[Terbit Novel]
Perjalanan cinta unik antara Psikiater dan CIA bernama Justin, untuk mendapatkan informasi mengenai mafia yang menjadi targetnya ia harus berpura-pura menjadi pasien dari Psikiater cantik bernama Jessy.
Bukannya berjalan dengan lancar sesuai rencana, ia malah harus terjebak bersama Jessy. Pertengkaran layaknya Tom & Jerry selalu mengisi pertemuan mereka. Tak menyangka, hal itu justru membuat mereka saling jatuh cinta.
Saat keduanya memutuskan untuk menikah, Justin tidak bisa menjawab pertanyaan Jessy 'Apa pekerjaan mu?' semua semakin rumit saat Justin mendapatkan misi tentang pembunuhan berantai yang disusul oleh kematian Larissa, sahabat Jessy. Kesalahpahaman dan kecurigaan mulai muncul. Akankah semuanya terpecahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juliet
Mata Jessy terlihat sedikit bersemangat. Ini pemandangan yang indah, namun yang membuatnya bingung sekarang adalah rumah Robert terkunci, ia seperti gelandangan yang terdampar di depan pagar rumah besar itu.
"Apa dia masih dirumah sakit?" Gumam Jessy. Dengan sedikit berat hati ia mengeluarkan ponselnya, memasang kembali SIM card-nya.
Jessy inginnya tak peduli dengan riwayat panggilan, tapi ia penasaran apakan Justin menelfonnya atau tidak. Ia menggulirkan daftar panggilan masuk yang tak terjawab, hanya ada kakaknya dan beberapa pasiennya.
"Dia benar-benar...Tidak menelfon ku!" Desis Jessy gemas, dengan sedikit amarah yang masih tersimpan, Jessy mencari kontak Robert, meminta pria itu agar mengirimkan lokasi rumah sakit.
"Sepertinya aku harus membeli kartu baru." Gumam Jessy sambil mendorong kopernya, mencari jalanan ramai yang semoga saja ada taxi lewat.
°°°
Sesampainya diruangan Kelly, Jessy benar-benar gemas melihat bayi merah itu, tubuhnya kecil.
"Ohh dia menggemaskan."
"Seperti ku." Jawab Robert jahil. Senyumnya tak pernah padam. Ia tak menyangka akan memiliki makhluk kecil ini.
"Kau akan memberi namanya siapa?"
"Juliet." Jawab Kelly pelan, takut bayi disampingnya terbangun.
"Nama yang cantik." Komentar Jessy.
"Kau tau kenapa aku memberikan nama itu?" Tanya Kelly. Jessy dengan semangatnya menggelengkan kepalanya, ia ingin tau.
"Karena aku bertemu kakakmu bulan februari, kita jatuh cinta tepat di malam valentine. Aku sudah memikirkan, jika laki-laki aku memberi nama Romeo dan jika perempuan aku memberikan Juliet."
"Oh manis sekali cerita kalian." Jessy tak henti-hentinya menyentuk halus pipi Juliet, kulitnya terasa benar-benar tipis.
"Cepatlah mencari pasangan. Kau akan senang ada yang memegang perut mu setiap hari." Ucap Kelly sedikit tertawa pelan. Jessy mengulurkan tangannya pada perut, jangan sampai ia hamil tanpa suami.
"Tidak akan ada yang mau mendekatinya sayang. Mereka semua akan takut.." ucapannya terhenti saat melihat kearah tangan Jessy.
"Apa maksud mu menyentuh perut seperti itu! Jangan katakan kau hamil dan kabur kesini." Pekik Robert dengan wajah galaknya. Jessy berdecak dan menggapai vas bunga didekatnya.
"Tutup mulutmu atau aku melemparkan ini!"
"Kau mau membuat Juliet kecil ku tak memiliki ayah!"
"Sudah, kalian ini baru bertemu kembali. Jangan bertengkar." Lerai Kelly. Jessy mengdengus dan menyimpan kembali vas yang ia bawa ketempat nya semula.
"Lihat, dia menyeramkan, tidak akan ada yang berani mendekati nya." Ejek Robert.
"Sayang, sudah!" Kelly memperingati.
Keadaan mulai menghening, dan objek yang paling ditunggu mulai bereaksi. Juliet menggerakkan kepalanya pelan, lalu suara tangisnya yang kencang menyusul. Suaranya begitu akan memecahkan telinga.
"Suara mu begitu indah." Puji Robert. Ini tidak indah, sedikit berisik bagi Jessy, namun hatinya menghangat saat melihat keromantisan mereka dalam meredakan tangis Juliet.
"Ah aku baru ingat. Ayah dan ibu akan sampai besok pagi." Kata Jessy yang baru ingat pesan kedua orangtuanya.
Robert mengangkat wajahnya, ia berfikir sejenak dan mengeluarkan kunci rumah dari dalam saku.
"Jika kau ingin beristirahat pulanglah. Aku dan Kelly akan pulang siang besok, kau yang menyambut ayah ibu nanti ya." Jessy mengangguk, ia mengambil kunci itu dan memasukannya kedalam tas.
"Kalau begitu aku akan pulang sekarang. Aku akan mencari makan dulu diluar."
"Simpan dulu koper mu di rumah, Jess. Lalu kau boleh berkeliaran diluar. Jangan membawa banyak barang berharga di tas mu. Aku tidak ingin mendengar kabar kau di rampok."
"Apa sudah banyak orang yang di rampok?" Tanya Jessy mulai panik.
"Tidak ada. Hanya saja kau harus tetap berhati-hati, dia terlalu berlebihan." Ujar Kelly. Jessy mengangguk pelan mengerti.
"Kalau begitu aku akan memakan yang ada didalam kulkas mu saja. Aku sedikit parno dengan berbagai modus kejahatan seperti itu."
"Seperi Justin, pria sialan itu." Gumam Jessy pelan.
°•°•°•°
ONS With My CEO up sore ya guys🙌
bingung aku...
mohon pencerahannya para readers sekalian
semangat terus berkarya author
tp aku lebih suka visual jessy yg di cerita tentang Alicia