Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Pertanyaan yang Menusuk
Suasana ruang kerja itu terasa dingin, meski pemanas ruangan menyala. Kenji duduk dengan punggung tegang di kursi berhadapan langsung dengan papanya, rak-rak kayu berisi buku dan dokumen menjulang di sekeliling mereka. Menambah kesan bahwa ruangan itu adalah tempat penuh wibawa dan tekanan.
Kazuma bersandar ke kursinya, lalu kedua tangannya bertaut di depan meja. Sorot matanya tidak lepas dari Kenji, tajam tetapi sulit terbaca. Kazuma mulai membuka pembicaraan ini walaupun mereka berdua jarang berkomunikasi,dikarenakan Kazuma sibuk, dan Kenji yang selalu menutup dirinya, dan karena hal itu yang si sebenarnya Kazuma sangat kecewa karena Kenji tidak pernah membicarakan kegiatan selama di sekolah.
“Kenji, bagaimana sekolahmu akhir-akhir ini”? tanya Kazuma yang terdengar dalam dan berat.
Pertanyaan sederhana itu terasa bagai pisau di dada Kenji. Ia menelan ludah, dan bersikap biasa dan mencoba memasang senyum tipis. “Baik, Papa. Semua berjalan … normal.”
Kazuma mengangguk pelan, seakan mengamati setiap gerak-gerik putranya. Ia tampak tidak tenang sekali dan kelihatan gugup.
“Normal, ya?” ucap Kazuma datar.
“Lalu … bagaimana dengan kegiatan belajarmu di sekolah?” tanya Kazuma kembali.
“Masih agak sulit, Pa tapi aku akan berusaha untuk mengejarnya.” jawab Kenji menunduk sedikit.
Kazuma yang mendengar jawaban dari Kenji yang terdengar kaku, dan lebih tepatnya alasan yang sering ia akan berulang-ulang. Yang dimana jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Kazuma masih menatap ke arah Kenji, ia masih berharap untuk Kenji bisa berbicara jujur dan terbuka dengannya, namun sepertinya itu sia-sia saja.
Kazuma mengetuk pelan permukaan meja dengan jarinya. Tatapan mata yang tajam, seolah ingin menembus dinding yang dipasang sendiri oleh putranya. Kedua kembali hening tidak ada pembicaraan kembali, hingga akhirnya Kazuma kembali berbicara lagi.
“Kenji,kau pasti tahu kalau Papa tidak pernah mempermasalahkan jika nilai akademis yang tidak menonjol. Tapi Papa tidak suka jika kamu berbohong pada Papa.” Kazuma menghentikan ketukan jarinya dan masih menatap tajam ke arah Kenji.
“Aku … aku tidak pernah berbohong pa,” ucap Kenji yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
keheningan memulai kembali menyelimuti ruangan. Terdengar suara detik jam yang ditambah dengan tekanan yang sudah berat. Kazuma mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, dan kedua tangannya menopang dagunya.
Suaranya lebih rendah, tetapi bagi siapa yang mendengarnya akan semakin menusuk dan tegang. “Apakah ada sesuatu yang terjadi selama kamu di sekolah? Sesuatu, yang tidak pernah kamu ceritakan kepada Papa?”
Mendengar perkataan Kazuma seketika Kenji diam membeku seketika, di kepalanya mulai muncul bayangan teman-temannya yang menertawakannya, menyiram air kotor ke tubuhnya, dan juga tatapan sinis dari guru-guru yang acuh saat ia ingin berkata jujur, dan itu semua terekam dalam memory . Tetapi saat ia hendak ingin mengatakan semua yang ia alami, ia tidak bisa mengatakannya seolah ada yang menahan suaranya, untuk mengatakan semua yang terjadi kepada papanya.
“Tidak ada, Papa,” jawab Kenji dengan suara berbisik.
“Semuanya … baik-baik saja.” kata Kenji kembali.
Kazuma menatapnya lekat, dan terdiam sejenak. Ia bisa melihat jelas bagaimana mata Putranya bergetar, bagaimana bahunya sedikit menegang. Itu bukan merupakan bahasa tubuh dari seorang anak yang berkata jujur.
“Apakah benar baik-baik saja?” ulang Kazuma, suaranya mulai sedikit berat.
“Kalau begitu, boleh Papa tanya lebih spesifik, apakah disekolah … ada yang melakukan mem-bully-mu?” tanya Kazuma dengan suara berat dan datar.
Kenji yang mendengar pertanyaan Kazuma segera menunduk, dan jemarinya saling meremas di pangkuannya. Ia cukup kaget mendengar pertanyaan dari Papanya dan mulai berpikir bagaimana Papanya tahu tentang itu.
“Tidak ada Pa, di sekolahku tidak ada namanya pem-bully-an Pa,” jawab Kenji.
Kazuma mendengar setiap kata, mengamati setiap gerakan kecil. Ia tahu kalau Kenji berbohong dengannya. Tatapan matanya semakin dingin, namun ia tidak percaya dengan jawaban yang Kenji lontarkan, ia masih berharap Kenji akan berbicara jujur dan terbuka dengannya.
“Baik kalau begitu, Papa harap kau benar-benar baik saja.” kata Kazuma sambil kembali bersandar ke kursinya.
“I-iya Pa, aku baik-baik saja.” Kenji menganggukan dengan cepat, meskipun hatinya berdegup kencang.
Di dalam kepalanya, ingin Kenji berteriak. “Maafkan aku Pa, bukannya aku tidak mengatakannya yang sebenarnya, tetapi kalau aku mengatakan yang sejujurnya. Sudah pasti aku akan membuat Papa kecewa, aku tidak mau Papa menganggapku sebagai anak yang lemah.”
Kazuma hanya menatap anaknya dalam-dalam, lalu menghela napas panjang. “Kau boleh pergi sekarang, istirahat besok kau masih harus sekolah.”
“Baik Papa.” Kenji bangkit dengan cepat, membungkuk sopan.
Kenji berjalan menuju pintu, langkahnya begitu berat. Namun begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menghela napas dengan lega. Ia bersyukur Kazuma hanya bertanya lebih jauh.
Setelah melihat Kenji keluar dari ruangannya, Kazuma masih duduk di kursinya. Pandangannya tidak menuju ke dokumen yang berada di meja, melainkan ke pintu yang baru saja ditutup oleh Kenji.
“Kenji … Anakku, kau pikir aku tidak tahu?” Kazuma menegakkan posisi tubuhnya dan memandang ke langit-langit ruang kerjanya.
Dalam diam, Kazuma merasakan kekecewaan yang menekan dadanya. “Kenapa kamu tidak mau terbuka pada Papa, Nak? kenapa kamu lebih memilih berbohong, padahal aku sudah melihat luka-luka itu sendiri?”
Tangan Kazuma mengepal kuat, muncul urat-urat yang menonjol di bagian pergelangannya. Namun ia mencoba mencoba untuk menahan amarahnya, karena ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan semua amarahnya.
“Aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri,” kata Kazuma dengan tatapan yang tajam.
“Jika mereka sekali lagi berani menyakitimu … maka aku akan pastikan mereka menyesal,” kata Kazuma kembali dengan penuh dendam.
Ruangan Kerja Kazuma pun kembali menjadi hening. Di satu sisi, saat ini Kenji mencoba untuk menenangkan dirinya di kamar, ia merasa selamat dari interogasi dari Papanya. Kembali lagi ke Kazuma yang sedang duduk sendiri, yang sudah menyimpan semua amarahnya dan siap untuk meledak kapan pun itu.
Malam ini, jurang antara papa dan anak semakin jelas terlihat. Kenji menutup diri karena takut mengecewakan, sementara Kazuma merasa kecewa karena Kenji memilih untuk memendam sakitnya sendiri, dan juga tidak kecewa karena anaknya tidak percaya dengannya. Ia pun memandang sebuah bingkai foto yang berada di meja kerjanya, di dalam foto itu tampak Kenji tersenyum sangat bahagia, Kazuma pun mengambil bingkai foto tersebut dan memandang kebahagiaan keluarganya dulu sebelum kejadian itu terjadi
“Misaki, coba saja kamu tidak pergi begitu cepat pasti kamu bisa membantuku untuk menyelesaikan semua permasalahan ini,” kata Kazuma sambil memandang sedih foto kebersaman keluarganya.
Dan dari kedua percakapan sederhana antara Anak dan Papanya, memunculkan suatu keputusan besar mulai terbuka, keputusan yang akan mengubah hidup Kenji selamanya.