NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

BAB 3: Transaksi di Lorong Terlarang

[Sudut Pandang: SURA]

Menjadi bangsawan itu melelahkan, tapi menjadi bangsawan miskin itu neraka.

Sura duduk di pinggir tempat tidur asramanya yang sempit. Teman sekamarnya, seorang gadis pedagang rempah yang cerewet bernama Lila, sudah mendengkur halus di ranjang seberang.

Di pangkuan Sura, tergeletak selembar kertas perkamen berisi daftar buku wajib untuk minggu pertama:

Sejarah Pengkhianatan Dinasti (Harga: 20 Koin Emas)

Ensiklopedia Racun Botani (Harga: 35 Koin Emas)

Etiket Meja Makan Kekaisaran (Harga: 15 Koin Emas)

Total: 70 Koin Emas.

Sura meraba saku mantelnya. Kosong. Dia hanya punya tiga koin tembaga dan sekantong remah roti kering.

"Sialan," umpat Sura tanpa suara.

Jika dia datang ke kelas besok tanpa buku-buku itu, kedoknya akan terbongkar. Bangsawan dari Valerine yang memiliki kebun anggur tidak mungkin tidak mampu membeli buku pelajaran.

Sura menatap ke luar jendela. Bulan purnama bersinar terang di atas menara perpustakaan pusat. Gedung itu tampak seperti raksasa batu yang sedang tidur.

Perpustakaan Akademi Gagak Putih memiliki aturan ketat: Dilarang masuk setelah jam malam. Pelanggar akan dikurung di Bawah Tanah selama tiga hari.

Sura menyeringai tipis. Aturan dibuat untuk orang yang ketahuan.

Dia mengganti baju tidurnya dengan pakaian serba hitam yang ketat—pakaian lamanya saat masih menjadi pencopet di pelabuhan. Dia menyelipkan sebatang kawat tipis di balik ikat rambutnya.

"Maafkan aku, Akademi," bisik Sura sambil membuka jendela kamar di lantai tiga itu. "Aku hanya akan... meminjam."

Dengan kelincahan seekor musang, Sura melompat keluar, bergelantungan di pipa saluran air, dan meluncur turun ke dalam kegelapan malam.

Perpustakaan itu bau debu, lilin tua, dan rahasia.

Sura berhasil membobol kunci pintu samping dalam waktu dua belas detik. Rekor baru. Dia menyelinap masuk, bergerak di antara rak-rak buku setinggi langit-langit yang menjulang seperti dinding labirin.

Suasana di dalam hening dan mencekam. Cahaya bulan menerobos masuk lewat jendela kaca patri, menciptakan pola warna-warni hantu di lantai kayu.

Sura bergerak cepat ke Bagian Sejarah. Jarinya menelusuri punggung buku dengan cekatan.

Taktik Perang... Diplomasi Maritim... Ah, ini dia.

Dia menarik buku Sejarah Pengkhianatan Dinasti yang tebal dan berat. Satu masalah selesai. Sekarang tinggal buku Racun dan Etiket.

Sura berbalik menuju lorong sebelah—Bagian Sains Terlarang. Namun, langkahnya terhenti mendadak.

Di ujung lorong, ada cahaya.

Bukan cahaya bulan, tapi cahaya hangat dari lampu minyak kecil. Cahaya itu bergerak, mendekat ke arahnya. Sura menahan napas. Penjaga malam?

Sura mundur perlahan, berusaha menyatu dengan bayangan rak buku. Tapi lantai kayu tua di bawah kakinya punya rencana lain.

KREK.

Bunyi itu terdengar seperti letusan pistol di keheningan malam.

Cahaya lampu itu berhenti bergerak. Lalu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Tenang. Terukur. Tidak buru-buru seperti penjaga.

Sura terpojok. Di belakangnya tembok buntu, di depannya si pembawa lampu.

Sosok itu muncul dari balik rak.

Sura menghembuskan napas kasar. Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan dia?

Kian Arselio berdiri di sana, memegang lampu minyak di tangan kiri dan sebuah buku tebal di tangan kanan. Dia tidak memakai seragam sekolah, melainkan jubah tidur sutra berwarna merah gelap yang membuatnya terlihat seperti vampir bangsawan yang kurang tidur.

Matanya yang tajam menatap Sura, lalu turun ke buku curian di pelukan gadis itu, dan kembali ke wajah Sura.

"Nona Valerine," sapa Kian datar. "Aku tidak tahu hobi bangsawan selatan termasuk memanjat jendela dan membobol perpustakaan di tengah malam."

Sura menegakkan tubuh, memutuskan bahwa berpura-pura takut tidak akan berguna di depan orang ini.

"Dan aku tidak tahu Tuan Muda Arselio punya hobi mengintip gadis dalam kegelapan," balas Sura tajam.

Kian mengangkat alis, sedikit terhibur. Dia melangkah maju, meletakkan lampu minyak di atas meja baca terdekat. Cahayanya menerangi wajah mereka berdua.

"Aku menderita insomnia," kata Kian santai, seolah mereka sedang mengobrol di taman bunga dan bukan di tempat kejadian kriminal. "Membaca tentang runtuhnya Kekaisaran Romawi membantuku tidur. Tapi kau..."

Kian mengetuk sampul buku di pelukan Sura.

"...Kau mencuri. Buku itu ada stempel inventaris akademi. Jika kau membawanya keluar dari pintu ini, mantra pelacak akan menyala dan penjaga akan datang."

Sura membeku. Mantra pelacak? Dia tidak tahu soal itu.

"Jadi," Kian bersandar di rak buku, melipat tangan di dada. "Kau punya dua pilihan, Sura. Pertama, aku berteriak memanggil penjaga sekarang. Kau dikeluarkan, tanganmu dipotong, dan kau kembali jadi gembel."

"Dan pilihan kedua?" tanya Sura waspada.

"Kau letakkan buku itu kembali," kata Kian. "Dan kau jawab satu pertanyaanku dengan jujur. Tanpa retorika. Tanpa bumbu manis."

Sura menimbang-nimbang. Kian memegang semua kartu sekarang. Sura tidak punya posisi tawar.

Perlahan, Sura meletakkan buku tebal itu di meja.

"Tanya," kata Sura singkat.

Kian menatapnya lurus. Tatapannya intens, mencari celah sekecil apa pun.

"Kenapa kau di sini?" tanya Kian. "Bukan di perpustakaan ini, tapi di Akademi ini. Orang sepertimu—yang tumbuh dengan perut lapar dan tidur dengan satu mata terbuka—biasanya hanya peduli soal bertahan hidup hari ini. Kenapa repot-repot memalsukan identitas dan masuk ke sarang ular ini?"

Sura terdiam. Dia bisa berbohong lagi. Dia bisa bilang dia ingin kaya. Dia bisa bilang dia ingin menikahi pangeran. Itu jawaban yang masuk akal.

Tapi Kian meminta kejujuran. Dan entah kenapa, di bawah cahaya lampu minyak yang remang-remang ini, Sura merasa lelah memakai topengnya.

"Karena aku marah," jawab Sura pelan.

Mata Kian menyipit sedikit. "Marah?"

"Aku marah melihat orang-orang bodoh memimpin dunia hanya karena mereka lahir dari rahim yang tepat," suara Sura mulai mengeras. "Aku melihat walikota di kotaku membiarkan jembatan rubuh dan menewaskan sepuluh anak panti asuhan, hanya karena dia mengkorupsi uang perbaikannya untuk pesta ulang tahun anjingnya."

Sura mengepalkan tangan.

"Kalian para bangsawan berpikir politik adalah permainan catur. Bagi kami di bawah sana, politik adalah soal apakah kami makan atau mati besok. Aku masuk ke sini bukan untuk menjadi salah satu dari kalian, Kian. Aku masuk ke sini untuk belajar cara menghancurkan orang-orang seperti walikota itu dengan cara yang legal."

Keheningan menggantung di antara mereka.

Kian tidak mengejek. Dia tidak tertawa. Dia menatap Sura dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan dan... pengakuan.

"Ambisius," gumam Kian akhirnya. "Dan berbahaya."

"Sekarang giliranmu," kata Sura berani. "Kau sudah dapat jawabanmu. Biarkan aku pergi."

Kian mengambil buku yang tadi diletakkan Sura. Dia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah pisau lipat perak kecil.

Sura mundur selangkah. "Apa yang kau..."

SREET.

Kian mengiris halaman pertama buku itu—halaman yang berisi stempel inventaris akademi dan mantra pelacaknya. Dia merobek halaman itu, lalu menyodorkan bukunya kembali pada Sura.

Sura ternganga.

"Tanpa halaman stempel itu, alarm tidak akan bunyi," kata Kian datar. "Ambillah. Anggap saja sumbangan amal dariku untuk... calon perusak tatanan dunia."

Sura menerima buku itu dengan ragu, seolah buku itu bisa meledak kapan saja.

"Kenapa?" tanya Sura curiga. "Kenapa kau membantuku? Kau bisa saja melaporkanku dan menyingkirkan sainganmu."

Kian mengambil lampunya kembali, bersiap pergi. Dia menoleh sedikit, bayangan menutupi separuh wajahnya.

"Karena kau benar, Sura," bisik Kian. "Akademi ini penuh dengan domba yang membosankan. Akan sangat disayangkan jika satu-satunya serigala di sini dikeluarkan terlalu cepat."

Kian tersenyum miring—senyum yang membuat Sura merinding sekaligus berdebar.

"Jangan buat aku menyesal, Nona Valerine. Jadilah lawan yang sepadan."

Kian berjalan menjauh, menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan Sura sendirian dengan buku curian di tangannya dan jantung yang berdetak liar.

Malam itu, Sura belajar dua hal:

Pertama, untuk menjadi monster, kau butuh ilmu.

Kedua, Kian Arselio mungkin lebih gila daripada dirinya.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!