Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANCUR
Aku melangkahkan kaki menuju ruang tamu namun tidak menemukan keberadaan semua orang yang terdengar hanya suara teriakan dan tangisan dari arah kamar bu Yuri.
Aku segera berlari mencari tahu apa yang sudah terjadi.
Saat mendekat aku melihat tubuh yang terbujur kaku di ranjang dan mata menutup ditambah wajahnya yang pucat membuatku khawatir.
"Doktor ibu kenapa?" aku bertanya pada dokter yang sedang terdiam di sudut kamar.
"Maaf tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain, dan mohon maaf sekarang bu Yuri sudah meninggal" ucap dokter yang juga ikut merasa berduka.
Mendengar itu pikiranku kacau merasa semuanya hanya mimpi.
Ya bagaimana tidak, beberapa saat lalu ayah menelpon menyampaikan kabar duka ayah Danial, dan sekarang ibunya ikut menyusul ayah Danial.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Danial saat mengetahui semuanya.
Walaupun aku belum mengenal lama keluarga ini tapi rasa kehilangan tetap menyelimutiku.
Dengan air mata yang bercucuran aku mencari sosok Danial namun dia tidak terlihat disini.
"BI Danial kemana?" tanyaku pada bi Ina dengan lirih.
"Tadi pergi ke luar untuk nenangin diri" ucap bi Ina.
Aku yakin dia pergi bukan hanya sekedar menenangkan diri dan aku takutnya dia berbuat hal nekat.
Aku langsung mencari keberadaanya mulai dari kamarnya bahkan sampai ke belakang rumah, namun tidak kutemukan sosoknya.
Aku mencoba mencarinya ke atap rumah, dan ternyata dia sedang menangis di sudut atap.
Aku berjalan pelan mendekatinya.
"Danial, kamu baik-baik aja?" aku bertanya walaupun aku yakin dia tidak baik-baik saja.
Semakin mendekat tangisannya mangin menjadi dan aku langsung meraihnya ke pelukanku.
Aku memeluk dia layaknya menenangkan anak-anak yang sedang menangis.
"Dan, kamu harus tenangin dulu diri kamu" ucapku sambil terus mengelus pundaknya.
"Zi iiii....buuuuu" ucapnya dengan gemetar.
"Iya aku tau, kita harus kuat kita gak boleh lemah dan. Bu Yuri pasti sangat sedih jika dia tau kamu nangis kayak gini" kataku terus berusaha menenangkan dia.
Dia tidak menanggapi apapun ucapanku dan hanya menangis.
Aku meraihnya dan memeluk dia agar merasa sedikit tenang, dan untunglah tangisannya mulai mereda.
"Zi, ki..taa.. tu...run ii..bu bu..tuh aa..ku"
"Ki..ta ha..rus ma..kam..kan ii..bu" ucapnya setelah beberapa saat dipelukanku.
"Iya ayo" aku melepas pelukanku padanya dan mulai bergegas turun.
Aku memapah Danial karena khawatir dia akan tersandung dan jatuh.
Kami berjalan menuju kamar bu Yuri dan disana semua orang sudah mulai tenang bahkan semuanya menatap kearah kami yang baru datang.
"Danial, kita harus mengurus pemakaman buat ibu kamu" ucap oma seraya menghampiri kami yang baru tiba di dekat pintu.
"Iya kita harus melakukan yang terbaik buat ibu" jawab Danial dengan lirihnya.
Aku hanya bisa menghela nafas saat mendengar ucapan Danial, padahal dalam hati aku masih mengkhawatirkan dia bagaimana reaksinya jika dia tahu keadaan ayahnya yang sampai sekarang masih dinyatakan meninggal.
Hari makin larut dan bahkan sudah hampir pagi, semua keluarga menyiapkan pemakaman buat bu Yuri sebagai penghormatan terakhirnya.
*Siang Hari*
Proses pemakaman almarhum bu Yuri berjalan dengan khidmat dan Danial juga yang lainnya mulai ikhlas melepas kepergian ibunya itu.
Banyak kerabat yang ikut mengantar ke pemakaman bahkan banyak deretan pejabat yang ikut hadir mungkin karena bu Yuri sosok yang baik dan juga keluarga terpandang.
Pemakaman selesai semua orang sudah pergi pulang kerumah masing-masing dan dipemakaman tersisa Aku dan Danial Sedangkan Oma sudah pulang beberapa saat lalu dengan bi Esih dan bi Ina karena tidak mungkin juga rumah di biarkan kosong berlama-lama.
"Zi, aku udah gak punya sandaran lagi sekarang. Wanita yang selalu mencintaiku tanpa syarat dan tanpa lelah sudah pergi sekarang." Danial mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Iya aku tau"
"Tapi kamu masih punya Oma dan aku yang akan ada disamping kamu" aku berusaha membuatnya yakin.
"Aku gak tau harus bertumpu kemana lagi sekarang" ucapnya dengan putus asa.
Danial terus menerus bicara melantur seakan hanya dia yang tersisa.
Dia mulai melukai dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya di dekat nisan bu Yuri.
Bahkan dengan bodohnya dia mengambil kerikil dan memukulkannya di kepala dia.
Aku yang melihat itu segera menghentikannya karena sekarang Danial tidak bisa mengontrol emosinya.
"DANIAL APA YANG LO LAKUIN?"
"KAMU PIKIR DENGAN BEGINI BU YURI BAKAL KEMBALI LAGI?" aku langsung membentak dia dan menarik lengannya.
Dia tidak menjawab apapun dan hanya menangis.
Aku yakin dia sendiri tidak sadar dengan apa yang dia lakukan aku memeluknya dengan erat bahkan aku sendiri tidak kuat menahan tangis dan mulai ikut menangis.
Kini Danial sudah tenggelam dalam pelukanku dan kami beranjak pergi dari pemakaman karena langit sudah mulai gelap pertanda akan segera turun hujan.
Suara petir mulai terdengar kami mulai berjalan lebih cepat ke arah mobil dan sebelum hujan turun kami sudah aman di mobil.
"Pak kita pulang sekarang" ucapku pada supir yang membawa kami.
Danial dan aku duduk di belakang karena Danial masih belum bisa menyadarkan dirinya dari tangisan.
Setelah sampai di kediaman adijaya, kami sedikit heran karena banyak mobil mewah terparkir disana bahkan ada beberapa mobil polisi.
"Loh pak ini ada apa ya?" tanyaku pada supir yang bahkan supir juga mungkin tidak tahu hal ini.
"Gak tau non, saya kan dari tadi bareng sama kalian." Jawabnya.
Aku dan Danial segera turun untuk memastikan apa yang terjadi.
Kami berjalan dengan cepat memasuki pintu utama dan setibanya didalam perhatian semua orang tertuju pada kami.
"Ada apa ini?" tanya Danial dengan wajah sembabnya.
"Danial...." ucap oma lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Oma ada apa ini? Kenapa banyak polisi diluar?" tanyaku pada oma.
"Ayah kamu......" Oma tidak mampu melanjutkan ucapanya, dan aku langsung mengerti mendengar oma berucap seperti.
"Ayah kenapa?" Danial makin penasaran.
"Ay..yah ka..mu ga..ak bi..sa pu..la..ng la..gi?" ucap oma dengan tangisan histeris.
"Maksud oma apa sih? Coba jelasin pelan-pelan dong" Danial yang tidak mengerti malah garuk-garuk kepala.
Dan seorang petugas polisi datang menghampiri kami dan menjelaskan semuanya pada Danial.
"Mohon maaf pak, saya dari kepolisian ingin menyampaikan kabar duka yang kami terima dari maskapai penerbangan dan menyatakan pak Arham meninggal dunia walaupun jasadnya belum ditemukan tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencarinya" polisi itu menjelaskan dengan detail.
"BAPAK BECANDA?" bentak Danial dengan lantang.
"Saya baru pulang dari pemakaman ibu saya dan bapak datang-datang bilang ayah saya meninggal? Bapak pikir becanda bapak lucu?" ucap Danial dengan mata yang sembab dan mulai berair.
Oma yang mendengar itu malah semakin histeris dan aku yang sudah mengetahui hal ini hanya bisa menatap iba pada Danial.
Kedua orang tua yang sangat dia sayangi pergi meninggalkan dia begitu saja bahkan dalam waktu bersamaan.
"Saya mengerti keluarga ini sedang berduka, tapi saya juga harus menyampaikan hal ini lambat laun kalian juga harus mengetahui hal ini, kalau begitu kami permisi dulu maaf sudah mengganggu waktunya" tanpa menunggu jawaban dari kami polisi itu langsung pergi begitu saja.
"Zi, ini cuma prank kan yang seperti di film film. Gak mungkin kan ayah meninggalkan aku dan malah menyusul ibu" ucap Danial dengan mata berkaca-kaca.
"Dan, kamu yang sabar kamu masih punya aku, Oma dan om noku. Kita bisa lewati ini bersama-sama" aku mencoba menenangkannya.
"LO GAMPANG BICARA BEGITU!!!, kamu gak ngerasain gimana rasanya ditinggal ayah dan ibu bersamaan begini di tambah jasad ayah belum ketemu" bentak Danial dengan lantangnya membuat Oma sedikit melotot, namun dia juga tidak berani memarahinya dengan keadaannya yang seperti itu.
"Iya maaf" aku hanya berkata lirih menjawab bentakannya.
Danial mengamuk sejadi-jadinya dengan memecahkan beberapa vas bunga yang ada di sudut meja.
Aku mencoba menenangkan Danial dengan meraih tangannya dan memeluk tubuhnya setidaknya siapapun itu pasti akan merasa sedikit tenang jika ada yang memeluk atau ada bahu untuk bersandar.
Aku memapah Danial menuju kamarnya agar dia bisa beristirahat dan menenangkan diri.
*
Sesampainya di kamar aku menyuruh Danial membaringkan diri agar pikirannya tidak berantakan lagi.
Tapi siapa yang bisa berpikir jernih dan siapa yang akan baik-baik saja jika kedua orang tuanya meninggal disaat bersamaan?
"dan, maaf aku keluar dulu ya" ucapku berbisik
"GAK USAH KEMBALI LAGI!!!, Lo bawa sial buat gue, karena Lo kedua orang tua gue ninggalin gue" bentaknya membuat ku kaget dengan sikapnya yang seperti ini.
Air mata tak bisa dibendung lagi, semuanya sudah menetes.
Bagaimana bisa Danial membentaku seperti itu, aku keluar dari kamarnya dengan menangis terisak-isak.
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta