Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daftar Tamu dan Daftar Dosa
Keesokan paginya, aku dibawa keluar dari sel dengan pengawalan yang sangat serius.
Dua pengawal berjalan di depan. Dua pengawal berjalan di belakang. Satu pengawal berjalan di sampingku sambil menatap seolah aku bisa berubah menjadi kelelawar dan terbang keluar istana kapan saja.
Mira berjalan di belakangku membawa tas kecil berisi roti, saputangan, sisir, jarum, buku catatan, dan entah mengapa, sendok.
"Mira," bisikku. "Kenapa sendok itu masih dibawa?"
"Untuk keadaan darurat, Nona."
"Keadaan darurat apa yang membutuhkan sendok?"
"Kalau kita harus menggali, makan puding, atau menyerang musuh dari jarak dekat."
Aku menatapnya.
Dia menatapku balik dengan serius.
Aku memutuskan tidak bertanya lagi. Beberapa hal di dunia ini lebih aman dibiarkan misterius.
Kami berjalan melewati lorong istana. Udara di sini jauh lebih wangi daripada penjara, tetapi entah kenapa aku justru lebih tegang. Di penjara, orang-orang setidaknya jujur ingin aku mati. Di istana, mereka tersenyum sambil mungkin menghitung ukuran peti matiku.
Para pelayan berhenti saat melihatku. Beberapa berbisik. Beberapa membungkuk karena sopan santun. Beberapa tampak kecewa karena aku belum tampak cukup hancur.
Aku mendengar potongan bisikan.
"Itu Lady Evangeline."
"Katanya dia hampir membunuh Saintess."
"Tapi wajahnya masih cantik. Tidak adil."
Aku menoleh ke Mira. "Apakah kecantikan Evangeline juga dianggap kejahatan?"
Mira mengangguk sedih. "Di daftar gosip, iya, Nona."
Aku menghela napas. "Dunia ini benar-benar perlu reformasi hukum."
Di depan ruang penyimpanan bukti, Putra Mahkota Lucien sudah menunggu. Rambut pirangnya rapi. Seragamnya sempurna. Ekspresinya tetap seperti orang yang baru mencium bau kegagalan moral.
Di sampingnya berdiri Seraphina dengan gaun putih lembut dan wajah malaikat yang baru selesai berlatih di depan cermin. Di belakangnya ada dua pelayan bersarung tangan putih. Aku langsung memperhatikan tangan mereka.
Tidak ada yang membawa bunga lili.
Bagus. Setidaknya pesan kemarin tersampaikan.
Cassian datang terakhir, tentu saja dengan cangkir teh. Aku mulai curiga pria ini memiliki kantong dimensi khusus untuk perangkat minum.
"Anda terlambat," kata Lucien dingin.
Cassian menatap jam dinding. "Saya tepat waktu. Anda terlalu gelisah."
Lucien menyipitkan mata.
Aku menahan senyum. Kalau aku tidak sedang terancam mati, melihat dua pria tampan saling sindir mungkin bisa menjadi hiburan pagi yang cukup mewah.
"Kita mulai," kata Lucien.
Ruang penyimpanan bukti dibuka. Di dalamnya ada meja panjang dengan beberapa benda yang disegel: gelas kristal, botol anggur, kain meja, sisa makanan, dan kotak kecil berisi bubuk racun.
Aku mendekat, tetapi pengawal langsung menghalangi.
"Lady Evangeline tidak boleh menyentuh bukti," katanya.
"Saya hanya ingin melihat."
"Melihat dari jarak aman."
"Jarak aman untuk siapa? Bukti atau saya?"
Pengawal itu tidak menjawab.
Mira berbisik, "Mungkin keduanya, Nona."
Lucien menyerahkan sebuah dokumen kepada petugas bukti. "Bacakan daftar barang."
Petugas mulai membaca dengan suara monoton. Gelas anggur milik Saintess. Gelas anggur milik Lady Evangeline. Botol anggur merah dari ruang jamuan. Nampan perak. Kain lap pelayan. Kotak bubuk racun yang ditemukan di meja Lady Evangeline.
Aku menunggu sampai ia selesai.
"Boleh saya bertanya?" kataku.
Lucien menatapku. "Silakan."
"Siapa yang menyatakan gelas ini milik saya dan milik Saintess?"
Petugas membuka catatan. "Pelayan meja, Anna."
Salah satu pelayan Seraphina yang bersarung tangan putih tampak menunduk sedikit.
Aku meliriknya.
"Anna yang mana?"
Seraphina menjawab lembut, "Anna adalah pelayan yang menyiapkan mejaku malam itu."
"Menarik. Jadi pelayan Saintess yang menentukan gelas saya?"
Seraphina tersenyum kecil. "Dia hanya mengikuti penataan meja."
"Tentu. Semua orang di istana selalu hanya mengikuti sesuatu. Aneh sekali tidak ada yang pernah bertanggung jawab."
Mira mengangguk penuh semangat, lalu buru-buru pura-pura melihat lantai saat Lucien menoleh.
Aku menunjuk kotak bubuk racun. "Itu ditemukan di meja saya?"
Petugas mengangguk. "Di bawah lipatan kain meja."
"Siapa yang menemukannya?"
"Pelayan Saintess, Liora."
Pelayan kedua Seraphina menunduk.
Aku tersenyum. "Jadi pelayan Saintess menemukan racun di meja saya, pelayan Saintess menentukan gelas milik saya, dan Saintess adalah korban. Apakah hanya saya yang merasa lingkaran ini terlalu putih?"
Mira berbisik, "Karena mereka semua pakai putih, Nona."
"Itu bukan maksudku, tapi benar juga."
Lucien menatapku tajam. "Apa kau menuduh pelayan Saintess?"
"Saya menuduh fakta ini sangat malas. Kalau saya benar-benar ingin meracuni seseorang, saya tidak akan menyimpan racun di bawah meja sendiri seperti anak kecil menyembunyikan permen."
Cassian bersuara pelan, "Argumen itu masuk akal. Menyakitkan untuk reputasi Anda, tetapi masuk akal."
"Terima kasih atas pujian yang terasa seperti ditampar."
Aku meminta daftar tamu pesta. Setelah sedikit perdebatan, Lucien mengizinkan petugas memberikannya kepadaku, tapi pengawal tetap berdiri sangat dekat sampai aku bisa mendengar napasnya.
Daftar itu panjang. Ada nama bangsawan, pejabat istana, keluarga gereja, perwakilan militer, dan beberapa orang dari keluarga Arvella.
Namaku berada di bagian atas, tentu saja, diberi tanda merah seperti murid bermasalah.
Mira mendekat. "Nona, lihat. Ada nama Tuan Marquess."
Ayah Evangeline.
Marquess Damian Arvella hadir di pesta.
Aku menelan ludah. "Dia tidak datang menjengukku."
Mira menunduk. "Tuan Marquess... sangat menjaga nama keluarga."
"Dengan membiarkan anaknya dieksekusi? Sangat efisien."
Aku membaca daftar lagi. Di samping nama Marquess, ada satu nama lain yang membuat Cassian mendekat.
Lord Veyran Blackwell.
"Siapa dia?" tanyaku.
Cassian menjawab, "Penasihat lama faksi bangsawan konservatif. Dekat dengan keluarga Arvella. Sangat tidak suka reformasi kerajaan. Sangat suka membuat orang lain terlihat bersalah."
"Deskripsi yang spesifik."
"Saya punya hobi."
"Menyimpan dendam?"
"Menyimpan catatan. Kadang keduanya sama."
Aku mencatat nama itu dalam buku kecil yang diberikan Mira. Lalu aku meminta keterangan susunan meja.
Petugas menggelar denah ruang pesta. Di sana terlihat posisiku berada tidak jauh dari Seraphina, tetapi juga dekat dengan meja keluarga Arvella. Posisi Lucien berada di meja utama. Cassian, menariknya, duduk jauh di sisi utara ruangan.
"Anda melihat sesuatu malam itu?" tanyaku pada Cassian.
"Saya melihat Anda bertengkar dengan Saintess."
"Hebat. Semua orang melihat itu. Ada hal lain?"
"Saya melihat seorang pelayan keluar dari pintu samping dengan nampan kosong sebelum Saintess pingsan."
"Pelayan siapa?"
"Sulit dipastikan. Sarung tangannya putih."
Aku melirik Seraphina.
Dia tampak sedih, seolah pembicaraan ini melukainya. Tapi tangannya menggenggam saputangan terlalu erat.
"Saintess," kataku. "Berapa banyak pelayan Anda malam itu?"
"Empat."
"Boleh saya tahu namanya?"
"Anna, Liora, Celia, dan Merin."
"Apakah semuanya ada di sini?"
Hening.
Seraphina berkedip lambat. "Celia sedang sakit. Merin mengurus kamar saya."
"Sakit sejak kapan?"
"Sejak setelah pesta. Dia sangat terkejut melihat saya pingsan."
Tentu saja. Saksi penting selalu sakit. Dalam novel maupun sinetron, tubuh manusia sangat patuh pada kebutuhan plot.
Aku mencatat nama Celia dan Merin.
Mira tiba-tiba mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. "Nona, hamba juga membawa daftar penting."
Aku mengambilnya. "Apa ini?"
"Daftar dosa Nona yang sering dijadikan gosip. Hamba pikir mungkin berguna untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang terlalu dilebih-lebihkan."
Aku membaca.
Daftar Dosa Lady Evangeline:
Satu: terlalu mencintai Putra Mahkota.
Dua: melempar kue ke Lady Beatrice.
Tiga: menulis puisi buruk tentang mata Putra Mahkota.
Empat: mengancam akan membeli semua gaun merah di ibu kota agar tidak ada wanita lain yang bisa memakai warna yang sama.
Lima: mengatakan senyum Saintess seperti susu kedaluwarsa.
Aku berhenti.
"Mira."
"Ya, Nona?"
"Bagian susu kedaluwarsa itu benar?"
Mira tampak berpikir. "Kalimat tepatnya, 'Senyumnya seperti susu yang lupa mengaku basi.'"
Aku memejamkan mata. Evangeline asli, kamu memang berbakat membuat musuh.
Lucien tampak mendengar bagian itu karena wajahnya semakin dingin. Seraphina menunduk, mungkin pura-pura terluka.
Aku melipat daftar dosa itu. "Baik. Reputasiku memang mengerikan. Tapi reputasi buruk bukan bukti pembunuhan."
Cassian mengangguk. "Benar. Reputasi hanya membuat orang senang saat Anda dituduh."
"Lagi-lagi pujian mengerikan."
Aku menatap barang bukti satu per satu. Lalu mataku berhenti pada kain lap pelayan.
Ada noda kecil di ujungnya. Bukan noda anggur. Warnanya agak kehijauan.
"Apa itu?" tanyaku.
Petugas menjawab, "Kain lap yang ditemukan di dekat meja Lady Evangeline."
"Boleh didekatkan?"
Petugas ragu, tetapi Lucien memberi isyarat. Kain itu dibawa mendekat menggunakan penjepit.
Saat jaraknya cukup dekat, aku mencium aroma samar.
Lili.
Aku menegang.
Cassian langsung memperhatikan reaksiku.
"Ada apa?" tanya Lucien.
Aku menatap kain itu. "Kain ini berbau bunga lili."
Seraphina mengangkat wajah. "Banyak bunga lili di pesta itu."
"Benar. Tapi kain lap ini ditemukan di meja saya. Meja saya tidak dihias lili." Aku menunjuk denah. "Meja saya dihias mawar merah. Meja Saintess yang dihias lili."
Ruangan mendadak sunyi.
Mira langsung berbisik, "Nona, itu pintar. Hamba merinding."
Aku menatap Lucien. "Jadi pertanyaannya, mengapa kain yang berbau lili berada di dekat meja saya?"
Lucien tidak segera menjawab.
Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat di wajahnya.
Namun sebelum aku bisa menekan lebih jauh, Seraphina tiba-tiba memegang dadanya.
"Ah..."
Tubuhnya goyah.
Pelayan-pelayannya langsung panik.
"Saintess!"
Seraphina jatuh pingsan dengan sangat anggun, tepat saat bukti mulai mengarah ke pelayannya.
Aku menatap adegan itu.
Mira menatapku.
Cassian menyesap teh.
Aku menghela napas.
"Pingsan tepat waktu," gumamku. "Bahkan tubuhnya punya jadwal pertunjukan."
Lucien langsung mengangkat Seraphina, wajahnya panik. Semua orang berlari mengurus Saintess.
Dalam kekacauan itu, aku melihat sesuatu.
Salah satu pelayan bersarung tangan putih, Anna, cepat-cepat mengambil kain lap bernoda hijau dari meja bukti dan menyelipkannya ke balik lengan.
Aku menahan napas.
Cassian juga melihatnya.
Mata kami bertemu.
Lalu aku tersenyum.
Akhirnya.
Bukti pertama mencoba kabur sendiri.