Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kebohongan demi Sahabat
Suasana di lapangan sektor pelayan berubah menjadi sangat tegang. Tekanan kultivasi dari Penatua Penegak Disiplin—seorang ahli di ranah Foundation Establishment awal—membuat udara terasa berat. Belasan murid penegak hukum yang mengiringinya langsung mengepung area tersebut, pedang mereka setengah terhunus, siap digerakkan kapan saja.
Penatua berbaju biru tua itu melangkah mendekati tubuh Wang Hu yang pingsan dengan kondisi mengenaskan. Setelah memeriksa pergelangan tangan yang hancur dan lutut yang remuk, alis sang Penatua bertautan erat. Luka-luka ini disebabkan oleh kekuatan fisik yang murni dan kejam, seolah-olah dihantam oleh palu godam raksasa.
Dengan mata yang berkilat tajam seperti mata elang, Penatua itu berbalik menghadap kerumunan murid pelayan yang mulai berkumpul di tepi lapangan, berbisik-bisik dengan wajah ketakutan.
"Katakan padaku!"
Suara sang Penatua menggelegar, dilapisi dengan energi Qi yang membuat dada semua orang bergetar.
"Siapa yang telah berani melukai murid luar Sekte Pedang Benua hingga cacat seperti ini di area pelayan?!"
Hening. Tidak ada satu pun murid pelayan yang berani bersuara. Mereka semua menundukkan kepala dalam-dalam, gemetar di bawah tekanan aura sang Penatua. Beberapa pelayan yang tadi sempat melihat sekilas transformasi Xiao Lin bahkan tidak berani melirik ke arah pemuda itu karena takut ikut terseret dalam petaka.
Xiao Lin sendiri berdiri kaku. Tangannya yang berlumuran darah gemetar hebat. Kepribadiannya yang polos kembali memegang kendali penuh, membuatnya merasa sangat ketakutan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan, karena ingatannya kosong sejak dia menerima pukulan pertama Wang Hu.
Melihat semua orang diam, kemarahan sang Penatua semakin memuncak. Pandangannya beralih dan mengunci Xiao Lin yang tangannya masih merah oleh darah.
"Kau! Murid pelayan berpakaian tambalan!"
bentak Penatua itu sambil menunjuk Xiao Lin.
"penciuman ku mengendus bau darah segar yang pekat darimu. Jelaskan padaku apa yang terjadi, atau aku akan membawa jiwamu ke Ruang Penyiksaan untuk diperiksa!"
Mendengar kata 'Ruang Penyiksaan', wajah Xiao Lin memucat seketika. Siapa pun yang masuk ke sana, meskipun tidak bersalah, jarang ada yang bisa keluar dalam keadaan utuh.
Tepat ketika Xiao Lin hendak membuka mulutnya karena panik, sebuah suara parau memotong dari bawah
.
"P-Penatua... mohon dengarkan penjelasan saya..."
Ah Gou, dengan sisa tenaganya, merangkak maju dan bersujud di depan kaki sang Penatua. Tubuhnya gemetar, namun matanya memancarkan tekad yang bulat untuk melindungi sahabatnya. Dia tahu, jika dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi—bahwa Xiao Lin tiba-tiba berubah menjadi monster yang mengerikan—Xiao Lin pasti akan dieksekusi atau dijadikan bahan eksperimen oleh sekte karena dianggap kerasukan iblis.
Penatua itu menunduk, menatap Ah Gou dengan dingin.
"Bicaralah. Dan pastikan kau tidak berbohong, atau kepalamu akan melayang."
Ah Gou menelan ludah, menahan rasa sakit di dadanya, lalu mulai berbicara dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat ketakutan dan meyakinkan.
"Tadi... beberapa saat yang lalu, Senior Wang Hu dan teman-temannya sedang berjalan melewati sektor pelayan. Namun tiba-tiba... seekor Beast Peringkat 2, sejenis Macan Tutul Bayangan, melompat turun dari arah tebing hutan belakang sekte!"
Mendengar kata Beast Peringkat 2, beberapa murid penegak hukum di belakang Penatua tampak terkejut dan saling berpandangan. Sektor belakang Gunung Pedang Surgawi memang berbatasan dengan hutan liar yang sesekali dilewati binatang roh.
"Binatang itu sangat cepat dan kuat!" lanjut Ah Gou dengan air mata yang mulai menetes—sebagian karena rasa sakit, sebagian lagi karena aktingnya yang total.
"Senior Wang Hu mencoba melawan dengan gagah berani, tetapi binatang itu terlalu kuat. Hanya dalam dua terkaman, tangan dan kaki Senior Wang Hu dipatahkan oleh cakar binatang itu! Dua senior lainnya juga terluka di kaki saat mencoba melarikan diri."
Penatua itu menyipitkan matanya.
"Lalu, kenapa binatang itu sekarang tidak ada?"
"Dan kenapa tangan pelayan di depanmu itu berdarah?"
Ah Gou segera menunjuk Xiao Lin.
"Saat melihat Senior Wang Hu sekarat, Xiao Lin... dia dengan bodohnya berlari maju membawa sebatang kayu bakar"
"Mencoba memukul binatang itu untuk menyelamatkan Senior Wang! Tapi dia hanyalah pelayan fana yang lemah. Binatang itu mencakar tangannya hingga berdarah seperti itu dan mencampakkannya ke tanah!"
Ah Gou menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan pukulan terakhir pada kebohongannya.
"Untungnya, suara teriakan kami dan kepungan sisa kayu bakar membuat binatang itu terkejut. Setelah melukai mereka, binatang itu langsung melompat kembali ke dalam kabut hutan belakang dan kabut itu menyembunyikan jejaknya. Xiao Lin berdarah karena dia mencoba menolong, Penatua! Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain terluka!"
Xiao Lin yang mendengar cerita Ah Gou tertegun. Dia menatap sahabatnya dengan pandangan tidak percaya. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa cerita itu tidak masuk akal karena luka Wang Hu tidak terlihat seperti bekas cakar binatang. Namun, melihat Ah Gou yang bersujud sampai dahi bersentuhan dengan tanah demi membelanya, Xiao Lin memilih untuk tetap diam dan mengikuti alur cerita tersebut.
Penatua Penegak Disiplin terdiam selama beberapa saat. Dia berjalan mendekati tubuh Wang Hu lagi, mengamati luka patah tulangnya dengan lebih teliti.
Memang benar, kekuatan Beast peringkat 2 setara dengan kultivator Qi Gathering tingkat 4 hingga 6, sangat masuk akal jika bisa menghancurkan tulang murid tingkat 2 dengan mudah. Terlebih lagi, tidak ada fluktuasi Qi manusia yang tersisa di tempat kejadian yang menandakan adanya pertarungan antar kultivator tingkat tinggi.
Dia tidak pernah mencurigai Xiao Lin. Baginya, menebak bahwa seorang murid pelayan berdarah fana tanpa Qi bisa menghancurkan seorang murid luar adalah hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini.
"Kembali ke hutan belakang..." gumam Penatua itu dengan wajah masam. Dia berbalik ke arah murid penegak hukum.
"Bawa Wang Hu dan dua orang lainnya ke Aula Pengobatan sekarang! Dan bentuk tim pemburu untuk menyisir perbatasan hutan belakang. Kita tidak boleh membiarkan binatang buas berkeliaran di sekitar sekte!"
"Baik, Penatua!"
seru para murid penegak hukum serentak. Mereka dengan cepat mengangkat tubuh Wang Hu dan dua murid lainnya, lalu bergegas pergi dari lapangan.
Sebelum pergi, Penatua itu melemparkan pandangan dingin ke arah Xiao Lin dan Ah Gou.
"Kalian berdua, meskipun niat kalian ingin menolong murid luar, bertindak bodoh tanpa kekuatan hanya akan mengantarkan nyawa. Cepat obati luka kalian dan kembali bekerja!"
Setelah mengatakan itu, sang Penatua melompat dan melesat pergi menggunakan teknik meringankan tubuh, menghilang di balik pepohonan.
Begitu semua orang dari penegak hukum pergi, lapangan yang tadinya mencekam langsung mengendur. Para pelayan lain perlahan membubarkan diri dengan tatapan penuh tanda tanya, tetapi tidak ada yang berani mendekati Xiao Lin.
Xiao Lin segera berlari dan berlutut di samping Ah Gou, membantunya duduk.
"Ah Gou... kau... kenapa kau berbohong kepada Penatua?" tanya Xiao Lin dengan suara bergetar.
matanya yang polos dipenuhi rasa bersalah dan cemas.
"Luka Senior Wang... apa benar seekor binatang yang melakukannya?"
'Aku... aku benar-benar tidak ingat apa-apa."
Ah Gou menatap Xiao Lin dengan tatapan yang sangat serius, lalu memegang pundak sahabatnya itu dengan erat.
"Xiao Lin, dengar aku," bisik Ah Gou dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Jangan pernah membahas kejadian hari ini lagi. Jangan pernah bertanya apa yang terjadi pada dirimu tadi. Mulai hari ini... yang melukai Wang Hu adalah Macan Tutul Bayangan Peringkat 2. Kau mengerti?!"
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉