"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Tabrakan Diujung Senja
Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, tanda magrib mulai menyapa bumi. Di dalam kabin mobil mewah yang melaju tenang menuju kediaman Megantara, suasana terasa sunyi. Ardan fokus pada kemudi, sementara Nick di sampingnya menyandarkan kepala, memejamkan mata mencoba mengusir bayangan ultimatum ayahnya.
"Lo tidur, Nick?" tanya Ardan pelan.
"Gak. Gue cuma lagi mikir cara paling cepet buat dapet cewek tanpa harus ngomong," gumam Nick tanpa membuka mata.
"Halah, pake jasa dating app aja kalo gitu," ledek Ardan.
BRAKK!
Hantaman keras dari arah belakang mengejutkan keduanya. Tubuh Nick terhentak ke depan, matanya langsung terbuka lebar penuh kilat amarah yang berkobar.
"Sialan! Siapa yang berani nyari mati?!" geram Nick rendah.
Ardan segera menginjak rem dan menepi ke pinggir jalan yang mulai temaram. "Tenang, Nick. Biar gue yang cek. Jangan sampe lo mukul orang di jalanan umum, bisa berabe karier lo."
Namun, Nick tidak mendengarkan. Ia sudah lebih dulu membuka pintu mobil dengan bantingan keras yang membuat Ardan meringis. Nick turun dengan langkah lebar, tangannya berkacak pinggang, mobilnya yang kini lecet parah di bagian bumper belakang.
Di aspal, sebuah motor sport tergeletak miring, dan seorang pengendara yang memakai jaket varsity racing serta celana jeans sobek-sobek tampak terduduk meringis kesakitan. Penampilan pengendara itu sangat maskulin dari belakang, membuat Nick tidak ragu untuk segera memuntahkan amarahnya.
"Woi! Lo punya mata nggak sih?! Kalau nggak bisa bawa motor, nggak usah sok jago ugal-ugalan di jalanan!" bentak Nick sompral.
Pengendara itu terdiam sejenak, lalu perlahan berdiri sambil membersihkan debu di jaketnya. Saat tangan itu melepas helm full-face nya....
Suasana mendadak melambat bagi Nick. Rambut panjang yang tadinya tersembunyi kini tergerai indah, terurai berantakan tertiup angin yang dingin. Wajah cantik yang kemarin menyiramnya dengan kopi kini terpampang nyata.
"Eh... Kakak pembalap? Kita ketemu lagi ya?" celetuk Elea sambil meringis, mencoba tersenyum paksa. "Jangan-jangan... kita jodoh?"
Nick membeku di tempat. Lidahnya yang tadi sudah menyiapkan rentetan makian mendadak kelu tak bersisa. Ia menatap Elea dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu terlihat sangat keren sekaligus cantik dalam balutan jaket racing, menciptakan kontras yang membuat sistem saraf Nick error seketika.
Ardan yang sudah berdiri di dekat Nick hanya bisa melongo, lalu menahan tawa sampai bahunya berguncang. Anjing, ngomong lo Nick! Malah bengong. Mana wajah sangar lo yang tadi? batin Ardan gemas melihat telinga Nick yang mulai memerah di balik keremangan senja.
"Maaf ya, Kak. Temen-temen gue emang rada kurang ajar ninggalin cewek cantik pas balapan barusan," ucap Elea berusaha mencairkan suasana sambil memijat lututnya yang perih.
Nick berdehem canggung, mencoba mencari kembali kewarasannya. Ia ingin marah, tapi melihat Elea yang tampak ringkih di depan motor besarnya, hatinya malah baperan tidak keruan.
"Lo... Lo kenapa?!" tanya Nick kaku.
Ardan menepuk jidatnya sendiri. "Bego... malah nanya dia kenapa. Ya tabrakan lah, Nick! Tanya kondisinya kek!" bisik Ardan gemas.
"Hah? Ya... ya jatoh, Kak. Masa lagi joget," jawab Elea polos, matanya berkilat jahil melihat kekakuan Nick. "Gimana? Kemeja kemarin udah bersih? Mau gue kotorin lagi pakai debu jalanan?"
Nick tidak sanggup membalas. Ia merasa semakin salting dan tidak sanggup menatap mata Elea lebih lama lagi. Tanpa sepatah kata pun, Nick langsung berbalik badan dan berjalan cepat masuk kembali ke dalam mobil.
BLAM!
Pintu mobil ditutup rapat. Nick bersembunyi di balik kaca film yang gelap, jantungnya berdegup kencang seolah ia baru saja menyelesaikan lap terakhir di kejuaraan dunia.
Melihat bos mudanya kabur seperti pengecut, Ardan mengambil alih situasi. Ia mendekat ke arah Elea, membantu gadis itu memberdirikan motor sport-nya yang cukup berat.
"Bos gue emang agak unik kalau ketemu bidadari jatuh dari aspal. Jangan masukin hati ya, Elea," ledek Ardan santai.
"Unik atau emang antisosial, Kak?" Elea meringis sambil memegang stang motornya. "Makasih bantuannya. gue pergi dulu ya, buru-buru ngejar curut-curut!"
"Eits, tunggu dulu," Ardan mencekal stang motor Elea, mencegah gadis itu naik. Ia mengeluarkan ponselnya dengan wajah serius yang dibuat-buat. "Mobil tadi itu edisi terbatas, Elea. Lecet dikit biayanya bisa buat beli motor lo dua biji. Catat nomor lo di hp gue sekarang."
Elea memutar bola matanya. "Modus ya, Kak? Nanti gue bayar, Kak. Kasih alamat kantornya aja."
"Enggak bisa. Catat nomor lo, atau terpaksa kita minta ganti rugi tiga miliar buat kelecetan itu sekarang juga. Gimana? Mau bayar cash?" ancam Ardan asal.
Elea mendengus, berpura-pura pasrah. Ia meraih ponsel Ardan, mengetikkan nomornya dengan cepat. "Nih! Udah ya!!"
Saat Elea bersiap menstarter motor dan memasang ancang-ancang untuk kabur, tangan Ardan dengan sigap mencekal pergelangan tangan Elea.
"Jangan pikir trik kali ini bakal berhasil dua kali, Elea Quenby," bisik Ardan sambil tersenyum penuh kemenangan. "Gue bakal cek nomor ini aktif atau enggak detik ini juga. Kalau lo kabur atau nomornya palsu, gue sama Nick, Bakal Teror lo setiap hari"
Elea terbelalak. Ia melirik ke arah kaca mobil, tahu betul Nick sedang mengintipnya dari sana.
Elea tersenyum miring, lalu sengaja berteriak kencang agar terdengar sampai ke dalam mobil. "Bilang sama temen lo yang kaku itu! Lain kali kalau mau minta nomor cewek, jangan pake asisten! Nggak macho! Cupu banget!"
Setelah itu, Elea menarik gas motornya dalam-dalam. Motor sport itu menderu, meninggalkan Ardan yang tertawa puas dan Nick yang nyaris meledak karena malu di dalam mobil.
"Denger tuh, Nick? Katanya lo nggak macho," ledek Ardan saat kembali masuk ke mobil.
"Jalan, Dan. Sebelum gue beneran pecat lo," desis Nick dengan wajah semerah cabai.