Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkataan Yang Menampar
Melisa menggelengkan kepalanya berusaha menyangkal fakta yang ada, dia tidak bisa menerima jika anak yang dia hina sejak tadi memiliki keluarga hebat seperti itu.
"Memangnya kenapa kalau kami hidup sederhana?, kami bisa membayar full uang pembayaran sekolah selama satu tahun, anda bisa tanya kepada guru mereka dan masalah anakmu, lihat saja aku akan membawa kasus ini kemeja hukum".
Tubuh Melisa menegang begitu juga kepala sekolah beserta jajarannya dibelakang mereka, mereka tidak menyangka akan heboh seperti ini.
"Tolong Bu Biah, jangan seperti ini, kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin dan kekeluargaan jangan memakai polisi untuk kasus ini, ini menyangkut nama baik sekolah, jangan egois". Ucapnya pelan.
"Benar Bu, jangan gegabah jika kasus ini dibawah kepolisian nama baik sekolah akan tercemar , kami semua pasti akan dapat sanksi berat dari pemerintah". Cicit salah satu guru.
Biah tertawa sumbang menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.
"Kalian manusia-manusia egois, kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri, kalian tidak lihat apa yang putra saya alami?, dirundung oleh anak dari donatur yang sok jagoan dan sekarang ibunya ikut memukul anak saya padahal jelas-jelas anaknya yang membully orang dan anak-anak saya hanya membela diri, terus kalau itu terjadi pada anak kalian, kalian akan diam saja?".
Mereka semua menunduk tidak bisa menjawab perkataan dari ibu Umar itu, mereka tidak memiliki jawaban dan takut salah menjawab sehingga memicu amarah kembali.
Sedangkan Melisa mengepalkan tangannya, matanya memerah menahan amarah dia maju mengikis jarak keduanya.
Biah yang melihat Melisa mendekat segera menyingkirkan anak-anaknya ke belakangnya untuk melindungi ketiganya, jika harus aduh fisik maka akan dia berikan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh perempuan ini.
"Memang apa yang bisa dilakukan oleh orang miskin seperti mu?, suamiku adalah tentara berpangkat tinggi dan seorang PNS golongan atas, orang seperti mu tidak akan bisa melawan kami di pengadilan, kau tentu tahu bagaimana hukum itu berlaku?". Ucapnya dengan suara mengejek.
Dia yakin perempuan ini hanya menggertak dirinya, dia tidak akan punya uang untuk melawan dirinya, hanya omong kosong .
Biah kembali tertawa, kini tawa yang pahit sekaligus miris, inilah orang-orang yang merasa hebat hanya karena memiliki pangkat sampai bisa menghina orang lain.
"Oh yah?, memang kamu pikir aku tidak tahu berapa gaji PNS dan juga tentara sekalipun dia berpangkat tinggi?".
Melisa melotot, dia tidak pernah menyangka mendapatkan serangan seperti itu oleh orang kalangan bawah menurutnya
"Kalian itu hanya mendapatkan sedekah dari kami warga biasa yang membayar pajak, gaji kalian pun bahkan tidak sampai 15 juta sebulan, dan tunjangan-tunjangan lainnya itu yang kalian sangat sombongkan disini?".
Biah tertawa keras, tatapannya mengejek melihat Melisa yang menegang karena hinaannya ini.
"Aduh, kalian ini lucu yah, gaji segitu tapi sombongnya melebihi orang berpenghasilan puluhan juta , kalian sungguh memalukan".
Ucapan Biah bagai belati menusuk kepadanya, perkataan itu sangat merendahkan martabatnya sekarang.
"Dengar ibu Melisa yang terhormat, gaji anda sebulan itu bisa saya dapatkan dalam seminggu, jangan terlalu sombong nyonya, pangkat dan gaji anda itu tidak akan ada apa-apanya bagi seorang pengusaha, anda memalukan instansi pemerintah saja".
Mata Melisa melotot, wajahnya memerah menahan amarah tangannya terangkat untuk menampar mulut ibu Umar itu.
"Kurang ajar". Desisnya penuh amarah
Tangannya tertahan di udara karena tangan biah menangkap baik tangan itu dan menghempaskannya dengan keras dan kasar sehingga dia terhuyung kebelakang dan ditanggap oleh guru yang berada dibelakangnya.
"Anda tidak bisa memukul orang seenaknya nyonya, setelah ini akan saya buktikan jika anda bisa kehilangan pekerjaan anda dengan laporan saya, anda pikir saya bergerak tanpa bukti?".
Tatapan mencemooh dari ibunda Umar membuat semua orang menahan nafas, mereka tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"Aku punya rekaman saat anda memukul kedua anak saya, saya juga punya rekaman bagaimana putra anda memukul kedua anak saya dan sejak tadi saya punya rekaman suara percakapan kita dan kalian pikir itu bisa kalian lawan jika saya melapor ke polisi?".
Tubuh mereka langsung kaku dan pucat pasi seakan melihat hantu, dada mereka langsung berdebar kencang, jika semua itu benar maka habislah karier mereka.
"Anda". Cicit kepala sekolah.
"Saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang paham dengan hukum, dan juga keuangan pak kepala sekolah, saya tidak akan pernah bicara omong kosong tanpa bukti karena saksi dan bukti adalah kunci dipersidangan sekalipun bisa dimanipulasi tapi aparat tahu keasliannya".
Tubuh Melisa melemah, jika semua bukti itu disebarkan dan diberikan kepada pimpinannya maka karir nya akan dalam masalah besar.
"Bunda kepala Umar pusing". Cicit si sulung dengan suara memelas.
Biah menghela nafas, marah yang tadinya berkobar kini menatap anaknya dengan lembut dan khawatir.
"Jika terjadi sesuatu pada kedua anakku karena kasus ini maka aku akan membuat kalian semua menyesal, jadi pastikan kalian memproses kejadian ini dengan benar, jika tidak akan ku hancurkan semua karir kalian sebagai PNS".
Biah menggandeng sang anak karena dia sedang menggendong anak bungsunya pada gendongan bayi didepannya menuju keluar tetapi belum jauh dia berbalik dan menatap dingin kearah mereka semua.
" Jika aku mendapati anakku dibully kembali baik itu siswa apalagi guru dan orang tua maka aku tidak akan pernah memaafkannya, ini yang pertama dan terakhir kali karena jika berikutnya ada lagi, akan ku buat kalian menyesal dan pastikan kalian menegakkan keadilan untuk seorang pembully".
"Dan satu lagi, sekolah itu tempat belajar dan menimbah ilmu bukan tempat ajang pamer siapa yang paling kaya dan berkuasa, sebagai tenaga pendidik harusnya kalian melakukan hal yang benar tanpa membedakan kaya dan miskin".
Biah berjalan cepat membela kerumunan, mereka sejak tadi menjadi bahan tontonan karena sudah banyak orang tua murid yang datang untuk menjemput anaknya.
Kepala sekolah menunduk, dia sangat malu dengan kejadian ini karena memang semua ini kesalahan sekolah yang tidak pernah menindak tegas Romi dan kawan-kawannya sehingga seenaknya membully orang hanya karena status orang tuanya sebagai donatur.
Perkataan itu seperti tamparan keras bagi mereka para tenaga pendidik, mereka ingin menerapkan sikap itu tapi mereka juga takut kehilangan pekerjaan mereka
"Maaf Bu Melisa, kami akan memproses perbuatan Romi dan kawan-kawannya setelah ini maafkan kami". Jawab kepala sekolah dengan tegas.
Melisa mengalihkan pandangannya kepada kepala sekolah dengan penuh amarah, nafasnya memburu seketika
"Apa bapak sadar dengan apa yang bapak katakan? , bapak tidak lupa siapa saya kan?". Desisnya sambil mengepalkan tangannya.