"Apa kau tidak bisa sedikitpun memberikan rasa cintamu padaku?"
Lily Anastasya.
"Tidak karena aku sudah berikan seluruhnya pada gadis masa kecilku, aku sudah menyukainya sejak dulu dan aku tidak akan pernah bisa menyukaimu"
Jason Louvis
Lily Anastasya dikenal sebagai gadis yang ceria, dan dia bertemu seorang pria yang awalnya dia anggap khayalan hingga dia pun bertindak di luar kebiasaannya. Tapi siapa sangka jika awal pertemuan itu membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pria itu.
Tapi bagaimana jika pria itu sudah mencintai orang lain yang tak lain adalah gadis masa kecilnya. Akankah Lily bisa memperuangkan cintanya, atau dia akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
"Kamu mau kemana?" Tanya Al yang menahan pergelangan tangan Lily.
"Aku mau pulang, Kak aku sungguh belum siap ketemu Ayah Kak Al, lagian Kak Al tahu kan perasaanku saat ini, jika aku belum benar-benar mempunyai perasaan terhadap Kak Al, aku…"
"Aku akan menunggumu Lily, menunggu kamu membuka hatimu untukku, dan aku yakin aku bisa, bukankah kamu bilang jika kamu memberi kesempatan padaku, aku akan membantumu melupakan laki-laki yang kini ada di hatimu," Al tersenyum dia tahu kemana arah pikiran gadis di sampingnya ini.
"Kak aku sungguh belum siap jika harus bertemu Ayah Kak Al saat ini, aku memang memberikan Kak Al kesempatan, tapi tidak harus secepat ini juga memperkenalkanku pada Ayah Kak Al," jawab Lily gugup.
Al tersenyum melihat Lily yang jelas tampak gugup saat dirinya mengatakan jika dia membawanya ke rumah orang tuanya.
"Tapi bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu lapar dan terserah aku saja mau makan dimana, ya sudah sekarang kita akan di makan dirumah ini, kamu pasti akan suka dengan masakan Bi Nia," kata Al sambil membujuk Lily.
"Tapi Kak…
"Kamu belum siap ketemu Ayah?" Tanya Al yang diangguki oleh Lily.
"Kamu tenang saja sayang, Ayah tidak ada di rumah, Ayah hari ini sedang ada jadwal operasi, dan mertua Jasmine lah yang sekarang sedang Ayah operasi, kata Al membuat Lily menarik dan menghembuskan nafas lega.
"Kenapa Kak Al tidak mengatakan dari tadi, kan aku jadi tidak perlu segugup ini," Lily langsung menutup mulutnya yang keceplosan mengakui pada Al jika dirinya sangat gugup saat ini.
"Oh jadi kamu mau pulang karena gugup, saat kamu mengira aku akan mempertemukanmu dengan calon mertua," Al sengaja berkata seperti itu untuk menggoda Lily.
"Kak Al," kata Lily yang sudah mengangkat tangannya yang biasanya akan menepuk atau mencubit Al, tetapi Al segera menghindar dia sudah hafal dengan yang biasa Lily lakukan.
"Ya sudah ayo masuk" ajak Al meraih tangan Lily dan menggandengnya.
"Kak Al serius, kalau Ayah Kak Al tidak ada di rumah?" Tanya Lily memastikan.
"Iya sayang, apa perlu aku mengatakan itu seribu kali biar kamu percaya?"
Blush
Kata sayang yang Al ucapkan membuat pipi Lily tampak panas bahkan pipinya kini sudah tampak merona.
Lily kemudian hanya mengikuti Al di belakangnya menuju ke ruang makan.
***
Dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan jika operasi Tiffa, Ibu dari Liora Anderson, seorang gadis yang awalnya Jason sukai berjalan dengan lancar, membuat orang yang sedari tadi gelisah kini sudah bisa bernafas lega, berbeda dengan Jason yang kini justru tampak gusar dan gelisah.
Jason kini terus saja menatap pada ponselnya yang sepi, tidak ada notifikasi balasan pesan apapun dari semalam dari gadis yang berhasil membuat kacau hatinya dalam sekejap belakangan ini.
"Kemana dia? Kenapa dia sama sekali tidak membalas pesan-pesan dariku? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu?" Tanya Jason dalam hati.
Dan hal itu disadari oleh Liora gadis yang menyukainya. Liora mendekat dan duduk di kursi di samping Jason.
"Apa ada masalah Kak? Sejak tadi aku perhatikan Kak Jason terlihat begitu gelisah," tanya Liora mencoba memberanikan diri menanyakan pada pria yang disukainya itu alasan dirinya terlihat begitu gelisah sedari tadi.
Walaupun Liora bisa menebak apa yang membuat Jason seperti itu, tapi Liora menyangkalnya, dia berharap saat dia bertanya Jason tidak mengatakan jika penyebab utamanya adalah gadis yang tak lain sahabat dari Kakak Iparnya.
"Tidak ada masalah apa-apa," jawab Jason datar.
"Oh, tapi sepertinya sedari tadi Kak Jason terlihat gelisah?" Tanya Liora lagi.
Jason menatap Liora, entah kenapa dia tidak suka saat Liora mencampuri urusannya dan bertanya-tanya tentang dirinya, Jason benar-benar tidak nyaman, tapi dia tidak mungkin secara terang-terangan mengatakan itu.
"Aku tidak apa-apa Liora," Jason menjawab setenang mungkin dengan senyum yang dipaksakan.
"Oh syukurlah, apa Kak Jason lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu, aku sangat lapar, dari pagi aku belum makan karena begitu tegang saat mendengar Mami akan dioperasi," kata Iiora berharap Jason mau menemaninya dan hal itu bisa sedikit mengalihkan Jason dari gadis itu.
Jason hendak menolak, tapi saat bilang gadis itu dari pagi belum makan, membuat dirinya tidak tega dan memutuskan untuk menemaninya untuk pergi makan siang di restoran dekat rumah sakit, seperti permintaan Liora. Apalagi saat Liora mengatakan jika mereka keluar sekalian untuk membelikan makanan untuk Papi dan Kakak-kakaknya, Jason pun akhirnya mengiyakan.
Liora mengulurkan tangan padanya, ingin rasanya Jason menepis tangan itu, tapi Jason tanpa sengaja melihat jika saat ini Tuan Besarnya yang tak lain adalah Papi Liora tengah menatap mereka, akhirnya Jason pun menyambut uluran tangan itu dan bangun dari duduknya, melepaskan tangan Liora yang tadi membantunya berdiri, kemudian berpamitan pada semua orang yang disana kemudian segera berlalu begitu saja tanpa menunggu Liora.
Pi, Kak Vano, Kak Max, aku mau keluar dulu membeli makanan," pamit Liora pada keluarganya kemudian segera berlari menyusul Jason yang sudah lebih dulu berlalu.
Setelah sampai dimana mobilnya diparkirkan Jason langsung masuk ke kursi kemudi, tanpa membukakan pintu dulu untuk Liora seperti biasanya.
Liora berusaha tersenyum dan masuk ke dalam mobil di samping kemudi.
"Ayo Kak jalan!" Ucap Liora setelah dirinya sudah memasak sabuk pengaman.
Jason pun segera melajukan mobilnya ke tempat yang dituju. Tak lama mereka pun sampai. Kemudian mereka turun dari mobil, Jason berjalan lebih dulu, tapi Liora segera menyusulnya, meraih tangan Jason dan menggandengnya untuk masuk.
Jason mencoba melepaskan genggaman tangan Liora dari tangannya, tapi tangan gadis itu menggenggam tangannya erat. "Liora ini tempat umum," kata Jason datar.
"Justru karena ini tempat umum Kak, apa Kak Jason akan mempermalukanku dengan menepis tanganku di depan semua orang," Jason tidak menyangka jika Liora akan mengatakan hal seperti itu, Jason akhirnya hanya pasrah saat tangan Liora masih menggenggam tangannya dan membawanya untuk duduk di meja paling ujung dan dekat dengan jendela.
"Kak Jason mau makan apa?" Tanya Liora setelah gadis itu memegang buku menu.
"Aku tidak lapar, kau saja yang makan, bukannya tadi kau bilang lapar," ucap Jason mengambil ponselnya yang tadi dia masukkan ke dalam saku celananya, berharap jika ada satu pesan saja masuk dari orang yang dia tunggu-tunggu.
Tapi harapan hanya sebuah harapan, nyatanya di layar ponselnya tidak ada satu notifikasi apapun.
Liora menatap sendu pada pria yang kini duduk di hadapannya. Nyatanya walaupun Jason saat ini bersamanya, tapi pikirannya justru masih saja tertuju di tempat lain.
"Kak Jason yakin tidak mau makan? Tanya Liora memastikan.
"Hmm kamu makan saja," jawab Jason.
Liora pun akhirnya memesan makanan untuk dirinya sendiri dan beberapa makanan yang dibungkus untuk Papi dan kedua Kakaknya.
Sungguh nafsu makan Liora hilang begitu saja, saat dirinya kini hanya menikmati makanannya sendiri, karena beberapa kali dia menawarkan Jason untuk makan, tapi pria itu selalu menolaknya secara halus.
"Kamu makan saja dulu, aku mau ke toilet sebentar dan jangan kemana-mana setelah selesai," pesan Jason kepada Liora sebelum dirinya beranjak dan kemudian dirinya berlalu untuk ke toilet.
Liora hanya menatap sendu pada punggung Jason yang kini sudah jauh dari pandangannya.