NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Bianca, gadis yatim piatu yang berjuang sendiri. Hatinya terbagi antara Barra, cinta lama yang kandas karena kesalahpahaman yang sengaja diracik oleh Aza demi menghancurkan mereka. Atau Leo, sosok baru yang hadir membuatnya kembali tersenyum dan bangkit dari duka.

Bianca mengira pilihannya hanya soal cinta. Namun ia lupa, tak semua senyum itu tulus. Di balik kedekatan dan kebaikan, tersembunyi dendam, kebohongan, dan bahaya yang siap mengancam nyawanya.

Siapa yang akan ia pilih? Akankah membawa bahagia, atau justru awal mula kehancurannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Kembalinya luka lama

Keesokan paginya, setelah kejadian semalam, Bianca akhirnya kembali ke kampus setelah satu minggu cuti karena sakit. Hatinya masih bergemuruh memikirkan bagaimana cara menghadapi Leo. Ia merasa sudah mengecewakan pemuda itu. Ingatan Bianca pun melayang pada ucapan Dinda,bahwa ia harus berani menjelaskan semuanya pada Leo, tentang apa yang sebenarnya terjadi dan alasan di balik ketakutannya untuk memulai hubungan baru.

Sesampainya di gerbang kampus, Bianca terkejut melihat kerumunan mahasiswa yang berdesak-desakan. Ia bingung, ada apa gerangan hingga semua orang berkumpul di sana?

Dari arah belakang, terdengar suara yang memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan Dinda. Sahabatnya itu segera menghampiri dan menanyakan keadaannya. Bersama, mereka melangkah masuk ke area kampus, namun rasa penasaran kian menggelitik hati mereka berdua. Tanpa banyak bicara, Dinda menarik tangan Bianca untuk mendekat ke arah kerumunan itu.

Hati Bianca seakan berhenti berdetak. Di sana, berdiri sosok pria yang pernah meninggalkannya hanya dengan sepucuk surat,sosok yang selama ini berusaha ia lupakan kini hadir tepat di hadapan matanya.

Pria itu adalah Barra. Ia baru saja kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas BIM,tempat di mana Bianca menuntut ilmu.

Pandangan mereka bertemu. Mata mereka saling menatap dalam, seolah dunia di sekitar mereka lenyap sejenak. Tanpa sadar, air mata mulai menetes di pipi Bianca. Ia tak sanggup bertatapan lebih lama, hingga akhirnya ia membalikkan badan dan berlari menjauh, meninggalkan kerumunan itu.

Di sisi lain, Barra merasa kaget bercampur bahagia. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Bianca di sini. Niat hatinya untuk segera mengejar Bianca terhalang oleh kewajibannya melapor kepada dosen pembimbing, mengingat hari itu adalah hari pertamanya masuk kuliah.

Di sudut kampus yang sepi, Bianca duduk memeluk lututnya sambil menangis sejadi-jadinya. Luka lama yang dulu sempat berusaha ia obati kini kembali terbuka lebar, mengingat betapa sakitnya ia ditinggalkan tanpa penjelasan yang layak dulu.

Tak lama kemudian, Leo melihat Bianca yang sedang terisak sendirian. Dengan sigap ia menghampiri dan menyodorkan selembar sapu tangan. Bianca mendongak, menatap wajah Leo dengan mata yang sembab, lalu tiba-tiba ia berdiri dan memeluk pemuda itu erat-erat, seolah mencari tempat berlindung yang paling aman.

Di kejauhan, Barra yang baru saja menyelesaikan urusannya dan sedang mencari keberadaan Bianca seketika terpaku. Hatinya sakit saat melihat pemandangan di hadapannya, Bianca sedang berpelukan dengan seorang pria lain. Tanpa ingin mengganggu, Barra mengurungkan niatnya untuk mendekat dan perlahan pergi meninggalkan tempat itu.

Leo berusaha sekuat tenaga menenangkan Bianca. Melihat kondisi gadisnya yang sangat buruk, Leo memutuskan untuk membawanya pulang, karena rasanya mustahil bagi Bianca untuk mengikuti perkuliahan hari itu.

Mobil Leo melaju membelah jalanan menuju rumah Bianca, sesuai permintaan gadis itu. Sesampainya di depan rumah, Bianca meminta Leo untuk kembali dan mengucapkan terima kasih atas kebaikannya. Sebenarnya Leo enggan pergi, namun Bianca meyakinkannya berulang kali bahwa ia baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Begitu pintu tertutup rapat, tangis Bianca kembali pecah di baliknya. Sementara itu, Leo yang sebenarnya tak tega meninggalkan Bianca sendirian, memilih untuk menunggu di teras rumah gadis itu. Ia ingin memastikan keadaan Bianca benar-benar pulih.

Beberapa jam berlalu, tangis Bianca perlahan mereda. Ia mulai lebih tenang, menyadari bahwa rasa sakit yang dirasakannya saat ini murni karena kaget bertemu kembali dengan Barra. Kehadiran Barra memang mengingatkannya pada masa lalu yang pahit, namun ia sadar, luka itu perlahan mulai sembuh.

Saat ia melirik ke arah jendela, matanya terbelalak kaget. Ternyata Leo masih ada di sana, duduk diam di teras rumahnya. Perasaan bersalah pun merayap di hati Bianca—ia merasa telah mengecewakan pemuda yang begitu tulus menyayanginya itu.

Perlahan, Bianca membuka pintu dan menghampiri Leo yang masih duduk di sana.

“Kenapa kamu belum pulang, Leo? Ini sudah malam,” tanya Bianca dengan suara lembut, yang masih terdengar serak bekas menangis.

Leo melihat dan tersenyum tipis. “Aku ingin memastikan kamu benar-benar baik-baik saja. Sekarang karena kamu sudah terlihat lebih tenang, aku akan pulang sekarang,” jawabnya sambil bangkit berdiri, bersiap untuk pergi.

Namun, tangan Bianca dengan cepat menyentuh dan menggenggam tangan Leo. “Tolong… tunggu sebentar. Aku ingin bercerita dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi semalam,” ucapnya pelan namun tegas.

Leo kembali duduk di samping Bianca, lalu membalas genggaman tangan gadis itu dengan lembut. “Kalau kamu belum siap, jangan dipaksakan, ya. Aku bisa menunggu kapan saja kamu mau bicara,” katanya lembut.

Bianca menggeleng pelan, memberi isyarat bahwa ia sudah siap untuk membuka suaranya. Dengan napas panjang, Bianca mulai menuturkan kisah masa lalunya bersama Barra sejak masa SMA.

“Dulu, aku sama sekali tidak punya teman. Hampir setiap hari aku menjadi sasaran perundungan di sekolahku. Namun, semuanya berubah saat aku bertemu dengan Aza. Dia adalah gadis yang pernah aku tolong saat hampir tertabrak motor. Ternyata kami bersekolah di tempat yang sama, meski berbeda kelas. Sejak saat itu, kami menjadi sahabat baik. Untuk pertama kalinya, aku diajaknya berkunjung ke rumahnya.

Di sanalah, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Barra. Pertemuan kami saat itu terasa begitu singkat karena ia hendak pergi setelah urusannya dengan papanya Aza selesai. Aku baru tahu kemudian bahwa orang tua mereka adalah rekan bisnis yang sangat terpandang di negeri ini. Tak heran jika mereka sudah berteman akrab sejak masih kecil.

Setelah pertemuan itu, entah mengapa kami jadi sering bertemu. Bukan di sekolah, melainkan di luar lingkungan sekolah. Barra sendiri jarang masuk ke kelas. Ia memang dikenal malas-malasan, sering bolos, dan merasa tidak perlu bersusah payah belajar. Baginya, apa gunanya sekolah jika ia terlahir dari keluarga kaya raya dan sudah pasti menjadi pewaris harta orang tuanya.

Saat itu aku bekerja paruh waktu sebagai kurir pengantar makanan. Tanpa sengaja, Barra dan teman-temannya sering memesan makanan di restoran tempatku bekerja, dan kebetulan akulah yang selalu mengantarkan pesanan mereka.

Suatu hari, saat aku sedang mengantarkan pesanan seperti biasa, salah satu teman tongkrongannya bersikap sangat kasar dan tidak sopan kepadaku. Aku bingung, karena biasanya mereka tidak pernah bersikap seperti itu. Belum sempat aku bereaksi, Barra langsung maju dan memukul temannya itu dengan keras. Ia berkata dengan nada marah, 'Kita boleh saja dianggap sampah atau pembuat onar, tapi jangan pernah sekalipun Lo menodai atau bersikap kasar kepada seorang wanita.'

Saat itulah, benih-benih rasa suka mulai tumbuh di hatiku untuk Barra. Aku mulai diam-diam memperhatikannya dan menceritakan segalanya kepada Aza. Awalnya, Aza tidak mendukung perasaanku. Ia bilang kami tidak cocok. Baginya, Barra hanyalah pemuda nakal yang tidak punya masa depan dan tidak pantas bersanding denganku.

Namun, tiba-tiba sikap Aza berubah. Ia mulai mendukungku, bahkan dengan sengaja menjodohkan kami dan memberikan nomor ponselku kepada Barra. Sejak saat itu, kami sering berkomunikasi lewat pesan singkat. Kami sering menghabiskan waktu berdua, dan saat aku bekerja, ia selalu setia menemaniku—katanya sih agar aku aman dan tidak diganggu orang jahat.

Hingga pada suatu hari, Barra menyatakan perasaannya dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerimanya. Kami pun berpacaran. Setiap hari kami selalu bersama, bahkan Barra yang dulunya jarang masuk sekolah, tiba-tiba jadi sangat rajin datang hanya demi bisa bertemu denganku. Hubungan kami terasa begitu indah, seolah dunia milik berdua dan tak ada yang lain.

Namun, kedekatanku dengan Barra membuat Aza merasa terabaikan. Ia sempat marah kepadaku karena aku jarang meluangkan waktu untuknya lagi. Akhirnya, sesekali kami pun mengajak Aza untuk berkumpul bertiga agar ia tidak merasa kesepian.

Selama satu tahun penuh, hubungan kami terasa begitu manis dan penuh harapan. Kami bahkan sudah merencanakan untuk melanjutkan kuliah bersama di Universitas BIM, tempat yang sama dengan tempat kita belajar sekarang. Tapi mimpi itu hancur seketika. Tepat di hari kelulusan kami, Barra menghilang begitu saja. Ia tidak bisa dihubungi sama sekali, bahkan Aza yang sering datang ke rumahnya pun tidak tahu keberadaannya.

Sampai akhirnya, aku menerima sepucuk surat darinya yang dititipkan melalui Aza. Di dalam surat itu, ia menuliskan kata-kata perpisahan dan mengakhiri hubungan kami begitu saja, dengan alasan bahwa ia harus pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali lagi dalam waktu yang lama."

"Ini tidak adil, kan, Leo? Maksudku… kalau ada masalah, kenapa tidak dibicarakan baik-baik? Kenapa harus pergi diam-diam dan meninggalkan aku dalam ketidaktahuan?" tanya Bianca lirih, suaranya kembali bergetar menahan tangis.

Air mata kembali menetes di pipinya saat ia mengingat kembali kenangan pahit itu. Dengan lembut, Leo mengusap air mata itu menggunakan ibu jarinya dan berkata dengan tulus, "Aku mengerti rasanya, Bianca. Dan aku ingin kamu tahu, aku akan selalu ada di sini untukmu, dalam keadaan apa pun."

Bianca menggenggam tangan Leo lebih erat, lalu menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan aku atas kejadian semalam, ya? Jujur saja, sampai detik ini aku masih merasa ragu untuk memulai hubungan baru lagi. Aku takut disakiti lagi. Dan aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu."

"Sstt… sudah, jangan dilanjutkan permintaan maafnya. Dari semua cerita yang kamu sampaikan, aku paham dan mengerti sepenuhnya. Aku janji, aku akan membantumu menyembuhkan luka itu perlahan. Dan aku akan membuktikan padamu bahwa aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu seperti apa yang dia lakukan dulu," ucap Leo sambil mengelus lembut puncak kepala Bianca.

Tanpa terasa, jarum jam di dinding sudah menunjuk pukul dua belas lewat malam. Leo pun berpamitan untuk pulang. Sebelum benar-benar pergi, ia memastikan Bianca sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan aman, baru kemudian ia melangkahkan kakinya menuju mobil dan melaju pulang.

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!