Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUBAHAN YANG BAIK
Setelah selesai mengoleskan salep, Yukari meletakkan botol itu tepat di samping stempel hanko yang tadi ia mainkan.
"Sudah waktunya makan malam. Tunggu sebentar, ya," pamitnya sambil bangkit menuju dapur. Tak lama, suara peralatan makan terdengar samar dari balik sekat ruangan.
Akira bersandar ke sofa, mencoba mencari posisi senyaman mungkin bagi punggungnya yang masih nyeri. Namun, pandangannya justru terpaku pada kumpulan hanko tua di atas meja.
Yukari kembali membawa nampan kayu berisi dua mangkuk bubur hangat dan dua gelas air. Sebelum mengajak Akira makan, tangan jahilnya justru mengambil salah satu hanko yang tadi sempat diperhatikan pria itu.
"Aku perhatikan dari tadi, kau penasaran dengan hanko ini?" tanya Yukari sambil duduk di samping sofa. "Aku seorang pustakawan, Takagi-san. Aku sangat menyukai buku, menyusun arsip lama, juga hanko antik seperti ini."
Akira menoleh pelan. Yukari membuka tutup stempel itu dengan hati-hati. "Yang ini salah satu favoritku." Lalu tanpa peringatan, ia langsung meraih tangan Akira.
Pria itu tersentak kecil. "Apa yang kau lakukan?"
"Jangan bergerak," bisik Yukari dengan senyum jahil. Ia langsung menekan stempel itu ke punggung tangan Akira.
*Cetrek.*
Suara kecil itu memecah keheningan ruang tengah. Akira mengernyit refleks. Begitu Yukari mengangkat stempelnya, warna tinta merah tua berbentuk matahari tercetak sempurna, terlihat sangat kontras di atas kulit pucat Akira.
Yukari terkekeh puas dan menunjuk hasil capnya dengan bangga. "Nah, lihat, Takagi-san. Bagus, kan? Cetakannya masih sempurna meskipun sudah sangat tua."
Untuk sesaat Akira hanya diam, memandangi cap matahari di punggung tangannya sendiri. Sudah lama sekali rasanya tidak ada orang yang memperlakukannya dengan cara sekonyol ini. Aneh, tindakan sepele itu justru membuat dadanya terasa sedikit lebih hangat.
"Maaf ya," lanjut Yukari sambil tertawa kecil. "Punggung tanganmu jadi bahan percobaan."
"Tidak apa-apa," sahut Akira sangat pelan. Sudut bibirnya bergerak tipis, hampir membentuk sebuah senyuman.
Yukari sampai berkedip heran melihat ekspresi langka itu. Namun sebelum ia sempat memastikan, Akira sudah kembali memasang wajah datarnya yang kaku.
Yukari bertepuk tangan pelan untuk mencairkan suasana. "Nah, mari makan selagi hangat. *Itadakimasu*."
Akira menerima mangkuknya. Uap panas dari bubur menerpa wajah brewoknya yang berantakan. Ia menyendok makanan itu pelan-pelan dan mengunyahnya dengan sangat lambat.
Yukari yang diam-diam memperhatikan dari samping mendadak salah tingkah saat Akira tiba-tiba mengangkat pandangan dan menatapnya lurus.
"Ada apa, Honami-san?"
"Ahh, tidak ada apa-apa," jawab Yukari gugup karena tertangkap basah. "Aku cuma senang kau makan dengan lahap, itu saja."
"Aku lapar."
Jawaban singkat dan lempeng itu sukses membuat Yukari tertawa kecil. Akira kembali fokus pada makanannya sampai mangkuk itu benar-benar kosong, lalu meminum obat dari Dokter Yamada.
Pria itu menggeser tubuhnya perlahan, bersiap berdiri dari sofa dengan gerakan kaku karena luka punggungnya belum sepenuhnya pulih. "Terima kasih untuk makan malamnya."
Suaranya terdengar lebih berat dan dalam, mungkin karena efek obat atau rasa lelah yang mulai menguasainya.
Yukari mendongak dan tersenyum hangat. "Selamat tidur. Semoga besok kondisimu lebih baik."
Akira menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh sedikit ke arah Yukari. "... Terima kasih, Honami-san," bisiknya pelan sebelum melangkah masuk ke kamarnya.
Begitu pintu kamar tamu bergeser menutup, rumah tua itu kembali sunyi. Hanya suara angin malam yang sesekali menyelinap dari sela jendela kayu.
Bahu Yukari mengendur lega. Setidaknya malam ini berlalu tanpa masalah, walaupun rencananya kini mulai berantakan. Harusnya dalam beberapa hari lagi agen properti datang untuk mengurus penjualan rumah ini agar dia bisa segera pergi dari Oku-Nikko.
Namun sekarang, semuanya terasa rumit. Seorang pria asing yang hanyut entah dari mana tiba-tiba muncul di tengah hidupnya. Dulu ia selalu pulang ke rumah kosong ini sendirian, tapi sekarang ada suara langkah orang lain, ada cangkir tambahan di meja makan, dan ia mulai terbiasa mendengar pintu kamar dibuka berkali-kali.
Yukari tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Benar-benar di luar prediksi," gumamnya lirih.
***
Hari-hari di Oku-Nikko berjalan pelan. Tanpa terasa sudah tiga hari berlalu sejak Akira ditemukan setengah mati di sungai. Kondisinya berangsur-angsur membaik; luka sayatan di tubuhnya mulai mengering, dan lebam ungu kehitaman di punggungnya perlahan memudar walau belum hilang total. Setidaknya, kini ia sudah bisa berjalan sendiri ke kamar mandi tanpa harus dipapah.
Pagi itu, sinar matahari musim semi menembus jendela dan membuat lantai kayu mengilap. Akira duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Yukari.
Tiga hari tinggal di sini, tiga hari pula ia dipaksa terbiasa mendengar suara Yukari yang tidak pernah bisa diam, serta melihat Daiki yang bolak-balik datang membawa makanan atau sekadar mencari alasan untuk menjahili Yukari. Anehnya, suasana bising yang semula asing ini perlahan terasa nyaman bagi Akira.
Suara langkah kaki yang mulai ia kenal terdengar dari dalam rumah. Yukari muncul sambil membawa keranjang cucian yang penuh. Matanya langsung berbinar cerah saat melihat Akira sudah duduk di luar.
"Selamat pagi, Takagi-san! Wah, hari ini kau sudah bisa duduk di luar?"
Akira menoleh sekilas. "Udara di dalam terlalu pengap," sahutnya sambil memegangi cangkir teh dengan kedua tangan, membiarkan uap panas menutupi sebagian wajahnya.
"Itu kemajuan besar," ujar Yukari riang. "Sebelumnya, berjalan dari kamar ke ruang tengah saja wajahmu sudah seperti mau pingsan."
Akira menghela napas pendek. "Aku tidak separah itu, Honami-san."
"Kata siapa?" bantah Yukari cepat. "Daiki bahkan mengira kau akan tumbang kalau bersin terlalu keras!"
Sudut bibir Akira kembali bergerak nyaris tak terlihat. Begitu cepat sampai Yukari sempat ragu apakah ia salah lihat atau tidak. Selama tiga hari ini, ekspresi seperti itu adalah pemandangan paling langka.
"Nah!" seru Yukari bangga. "Barusan itu hampir seperti senyuman!"
Akira langsung memalingkan wajahnya ke arah pegunungan yang membentang di depan mereka. "Aku tidak tersenyum."
"Kalau begitu anggap saja aku yang berhalusinasi," kekeh Yukari sebelum mulai menjemur pakaian satu per satu ke tali jemuran.
Sambil merapikan jemuran, Yukari sedikit mengeraskan suaranya karena jarak mereka yang agak menjauh. "Takagi-san, aku sudah menyiapkan air hangat di dalam. Sebaiknya kau mandi."
Akira tidak menjawab, hanya mengangguk pelan lalu bangkit berdiri. Namun baru berjalan dua langkah menuju pintu, suara Yukari kembali menahannya.
"Jangan lama-lama mandinya."
Akira berhenti, menoleh bingung tanpa bertanya
Yukari menaikan ujung bibirnya "Dokter Yamada bilang luka yang baru mengering tidak boleh terlalu lama terkena air hangat."
"... Baiklah."
***
Setelah Akira masuk ke dalam rumah, Yukari pun selesai menyampirkan handuk terakhir di tali jemuran.
Ia berjalan ke tepi selasar kayu, membiarkan kakinya menjuntai ke bawah, memandangi deretan pakaian yang bergerak pelan ditiup angin musim semi. Di antara jemuran itu, ada beberapa pakaian Akira.
Yukari merogoh saku kardigannya, mengeluarkan kembali stempel hanko berbentuk matahari yang tadi malam ia cap di punggung tangan Akira. Ibu jarinya mengusap permukaan kayu stempel tersebut dengan pandangan kosong.
Pikirannya mendadak melayang kembali pada pertanyaan sensitif yang sempat ia tanyakan tempo hari.
“apa kau benar-benar ingin mengakhiri hidupmu?”
Diam Akira saat itu terasa seperti jawaban yang paling nyata bagi Yukari. Pria itu tidak membantah, melainkan hanya menatapnya dengan sepasang mata yang teramat lelah.
Yukari menunduk miris. pria itu dari Aoyama dan berakhir sekarat di hulu sungai desa Oku-Nikko yang terpencil. Seseorang tidak akan pergi sejauh itu tanpa rencana yang matang untuk menghilang dari dunia.
"Seberat apa sebenarnya masalahmu, Takagi-san?" Yukari berbisik dalam hati.
Mengingat bagaimana hampa dan kosongnya sorot mata Akira selama tiga hari ini, Yukari meremas pelan stempel hanko di genggamannya. Ia tidak bisa diam saja membiarkan pria itu kembali hanyut dalam keputusasaan setelah luka fisiknya sembuh nanti.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus memberinya alasan untuk tetap bertahan hidup, setidaknya selama dia berada di rumah ini."
Yukari menarik napas dalam-dalam, memantapkan tekad yang baru saja melintas di kepalanya. Sambil tersenyum tipis, ia memasukkan kembali hanko tersebut ke dalam sakunya, lalu bergegas masuk ke dalam dapur. Ia punya sebuah ide gila, dan ia harus menyiapkan sebuah "proyek" khusus sebelum Daiki datang berkunjung jam sembilan pagi ini.
Selang beberapa jam kemudian suara mesin pickup mobil yang familier terdengar memasuki pekarangan rumah.
Greeeekk...
Pagar besi tua yang mulai berkarat terbuka dengan derit melengking, disusul teriakan nyaring dari halaman depan. "Yukari! Aku Pulang!"
Belum jauh Daiki melangkah ke pintu masuk, aroma gosong yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Langkah pria itu terhenti di ambang pintu, dahinya berkerut dalam. Ia mengendus udara beberapa kali seperti anjing pemburu yang mencium bau mencurigakan.
Daiki segera berlari menuju dapur sambil membawa tas kain besar. "Yukari? Kau masak apa Lagi!!!"
Di dapur, mata Daiki langsung membelalak. Di depan kompor, Yukari sedang panik mengibas-ngibaskan celemek ke arah wajan yang mengepulkan asap tipis. Sementara itu, nasi goreng di dalamnya sudah berubah warna menjadi hitam legam di beberapa bagian.
"Ah, Daiki! Tolong aku!" seru Yukari lega.
Bersamaan dengan itu, Akira yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut agak basah ikut menoleh ke arah dapur karena mencium bau hangus.
"Astaga!" Daiki buru-buru meletakkan tas bawaannya di meja, lalu dengan gerakan heboh langsung mematikan kompor. "Sudah aku bilang urusan masak serahkan pada ku, Kan!!"
Yukari meringis bersalah. Spatula di tangannya mendadak terasa seperti barang bukti kejahatan yang baru saja tertangkap basah. "Aku cuma mau membuat nasi goreng," bela Yukari pelan.
"Terus kenapa bisa gosong begini?"
"Aku mencari garam."
Daiki menatap wajan hitam itu, lalu beralih menatap wajah Yukari dengan pandangan tidak habis pikir. "Kau mencari garam ke tokyo?"
"DAIKI!" mata gadis itu membelak wajahnya memerah malu
Akira hanya menghela napas pendek. Ekspresinya tetap datar seperti biasa, namun pemandangan konyol di depannya ini sukses membuat sudut hatinya sedikit terhibur.
"Sudah kuduga," gerutu Daiki sambil menggelengkan kepala. Ia membuka tas kainnya lalu mengeluarkan beberapa kotak makanan hangat ke atas meja. "Aku sudah punya firasat buruk sejak di jalan, makanya aku bawa persiapan."
Mata Yukari langsung berbinar cerah. "Gyudon?!"
"Nasi daging sapi hangat, lengkap dengan telur setengah matang dan acar jahe," sahut Daiki bangga sambil menunjuk meja. "Ayo duduk sebelum semuanya dingin."