Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Sintia terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Rupanya hanya mimpi. Semalam setelah ia menyelesaikan tugas, gadis itu iseng untuk merebahkan diri. Namun, berujung memejamkan mata dan ketiduran. Padahal niat ia ingin mencampuri Arga di kafe tapi gagal.
Ia bangkit dari tidur memutuskan untuk mandi setelah itu bersiap-siap ke kampus. Hari ini ada matkul pagi.
Sintia mengecek lagi ponselnya. Nihil. Tidak ada chat ataupun misscall dari Arga. Nanti saja ia tanya itu.
Sintia memakai setelan serba putih. Hari ini matahari tampak terik sekali. Membuat keringatnya mengucur begitu ia sampai kampus.
Ara datang lebih dahulu, ia diantar oleh Papa. Setelah Sintia cek ternyata Arga sudah pergi. Katanya Ara sih ada meeting.
Mereka masuk kelas begitu dosen datang. Hari ini cuma ada matkul pagi saja setelah itu mahasiswa boleh pulang. Atau ada yang masih ingin bermain di area kampus. Sintia memutuskan untuk bersantai dahulu di gazebo kampus. Nanti saja ia pulang. Sedang Ara, gadis itu pergi ke perpustakaan ingin pinjam buku.
Membuka ponsel, Sintia mengetikan pesan untuk Arga.
Sintia:
Sibuk ya sampe lupa ngabarin aku?
Tidak ada balasan. Gadis itu memutuskan untuk menelfon. Dan berhasil diangkat.
"Iya." jawab Arga.
Sintia ingin marah-marah tapi ia sadar ini masih area kampus. Bahaya nanti kalo ada yang dengar atau malah Ara sendiri.
"Kamu punya pacar buat pajangan aja, ya?"
Suara Sintia setengah berbisik. Arga tidak mendengar. Pria itu mengatakan 'ha' berulang kali.
Sintia berjalan pergi meninggalkan area kampus, ponselnya masih terhubung dengan Arga. Setelah agak jauh, barulah ia...
"Kok kamu nggak chat aku sama sekali?"tanyanya.
"Emang harus?"
Suara Arga membuat Sintia ingin melempar batu ke arahnya.
"Terserah kamu."
Sintia lebih memilih mematikan telfon karena ia tau respon Arga akan sama. Tidak romantis dan selalu kaku. Pria itu juga kerap kali gengsi padahal mereka sudah 2 tahun pacaran.
Seorang cowok memakai Hoodie biru berjalan ke arah Sintia. Ia tersenyum dan menepuk pundak cewek itu.
"Hai," sapanya.
"Eh—hai, kak Jefry, ya?"
Sintia kaget sekaligus loading mencoba mengingat siapa cowok dihadapannya saat ini.
Jefry tersenyum dan mengangguk. Ia mengajak Sintia untuk duduk disalah satu bangku taman.
"Kok kak Jefry bisa ada disini?"
"Bisa dong. Aku kuliah disini juga."
Sintia tampak antusias, sudah lama sekali ia tidak melihat kakak kelasnya ini. Mereka dulu satu ekstrakurikuler waktu SMA jadi saling mengenal.
"Kakak baru masuk atau gimana?"
"Iya. S2."
Jawaban itu membuat Sintia takjub. Jefry dimatanya selalu keren dari dulu. Namun, getaran diponselnya membuat gadis itu mengalihkan perhatian.
Love:
Aku tunggu di parkiran.
****
Sudah lebih dari 5 menit sejak Sintia masuk ke mobil Arga. Pria itu belum juga menjalankan mobilnya. Tadi saat pertama Sintia melihat Arga sepertinya ia sedang marah. Tapi tidak tahu karena apa.
"Kamu kenapa?"
Arga melempar ponselnya pada Sintia. Gadis itu kelabakan menerima untung tidak jatuh. Terpampang foto antara dirinya dan Jefry sedang tertawa. Sintia menaikkan alisnya.
"Kamu cemburu?"
Sintia ingin tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan ingin tahu jawaban pria disebelahnya ini.
"Nggak."
Jawaban yang singkat dan padat seperti biasa.
"Nggak, tapi kenapa kamu nunjukin foto ini. Gak jelas."
Arga yang mendengar itu melotot tajam, tidak terima.
"Nggak usah deket-deket sama dia. Aku nggak suka!"
Sintia menggeleng keras. "Terserah aku."
"Sintia!"
"Apa, sih!"
Mereka berdua sama-sama teriak. Tapi untung tidak ada satu orang pun yang lewat.
"Kamu dengerin aku nggak!"
Sintia berpura-pura sibuk dengan ponsel membuat Arga geram. Gadis itu suka sukses membuat ia kesal karena tadi tertawa dengan cowok lain dan sekarang lihat, Sintia sengaja mengabaikannya.
Arga dengan cepat merebut ponsel milik Sintia, membuat yang punya menggerutu.
Getaran diponsel Sintia membuat Arga berdecak kesal.
08xxxxx:
Hai, Sin. Save ya Jefry
Ia memblokir nomor itu. Dan menyembunyikan ponsel Sintia disaku celana.
****
Ternyata cuma mimpi ya. Untung deh hehe