampai tiba-tiba Mr. CEO menarik tanganku untukduduk di sebelahnya.

Baiklah, dia memintaku duduk meski gengsi untuk mengatakannya. Dan melakukannya dengan cara kasar, setidaknya aku sudah mendapat tempat duduk.

"Kami memilih untuk kembali tinggal di desa, meski nanti kami harus bekerja untuk makan, tapi kami masih bisa hidup bersama," sang suami memeluk erat tubuh istrinya, mereka menangis bersama membuatku pun larut dalam kesedihan.

"Maafkan aku karena tidak bisa membahagiakanmu bahkan sampai kita sudah tua,"

"Tidak, suamiku, aku selalu bahagia hidup bersamamu, aku yang seharusnya meminta maaf, karena tidak mendengar nasehatmu waktu itu, aku terburu-buru menjual sawah kita untuk dibagi pada anak-anak karena takut mereka akan saling berebut jika kita tiada sebelum membaginya sama rata."

Jelas sudah permasalahan ibu dan bapak itu, aku terus menangis ikut merasakan kesedihan yang mereka rasakan, bisa dibayangkan betapa hancur hati orang tua, setelah membesarkan anak-anaknya penuh cinta, mereka justru menelantarkan orang tua di masa senjanya.

Kami terus mengobrol sepanjang perjalanan. Sampai mereka tertidur karena ngantuk dan lelah, dan aku pun sama. Memejamkan mata menghantarku pada tidur yang lelap.

***

POV Fabrizio.

Kedatangan sepasang orang tua yang meminta tempat duduk itu menarik perhatian kami, dengan tegas aku menolak untuk berbagi tempat duduk, bagaimana bisa aku harus duduk berdampingan dengan orang yang tak kukenal, tapi Aretha, si gadis liar itu justru memberikan tempat duduknya sepenuhnya pada mereka, dan seperti orang bodoh, dia malah memilih berdiri.

Mereka ngobrol layaknya orang yang sudah saling kenal untuk waktu yang cukup lama, lebih tepatnya, kami mendengarkan cerita sepasang orang tua itu, sebuah cerita yang cukup menyesakkan dada, hampir aku menangis mendengar cerita mereka, tapi demi wibawa tentu aku menahannya sekuat tenaga, untung saja aku memakai kaca mata yang menjadi pelindungku. Tapi Aretha? Gadis liar itu menangis tersedu.

Kutarik tangan Aretha agar ia duduk di sebelahku, cukup menyebalkan harus bersikap baik padanya terus-terusan, tapi melihatnya yang sudah lelah terus berdiri, aku tidak tega.

Setelah cukup lama mereka saling bercerita, mereka semua tertidur, perjalanan masih jauh, dan aku kembali berbaik hati karena meletakkan kepala Aretha yang tadinya tidur sambil menunduk untuk kusandarkan di bahuku, bagaimana jika dia mengotori kemejaku dengan air liurnya? Uffhh,,,, aku bahkan tidak peduli lagi dengan hal itu.

Dari perbincangan mereka, kuketahui jika Aretha adalah seorang janda, dia bercerai dengan suaminya sebelum bayi yang dikandungnya terkahir ke dunia, itu artinya, Aretha tidak melakukan hubungan bebas, aku telah salah menilai Aretha sebelumnya, ternyata dia adalah seorang wanita yang terjaga.

Aku pun mulai merasakan ngantuk yang teramat, masih ada satu jam sebelum kereta akan sampai di stasiun kota tujuan. Mataku yang sudah sangat berat tak lagi tertahan, dan aku pun ikut terlelap beradu kepala dengan Aretha, wanita janda yang lebih suka kusebut dengan si gadis liar.

***

Bersambung.

1
slohnayani berutu
Luar biasa
Ros Yusmiasih
wah tambah seru ceritanya.......
Ros Yusmiasih
aku tersenyum ....lucu sekali ....
martina melati
hahaha.... iy kocak nih thor bundany reyhan
martina melati
iy betul nih kata2 dr.bian
martina melati
lho? kamu sendiri jg sedang meluk rena... masa tangan mantan istri dpegang dr.bian jd marah...???
martina melati
kamu salah orang.. salah orang... dbikin tiktok aja
martina melati
hahaha... gk usah heran, perempuan itu ingat lho... bukan dendam y!
martina melati
emang gk dgigit nyamuk2 nakal???
martina melati
koq malah mikir bgini sih... wajarlah suami istri melakukan hubungan intim kan sdh sah
martina melati
maaf lho..,, bukan mihak aretha... tp rena, mumpung blm menikah sbaikny relakan reyhan... x aja jodohmu lbh dr reyhan
martina melati
lho sdh bercerai toh... emang boleh dcium???
martina melati
jangan sering nangis lho bumil... kasihan nti bayiny kalo sdh lahir jd cengeng...
martina melati
jangan2 yg ngidam nih reyhan
martina melati
kasianny... mau mkn dcegah dminta buatin masakan...
martina melati
nah... loe... td kn sdh dkoment jika jodoh mau cerai pun kyk'e sulit dpisahkn walo sdh sah cerai
martina melati
benar toh patah jadi 2
martina melati
katanya mau belajar jualan baju agar bisa buka toko baju... y gpp tinggal sm mantan ibu mertua apalg jika baik hati...
martina melati
egois... sdh menikah dg satu wanita ingin memiliki lg satu wanita... patah jadi 2 nih namany
martina melati
ngaur... jika tidak berjodoh walo saling mencintai y gk bisa dpaksakn donk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!