**Buat pecinta novel romantis, belum lengkap rasanya kalau belum membaca novel yang satu ini.**
Rianty adalah kembang desa di kampungnya. Oleh karena suatu hal, Rianty harus meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kota.
Dia dibantu pamannya untuk berangkat ke kota, tapi tidak disangka pamannya juga mempunyai niat yang tidak baik.
Seperti lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya, itulah perumpamaan yang cocok untuk Rianty.
Rianty akhirnya harus kehilangan kesuciannya yang sudah dijaga selama ini. Pria yang merenggut kesucian Rianty juga tidak pernah mengenal Rianty. Bahkan Rianty akhirnya harus mengandung dan membesarkan anaknya seorang diri.Dalam penderitaan Rianty, untungnya Rianty mempunyai seorang anak genius, yang bertekad akan menemukan ayahnya.
Akankah anak genius ini menjembatani hubungan ayah dan ibunya?
Buat yang penasaran, ayo ikuti lebih lanjut ceritanya
Jangan lupa like, comment dan vote untuk author ya🙏🙏🙏 Semoga terhibur selalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monica merasa terganggu
"Huh ngapain lagi si cerewet ini nelpon pagi-pagi, masalahku saja sudah banyak, masih nelpon-nelpon saja.
Tiap hari ributin cucu, padahal anaknya yang gak normal.
Laki-laki mana saja mau, kalau aku menyerahkan diriku!
Cuman anaknya saja yang berani menolak aku!", omel Monica ketika melihat handphonenya ada panggilan tidak terjawab dari ibu Gerald, sesudah dia keluar dari kamar mandi.
Walaupun ngomel, panggilan itu tentu dibalas Monica.
"Selamat pagi bu, ibu menelpon Monica ada apa Bu? maaf tadi Monica lagi di kamar mandi", ujar Monica dengan sopan, berbeda sekali dengan omelannya tadi
"Ah.. ibu mau tanya hubunganmu dan Gerald baik-baik saja kan?", tanya ibu Gerald.
"Baik Bu".
"Kemaren malam Gerald pulang rumah tidak?"
"pulang Bu!"
"Heran dari kemaren pada tanya Gerald pulang gak, emang kenapa sih? kayak anak kecil saja!", pikir Monica dalam hati.
"Kamu jangan bohong untuk Gerald, kalau ada apa-apa cerita sama ibu.
Kamu tidak perlu menutupi perbuatan Gerald sama ibu. Ibu pasti akan selalu mendukungmu", ujar ibu Gerald.
Mendengar perkataan ibu Gerald, Monica yang licik ini mulai berpikir, sepertinya ada yang tidak beres dengan Gerald.
"Oo, kemaren mungkin Gerald pulang malam bu, sebelum Gerald pulang saya sudah ketiduran. biasanya kalau Gerald pulang dan saya sudah tidur, dia akan tidur di ruang kerjanya. Katanya biar tidak mengganggu saya Bu", sahut Monica memberikan alasan.
"Ya sudah, coba kamu cek dulu ke ruang kerjanya, kalau ada kamu bilang saja ibu mencarinya!", instruksi ibu Gerald.
"Baik Bu, coba saya cek dulu, nanti saya hubungi ibu", ujar Monica mengakhiri panggilannya.
Monica berjalan keluar dari kamarnya menuju ke kamar Gerald dengan enggan, tapi dia juga penasaran kenapa ibu mertuanya agak aneh hari ini.
Begitu sampai di depan pintu dia mengetuk pintu kamar Gerald
'Gerald! ibu mencarimu!", ujarnya dengan suara lumayan keras, karena dia tahu Gerald tidak pernah mengijinkannya masuk kamarnya.
Akhirnya pintu dibuka, tapi yang keluar tentu sekretaris Kim.
"Ada apa nyonya Gerald?", tanya Sekretaris Kim membuka pintunya hanya setengah.
"Cih selalu berdua dengan sekretaris si*lan ini, sungguh mencurigakan, jangan-jangan penampilannya doang kelihatan maskulin, dalamnya gak normal. kayak gitu saja emaknya masih ribut mau punya cucu. Harusnya anaknya yang diperiksa, bukan aku!", pikir Monica dalam hati tidak senang pada mertuanya yang suka ribut punya cucu padanya, dan juga masih dendam pada Gerald yang sama sekali tidak tertarik padanya bahkan dulu sepertinya memandangnya dengan pandangan jijik.
"Bu Anggara mencari Gerald, apakah Gerald ada?", tanya Monica sopan.
"Tidak!", sahut sekretaris Kim singkat.
"Pagi-pagi kemana? Atau semalam tidak pulang mansion?", selidik Monica.
"Maaf, saya tidak bisa menjawab nyonya. Kalau nyonya ingin tahu, nanti tanyakan saja pada Tuan Gerald langsung, kalau bertemu", sahut sekretaris Kim dengan muka datar.
"Cih! benar-benar sekretaris si*lan, dia sudah tahu aku tak semudah itu bertemu Gerald. Setiap pulang saja langsung bertapa di kamar. Mau ngerjain aku rupanya!", omel Monica
dalam hati, tapi berbeda dengan yang diucapkannya.
"Ya sudah, kalau begitu aku sampaikan ke bu Anggara saja, kalau sekretaris Kim juga tidak bisa memberitahu keberadaan Tuan Gerald!", ujar Monica sedikit mengancam.
"Silahkan Nyonya Gerald!", sahut sekretaris Kim tersenyum.
"huh mau gertak aku! siapa takut dengan gertakanmu!", pikir sekretaris Kim, yang memang sudah lama tidak suka dengan tingkah lakunya Monica itu.
Akhirnya Monica menjadi kesal dan langsung melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Tapi belum jauh melangkah, Monica berhenti ketika mendengar seorang anak kecil yang berbicara.
"Om Kim, ayo cepat ke rumah sakit. Al mau ketemu mami".
"Baik, sebentar lagi ya, om Kim siap-siap dulu!", ujar sekretaris Kim, segera menutup pintunya kembali,karena khawatir Monica melihat Aldi.
Saat Monica berbalik untuk melihat, yang terlihat hanya pintu yang sudah ditutup sekretaris Kim.
Monica pun bersungut kesal,
"Awas kamu sekretaris si*lan, kamu pikir mau sembunyikan sesuatu dari penglihatan aku. Aku akan sabar menunggu sampai kamu keluar!"
********
Gerald yang akhirnya sadar dari suasana itu, segera berdiri dan kemudian membungkuk lagi menarik kedua tangan yang berada di pangkuan Rianty, agar Rianty bangun.
"Ayo kamu duduk di atas tempat tidur, jangan bersimpu di lantai, katakanlah apa yang kau inginkan dariku, aku tadi kurang jelas mendengar perkataan kamu!", ujar Gerald kemudian menekan kedua bahu Rianty agar duduk di tempat tidur.
Kemudian Gerald menggeser bangkunya mendekat ke Rianty, dan duduk di bangku itu lagi sambil menatap Rianty dengan intens.
Ditatap sedemikian rupa malah membuat Rianty menjadi lupa apa yang ingin dikatakannya.
"Aku,,,"
"Kamu tidak usah takut, katakan saja dengan jujur apa yang terjadi 7 tahun yang lalu, dan siapa ayah Aldi? Aku akan memaafkan kamu", ujar Gerald tanpa sadar menggenggam kedua tangan Rianty dengan tangannya.
Rianty yang tangannya digenggam Gerald sempat kaget, tapi sesudah itu dia membiarkannya saja.
"Ah sebaiknya aku menceritakan kejadian menyedihkan yang sebenarnya pada Tuan Aldo saja, siapa tahu dia akan kasihan padaku dan dia bersedia melupakan dan melepaskan aku", pikir Rianty dalam hati memutuskan.
"Tapi Tuan Aldo berjanji akan memenuhi permintaanku kan?", tanya Rianty dengan pipi merona, karena dia merasa malu tangannya masih di genggaman tangan Gerald dan dari tadi Gerald tidak melepaskan pandangannya pada Rianty.
"Asal masuk akal aku akan memenuhi permintaan kamu!", ujar Gerald menyetujui.
"Mengapa perempuan ini membuatku semakin tertarik padanya dan membuatku sukar menolak permintaan nya?", pikir Gerald dalam hati merasa bingung dengan hatinya sendiri.
"Saya berasal dari desa, karena ayahku membutuhkan uang, dia ingin menikahkan aku dengan juragan tanah yang sudah tua dan mempunyai banyak istri.
Ibu memberi uang padaku untuk kabur ke kota, tapi sesudah sampai di kota, seseorang mengabariku kalau ayahku tidak mendapatkan uangnya dia akan menyiksa ibumu.
Dan orang itu berkata kalau aku bisa mendapatkan uang itu, asal aku mau menyerahkan diriku pada seorang tuan muda. Saya sudah tidak punya cara lain lagi, akhirnya saya menerima tawaran itu", cerita Rianty tertunduk malu.
"Siapa orang yang menawarkan itu?", tanya Gerald penasaran, seraya mengangkat dagu Rianty, dan menatap Rianty dengan lekat.
"orang satu kampung tuan, hanya saja saya sudah kehilangan kontak dengannya setelah saya melahirkan Aldi", sahut Rianty kali ini berbohong, karena dia tidak mau pamannya terlibat.
"Saya sungguh tidak tahu apa-apa tuan, saya hanya disuruh masuk ke kamar itu. Sungguh saya tidak menjebak Tuan. saya hanya menuruti perintah orang itu, agar bisa mendapatkan uang dan menyelamatkan ibu saya", ujar Rianty dengan mata berkaca-kaca dan pipi merona, antara perasaan malu dan sedih.
Gerald yang melihat wajah polos dan sedih Rianty menjadi percaya dan kasihan.
Entah sejak kapan Gerald sudah berpindah duduk di atas tempat tidur juga, di samping Rianty.
Memeluk Rianty dan mengelus lembut punggung Rianty.
Rianty hanya pasrah saja dalam pelukan Gerald yang terbawa suasana, semakin baik Gerald padanya, maka semakin mudah dia mengajukan permohonan, pikirnya.
Karena itulah Rianty membiarkan perlakuan intim Gerald padanya.
"Baiklah, aku percaya padamu, apa yang kamu ingin mohon dariku Rianty, katakanlah?"
Bersambung.......
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.