Keisha harus putus dengan seorang yang sangat ia cintai, hanya karena sebuah kebodohan.
Setelah ucapan yang membuatnya menyesal itu, Keisha harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak terbayangkan.
Sebuah pernikahan kontrak yang membuatnya tidak bisa menolak, karena nyawa orangtuanya selalu dijadikan senjata sebagai ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tidak bisa memejamkan mata meski sudah mencoba dan menyegarkan dirinya. Reynand yang kini terbebani oleh perasaan tak mudah untuk dijalani, memilih untuk turun dan duduk menyendiri dalam kegelapan mini bar rumahnya.
Meneguk minuman seorang diri, memegang cincin pernikahan menggelayut indah pada lehernya. Tatapannya kosong, menunduk dengan tangan kanan masih memegang cincin yang sangat ingin ia sematkan kembali.
Menyematkan cincin pada jari manis dan membuat sebuah hubungan pernikahan yang nyata, sebuah ikatan suci tanpa luka ataupun saling menyakiti. Pernikahan tulus yang dijalani oleh dua orang tanpa adanya pihak lain seperti Anita dan Reza.
Sadar jika semua hal itu akan sangat sulit terwujud, karena keduanya masih terbelenggu dalam hubunga lain diluar pernikahan. Tidak ingin Anita mengakhiri hidup akan kehilangan dirinya, di sisi lain Keisha juga tak menyadari sendiri akan perasaan tengah ia rasakan.
Keisha terus meyakinkan dirinya jika hanya Reza yang ia cintai, hanya Reza yang akan mendampingi dirinya menjalani sisa hidup. Tanpa sedikitpun mengetahui beban perasaan yang kini dipikul Reynand seorang diri, beban cinta yang sulit untuk diwujudkan.
Meneguk terus minuman, mengisi ketika gelas sudah kosong untuk menenangkan pikiran serta hatinya. Untuknya akan lebih mudah menghadapi lawan dalam bisnis ataupun pertempuran, daripada harus menghadapi urusan hati yang tak pernah ada ujung ketika ia hadapi.
"Kenapa kamu disini?" terdengar suara tiba tiba, menegur Reynand dari belakang.
Menoleh ke arah perempuan kini membaluti piyama dengan kimono, Reynand menatapnya kilas dan kembali meneguk minuman. Keisha duduk di samping lelaki langsung memasukkan kalung ke dalam kaos agar tak sampai terlihat oleh Keisha.
"Kamu butuh sesuatu? aku akan panggil pelayan untukmu" ucap Reynand tanpa menoleh, memegang gelas serta menundukkan wajah.
"Setelah aku pergi, apa Anita akan menjadi ibu Nabila? bisakah dia menjaga Nabila? maksudku, dia seorang yang pandai menggunakan senjata. Apa dia akan bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk Nabila?" tanya Keisha sudah bertanya tanya dalam benaknya sedari tadi.
"Tidak, Anita tidak akan menjadi ibu Nabila. Dia juga tidak akan menjadi istriku" santai Reynand menjawab, lalu meneguk habis minuman pada gelas.
"Tidurlah, ini sudah sangat larut" ucap Keisha dan turun dari kursi bulat samping Reynand.
Hendak pergi ke arah dapur untuk membuatkan putrinya puding coklat agar bisa di makan ketika usai sarapan, Keisha harus terhenti langkahnya ketika kedua tangan kokoh melingkar pada perutnya untuk menahan. Tidak meronta ketika lelaki meletakkan dagu pada pundaknya, Keisha hanya berdiam diri.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu" tulus Reynand semakin mengeratkan tangan pada perut Keisha.
"Tinggalkan Reza, dan menikah kembali denganku. Aku membutuhkanmu disisihku, aku tidak bisa kehilanganmu Keisha" tulus kembali Reynand, semakin membuat bimbang Keisha akan perasaannya sendiri.
"Maafkan aku" lirih Keisha menjawab.
Mengecewakan, tapi memang sebuah kenyataan yang harus diterima. Kenyamanan memeluk orang yang dicintai, enggan untuk dilepaskan oleh Reynand walau hatinya terluka. Rasa tersayat juga dirasakan Keisha dalam waktu bersamaan, dan merasa lebih baik ketika dalam sentuhan hangat Rey saat ini.
Berbalik setelah melepaskan tangan melingkar indah pada perutnya, Keisha memeluk Reynand untuk menenangkan hati dan perasaannya sendiri. Semakin erat, saling meluapkan hati yang tersiksa tanpa di sadari. Ucapan tak bisa untuk terlontar, hanya saling mengeratkan dekapan menyalurkan segala kerinduan.
Kebencian yang ia rasakan seolah tak berarti lagi, ketika Reynand sudah berhasil menggiringnya masuk kedalam perasaan serta suasana yang tak pernah bisa untuk dipahami. Lagi lagi tubuhnya ingin melepas, namun hatinya sangat ingin tetap berada dekat dan menuangkan kasih sayang pada lelaki telah melukainya selama ini.
"Aku ingin dirimu, aku ingin cintamu" sendu Reynand tulus.
Semakin tak berdaya dibuat oleh setiap kata terucap, segala sentuhan di berikan, nada tulus dalam kesenduan. Keisha menangis dalam dekapan lelaki yang tak pernah ingin untuk dikenalnya seumur hidup, bahkan walau hanya dalam mimpi.
Melepaskan pelukan, mencium hangat dan lama kening perempuan tengah ia pegang kedua sisi wajahnya. Reynand beralih mencium kedua sisi wajah Keisha bergantian, hingga sampai pada bibir yang mendapat balasan tanpa sadar oleh Keisha dan hanya perasaan yang menuntunnya.
Tidak tahu pengaruh apa yang menyelimuti keduanya kini, Keisha yang tadi begitu keras ingin kembali pada Reza dan meninggalkan segala kenangan buruk bersama Reynand, menyerahkan begitu saja tubuhnya tanpa sebuah perlawanan.
Mengangkat tubuh Keisha dan menggendongnya ke dalam kamar tamu, tanpa sedikitpun melepaskan bibir hangat yang saling beradu. Perlahan pintu sudah terbuka oleh tangan Rey yang masih menopang tubuh perempuan bergelayut pada tengkuknya.
Sebuah hasrat tercurah dalam hubungan lebih dari sebelumnya. Sebuah hasrat yang terisi perasaan di dalamnya, bukan hanya keingin memuaskan seperti apa yang biasa dilakukan Reynand.
Kehangatan sebuah hubungan dalam rasa saling ingin memiliki, dirasakan lebih nikmat juga hangat. Merengkuh sebuah kenikmatan bersama tanpa kebisuan, untuk pertama kalinya Keisha mampu menikmati setiap sentuhan dan tingkah lembut yang diberikan Reynand kepadanya.
Menanamkan kembali benih cinta pada rahim perempuan tak pernah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, Reynand masih memiliki sebuah harapan besar akan hadirnya anak di antara mereka sebagai pemersatu cinta yang sulit untuk terwujud bersama.
"Kenapa aku melakukan ini lagi? Tuhan, ada apa denganku sebenarnya? kenapa aku melakukan apapun yang tak ku inginkan? kenapa?" batin Keisha.
"Aku harus segera menyadarkan diri dari kebodohan ini. Aku tidak ingin terus seperti ini, aku harap satu minggu akan segera berakhir dan bisa segera pergi dari rumah ini" batin kembali Keisha menambahkan, tidak ingin semakin dalam terjerumus dalam perasaan yang selalu menuntunnya mendekat pada Reynand.
"Aku harus ke kamar mandi" ucap Keisha menarik kimono di tepi ranjang.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mengeluarkannya" ucap Reynand mencegah, mengerti apa yang akan dilakukan Keisha di kamar mandi usai kepuasan yang mereka dapatkan.
"Biarkan ini tumbuh Keisha, biarkan anakku ada di rahimmu" tambah Reynand menahan tubuh istrinya terbangun, memegang halus perut tanpa apapun membalut.