Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Bara
Collins kembali kebingungan. Bila ia menyebut namanya, orang takkan percaya karena dia bukan bule dan matanya sedikit menyipit. Lagipula, orang yang tahu keluarganya pasti akan membawanya pulang ke rumah. Siapa yang tak kenal Hardyn Grow, miliarder Inggris yang perusahaannya hampir merajai pasar global. Properti, hotel, mal dan masih banyak lagi. Ia harus menyembunyikan identitasnya, tapi pakai nama siapa? Terlintas nama sang ibu yang keturunan Jepang-Indonesia, Aiko Aibara. Ah, ya. Bara. "Bara. Namaku, Bara."
****
"Ayo dah, makan! Kebetulan hanya ada enih," sahut seorang wanita paruh baya yang rambutnya digelung ke belakang. Ada sedikit rambutnya yang memutih di samping, seperti babe. Ia adalah istri pria itu.
Collins memperhatikan makanan yang ada di atas piring. "Apa ini?"
"Semur jengkol. Masa kagak tau?"
"Apa? Jengkol?" Mata Collins membulat sempurna. 'Bukannya jengkol itu bau ya? Tapi kok gak ada baunya?' Ia coba mengangkat dengan sendok dan mengendus makanan itu.
"Eh, itu gak basi ya! Enyak baru angetin!" Terang wanita itu lagi.
"Eh, bukan begitu." Collins tersadar sudah berlaku tak sopan. Akhirnya ia segera mengambil dan memakannya dengan nasi. Rasanya ternyata enak. "Mmh!" Ia tersenyum lebar.
Enyak melirik Babe. "Jadi ini anak siape sebenernye, Bang?"
"Anak boleh nyasar."
"Ape!?" Wanita itu menaikkan alisnya. Sang suami tersenyum di kulum. Ia mengangkat jari telunjuk ke mulut agar istrinya tak banyak bertanya. Enyak langsung mengerti. Ia melirik Collins. "Jadi lu bakal tinggal di marih?" tanyanya pada Collins.
Collins seketika berhenti mengunyah dan melirik pada pria berbaju koko itu. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Lu lagi cari kerja, pan? Ya udah, lu kerja aja ama babe di toko. Tapi gajinye kecil. Gak papa, pan?"
"Apa tidak merepotkan?" Collins bingung. Pria itu tiba-tiba baik padanya. Menurutnya, pria ini membingungkan karena sering berubah-ubah. "Aku tidak masalah kalau soal gaji."
"Lu boleh tinggal di marih. Makan dikasih, asal lu bantu-bantu, ye. Lu bisa panggil gue 'Babe' dan ini istri gue. Lu bisa panggil die 'Enyak'." Babe memperkenalkan diri dan istrinya.
'Tinggal?' Collins tak mengerti apa yang dihadapinya saat ini. 'Keluarga ini menerimaku begitu saja?' "Eh, iya." Collins mengangguk sopan. Ia tak punya pilihan selain menerimanya.
"Dan ada gue juga yang tukang tereak di marih. Assalamualaikum, Be, Nyak!" Seorang wanita berkerudung coklat muda masuk ke rumah sambil menyalami kedua orang tuanya. "Nama gue Ipah. Lu siapa?"
"Bara." Collins berusaha meraih tangan Ipah ketika wanita itu menyodorkan tangannya, tapi ternyata Ipah malah menjitak kepalanya. "Aduh!"
Ketiga orang itu malah mentertawakan Collins yang dijahili Ipah.
****
"Baju ini cukup deh ye, sama elu?" tanya babe yang memilihkan beberapa pakaian murah di pasar. Collins mengiyakan. Selagi pria itu baik padanya, ia memang seharusnya menurut.
"Eh, Be. Dari mana?" Seorang pria menegur Babe dari belakang.
"Oh, ini. Nemenin ponakan belanja," sahut Babe berbohong.
Sang pria, yang berpostur tinggi, kurus, membawa kayu yang dimainkannya di tangan. Ia memperhatikan Collins. "Kerja di mana lu?"
"Oh, die lagi cari kerja. Sementara kerja di toko gua dulu." Kembali Babe mewakili Collins.
Pria itu menatap ke arah Collins. Ia melirik Collins dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kalo jadi kang parkir, bisa gak?" Pria kurus itu bertanya.
"Kang parkir!? Kang parkir di mana!?" tanya Babe antusias.
"Lah, enih! Di pasar ini. Pak Joyo pulang kampung, kemaren. Dijemput anaknya. Sakit kayaknya die."
"Yang bener, Min?" Babe tak percaya.
"Lah, iya. Mau kagak?" Pria itu kini menepuk-nepuk bahu sendiri dengan kayu di tangan.
"Ya, maulah!" Babe menoleh pada Collins dengan senyum lebar. "Bara, lu kerja jadi kang parkir aja, ya? Cepet ganti baju lu. Di pasar udah rame noh yang belanja."
"Eh? Tukang parkir?"
Rasanya Collins tidak seberuntung ini kalau tidak bertemu dengan Babe Sabeni yang juga ketua RT di lingkungannya. Pekerjaan yang ditawarkan padanya juga tidak terlalu sulit. Sebentar saja ia sudah mengumpulkan beberapa ratus ribu padahal ia telat datang bekerja.
Udara mulai terik sehingga Collins masuk ke dalam pos penjagaan dan berteduh di sana. Ia melihat-lihat jalanan.
Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya dan meletakkan dua buah jeruk di atas meja. "Jangan lupa makan ya, Pak, ya. Nanti sakit."
Collins melongo. Seorang wanita cantik berkerudung kuning tersenyum ke arahnya. Wanita yang kemarin dikejarnya! Dan wanita ini datang sendiri kepadanya tanpa diminta.
'Kenapa ... dia tersenyum padaku? Apa ... dia mengenalku?' Collins panik hingga sulit menelan ludah, tapi sebelum ia sempat berkata-kata lagi, wanita itu kembali bicara.
"Pak, Bapak pakai deodoran baru ya. Kok baunya seperti deodoran anak muda?"
'Deodoran?' Collins menarik baju kaosnya dan menghirupnya. 'Apa maksudnya ....' Pandangan Collins jatuh pada tangan wanita itu. Bertongkat. 'Eh, itu bukan tongkat orang cacat, itu tongkat untuk orang ....' Kembali ia memandang wajah wanita itu, di mana pupil matanya tak bergerak dan tetap tersenyum. Collins coba menggerak-gerakkan tangan di depan wajah wanita itu tapi manik matanya tak bergerak.
'Ah, dia buta rupanya ....' Entah kenapa Collins lega. "Eh ...."
Baru saja Collins mengeluarkan suara, wanita itu langsung kaget dan berdiri.
"Eh, kamu siapa?" Wanita itu tampak ketakutan.
Collins terkejut melihat reaksi sang wanita. "Oh, maaf. Saya tukang parkir yang baru." 'Apakah dia salah mengira, aku tukang parkir yang sebelumnya? Ah ... sekarang aku mengerti.'
Tetap saja ucapan pria itu membuat sang wanita syok. Wanita itu buru-buru bergerak keluar dengan menggunakan tongkat. "Eh, maaf. Aku salah orang." Sang wanita itu begitu panik dan malu.
"Eh ...." Collins tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Meminta kenalan? Mendengar suaranya saja, wanita itu sudah ketakutan setengah mati. "Maaf, maaf. Eh ... terima kasih jeruknya."
Wanita itu menoleh sambil mengangguk pelan. "Eh, tidak apa-apa. Maaf." Wajahnya tapi tidak sepanik tadi. "Maaf ya, aku pikir kamu Bapak yang bekerja sebelumnya."
"Oh, tidak apa-apa." Collins memandangi wajah cantik wanita itu. Mereka bisa bertemu lagi, ini sebuah keajaiban. Apa ia bisa berkenalan dengannya? "Aku ...."
Terdengar suara klakson dari mobil yang hendak keluar di parkiran. Collins terpaksa harus melakukan tugasnya. "Eh, sebentar." Saat ia tengah berusaha memberi instruksi pada sebuah mobil, ia melihat sang wanita tengah menghentikan bajaj dan menaikinya. Collins hanya bisa menghela napas dan melihat bajaj itu berlalu. 'Besok ... apa dia ke sini lagi, ya?' Harapan yang tak tahu jawabannya.
****
"Haah!!" Hardyn mendorong kasar piring yang berada di atas meja hingga jatuh ke lantai dan pecah. Ia beranjak berdiri dengan raut wajah memerah karena marah. Ada aura menakutkan di wajahnya seiring ia menoleh pada wanita cantik yang berada di samping. Seorang anak kecil dengan wajah bule yang mirip dengannya begitu ketakutan hingga menangis di kursi.
"Aku sudah berkali-kali katakan, jangan urusi urusanku dengan Collins, kamu ngerti, gak!?" ucap pria paruh baya itu dengan nada tinggi.
"Kenapa harus marah-marah sih!? Anak itu memang kurang ajar, tidak pernah menghargaiku di rumah." Sedikit sewot, Miranda mengambil anaknya yang baru berusia tiga tahun dan menggendongnya. "Dia bahkan tidak menghargai kamu sebagai ayahnya. Lihat ... kau menakuti Nero!" keluh wanita itu memperlihatkan anak mereka sambil mengusap lembut kepalanya.
Bersambung ....