"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Manipulasi dalam Selimut Beludru
Ancaman Aruna untuk melangkah ke Komnas HAM rupanya menjadi alarm bahaya yang paling bising di telinga keluarga Adiwangsa. Malam setelah insiden itu, di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, Nyonya Adiwangsa mencengkeram lengan putranya dengan wajah pucat pasi.
"Kau gila, Adrian! Jika jalang kecil itu benar-benar melapor, saham kita akan anjlok besok pagi! Nama baik keluarga kita, proyek-proyek yang sedang kita incar... semuanya bisa hancur dalam semalam!" bisik wanita tua itu dengan napas memburu. "Dan ingat dokumen ayah logistiknya! Jangan sampai publik mulai menggali dari mana asal-usul modal perusahaan ini."
Adrian mengepalkan tinjunya, menyadari kebodohannya yang telah bertindak terlalu kasar. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Ma? Dia sudah mulai berani melawan."
Nyonya Adiwangsa tersenyum licik, sebuah senyuman yang penuh dengan racun berbalut madu. "Gunakan otakmu, bukan ototmu. Siksa dia secara halus. Buat dia merasa bersalah, buat dia merasa ketergantungan padamu. Pria kasar itu menakutkan, Adrian, tapi pria yang manipulatif? Pria seperti itu bisa membuat korbannya mengemis maaf meski mereka yang terluka."
Sejak hari itu, atmosfer di dalam rumah berubah drastis. Tidak ada lagi teriakan kasar atau makian yang menggelegar. Penyiksaan fisik berganti menjadi siksaan mental yang jauh lebih rapi, dikemas dalam bentuk perhatian dan kata-kata lembut yang menyudutkan.
Sore itu, Aruna sedang duduk di ruang tengah, menatap jemarinya yang masih dibalut perban tipis. Adrian berjalan mendekat, membawakan secangkir teh chamomile hangat dan duduk di sampingnya. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia lakukan. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Adrian mengusap rambut Aruna, lalu menggenggam tangannya yang terluka.
"Aruna, Sayang..." suara Adrian terdengar begitu bariton, lembut, dan penuh penyesalan palsu. "Maafkan aku atas hari-hari kemarin. Aku hanya terlalu lelah. Kau tahu, setiap kali aku melihat dokumen perusahaan, aku selalu teringat almarhum ayahmu."
Aruna tidak bergerak. Tubuhnya menegang, namun ia memilih untuk tetap diam, menatap suaminya dengan mata yang beralih menjadi sedingin es.
"Kau ingat, kan, apa wasiat terakhir Beliau?" Adrian melanjutkan, suaranya naik satu oktav, terdengar begitu puitis dan manipulatif. "Ayahmu ingin kita selalu akur, selalu saling mendukung demi kemajuan perusahaan. Perusahaan ini adalah darah daging Beliau, Aruna. Jika kau menghancurkanku dengan laporan-laporan bodoh itu, kau sama saja dengan menghancurkan impian ayahmu sendiri. Kau tidak ingin dicap sebagai anak durhaka, bukan?"
Aruna menarik napas dalam-dalam. Siksaan halus ini mulai bekerja, mencoba mengorek rasa bersalah di lubuk hatinya. Namun, Aruna yang sekarang bukan lagi wanita naif yang mudah digertak dengan nama mendiang ayahnya.
"Aku selalu mendukungmu, Adrian. Selama lima tahun," jawab Aruna, suaranya datar, tanpa emosi, sedingin salju di musim dingin.
"Aku tahu, Sayang. Tapi dukunganmu harus lebih luas lagi," Adrian tersenyum manis, sebuah senyuman yang membuat Aruna merasa mual. Pria itu kemudian menyelipkan nama yang paling dibenci Aruna ke dalam percakapan. "Termasuk menghargai Valerie. Kau harus paham, dia itu manajer yang hebat. Setiap proyek besar dan investor kakap yang masuk ke Adiwangsa Logistik, semuanya adalah hasil kerja keras Valerie. Dia aset berharga kita. Jadi, tolong... jangan bersikap kekanak-kanakan jika aku harus sering bersamanya demi bisnis."
Mendengar hal itu, sebuah tawa getir hampir saja lolos dari bibir Aruna. Hasil kerja keras Valerie? Adrian benar-benar telah melupakan sejarah, atau mungkin amnesia egoisnya telah menghapus fakta yang sebenarnya. Adrian tidak pernah mengakui jerih payah Aruna. Pria itu lupa bahwa di balik layar, semua proposal bisnis, strategi negosiasi, bahkan pendekatan emosional kepada para investor tua yang merintis usaha bersama ayahnya dulu, semuanya dilakukan oleh Aruna dari meja dapur rumah ini. Aruna-lah yang menuliskan poin-poin penting yang kemudian dipresentasikan oleh Valerie di papan tulis kantor. Valerie hanya memetik buah yang sudah matang, sementara Aruna yang menanam akarnya di dalam lumpur.
Namun, Adrian tetap memuji wanita selingkuhannya itu setinggi langit, buta oleh manipulasi Valerie yang berlagak sebagai wanita karier yang mandiri.
Tak lama kemudian, Nyonya Adiwangsa masuk ke ruangan dengan langkah pelan, ikut bergabung dalam simfoni manipulasi sore itu. Beliau menghela napas panjang, memasang wajah melas yang dibuat-buat.
"Benar apa kata Adrian, Aruna. Kami ini sering emosional bukan karena kami jahat," ujar sang ibu mertua, menatap Aruna dengan pandangan yang seolah-olah penuh simpati namun menusuk dalam. "Rumah ini begitu sepi. Jika saja kau tidak... mandul, mungkin suasana keluarga kita tidak akan gampang memanas seperti ini. Seorang pria mapan seperti Adrian tentu membutuhkan penerus, dan seorang nenek sepertiku merindukan tangis bayi. Kemandulanmu itu yang membuat kami tertekan, Aruna."
Mandul.
Kata itu menghantam dada Aruna seperti gada besi. Itu adalah titik terlemahnya sebagai seorang wanita dewasa. Selama tiga tahun terakhir, vonis itu menjadi awan hitam yang menggelayuti hidupnya. Keputusan dokter setelah pemeriksaan kesuburan menyatakan bahwa rahim Aruna tidak menunjukkan tanda-tanda bisa mengandung. Sejak saat itu, Aruna merasa dirinya cacat, merasa bersalah, dan menerima setiap jengkal hinaan mertuanya sebagai "hukuman" atas kegagalannya menjadi wanita seutuhnya.
Aruna menunduk, matanya menatap lantai marmer dengan tatapan dilematis yang mengiris hati. Rasa tidak dihargai sebagai istri, ditambah dengan beban mental sebagai wanita yang dianggap tidak sempurna, meremukkan sisa-sisa harga dirinya malam itu.
Namun, ada satu rahasia besar yang tidak pernah diketahui oleh keluarga Adiwangsa. Sebuah kebenaran yang terkubur di balik kesalahpahaman dan keangkuhan seorang Adrian.
Dua tahun lalu, ketika hasil tes kesuburan itu keluar, Adrian-lah yang mengambil amplop laboratorium dari rumah sakit. Adrian, dengan ego kelelakiannya yang setinggi langit, membaca hasil laboratorium tersebut dengan terburu-buru. Ketika melihat kata Azoospermia dan beberapa istilah medis yang menyatakan kualitas sperma berada di angka nol persen, otak Adrian yang menolak kenyataan langsung memutarbalikkan informasi tersebut. Ditambah lagi dengan penjelasan dokter yang menggunakan bahasa medis berlapis, Adrian salah paham. Ia mengira kata "ketidaksuburan mutlak" dalam dokumen itu merujuk pada organ reproduksi istri yang dibawanya, bukan pada dirinya sendiri.
Adrian terlalu sombong untuk mengakui bahwa dirinya yang cacat. Di dalam kepalanya yang manipulatif, ia meyakinkan dirinya sendiri—dan ibunya—bahwa Aruna-lah yang mandul. Dan Aruna, yang saat itu terlalu hancur dan didominasi oleh suaminya, tidak pernah diberi kesempatan untuk membaca lembar hasil laboratorium yang asli, yang kini disimpan rapat di brankas kerja Adrian.
"Maafkan aku soal anak, Ma..." bisik Aruna parau, suaranya bergetar menahan tangis yang enggan ia tunjukkan di depan dua manusia berhati iblis ini.
"Sudahlah, Adrian. Jangan terlalu ditekan istrimu," Nyonya Adiwangsa menepuk bahu Adrian, memberikan kode mata. "Yang penting sekarang, Aruna sudah paham. Dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti pergi ke lembaga-lembaga itu lagi, kan? Kita ini keluarga, Aruna. Aib keluarga harus disimpan di dalam rumah."
Adrian mengecup pucuk kepala Aruna dengan lembut—sebuah kecupan yang terasa seperti lendir ular di kulit Aruna. "Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Besok, buatkan sarapan yang enak untukku dan Valerie, ya? Kami ada rapat penting dengan investor dari Singapura."
Adrian dan ibunya melangkah pergi meninggalkan ruang tengah, merasa telah berhasil menjinakkan singa yang sempat terbangun. Mereka mengira siksaan halus, umpan wasiat sang ayah, dan kartu as berupa "kemandulan" telah berhasil membuat Aruna berlutut kembali menjadi pelayan yang penurut.
Namun, begitu langkah kaki mereka menghilang di balik lorong, Aruna perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada air mata yang jatuh. Matanya yang tadinya layu kini memancarkan kilat yang sangat dingin, sedingin malam yang mulai merayap masuk melalui celah jendela.
Ia menyentuh perutnya sendiri. Mandul? Mungkin benar ia tidak bisa memberikan anak untuk Adrian. Tapi dalam hati kecilnya, sebuah keyakinan baru mulai tumbuh semenjak ia menemukan berkas-berkas ayahnya di gudang. Aruna teringat ada satu amplop medis cadangan milik ayahnya yang dulu pernah memaksa Adrian untuk tes kesehatan sebelum pernikahan. Aruna bertekad, dalam sisa waktu kurang dari satu bulan sebelum ketok palu sidang perceraian, ia tidak hanya akan mengambil kembali perusahaan ayahnya, tetapi ia juga akan membongkar semua kebohongan, termasuk mencari tahu kebenaran mutlak tentang siapa sebenarnya yang tidak sempurna di antara mereka.
"Hinalah aku sepuasmu tentang rahim ini, Adrian," bisik Aruna pada keheningan malam, senyuman tipis yang misterius mulai terukir di bibirnya yang pucat. "Mari kita lihat, saat seluruh hartamu hilang dan kebenaran tentang dirimu terbongkar, apakah ego lelakimu itu masih bisa menyelamatkanmu dari kegilaan."
Masa tunggu sidang satu bulan ini bukan lagi neraka bagi Aruna. Ini adalah panggung sandiwara, dan Aruna baru saja mulai menikmati perannya sebagai penonton yang diam.