Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATURAN DI BAWAH SATU ATAP
Malam itu, badai benar-benar mengamuk. Hujan menghantam atap paviliun perwira dengan suara seperti rentetan tembakan. Di dalam, suasana kontras terasa begitu sunyi kesunyian yang canggung dan mencekam antara Keyra dan Ghazali.
Keyra berdiri mematung di tengah ruang tamu paviliun Ghazali. Ruangan itu sangat mencerminkan pemiliknya minimalis, sangat rapi, dan didominasi warna abu-abu serta hijau zaitun. Tidak ada hiasan dinding yang tidak perlu, hanya ada sebuah jam dinding besar yang berdetak dengan suara yang terdengar sangat keras di telinga Keyra.
"Ziva sudah tidur di kamar sebelah. Dia kelelahan karena panik tadi," bisik Keyra pada dirinya sendiri, mencoba memecah kesunyian.
Ghazali keluar dari ruang kerjanya. Ia sudah menanggalkan seragamnya, kini hanya mengenakan kaus oblong hitam ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh atletisnya dan celana senada. Rambutnya yang biasanya klimis kini sedikit berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya.
"Kenapa masih di sini? Kamar tamu ada di sebelah kanan," ucap Ghazali datar sembari berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan.
"Saya... saya lapar, Kapten. Tadi di klinik tidak sempat makan malam karena sibuk mengurus stok obat," jawab Keyra jujur. Perutnya memang sudah berdemo sejak satu jam yang lalu.
Ghazali menghentikan langkahnya, berbalik menatap Keyra. "Di sini bukan hotel. Saya tidak punya koki yang akan melayani mahasiswa magang yang manja."
Keyra mendengus, jiwa bar-barnya mulai terpancing. "Siapa juga yang minta dilayani? Saya cuma mau pinjam dapur. Saya bisa masak sendiri, Kapten Kulkas."
Ghazali menyipitkan mata mendengar julukan itu lagi. Ia menyandarkan tubuhnya di konter dapur, melipat tangan di dada. "Silakan. Tapi ada aturannya."
Keyra mendekat ke dapur, merasa tertantang. "Aturan apa lagi?"
"Satu," Ghazali mengangkat satu jarinya. "Jangan menyentuh barang-barang di meja kerja saya. Dua, dilarang membuat keributan setelah pukul sepuluh malam. Dan tiga," Ghazali menatap mata Keyra dengan intens, "jangan pernah masuk ke kamar saya, apa pun alasannya."
"Dih, percaya diri sekali," gumam Keyra sambil membuka lemari es. "Memangnya siapa juga yang mau masuk ke kamar pria kaku seperti Kapten? Isinya pasti cuma tumpukan peraturan dan bau minyak kayu putih."
Ghazali terdiam, sedikit terkejut dengan keberanian mulut gadis ini. Ia hanya memperhatikan saat Keyra mulai mengeluarkan telur dan beberapa sayuran dengan gerakan yang sedikit ceroboh.
Crak!
Keyra memecahkan telur, tapi sebagian cangkangnya ikut masuk ke dalam mangkuk. Ia meringis, mencoba mengambil serpihan kecil itu dengan jemarinya yang mungil.
"Minggir," perintah Ghazali tiba-tiba, sudah berdiri di samping Keyra.
"Eh? Apa?"
Ghazali merebut mangkuk dari tangan Keyra. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan efisien, ia membuang cangkang telur itu, lalu mulai mengocoknya. Gerakannya sangat terlatih, jauh lebih rapi daripada Keyra yang notabene adalah seorang perempuan.
"Kapten bisa masak?" tanya Keyra dengan mata bulatnya yang melebar.
"Bertahan hidup di hutan butuh keahlian dasar. Bukan hanya sekadar menghafal anatomi tubuh," jawab Ghazali tanpa menoleh.
Keyra tertegun memperhatikan profil samping wajah Ghazali di bawah cahaya lampu dapur yang temaram. Rahangnya yang tegas tampak lebih halus, dan ada sedikit guratan lelah di matanya. Entah kenapa, pemandangan ini terasa jauh lebih "berbahaya" bagi jantung Keyra daripada hukuman push-up kemarin.
"Kenapa menatap saya begitu? Ambilkan piring," perintah Ghazali, memecah lamunan Keyra.
"Oh, iya! Siap, Kapten!" Keyra segera bergerak canggung, hampir saja menjatuhkan tumpukan serbet di meja.
Malam itu, di tengah badai yang mengisolasi markas, mereka duduk di meja makan kecil yang sama. Hanya ada satu piring nasi goreng telur sederhana di antara mereka, namun atmosfer di ruangan itu mulai berubah. Dinginnya es di hati Ghazali tampaknya mulai sedikit terkikis oleh keberadaan "badai" lain yang bernama Keyra.
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....