Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : TANPA RASA MALU
Ethan dan Talia kini berada di dalam mobil milik Ethan, meninggalkan insiden pelemparan batu yang barusan terjadi. Suasana di dalam mobil terasa hening, hanya suara mesin yang terdengar samar.
“Benar-benar gila... dia melempariku dengan batu,” gumam Talia pelan. Tangannya bergerak hati-hati, membersihkan darah yang mengalir tipis di pelipisnya. “Sepertinya dia sudah bosan hidup. Apa kau mengenalnya?”
“Kau pikir aku mengenal semua orang yang terobsesi padaku?” jawab Ethan singkat. Nada suaranya terdengar datar, namun matanya sesekali melirik ke arah Talia.
Ia memperhatikan bagaimana gadis itu membersihkan lukanya sendiri—tanpa keluhan, tanpa drama. Hanya diam, fokus, seolah rasa sakit bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
“Kau yakin tidak mau ke rumah sakit?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
“Tidak perlu. Darahnya sudah berhenti.”
Ethan terdiam sejenak. “Setidaknya kita periksa. Bisa saja kau mengalami gegar otak ringan.”
Talia mendengus pelan. “Aku hanya dilempar batu, bukan terbentur. Jangan berlebihan.” Ia menyandarkan kepalanya sebentar ke kursi.
“Lagi pula, kalau keluargaku tahu, mereka pasti akan mengirim bodyguard ke manapun aku pergi. Aku tidak mau itu.”
“Bukankah itu bentuk perlindungan?”
“Itu bentuk pengekangan,” jawab Talia cepat. “Aku tidak suka diawasi setiap saat.”
Ethan tidak langsung membalas. Ia hanya mengangguk tipis, seolah memilih untuk tidak memperdebatkan hal itu.
Beberapa saat kemudian, Talia menatap bajunya yang mulai mengering dengan noda darah.
“Bajuku kotor,” ujarnya pelan. “Bisakah kita mampir sebentar di butik langgananku? Aku ingin membeli atasan baru.”
“Baiklah,” jawab Ethan singkat.
Perjalanan berikutnya diisi dengan keheningan. Tidak canggung, tapi juga tidak nyaman. Seolah keduanya masih menimbang batas satu sama lain.
Mobil berhenti di depan butik.
“Bisakah kau membelikannya untukku?” tanya Talia tanpa menoleh.
Ethan mengangkat alis. “Aku?”
“Iya.”
“Kau tidak bisa turun sendiri?”
Talia melirik bajunya sekilas. “Dengan kondisi seperti ini? Aku bisa dikira baru saja melakukan kejahatan.”
Ethan mengikuti arah pandangnya, lalu menghela napas pelan.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
“Hm, ukuran S,” tambah Talia.
“Pakai ini saja,” katanya sambil menyodorkan kartunya. Ethan hanya menatapnya sekilas.
“Isinya lebih banyak dari punyaku?” tanya Ethan datar.
“Aku tidak yakin,” jawab Talia santai.
“Kalau begitu simpan saja. Aku turun. Jangan ke mana-mana.”
“Mau ke mana aku dengan penampilan seperti ini? Bisa-bisa aku dikira figuran film thriller,” cibir Talia.
“Kau ini memang cerewet.”
“Enak saja aku—” ucapannya terhenti ketika Ethan tiba-tiba menjepit bibirnya dengan jari.
“Apa yang kau lakukan?” Talia segera menepis tangan Ethan dan mengusap bibirnya.
“Kau berisik,” jawab Ethan singkat.
“Cih.” Talia melipat tangan di dada dan memalingkan wajahnya.
Ethan turun tanpa banyak bicara. Saat kembali, ia menyerahkan paper bag ke arah Talia.
“Ini.”
“Terima kasih.”
Tanpa banyak pikir, Talia membuka tas itu dan mulai mengganti pakaiannya. Gerakannya tenang, seolah itu hal biasa.
Ethan yang awalnya menatap lurus ke depan akhirnya menoleh—dan langsung membeku.
Untuk sesaat.
Kulit Talia yang pucat kontras dengan warna hitam pakaian dalamnya. Gerakannya sederhana, tapi justru itu yang membuatnya sulit untuk diabaikan.
Ethan segera memalingkan wajahnya..
Talia tetap fokus pada kancing bajunya.
“Kau tidak tahu malu?” ujarnya Ethan kemudian.
“Apa maksudmu?” tanya Talia santai sambil mengancingkan kemeja barunya.
“Kau mengganti baju di depan lelaki.”
“Lelaki yang mana?”
“Kau tidak menganggapku lelaki?”
“Ah, kamu?” Talia menoleh setelah selesai berpakaian. “Tidak juga.”
“Jadi kau menganggapku wanita?”
“Bukan begitu juga.”
“Lalu?” Talia sudah selesai mengancingkan kemejanya lalu berfikir sejenak
“Hanya seseorang yang akan menjadi suamiku.” Ucapnya sambil menatap kearah Ethan dengan santai.
Deg.
Kata-kata itu membuat Ethan terdiam sejenak. Talia memang benar—mereka akan segera menikah.
Ethan tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada Talia, mencoba membaca ekspresi gadis itu—namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang sulit ditebak.
“Apa kau sedang menggodaku?” tanya Ethan.
“Apa kau tergoda, Tuan Ethan?” balas Talia santai.
“Hahaha? Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu, tidak masalah.”
“Tapi setidaknya kau harus tahu malu.”
“Aku mengganti baju di dalam mobil, bukan di luar. Jadi untuk apa malu? Lagi pula, aku juga sering memakai bikini. Jadi apa masalahnya?”
“Kau memakai bikini di pinggir jalan?”
“Aku belum gila untuk melakukan itu.”
“Tapi tadi kau melakukannya di hadapanku.”
Talia menatapnya tajam. “Aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu di hadapanmu.”
Suasana seketika menjadi hening dan canggung.
“Ayo jalan. Mau sampai kapan kita di sini?” ucap Talia akhirnya, memecah kecanggungan.
Di suatu tempat, seorang wanita cantik tampak berjalan mondar-mandir tanpa arah. Langkahnya gelisah, napasnya tak teratur. Sejak melihat berita tentang kebersamaan Ethan dengan seorang wanita yang disebut-sebut sebagai calon istrinya, hatinya tak lagi tenang.
Semua orang tahu—Ethan akan menikah dengan keturunan keluarga Smith.
“Ayah... aku tidak rela jika Ethan menikah dengan wanita itu.”
Suara itu bergetar. Sophia Adam Betrice berdiri di hadapan ayahnya, matanya dipenuhi emosi yang tak mampu ia sembunyikan. Ia adalah sepupu Ethan—dan seseorang yang diam-diam mencintai pria itu jauh lebih dalam dari yang seharusnya.
“Ayah mau bagaimana?” jawab Steve Adam Betrice tenang, meski sorot matanya menyiratkan kelelahan. “Ethan harus menjalankan perjanjian itu.”
“Kenapa, Ayah?” desak Sophia, suaranya meninggi.
“Karena Noah dan Bella hanya memiliki satu anak—Ethan. Dia satu-satunya pewaris keluarga mereka.”
Sophia menggeleng cepat. “Mereka bisa saja menyewa seseorang untuk menggantikan posisi Ethan sebagai anak mereka.”
Steve langsung menatap tajam. “Apa kau sudah tidak waras? Jika itu terjadi, kedua keluarga akan berperang. Dan itu tidak akan berhenti sampai salah satu pihak hancur.”
Sophia terdiam sesaat, namun emosinya belum mereda.
“Ayah... aku mencintai Ethan. Dia hanya untukku.”
“Sebaiknya kau kubur keinginanmu itu.”
“Aku tidak mau.”
“Berhentilah merengek seperti itu, Sophia. Kau terlihat seperti anak kecil yang mainannya direbut.”
Suara lain tiba-tiba menyela. Amelia Betrice—ibunya—datang menghampiri sambil membawa sepiring kue cokelat hangat yang baru saja dipanggang. Ia meletakkannya di atas meja dengan tenang, seolah suasana di ruangan itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
“Aku mencintainya, Mam,” ucap Sophia lirih, namun penuh penekanan.
Amelia menatap putrinya dalam diam, lalu bertanya pelan, “Apa Ethan juga mencintaimu?”
“Tentu saja. Dia selalu baik padaku. Dia menjagaku.”
Amelia tersenyum tipis, lalu menuangkan teh hangat untuk suaminya.
“Jika Ethan memang menyukaimu, dia pasti akan berusaha—apa pun caranya—untuk tetap berada di sampingmu,” ujarnya lembut. “Pria yang mencintai seorang wanita tidak akan tinggal diam.”
Steve membalas senyuman istrinya, sementara Sophia menggigit bibirnya sendiri.
“Mama dan ayah tidak mengerti,” keluhnya, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah menghentak.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan itu.
“Itu akibat kau terlalu memanjakannya,” kata Amelia tanpa menoleh, sementara Steve menyeruput tehnya perlahan.
“Kenapa jadi aku yang salah?” gumam Steve.
“Karena kau selalu menuruti semua keinginannya.”
Amelia kemudian meraih tabletnya. Di layar, tampak beberapa foto Ethan yang sedang mencium seorang gadis. Wajah gadis itu sama sekali tidak terlihat—dilindungi dengan sengaja.
Perlindungan itu ditujukan untuk Talia.
“Kita tidak bisa mengutak-atik perjanjian itu,” ujar Steve akhirnya. “Tidak banyak yang bisa dilakukan.”
“Aku tahu,” jawab Amelia pelan. “Semoga Sophia bisa menerimanya.”
Tatapannya mengarah ke sudut ruangan tempat putrinya tadi menghilang.
\*\*\*
“Kau sudah pulang, Talia?” sambut Emma dengan penuh antusias.
“Hm,” jawab Talia singkat.
“Bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Ethan,” balas Emma cepat. “Bagaimana menurutmu tentang dia?”
Talia terdiam sejenak, lalu menjawab pendek, “Biasa saja.”
Emma hanya bisa menatapnya kosong.
“Aku masuk dulu, Bu. Aku lelah.”
Talia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. Sikapnya dingin, seperti biasa.
“Sudahlah,” ujar sang suami lembut. “Talia memang seperti itu. Dia jarang bercerita tentang urusan pribadinya.”
“Tapi...”
“Mungkin dia malu,” lanjutnya sambil tersenyum kecil. “Apalagi setelah kejadian di taman itu.”
Emma langsung tersipu. “Ya ampun... anak gadisku sudah besar.”
Sementara itu, Talia sudah sampai di kamarnya.
Ia langsung menuju kamar mandi, menyalakan air, lalu berdiri di depan cermin besar. Tatapannya tertuju pada luka di dahinya—robekan kecil yang kini mulai mengering, meski masih tampak jelas.
Perlahan, ia menyentuhnya.
Rasa perih itu nyata.
Tanpa ia sadari, air matanya mulai jatuh.
Sakitnya bukan hanya dari luka itu—tapi juga dari semua yang ia tahan sejak tadi.
Di hadapan Ethan, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluh. Tidak menangis. Tidak menunjukkan kelemahannya.
Namun di sini...
Sendirian...
Ia akhirnya menyerah
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman, Talia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ponselnya di atas nakas bergetar berulang kali, menampilkan rentetan pesan dari grup obrolan keluarganya.
Reymond: \[Mengirimkan tautan berita online\]
Reymond: Tata! Apa-apaan berita ini?! Si bajingan Taylor itu berani menciummu di tempat umum?!
Elex: Aku sudah bilang, bajingan itu sengaja memancing media. Kau baik-baik saja, Tata?
Alex: Perlu kami seret dia ke rumah Smith malam ini juga?
Talia menghela napas, jemarinya bergerak lincah membalas pesan ketiga pelindungnya.
Talia: Aku baik-baik saja, Kak. Jangan berlebihan. Itu hanya bagian dari strategi untuk meredam penolakan publik.
Talia sengaja menyembunyikan insiden pelemparan batu tersebut. Jika Reymond tahu kepalanya terluka saat bersama Ethan, kakaknya itu pasti akan langsung mendatangi markas Taylor Group dengan senjata lengkap. Talia menaruh ponselnya kembali, mencoba memejamkan mata di balik keheningan kamarnya, tanpa tahu bahwa di luar sana, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
.
,