Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 — Seorang Diri
Malam semakin larut ketika Kinara berjalan tanpa tujuan menyusuri jalanan yang mulai sepi. Ia hanya ingin menjauh. Sejauh mungkin dari rumah itu, dari Rashid, dan terutama dari Marissa. Namun setelah berjalan beberapa ratus meter, langkahnya mulai melambat. Kinara berhenti di tepi jalan dan menatap sekeliling.
Barulah ia sadar bahwa ia tidak memiliki tempat untuk pergi. Tidak ada kendaraan yang menunggunya. Tidak ada hotel yang sudah dipesan. Bahkan tidak ada seseorang yang tahu bahwa malam ini hidupnya baru saja berubah, dan yang lebih buruk lagi, Kinara tidak membawa uang.
Ia menurunkan pandangannya pada tas yang menggantung di bahunya, lalu buru-buru membukanya. Tangannya mengobrak-abrik bagian dalam tas, berharap dompetnya berada di salah satu saku.
"Dompetku. Aku sepertinya lupa memasukkannya karena begitu terburu-buru pergi." Kinara terasa lemas, betapa ceroboh dan bodohnya ia.
Kinara baru teringat bahwa tadi dirinya begitu terburu-buru mengemasi barang hingga tidak memeriksa apa pun dengan benar. Dompet yang berisi uang tunai, kartu bank, dan beberapa kartu penting kemungkinan besar masih tertinggal di dalam kamar.
Kinara memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang. "Bagus, Kinara. Benar-benar sempurna." Tawa kecil keluar dari bibirnya.
Ia baru saja kehilangan suami, rumah, dan sekarang bahkan tidak memiliki uang untuk membeli sebotol air. Kinara akhirnya duduk di sebuah bangku beton di pinggir jalan. Udara malam terasa semakin dingin hingga terasa menusuk kulitnya. Ia merapatkan kedua tangannya ke tubuh, berusaha menghangatkan diri sembari memandangi lalu lintas yang semakin lengang.
Kinara tidak tahu harus pergi ke mana. Selama lima tahun terakhir, hidupnya hanya berputar di sekitar Rashid dan rumah tangga mereka. Ia tidak pernah memikirkan tempat untuk kembali karena selama ini ia selalu menganggap rumahnya adalah rumah Rashid.
Kinara mengambil ponsel dari dalam tas. Layarnya menyala dan memperlihatkan daftar kontak yang tersimpan di dalamnya. Jemarinya berhenti pada satu nama.
“Haruskah aku menghubunginya?” Kinara menatap ponselnya dengan gamang.
Nama itu sudah lama tidak ia hubungi. Bahkan selama lima tahun terakhir, komunikasi dengan keluarganya hanya sesekali. Ia sendiri yang memilih menjauh setelah menikah dengan Rashid. Ia menolak nasihat kedua orang tuanya dan bersikeras bahwa cinta mereka akan membuktikan bahwa semua kekhawatiran keluarganya tidak beralasan.
Lima tahun lalu, Kinara meninggalkan rumah dengan kepala tegak, ia lebih memilih Rashid dan meninggalkan nama besar keluarga Santoso. Sekarang, setelah lima tahun, apakah ia masih pantas kembali?
Kinara menelan ludah. Jempolnya sempat menyentuh nama sang ibu, tetapi ia segera menarik tangannya. "Bagaimana jika Ibu tidak mau mengangkat?"
Matanya mulai berkaca-kaca. "Bagaimana jika Ayah masih marah padaku?" Kinara menundukkan kepala.
Dulu ia pergi dengan keyakinan bahwa dirinya mampu menjalani hidup tanpa bantuan keluarga. Ia bahkan pernah berkata kepada ayahnya bahwa ia tidak akan pulang hanya karena kehidupan bersama Rashid terasa sulit. Tetapi sekarang, ia duduk sendirian di pinggir jalan tanpa uang sepeser pun.
Kinara kembali membuka daftar kontak. Kali ini matanya berhenti pada nama Kak Arga, kakak pertama yang dulu paling sering membelanya ketika ia berselisih dengan ayahnya. Namun hubungan mereka juga merenggang setelah Kinara menikah dengan Rashid.
Jemarinya menggantung di atas layar. Ia ingin menghubungi sang kakak dan menceritakan semua yang terjadi padanya. Namun harga dirinya menahannya. Jika ia menelepon sekarang, apa yang harus dikatakannya?
Ia tidak mungkin berkata bahwa ia baru saja diceraikan dengan cara yang paling menyedihkan, tak memiliki uang dan duduk sendirian seperti seorang gelandangan lalu meminta dijemput pulang.
“Tidak, tidak, aku tidak akan sanggup mengatakannya pada kakak.” Akhirnya, ia mengunci ponselnya kembali dan menundukkan kepala. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali menyalakan layar lalu menekan nomor yang sejak tadi dipikirkannya.
Kinara menahan napas. Dadanya berdebar hebat, seolah jawaban dari panggilan itu akan menentukan apakah dirinya masih memiliki tempat untuk pulang atau tidak. Namun sebelum panggilan tersebut diangkat, Kinara buru-buru memutusnya.
"Tidak, Kinara." Ia menggeleng pelan. "Aku belum siap bertemu mereka." Kinara kembali memeluk tubuhnya. Angin malam berembus semakin dingin dan membuatnya menggigil.
Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Ada perbedaan besar antara mampu hidup sendiri dan tidak memiliki tempat untuk pulang. Selama ini Kinara mengira meninggalkan keluarga berarti membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
Tetapi malam ini, setelah semua yang ia perjuangkan direnggut begitu saja, ia justru merindukan sesuatu yang dahulu dengan sengaja ia tinggalkan. Rumahnya, keluarganya dan bahkan peluk ayah dan ibunya.
Air mata Kinara akhirnya jatuh. Kinara menundukkan wajah, membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah malam ini. Ia bahkan tidak tahu apakah keluarganya masih bersedia membuka pintu untuknya. Namun jauh di dalam hati, Kinara ingin pulang.
Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Kinara tak sadar ada sebuah mobil yang mendekatinya. Seseorang di dalam mobil itu menurunkan kaca jendela mobilnya demi memastikan bahwa ia tak salah mengenali orang.
“Kinara?”
Mendengar seseorang memanggil namanya, Kinara sontak menoleh dan terkejut. Matanya membola sempurna saat tahu siapa yang tiba-tiba turun dari mobil dan mendekatinya.
“Kau? Sedang apa kau di sini?”