Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Terbesar Chapter 4
Prapta turun dari panggung dan menghampiri Heidy. Ia mencengkram lengan perempuan itu dengan mata berkilat marah.
"Apa yang sudah Kau katakan pada istriku ?" Prapta memelankan suaranya agar tak terdengar tamu.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya. Kau tahu Aku, Aku paling tidak suka menunggu" Heidy menyeringai lebar.
Prapta melepaskan cengkramannya dan bergegas meninggalkan tempat acara. Ia tak peduli lagi dengan para tamu yang harus dijamu. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, Safana.
Istrinya pasti tengah terluka sekarang, entah apa yang dilakukan Safana sekarang.
Sepanjang jalan Prapta menangis, Ia takut berpisah dengan istrinya. Ia tak ingin kehilangan Safana.
Tak terasa hampir satu jam supir taxi mengendara, Ia melirik meter bensin yang menipis.
Si supir taxi menghentikan kendaraannya di taman kota yang lenggang, Ia kemudian mematikan mesin mobil dan mengambilkan tisu untuk Safana.
“Saya tidak tahu apa yang tengah terjadi dalam hidup Anda. Tapi Anda tak bisa terus menangisi nasib buruk yang menimpa, Anda harus bangkit dan melihat masa depan. Karena itu satu-satunya kekuatan Anda untuk hidup,” selesai bicara Supir taxi keluar dari mobilnya dan berdiri menunggu diluar. Memberi kesempatan untuk Safana berpikir.
Safana tertegun, Ia seperti disadarkan. Bahwa tangisnya tak akan merubah keadaan. Prapta akan tetap jadi manusia yang sama, sementara Heidy akan berdiri sejajar dengannya sebagai istri kedua Prapta.
Ia tak akan sanggup menghadapi ini semua, akan lebih baik jika Ia pergi dan melupakan peristiwa ini. Ia harus hidup, Ia harus bangkit dan memikirkan masa depan lebih baik untuk dirinya dan janin yang dikandungnya.
Dihapusnya airmatanya dan dibukanya kaca jendela, melihat pada Supir taxi yang masih berdiri diluar.
“Tolong antarkan Saya ke toko emas terdekat Pak,“ supir taxi mengangguk dan menuruti perintah Safana.
Tiba di toko emas Ia melepaskan semua perhiasan yang dikenakannya, anting, kalung, gelang dan cincin yang merupakan mas kawin pemberian Prapta.
“Tidak ada surat, potongannya lima puluh ribu per gram“ penjaga toko menjelaskan.
“Tidak pa pa“ Safana menerima kesepakatan yang ditawarkan.
Penjaga toko kemudian menimbang berat semua perhiasan emas yang diserahkan Safana dan menghitung total nilainya yang mencapai tiga puluh lima gram. Setelah selesai Ia menyodorkan jumlah uang yang pantas diterima Safana.
“Terima kasih“ Safana kembali ke taxi.
“Sekarang Kita kemana ?” Supir taxi bertanya.
“Saya belum tahu,“ Safana memandangi setumpuk uang yang baru diterimanya.Tekadnya sudah bulat, Ia tak ingin lagi kembali ke rumah. Ia tak ingin bertemu Prapta kembali, Ia juga tak ingin memberi penjelasan apapun pada keluarganya. Ia ingin menghilang dari kehidupan Mereka agar tak ada lagi yang terluka atau melihat orang tuanya kecewa.
“Seterpuruk apapun Anda harus tetap punya tujuan hidup,” Supir taxi mengingatkan.
“Saya tahu, tapi Saya belum bisa berpikir kemana Saya harus pergi. Hari ini anti klimaks dari kehidupan Saya, Saya harus mendengar langsung pengakuan perempuan yang dihamili suami Saya. Saya ingin bercerai, tapi tak mungkin. Orang tua Kami adalah teman baik sejak lama, itu pasti akan melukai Mereka. akan lebih baik kalau Saya menghilang dan semua tuduhan buruk ditimpakan pada Saya,” sikap baik supir taxi tersebut membuat Safana menceritakan gundah yang selama ini dipendamnya sendiri.
“Saya ikut prihatin. Kalau Anda mau Anda bisa menumpang tinggal pada keluarga Saya di Pekalongan. Disana ada istri dan anak Saya yang pasti mau menerima Anda. Tapi kalau Anda keberatan Saya bisa mencarikan kontrakan yang bisa Anda gunakan untuk Anda tinggal sekaligus membuka usaha,“
Safana mendongak, melihat dari kaca spion wajah si supir taxi yang begitu baik padanya. Matanya mendadak berkaca-kaca, tak percaya bahwa masih ada secercah harapan baginya untuk melanjutkan hidup.
“Antarkan Saya ke Pekalongan dan bantu Saya carikan kontrakan, Saya akan bayar ongkos taxi dan semua kesusahan yang sudah Saya timbulkan .“
“Tidak usah begitu, bayar saja ongkos taxinya. Bantuan lainnya tidak perlu di hitung, manusia hidup kan harus saling tolong menolong. Jika semua harus dengan pamrih, kapan Kita bisa mengumpulkan pahala akhirat .“
Safana sedikit tersenyum, Ia merasa beruntung hari ini Ia bertemu supir taxi yang bisa menjadi teman berbagi.
“Saya Safana, Bapak ?” Safana memperkenalkan dirinya
“Narto,”
“Ceritakan bagaimana kehidupan di Pekalongan,”
“Kota kecil yang kebanyakan penduduknya menyandarkan penghidupan dari usaha batik. Manusianya hangat, sederhana, dan toleransinya masih tinggi. Berbeda dengan Jakarta yang manusianya cenderung individualis dan mengejar duniawi. Mbak bisa menemukan ketenangan disana,“
Safana mengangguk membenarkan, teringat Heidy yang rela dihamili pria beristri hanya untuk mendapatkan kenyamanan hidup bersama Prapta.
Safana melempar pandang keluar jendela, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Mengutas senyum perpisahan pada masa lalu untuk menjemput masa depan bersama si jabang bayi dalam kandungannya.
“Ibu janji akan membahagiakanmu Nak,” Safana membuka jendela taxi dan membuang ponselnya ke jalan raya.
Ia usap janin dikandungannya dengan kasih. Tak ada lagi sesak yang menghimpitnya kini, Ia sudah mengikhlaskan semuanya.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya