Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Identitas Logam Dan Gema Petualangan
Perjalanan dari Hutan Wyrm memakan waktu hampir seharian, menyisakan keletihan yang menggelayut di pundak. Namun, segala rasa lelah itu seakan terhapus saat gerbang kota Eltra Celestia menjulang megah di hadapan Alice. Tembok raksasa itu terbuat dari batu putih yang seolah memancarkan cahaya redup, berpendar indah di bawah siraman matahari senja yang keemasan. Lambang matahari bersayap—simbol suci Dewa Lama—terpahat gagah di setiap sudut benteng, memberikan kesan sakral yang mengintimidasi.
Kuda-kuda ksatria dititipkan di sebuah paviliun kayu yang letaknya bersebelahan dengan pos penjaga gerbang. Sementara para prajurit lain berhenti untuk melaporkan intelijen dari perbatasan Varkass, Arthur memilih untuk tetap mendampingi Alice melangkah masuk ke dalam jantung kota.
Gerbang terbuka...
Dreeet!!
Alice sempat terkagum-kagum, memandangi arsitektur benteng yang terlihat begitu artistik. Namun, kekaguman itu menguap seketika begitu kakinya menginjakkan kaki di area pemukiman.
Bising.
Suara hiruk-pikuk pasar, aroma rempah yang tajam menusuk hidung, dan kerumunan orang yang berlalu-lalang dalam kekacauan yang teratur membuatnya sedikit pusing. Ini bukan cutscene game yang bisa ia lewati dengan menekan tombol skip. Ini adalah denyut kehidupan yang nyata, kasar, dan menyesakkan.
"Dengar, Alice," Arthur berbisik tepat di samping telinganya. Tangan sang ksatria tetap waspada, bertengger di atas gagang pedang besarnya.
"Tanpa kartu identitas atau surat jalan dari gereja, kau dianggap sebagai pengungsi. Dan di kota ini, pengungsi tidak punya hak atas perlindungan hukum apa pun."
Alice menelan ludah dengan susah payah. Ia meraba kantong jubahnya yang kosong melompong.
"Kalau tahu begini, mendingan aku simpan rotinya tadi," batin Alice dengan penyesalan yang terlambat.
Di dunia asalnya, ia mungkin memiliki saldo bank yang cukup untuk hidup nyaman. Tapi di sini? Ia bahkan tidak memiliki satu keping koin tembaga pun. Perutnya mulai mengeluarkan suara keroncongan yang memalukan, mengingatkannya bahwa kebutuhan biologis di dunia ini jauh lebih kejam daripada di dunia virtual.
"Aku butuh uang... dan identitas," gumam Alice lirih. Ia menyadari betapa rapuh posisinya sekarang. Satu langkah salah, dan ia bisa berakhir di balik jeruji besi.
Arthur menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan kayu besar yang nampak kokoh. Sebuah papan nama bergambar pedang dan tongkat sihir yang bersilang tergantung di sana, berayun pelan tertiup angin. Arthur menatap bangunan itu, lalu beralih menatap Alice dengan serius.
"Cara tercepat untuk mendapatkan keduanya tanpa melalui birokrasi gereja yang rumit, adalah menjadi petualang," sahut Arthur.
Ia kemudian merapikan zirah besinya, merendahkan oktaf suaranya. Secara resmi, Arthur adalah ksatria yang bersumpah di bawah panji Eltra Celestia. Namun, realita dunia ini seringkali mengkhianati idealisme, gaji dari kerajaan jarang sekali cukup untuk menutupi biaya perawatan peralatan dan jaringan informasi di lapangan.
Arthur sedikit menyingkap jubah tempurnya, menunjukkan sebuah lencana kecil yang tersembunyi.
"Aku sering menjalankan misi di Guild Petualang ini. Di sini, status bangsawanku tidak berlaku, dan pedangku hanya dinilai dari seberapa cepat ia bisa menyelesaikan kontrak. Mereka tidak peduli dari mana asalmu, selama kau bisa menyelesaikan tugas. Ini tempat terbaik bagi orang sepertimu untuk 'menghilang' sekaligus mencari nafkah."
Alice menatap gedung itu dengan ragu.
"Kau... seorang ksatria resmi tapi juga seorang petualang sampingan?"
"Dunia ini sedang sulit, Alice. Prinsip tidak akan mengenyangkan perutmu," jawab Arthur pendek sembari mendorong pintu kayu ek yang berat itu.
Alice melangkah masuk, mengekor tepat di belakang bayangan punggung Arthur yang lebar. Suasana di dalam jauh lebih liar dari bayangannya. Bau tajam keringat, aroma bir yang menguap, dan debu logam memenuhi ruangan yang hanya diterangi oleh obor sihir yang berkerlap-kerlip remang-remang.
"Fiuuuit.. Haha.. " Seorang petualang pria bersiul nakal saat pandangannya menyapu sosok Alice.
Tubuh Alice merinding sejenak, tapi ia mengabaikan pandangan mereka.
Seorang petualang lagi terlihat mencoba menggodanya namun segera mengurungkan niatnya saat melihat Arthur berjalan di samping Alice.
Alice mendekati meja resepsionis, mencoba mengabaikan tatapan mata para petualang pria yang memandangi rambut merah mudanya dengan rasa risih dan sedikit gelisah.
"Aku ingin mendaftar," ucap Alice mantap, meski ada getar tipis yang tak bisa ia sembunyikan.
"Mendaftar? Apa anda punya tanda pengenal nona?" Tanya seorang resepsionis penuh selidik.
"Aku..." Alice terdiam, otaknya berputar liar mencari alibi yang masuk akal.
"Uhumm, dia bersamaku.. Aku menjamin dia bersih," Arthur memotong pembicaraan dengan tenang penuh penekanan.
Resepsionis itu, seorang wanita paruh baya dengan bekas luka di pipinya. Awalnya ia tampak ragu, namun karena ia melihat Arthur kesatria yang sangat di hormati, akhirnya mengangguk kecil. Ia menyodorkan sebuah kristal bening yang tertanam di atas meja kayu yang sudah aus.
"Letakkan tanganmu di sini. Kristal ini akan membaca frekuensi kesadaranmu dan mencatat status dasar untuk kartu identitasmu."
"Oke akhirnya aku akan punya tanda pengenal!!" Gumam Alice girang di dalam hati.
Alice meletakkan telapak tangannya di atas permukaan dingin kristal tersebut. Benda itu segera berpendar biru pucat, diikuti dengan proyeksi cahaya yang menari-nari di udara sebelum akhirnya meredup dan terhisap masuk ke dalam sekeping logam kecil.
[ PENDAFTARAN BERHASIL ]
Nama: Alice
Kelas: Support Mage (Lvl 30)
Pangkat: F (Pemula)
"Ini kartu identitasmu. Jangan sampai hilang, atau kau akan berakhir di sel bawah tanah karena dianggap sebagai penyusup tak dikenal," ujar si resepsionis dengan nada datar seolah membacakan prosedur harian.
Alice menerima kartu logam tipis itu dengan perasaan campur aduk. Ia resmi menjadi bagian dari dunia ini sekarang. Seorang petualang rendahan berstatus Level 30 di tengah pusaran perang saudara.
"Sangat kuno, benar-benar berbeda dengan duniaku yang serba digital," pikirnya.
Baru saja Alice hendak berbalik untuk bertanya pada Arthur tentang langkah selanjutnya, sebuah ledakan tawa pecah dari sudut ruangan yang paling ramai.
"Lihat ini! Bukankah ini terlalu berlebihan untuk sekedar berburu kelinci hutan?"
Alice menoleh. Di sebuah meja panjang di sudut, duduk tiga orang dengan aura yang sangat kontras dibandingkan petualang lainnya.
Seorang gadis dengan pakaian kulit hitam-cokelat yang ketat sedang memutar-mutar sepasang belati perak dengan kecepatan yang tak masuk akal di jemarinya. Matanya yang periang namun menyimpan kegelapan yang tajam menatap Alice dengan penuh minat. Dialah Violet.
Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan jubah penyihir yang sedikit berantakan dan topi yang miring ke samping sedang sibuk menggeledah tasnya. Beberapa botol ramuan terjatuh dari sakunya.
"Aduh! Di mana tongkatku? Padahal tadi aku baru saja mau buat air minum pakai sihir..." gumamnya ceroboh. Itulah Xena.
Dan di antara mereka, seorang pria, menyandarkan katananya di meja, menatap Alice dengan tatapan tajam yang entah kenapa terasa begitu familiar di ingatan Alice.
"Ksatria kaku kita benar-benar membawa malaikat itu ke sini," Albertio berucap tenang sembari menatap ke arah Arthur dan Alice.
"Kemarilah!!" tambahnya dengan senyum tipis yang misterius.
Alice menyipitkan mata, menatap Albertio dengan curiga sebelum menoleh pada Arthur. Arthur hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat bisu yang bermakna: 'Mereka kenalanku, kau aman bersama mereka.'
Gadis itu terpaku. Kelompok di depannya ini... mereka terlihat berbahaya, konyol, namun luar biasa kuat di saat yang bersamaan. Entah kenapa, Alice merasa langkahnya barusan adalah sebuah titik balik yang tidak akan pernah bisa ia tarik kembali.
cape😅